
Rully mengejar Marsha sampai kedalam rumah,tidak perduli Marissa dan Rama memperhatikan kelakuan abang nya sebenarnya sudah dewasa, ia kerap kali menganggu ke tenangan anak bungsunya, dan itu sungguh sangat mengganggu, karena jika itu terjadi Marsha akan berteriak sekencang mungkin dan memekakan teling siapa saja yang mendengar nya.
Di dalam kamar…
“Cha.. lo gak bisa seenaknya gitu dong main sampe gakinget waktu” Cecar Rully saat sudah masuk ke dalam kamar.
Marsha tersenyum penuh kemenangan, sekarang ini ia sedang berada di atas angina karena mengetahui rahasia sang abang yang sangat takut ia bocorkan kepada Marissa.
“Sekali-kali lah bang, mumet tahu ngerjain tugas mulu” Rully menghela nafas berat, sungguh tidak ada pilihhan lain selain menyutujui pelonggaran hak bermain Marsha.
“Oh iya ngomong-ngomong Raisa itu siapa bang?” Tanya Marsha sambil mendudukan dirinya di sopa kamarnya.
Mata Rully sukses membola,Rully fikir Marsha tidak akan membahas ini karena lupa, tapi seperti di ingatkan kembali Marsha justru membahas nya saat ini pula.
“t—temen.. ngapain lo nanyain soal dia?” Ketus Rully.
Marsha terkekeh mendengar ucapan Rully yang mengatakan kalau Raisa adalah teman. Jelas-jelas ia mendengar kalau Rully memanggilnya sayang dengan mesra, karena sebelumnya ia tidak terlalu tertarik dengan suatu hubungan apalagi pacaran. Marsha yakin jika Raisa ini bukan perempuan biasa yang bisa dengan begitu saja mematahkan prinsip sang abang.
“Masa temen bilang Siapa yang telfon sayang .Preettt!” Marsha memeletkan lidahnya kearah Rully,makin kesal lah Rully mendapat ejekan yang di tujukan untuk dirinya.
Pletakkk satu sentilan lolos dari telunjuk Rully mengenai dahi Marsha.
“Anjr.. Sakit bang Rully.. Gue Aduin Mama Nih!” Ancam Marsha.
“Stop..oke gue bakal ceritain siapa Raisa, tapi lo harus janji gak aduin ini ke mamah, gimana?”
“Oke..”Marsha membalikan arah duduknya menghadap Rully dan bersila sambil menangkup bantal kecil. Ia akan siap mendengarkan kisah percintaan sang kakak yang akan langka ia dengarkan.
“Iya.. dia pacar gue, kita baru jadian sekitar satu minggu lalu, dia satu kampus sama gue adik kelas tapi beda fakultas mungkin beda beberapa tahun sama lo. Gue janji bakal kenalin kalian, tapi gue mohon lo jangan dulu bilang ke mama atau papa soal ini, ada satu lain hal kenapa gue belum bisa cerita ini sama Mama” Marsha mangggut-manggut mendenggar perkataan Rully.
Dalam benaknya ia harus bisa memanfaatkan kesempatan ini,setidaknya Marsha bisa sedikit memiliki waktu untuk bermain tanpa harus di bayang-bayangi oleh Rully.
“Well’ kita bikin kesepakatan” Rully menautkan halisnya.
“Kesepakatan apa maksud lo?”
“Sebagaimana yang kita tahu, lo gak mau mama tahu soal ini kan?? Jadi sebagai ongkos tutup mulut gue, lo harus izinin gue jalan sama temen-temen dan kerja kelompok atau apa pun itu”
__ADS_1
“Tap..” Rully mencoba menyela perkataan Marsha.
“No.!! Gue belum selesai, gue akan tetep izin sama lo.. tapi lo harus izinin gue” Dengan nada pasrah Rully menyetujui persyaratan dari Marsha, meskipun ia sangat ingin menolak.
Tapi karena Raisa belum ingin di kenalkan maka dengan berat hati Rully menyetujui usulan yang sangat menguntungkan pihak Marsha.
“Oke.. gue setuju” Rully menyalami Marsha, saking senangnya setelah bersalaman Marsha melompat dan naik kedalam gendongan Rully, tanpa persiapan Rully langsung menangkap adik tercintanya yang menciumi wajahnya sampai basah.
“Makasih Abang.. Lo emang abang terbaik gue,, gue sayang abang” Ucap Marsha masih dalam gendongan kakak tercintanya.
“Gue juga sayang sama lo Achaa.. lo harus jaga diri meskipun gue udah kasih kelonggaran bukan berarti lo juga bisa seenaknya, gak boleh pacaran” Marsha mengangguk, lagi pula Marsha hampir mirip dengan Rully yang tidak terlalu mementingkan hubungan hanya untuk status.
“Gak boleh pulang lewat dari jam delapan malam terkecuali ada kerja kelompok dan tidak bisa ditunda” Marsha kembali mengangguk.
