
Di suatu kota hidup lah seorang gadis dari keluarga yang berkecukupan, ia terlahir dari Pasangan Marissa Amalia dan Rama Antareksa. Gadis ini tumbuh menjadi gadis periang dan gampang berbaur dengan siapa pun. Semenjak kelahiran nya, Rully putra antareksa membentuk adik perempuan satu-satunya itu menjadi tomboy. Ia di kenalkan cara bermain Robot dan sebagainya.
Kelahiran nya sebagai putri mahkota cukup membawa perubahan untuk keluarga Antareksa sendiri, karena hanya ia satu-satu nya cucu perempuan di keluaga Antareksa.
Dia tumbuh menjadi anak yang periang serta rendah hati, tentu itu didikan dari kedua orang tuanya yang cukup bagus namun tetap dengan sentuhan kasih sayang yang melimpah.
Rama sudah sukses karena meneruskan usaha milik keluarganya yang kelak akan di ambil alih oleh anak sulung nya, Rully. Jarak usia kakak ber adik ini sekitar 9tahun terpautnya, cukup jauh memang tapi justru itu membuat keduanya tampak kompak dalam melakukan apapun, jarang sekali mereka bertengkar karena hukuman yang di berikan sangat menggelikan.
Jika ada salah satu dari mereka ada yang memulai pertengkaran, Marissa akan menghukum mereka berdua dengan cara saling memotong kuku kaki secara bergantian lalu mengucapkan kata ‘Aku menyayangi mu’ itu sungguh membuat mereka kegelian ketika kuku kaki di potong orang lain.
Tak ayal jika mulai sedari kecil mereka sudah saling menyayangi dan mencintai satu sama lain, sampai-sampai Rully memiliki panggilan kesayangan Tersendiri’Achaaaa’ dan meskipun itu kenyataan Marsha tidak suka dengan panggilan itu karena semasa menginjak sekolah dasar dia selalu di ejek dengan sebutan ‘Achaa..achaa Nehinehi’ Lucu memang tapi bukan berhenti, panggilan itu sudah mendarah dan menjadi kebiasaan Rully.
Kisah cintanya tidak pernah mulus, dia tidak pernah memiliki cinta pertama atau cinta monyet saat menginjak masa SMP itu entah karena mereka tahu marsha siapa entah karena ketomboiannya.
Ia juga ahli di segala bidang olah raga seperti: Basket, Volly, Badminton, serta tenis meja. Jelas itu menjadi salah satu fisik Masha yang menonjol lebih perkasa dari wanita sesamanya.
Tidak hanya itu ia juga memiliki tingkat kecerdasan di atas Rata-rata, semenjak SD Marsha sudah bersekolah di sekolahan elite serta internasional High School.
Banyak saingan nya memang tapi alangkah bahagianya, Marsha tidak pernah tergeser ke peringkat selain nomor satu, tentu marsha menjadi idola baru di sekolahnya. Wajah cantik, prilaku baik, ramah terhadap sesama, siapa pun akan menilai sempurna terhadap apa yang di milikinya.
Seiring berjalannya waktu Marsha sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang sangat imut dan enak dipandang. Usianya kini sudah 16 tahun tepatnya ia sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas di salah satu sekolahan swasta untuk kalangan atas.
Hari ini adalah hari pertamanya nya masuk sekolah, masa ospek yang selalu di alami siswa siswi baru di sekolahan tersebut kala itu. Rambut di kuncir dua mengenakan pita, serta kaoskaki bola beda warna dan lain-lainnya.
Seusai sarapan ia di antar kan oleh sang kakak tercinta menuju sekolah barunya. Mereka sangat akrab mengingat di rumah seluas milik keluarga Antareksa, mereka hanya hidup berempat dan selebihnya adalah pegawai rumah yang ikut tinggal disana.
Jadi pasti mereka hanya berinteraksi berdua sedari kecil, itu membentuk kebersamaan secara tidak langsung. Rully cukup over protektif kepada adik satu-satunya, itu sebabnya ia mengantar Marsha hingga kedalam kelasnya. Rully ingin memastikan sekolah yang di pilihnya sendiri, sekolah yang memiliki lingkungan bagus.
“Bang! Gak usah di anter sampe dalem kelas, gue malu” Cetus Marsha saat berjalan menuju ruang kelasnya. Semua orang jelas melihat pemandangan tersebut ada yang berdecak kagum karena sepertinya hanya Marsha yang di perhatikan sedemikian Rupa oleh sang Kakak.
“Diem..gue cuman mau mastiin lo dapet temen yang baik” ujar Rully sambil terus berjalan di depan sang adik.
