
Saat Bisma dan Marsha bercanda mesra di kursi yang ia tempati, terdengar lengkingan suara manja yang khas dan super centil, ya siapa lagi kalau bukan Bianca si kutu air. Marsha menatap tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh perempuan seperti Bianca.
Tidak di pungkiri hatinya seolah kesal saat mendapati Bisma-nya tengah di gandeng Mesra di hadapan mata indahnya. Dan oh sejak kapan Marsha menyebut Bisma sebagai milik nya? . seharusnya kan Marsha biasa saja karena ia selalu menyangkal sebuah perasaan untuk Bisma, dan memang benar adanya, jika Marsha belum memiliki prasaan apapun terhadapnya.
“Aku kangen Bisma… semenjak kejadian di rumah kamu itu, kamu gak pernah hubungin aku lagi” Tuturnya dengan tanpa rasa malu, Marsha dongkol jadinya. Memang apa yang di lakukan mereka di rumah Bisma, sejauh ini pula Marsha belum secara resmi di undang ke kediaman Yudishtira.
Anehnya Bisma hanya diam, menatap kearah Marsha seolah ia adalah penolong, memang apa yang bisa di lakukan oleh Marsha.
“Bi! Lepasin malu tuh di liatin orang” Desis Bisma penuh dengan penekanan, dia juga melihat wajah Marsha kini tidak bersahabat sama sekali.
“Jadi kamu malu karena banyak orang?” Bianca menjeda kalimatnya, ia melirik sebentar kearah Marsha dan melanjutkan perkataan nya. “gimana kalau kita lanjutkan di kamar hotel, seperti biasa”
What!!! Hotel?! Jangan-jangan mereka memang sudah sering melakukan entah apa di dalam hotel begitu.
“Jangan ngawur kamu!!” Bisma kembali menepis tangan Bianca yang setia bergelayut manja di sana, seperti lintah yang sudah menempel pada kulit susah untuk di lepas.
“Owhh sorry menganggu. Lanjutkan lah, gue mau lihat sekeliling” Ucap Marsha penuh dengan penekanan. Entah apa sebab nya hatinya seperti bergemuruh melihat kedekatan si kutu air dengan yang katanya calon suaminya.
Kini kaki jenjangnya sudah melangkah menjauhi kerumunan, hatinya tidak menentu kala hal yang tidak terduga hinggap di pikirannya. Pernikahan Febry yang mendadak dan ucapan Bianca yang terakhir sangat mengganggu perasaan serta pikirannya.
Pandangan Marsha lurus kedepan tepat ke air mancur yang menjadi aksen keindahan taman di hotel ini, duduk di kursi kayu dengan cuaca yang tidak terlalu panas dan cenderung sejuk. Melengkapi perasaan Marsha yang tengah di selimuti rasa gundah.
Tiba-tiba ada sesorang yang duduk di samping kanan nya, Marsha beralih fokus kepada wanita paruh baya yang kini tengah memandang lurus kearah air mancur. Marsha jelas mengenali siapa wanita ini, dia adalah Yeni. Orang yang pernah menghina Marsha secara tidak langsung.
“kenapa kamu gak bilang kalau kamu anak dari Rama Antareksa?” Ucap Yeni tidak enak, namun justru itu membuat Marsha menarik sudut Bibirnya.
__ADS_1
“Apa yang harus saya banggakan dari harta milik orang tua saya, toh saya sudah bisa memiliki apa pun yang dimiliki orang tua saya” Tukas Marsha dan langsung membungkam mulut Yeni seketika. Jauh di dalam lubuk hatinya, Marsha sedikit menyesal atas tindakan nya, berbicara soal harta kepada orang tua.
Tapi jika dipikir ulang tidak ada salahnya bukan, jika kita harus membalas ucapan seseorang yang merendahkan kita apalagi soal harta dan uang yang sangat sensitive, begitu lah kurang lebih pemikiran Marsha saat ini.
“Kalau saya tahu kamu anaknya Rama Antareksa, dari awal saya bertemu kamu. Saya jelas akan menolak Bella di saat itu juga dan menerima kamu jadi menantu, ternyata Febry tidak salah memilih kamu sebagai kekasihnya” Terdengar jelas ada helaan nafas menyesal dari setiap perkataan Yeni.
Ucapan Yeni barusan sangat kentara kalau ia termasuk manusia setengah baya yang gila Harta, buktinya anak laki-lakinya ia perbolehkan menikah tanpa di beri kesempaan untuk menolak.
“Pacar? Ibu salah besar. Tidak ada hubungan yang berarti di antara saya dan anak ibu, jadi ibu tidak perlu khawatir soal dengan siapa anak ibu menikah. Satu lagi, jika saya di berikan kesempatan kembali lagi bersama anak ibu, jelas saya memilih tidak, saya tidak mau punya mertua yang ingin kaya secara instant seperti ibu. Bisa-bisa saya miskin mendadak” ucap Marsha pelan namun tepat sasaran. Yeni bungkam seketika, yang di katakan Marsha memang benar, Yeni ingin kaya dengan jalan pintas.