“Satu lagi.. lo harus bisa jadi nomor satu di sekolah, janji?” Rully menyodorkan kelingkingnya dan dengan mengerti Marsha langsung menautkan klingkingnya.
“Janji” Jawabnya Riang. Rully menurunkan Marsha dari gendongan nya.
“Lo berat juga ya sekarang..” Marsha terkekeh geli, ya jelas berat sekarang ia sudah berusia 16 tahun, bukan lagi anak berusia 5 tahun yang dulu sering ia gendong ketika sedang rewel.
“Abang juga.. istirahat jangan bergadang” Rully hanya tersenyum dan melambaikan tangan ke arah sang adik.
Begitu pintu tertutup Marsha langsung meraih jubah mandinya, hari ini cukup melelahkan karena jalan-jalan bersama kedua teman nya yang sangat menyenangkan, meskipun Marsha sangat menolak kehadiran Bisma disana.
Ternyata sayang nya seorang kakak kepada adik nya memang tidak ternilai, yang di lakukan oleh Rully mungkin juga terjadi di sekitar kita, itu menunjukan bahwa seseorang perdul dengan caranya masing-masing.
Keesokan harinya… Di kantin
“Gue mau coba ini dong..” Marsha memasukan dimsum milik Puput kedalam mulutnya.
“enak ga Sha??” Tanya Puput dan langsung di angguki Marsha.
“Gue juga mau dong cobain ini” Didis menyendok nasi goreng Marsha dengan lahap.
Saat mereka tengah saling coba menu makanan nya tiba-tiba aden membawa dua gelas Boba untuk dirinya dan Puput.
“Buat lo Put” Aden menyodorkan gelas yang berisi minuman coklat boba.
__ADS_1
“makasih Aden” Puput dengan senang hati menerima Boba yang di berikan Aden, bukan tanpa sebab Puput menerima minuman kareena sepertinya ia juga tertarik kepada Aden.
“Hmm yang lagi jatuh cinta,” Gerutu Didis, Puput tertawa dan ditimpali Aden.
“Sorry yaa gue Cuma beliin buat puput doang nih” ujar Aden tidak enak.
“Sans aja kali, lanjutin aja PDKtan nya gue mau ke perpus dulu” Marsha pamit dan membayar pesanan nya.
Didis yang merasa jadi obat nyamuk lebih memilik ke kelas setelah menghabiskan makanan nya, Marsha yang kini tengah membaca buku di ruang baca perpustakaan tanpa sadar di perhatikan oleh Bisma yang berdiri mematung di dekat pintu masuk.
Di balik tangan yang ia sembunyikan ada satu gelas boba rasa macha kesukaan Marsha, ia ragu antara memberikan atau mengurungkan niatnya. Sebetulnya ia sangat ingin memberikan ini sekarang,tapi ragu karena ia takut akan menolak ini.
Bel berbunyi seketika Bisma bersembunyi di balik pintu, sementara Marsha tengah membereskan buku bacaan nya kedalam rak buku.
Marsha berjalan sedikit tergesa karena setelah istirahat adalah pelajaran kimia yang gurunya dan terkenal sangat killer, tapi sayup sayup ia mendengar seseorang di balik pilar memanggil namanya. Marsha mencari pemilik suara tersebut.
Bisma muncul dengan tangan yang ia sembunyikan di balik punggungnya “Lo yang manggil?” Bisma berjalan perlahan dan sekarang berada tepat di hadapan Marsha.
“Ada apaan gue buru-buru” Ucap Marsha lagi, karena mulut Bisma masih rapat.
Seperti ingin mengutarakan sesuatu yang sangat mendesak tapi ia masih ragu, dan itu sungguh tidak di mengerti oleh Marsha. Bisma memberikan satu gelas boba macha yang ia bawa sedari tadi.
Marsha yang melihat itu jadi bingung, untuk apa dia memberikan ini.
“Buat gue?” Bisma menatap Marsha lekat, mulutnya benar-benar sulit untuk terbuka hanya untuk sekedar meminta maaf.
“Sorry..” Tiba-tiba kata itu lolos, Marsha menerima gelas boba tersebut masih dengan keterkejutan nya. Karena setelah Bisma memberikan itu ia lari secepat kilat dan meninggalkan Marsha yang termangu di ujung lorong perpustakaan.
‘Dia kenapa sih, tiba-tiba ngasih beginian ke gue’
“WOY!! BISMA LO GAK RACUN INI MINUMAN KAN” Teriak Marsha, ia semakin kesal kala teringat guru killer yang akan mengajarnya siang ini, seraya ia berlari kedalamkelasnya Marsha berfikir jangan-jangan Bisma mencoba menghambatnya agar ia telat masuk kelas dan di hokum guru kimia nya.
Bersambung…..
JANGAN lupa like ya dan komen juga.
kalau bisa vote mohon🙏🙏
__ADS_1