“ehhh tunggu-tunggu.. dimana kelas lo?” Marsha memutar bola mata kesal saat sang Abang tiba-tiba berhenti di hadapan nya.
“Hehhhh tuh disana, udah deket buruan lo balik!” Titah Marsha kesal. Rully sama sekali tidak menggubrisnya ia tetap memimpin jalan sampai kedalam kelasnya.
Ia memilih banggku untuk sang adik, ada satu bangku letak nya di tengah tengah.
“Ini Belum ada yang dudukin?” Tanya Rully kepada satu siswi perempuan yang cukup manis dan pendiam, gadis itu hanya menggeleng.
“Lo duduk disini” Rully menarik Marsha untuk duduk di sebelah gadis tersebut.
“Ihh Ngeselin.. udah sana lo pergi”Usir Marsha ketus.
“Iya iya gue pergi, tapi lo inget kalau ada yang macem-macem kasih tahu gue”
__ADS_1
“Iya Bawel!” Rully menyodorkan tangan nya dan langsung di sambut Marsha mencium punggung tangan nya.
Cup… satu kecupan mendarat di kening sang adik… sontak semua yang berada di dalam kelas iri melihat pemandangan tersebut. Dengan kesal Marsha menyusut keningnya kasar.
Setelah puas mengerjai adik tersayangnya Rully berlalu menuju kantor yang sudah ia pimpin kurang lebih dua tahun belakangan ini. Rama sudah memberikan kepercayaan untuk anak sulung nya, karena ia sudah mulai megurus bisnis lain di bidang kuliner.
Marsha kini beralih ke sebelah kirinya, Gadis yang mengenakan kacamata itu tersenyum manis sambil menyodorkan satu tangan nya. “Kenalin Gue Adisti Milka, lo bisa panggil gue Didis” Marsha menyambut uluran tangan Didis teman barunya.
“Gue Marsha Putri, panggil aja Marsha” Didis tersenyum sambil mengangguk.
“Sorry ya soal sikap abang Gue, dia emang gitu terlalu protektif”
“Santai aja, semua kakak juga pasti bakal protektif kalau punya adik se cantik lo Sha” Cetus Didis asal.
“Apaan sih Lo, terlalu lebay itu namanya.” Mereka tertawa bersama.
Obrolan nya terus berlanjut soal perlajaran dan soal pribadi, Didis cukup menyenangkan orangnya awalnya saat Marsha melihat sekilas mungkin ia seorang kutu buku dan pendiam, tapi nyatanya dia orang yang cukup supple dan cerewet.
Beruntungnya Marsha memilik satu teman yang mengasyikan di awal masuk sekolah, saat bel berbunyi semua siswa siswi tahun ajaran baru di minta berkumpul di aula sekolahan tersebut.
Tidak terlalu kejam memang ospek masa sekarang, anggota osis hanya mengenalkan tata letak sekolah dan berbagai ektra kulikuler yang ada di sekolah bertaraf Internasional.
Sekarang ia tengah berkeliling sekolah yang sangat bersih dan luas, saat istirahat Marsha dan Didis sedang duduk di kursi kantin dan memakan bakso milik mereka masing-masing.
Ada empat siswa yang Berjalan kearah kantin dengan rambut terurai panjang, wajah full makeup serta rok yang sangat ketat dan pendek. Ohh ternyata mereka adalah salah satu siswi angkatan senior yang popular dan idaman para kaum adam alias siswa laki-laki.
“Yang gue denger mereka senior paling populer. Bisa di bilang Seleb School di sini” Jelas Didis.
“Oooo.. mereka pinter gak ya?” Tanya Marsha polos.
“Mana Gue tahu Marsha, tapi biasanya wajah tidak menjamin otak encer” Pernyataan Didis barusan membuat Marsha tergelak. Memang benar jangan-jangan mereka hanya bisa dandan tanpa bisa belajar.
“Mereka itu namanya Bella, Agnes, Melly sama satu lagi siapaya.. emm Rubby.. iya Rubby”
“Lo Kok kayak nya tahu banget soal mereka. jangan- jangan lo fans base mereka?” Tuding Marsha di akhir kalimat nya.
“Emm bukan gitu dua di antara mereka alumni SMP gue, jadii sedikit banyak Gue tahu, Sorry gue gak ada waktu, mending ngumpulin album Black Pink dari pada harus ngefens sama orang begitu.. eohhh”. Marsha baru tahu kalau teman barunya adalah Fans garis kerass Black Pink. Jauh berbeda dengan dirinya yang lebih suka musik Hard rock.
