Pelabuhan Terakhir Marsha

Pelabuhan Terakhir Marsha
#PTM BAB32


__ADS_3

Ke esokan harinya Marsha tengah membereskan barang bawaan nya, karena baru saja ia melakukan pertemuan dengan salah satu klien nya.


Bisma hadir di café setelah tahu di mana posisi Marsha. Ia harus membicarakan ini dengan serius bersama Marsha, ia tidak Bisa menahana perasaan nya lagi, terlebih lagi ia mengetahui akan sgera di jodohkan dengan wanita yang entah siapa.


“Sha..” Sapa nya, sontak Marsha menoleh kearah Bisma yang tengah berdiri di dekat meja nya.


Marsha memutar bola mata malas “Ada apa? Bukan nya urusan gambar udah selesai di  bicarain sama bokap lo?” Ucap Marsha malas.


“Ada yang mau saya omongin, ini urgent banget” Tutur Bisma memelas. Dengan terpakasa Marsha memberhentikan kegiatan membereskan laptop miliknya.


“Soal apa?” Jawab Marsha malas.


“Perasaan.” Deg..


Apa yang di maksud dengan perasaan yang di ucapkan Bisma? Marsha sungguh malas. Baru saja kemarin ia di sakiti sekeluarga, tidak mungkin kan perasaannya baik-baik saja.


“Perasaan apa maksud lo?” Marsha melirik Bisma dengan tatapan tajam dan tidak bersahabat.


“Perasaan saya Sha, maksud saya. Kamu sudah tahu kan kalau saya menyukai kamu?” Marsha tak bergeming.


“Saya tahu kesalahan saya sudah sangat banyak, tapi tolong maafkan saya Marsha”


“Bisma. Berapa kali gue bilang jangan bahas soal ini lagian gue sama sekali gak ada rasa sama lo” Jelas Marsha dengan gambling, dia tidak mau berpura-pura baik kepada Bisma.


“kamu gak tahu gimana susahnya saya cari kamu di Amerika, saya ikutin kamu kesana karena itu informasi yang saya terima. Saya ingin menebus semua kesalahan saya, tidak bisakah kita mulai dari awal” Suara Bisma semakin tercekat kala terus menerus menjelaskan perasaannya.


Marsha terdiam sejenak, mencarinya hingga ke Amerika? Apa sedalam itu rasa cintanya untuk Marsha.


“Maksud lo apa sih Bis?” Marsha semakin tidak mengerti dengan ucapan Bisma,jelas-jelas ia berkuliah di UI, kenapa ia mencari dirinya hingga ke Amrik.


“Saya sangat mencintai kamu, terimalah pernyataan cinta saya. Saya mohon kamu berkenan untuk di ajak bertemu dengan orang tua saya” Mohon Bisma memelas.


“Gabisa Bisma. Gue belum bisa buka hati buat siapun” Maksud Bisma menyatakan perasaan tapi Marsha kurang suka, karena terlalu formal.


“Saya siap menunggu kamu, kamu harus percaya cinta datang karena terbiasa”


“Gabisa Bisma” Marsha beranjak meninggalkan Bisma. Tidak ada jawaban yang memuaskan. Dengan berat hati Bisma harus menerima perjodohan yang di bicarakan orang tuanya.

__ADS_1


Marsha pergi menuju kantornya, sesampainya di kantor ia di sambut oleh Yopy yang sudah menunggunya di depan ruangan nya.


“Bu.. tadi Bu Marissa telfon saya, katanya malam ini ada rencana makan malam dengan salah satu teman Bapak. Apa Bu Marsha bersedia?” Marsha langsung mengangguk. Yopy heran Biasanya Marsha selalu mencari alasan agar menolak, tapi ini tidak.


“Bilang sama Mama saya, saya mau ikut makan malam, tanya  jam berapa acaranya” Yopy mengangguk dan sgera pergi dari hadapan Marsha.


Dari roman wajahnya Marsha sedang tidak mood untuk di ajak berbicara. Mungkin sebelum nya mendapatkan hal yang tidak mengenakan? Entah lah, yang pasti Yopy sangat tahu untuk tidak mencampuri urusan nya terlalu jauh.


Yopy langsung meraih gagang telepon untuk menghubungi Marissa.


“Selamat siang Bu Marissa” Ucap yopy saat panggilannya langsung tersambung.


“Siang Yop, gimana Marsha mau gak di ajak makan malam?” Tanya Marissa tidak sabaran.


“Bu Marsha sudah Ok bu, beliau menanyakan jam berapa acaranya akan di mulai” Marissa tersenyum menang.


Pada akhirnya sang anak mau juga ikut juga Perjodohan berkedok makan malam.


“Bilang sama Marsha, acaranya jam tujuh malam. Bilang juga sama dia jangan pulang lebih dari jam lima, ini perintah Papa” Ujar marissa.