“Kalau pembicaraan kita sudah selesai, saya permisi” Yeni kembali merenung. Ia melihat Marsha berdiri dan berjalan menuju tempat acara, dan Yeni juga langsung melihat jika Marsha sudah di sambut oleh laki-laki tinggi tegap dan tampan.
Yeni jadi menyesal ketika ia berbicara sungguh tidak sopan dan sangat menyakiti Marsha. Untung saja Marsha tidak mengaduukan ini kepada orang tuanya. Entah lah ketakutan Yeni sekarang sama takutnya dengan Bella yang takut Rama mundur menjadi investor terbesar untuk perusahaan nya.
“Sha…”Ucap Bisma sembari meraih tangan nya dengan mimik wajah yang seperti tidak enak.
“Soal Bianca, Tadi saya..Emm itu gak seperti yang kamu pikirkan” Jelas Bisma terbata, antara malu dan tidak enak itu sangat mendominasi. Apalagi sikap Marsha biasa saja, tidak marah atau mencoba menyuarakan perasaannya atas ketidak sukaan nya kepada Bianca.
“Udah gak usah di bahas, gue mau pulang” Marsha menghela nafas setelahnya.
“Maaf.. Yaudah aku antar kamu pulang” Marsha menggeleng. “Gak. Gue mau balik sendiri” pintanya tenang, Marsha benar-benar ingin sendiri sungguh. Tidak ingin di ganggu, tidak ingin melakukan apapun. Intinya dia ingin sendiri.
“Gak Bisa dong Sha, kita kesini kan bareng-bareng, pulang juga harus bareng. Apa kata Mama dan Papa” Ucapan Bisma langsung di potong. “Tapi gak kerumah, gue lagi pengen sendiri” Ucapnya tanpa memandang Bisma sama sekali. Masih seperti tadi, Marsha enggan melirik wajah Bisma sedikit pun, Jika Bisma bisa memilih, ia lebih senang di tatap penuh kebencian oleh Marsha dari pada tidak di lirik sama sekali.
“Kita kerumah saya, masa calon nyonya Yudishtira tidak pernah tahu kediaman nya” Selalu begitu. Bersemu merah wajahnya jika Bisma membahas soal pernikahan mereka.
__ADS_1
“Yaudah buruan!” Titah Marsha sambil memberikan tas mahalnya ke perut Bisma DUkk. “Bawain!!” Ketusnya. karena Bisma tidak mengerti maksud dari Marsha. Marsha dengan kesal terus berjalan menuju dalam Ballroom berniat untuk izin kepada kedua orang tuanya ingin pulang lebih dulu.
“Marsha…” Sapa Hanin yang baru datang di acara pernikahan bella.
“Hay Tente, Om” Marsha meraih tangan Hanin dan langsung mencium nya secara bergantian dengan Farhan yang juga turut hadir.
“Biasakan panggil kami Papi dan Mami,Marsha” Ucap Hanin tidak suka. Bisma sudah bergabung dengan keduua orang tuanya dan Marsha hanya tersenyum dengan kaku.
“Mi, aku pikir mami sudah datang dari tadi. Ternyata baru datang ya..” Ujar Bisma.
“Iya nih Mamih mu terlalu lama dandan, padahal kan udah cantik dari dulu” Hanin hanya mendorong dada bidang suaminya yang masih tegap walaupun sudah di makan usia.
“Papi ini inget umur, masih gombal aja” Ucap Bisma ikut terkekeh.
“Mi, aku mau mampir ke rumah dulu gapapa kan?” Pinta Marsha setengah berbisik.
“Haha astaga.. kamu ini pake izin segala. Silahkan nanti juga kan kamu akan tinggal disana. Tapi Maaf mami dan papi akan ada acara lain lagi dan pasti pulang larut malam. Gapapakan di rumah sendiri?”
“Gapapa Mi”
“Kalau mau makan sesuatu, bisa masak sendiri atau pesan makanan online ya sayang soalnya ART dirumah lagi pada pulang”
Marsha dan Bisma mengangguk mengerti, Kevin juga sepertinya tidak ada di rumah. Calon dokter yang lemot ini lebih senang menghabiskan waktu weekend nya di luar rumah. Karena terlalu sepi katanya.
Setelah pamit kepada orang tuanya Bisma dan Marsha langsung melunur ke kediaman Bisma, entah apa agenda nya tapi Marsha hanya ingin suasana baru untuk bersedih-sedih Ria.
__ADS_1
Di dalam perjalanan pun mereka hanya diam dan larut dalam pemikiran masing-masing. Bisma masih tidak enaak karena insidien Bianca tadi. Sedang Marsha sebenarny tidak mempermasalah kan itu hanya saja perasaan dan pikiran nya terganggu karena Ucapan Yeni dan pernikahan Febry.
Bersambung…