Marsha hanya mengangguk mengerti, seraya menghabiskan makan siangnya.
Setelah selesai mereka ingin kembali ke kelas dan melihat siswa satu kelasnya yang sanngat tampan menurut Didis, Bisma Namanya. Siswa yang selalu memandang sinis lawan bicaranya ketika ia sedang di dalam kelas.
Untung nya Marsha tidak satu Frekuensi dengan Didis kali ini, yang Marsha tangkap dari sikap yang di tunjukan si Bisma ini, sikap arrogan dan sok tampan.
Sesampainya di dalam kelas ia kembali duduk dan memperhatikan orang-orang di sekelilingnya, ada yang masih kelakuan bocah saat SMP di bawa ke bangku SMA ada juga yang tidak mau bersosialisasi dengan murid lain.
__ADS_1
Mendapat kan Besiswa disini suatu kebanggaan tersendiri, tentu yang bersekolah disini bukan orang yang ecek-ecek dalam arti sekolah yang isinya bukan anak-anak orang sembarangan, setidaknya harta mereka cukup untuk menyekolahkan mereka disini, jadi ketika kita mendapat peringkat juara umum otomatis beasiswa akan datang menghampiri kita.
Marsha sudah bertekad akan belajar lebih giat lagi agar peringkat nomor satunya semenjak SD tidak ada yang menggantikan.
Waktu sekolah disini fullday dan hampir setengah hari para siswa dan siswi menghabiskan waktu di sekolah dan libur di akhir pekan.
Sudah saatnya siswa siswi pulang di waktu menunjukan pukul tiga sore, setelah hampir setengah hari menjelaskan seluk beluk sekolah Marsha di jemput oleh sang Papa,Rama.
“Dis, lo di jemput?” Tanya Marsha. Mereka berjalan beriringan menuju Gerbang keluar sekolahan.
“Gue di jemput, tuh” Didis menunjuk mobil yang cukup mewah berwarna silver.
“Ohh yaudah lo hati-hati, sampai jumpa besok” Ucap Marsha sambil melambaikan tangannya.
“Bye.. lo juga hati-hati” Jawab Didis membalas lambaian tangan nya.
Marsha menaiki mobil sang Papa yang sudah terparkir di parkiran sekolah dan langsung masuk ke dalam dan duduk di jok depan.
“Hay Pah, udah nunggu lama?”
“Belum sayang.. gimana sekolahnya” Rama pelan mulai melajukan mobil nya.
“Baik.. menyenangkan juga Pa” Jawab Marsha Riang. Seperti itu lah Marsha.
“Syukurlah kalau gitu..”
“Pah! Bisa gak mulai besok pagi aku di anter pak supir aja?” Pintanya merengek, Rama melirik sebentar.
“Lho kenapa gak mau di antar sama abang kamu?” Tanya Rama sambil terus focus menyetir.
“Abang nyebelin, masa ya aku di anterin sampe kedalam kelas, terus milihin aku bangku tempat duduk. Nyium-nyium kening aku lagi, aku kan malu pah, abang nyebelin” Gerutu Marsha manja, Rama yang mendengar penuturan sang anak bungsu malah tersenyum.
“Gak papa dong,itu tandanya abang kamu tuh sayang sama kamu, dia gak mau kamu kenapanapa atau di apa-apain orang lain. Kamu harus ngerti dong” Ucap Rama lembut, Marsha menghela nafas panjang.
“Iya aku ngerti abang sayang banget sama aku, tapi aku juga kan udah Gede bukan anak kecil lagi Pah.. tegur abang ya jangan gitu lagi”
“Papa gak akan tegur sayang,,,tapi nanti papa bakalan kasih tau dia supaya gak gitu lagi” Marsha mengangguk mengerti.
Rama tidak menyangka anak sulung nya akan berbuat hal semanis ini, mungkin marsha belum bisa menerima kasih sayang yang di curahkan oleh sang kakak, tapi pada intinya mereka saling menyayangi sungguh. Hanya saja cara nya yang salah dan hasilnya malah di beri nilai lebay oleh si anak bungsu.
Hallooo Guys ini novel squel dari kisah Gege pesona janda , jika kalian ingin memahami cerita ini alangkah lebih baik membaca novel sebelumnya dulu “PESONA JANDA” ya.
Jangan lupa like dan komen satu atau dua buah kata, sungguh komentar kalian sangat membangun kreativitas ku untuk menulis. Kalau kalian berkenan juga berikan aku hadiah bunga atau kopi, karena menulis sedikit menguras emosi hehhehe.
Love u all.
__ADS_1
wajib ini mah sapa aku di komen😆✌️