“Baik bu, akan saya sampaikan. Apa ada yang bisa saya bantu lagi?” Ucap Yopy segan seperti biasa.


Perasaan Yopyta tidak berbuat apa-apa, ia hanya memberi tahu Marsha mengenai makan malam nya saja. Ia sama sekali tidak membujuk sang bos untuk ikut, kalau ia menerima bonus untuk itu jelas Yopy tidak mau menerimanya.


“Tapi bu. Saya..”


“Udah gak papa buat tambahan uang jajan, kalau kamu gak mau kasih langsung no rekening mu secara langsung, saya akan tanyakan langsung ke Aden”


Tut…. Panggilan terputus sepihak oleh Marissa.


Yopy kembali mengetuk pintu ruangan Marsha..


“Masuk..” Titah nya dari dalam.


“Bu.. kata bu Marissa acara makan malam nya jam tujuh malam ini, ibu juga tidak boleh pulang lebih dari jam lima sore ya” Jelas Yopy lebih rinci.


“Iya yop, kamu bisa kembali lagi bekerja” Yopy masih berdiri sebelum mengucapkan kembali kalimat terkahir Marissa.

__ADS_1


“apa lagi Yop?” Tanya Marsha heran.


“Ini Perintah dari Pak Rama” Marsha menghela nafas, sebegitu takutnya mereka Marsha tidak jadi ikut.


“Ohh Astaga, Baik Yopy saya akan laksanakan. Kamu ini, padahal say abos kamu. Kamu malah lebih taku sama Mama dan Papa saya” Cibir Marsha, Yopy langsung pamit dan pergi meninggalkan Marsha di ruangan nya.


Marsha tidak mengerjakan apa-apa usai makan siang ini, hatinya di penuhi rasa gundah dan sisa nama Febry. Memikirkan kembali bagaimana orang yang akan di jodohkan nya, tampan bukan yang utama bagi Marsha tapi kenyamanan. Mengingat menikah bukan lah untuk main-main, meskipun nantinya Marsha belum mencintai sosok laki-laki yang di tunjuk orang tuanya tapi ia harus yakin pilihan orang tuanya tidak akan salah.


Sepenggal hatinya telah di bawa Febry entah kemana, laki-laki yang sama sekali tidak memiliki prinsip, sampai detik ini Febry sama sekali tidak menghubunginya, atau mewakilkan ibunya untuk meminta Maaf karena ucapan mereka itu sudah sangat menyakiti Marsha dalam kategori yang tidak Marsha kenal.


Marsha lagi-lagi sudah harus membulatkan tekadnya usia nya sudah akan menginjak 25 tahun, ia harus mempersiapkan diri untuk mengabdi menjadi istri yang baik dengan siapa pun dia akan hidup.


Waktu berlalu begitu cepat, Marsha membereskan barang bawaan nya. Karena kata-kata Yopy selalu terngiang di kepalanya ‘Ini Perintah Pak Rama’ Terus saja begitu.


Saat Marsha hendak keluar sudah Nampak Yopy yang siap mengetuk pintu, namun ia segera menurunkan lengan nya.


“Astaga Yop apa kamu di terror Mama sampai ingin mengingatkan saya kembali” Yopy Tersenyum canggung.


“Maaf bu saya hanya mau mengingatkan saja” Jawab Yopy sekena nya.


“Baiklah saya akan pulang, jika Mama saya menelpon kamu lagi. Bilang saya sudah Dalam perjalanan pulang” Yopy mengangguk paham.


Marsha mengendarai mobil nya dengan santai walau pun sore ini Jakarta sudah di selimuti dengan kemacetan. Sesampainya di rumah Marsha di sambut oleh sang Mama dari depan garasi.


“anak Mama akhirnya menepati janji” Ucap Marissa sambil merangkul Marsha menuju kedalam rumah.


“Gak usah terlalu lebay gitu deh Ma” Jawab Marsha malas.


“Hey ini adalah rekor, setelah sekian lama Mama ajak kamu untuk makan malam akhirnya kamu mau” Marsha masih diam. “Kamu tahu kan makan malam yang mama adakan hanya sebagai kedok?”


“Marsha tahu, sangat tahu dan sangat mengerti. Mama tidak usah khawatir” Marissa bertepuk tangan untuk menyelamati dirinya sendiri yang sudah berhasil membuat anaknya menyetujui keinginannya.


Marsha berlalu meninggalkan Marissa. “Cha..” Marsha menoleh kala langkahnya sudah di ambang tangga. “Di kamar kamu ada dress kamu pilih yang sesuai dengan selera kamu. Terus kamu poles wajah mu sedikit biar tambah cantik” Marsha tidak menanggapi ucapan Marissa barusan.


Ia hanya berlalu menuju kamarnya, karena Marsha sudah yakin sang mama akan mempersiapkan ini dengan Matang.


Bersambung…

__ADS_1


 


__ADS_2