Pelabuhan Terakhir Marsha

Pelabuhan Terakhir Marsha
#PTM BAB24


__ADS_3

Hari ini Marsha tengah bersiap akan menemui beberapa klien di luar kantor, karena ada beberapa project yang masuk ke kantornya, ia akan bertemu dengan klien Febry,Thomas, dan Bisma yang terakhir.


Tidak terasa waktunya makan siang sudah tiba, walau pun dengan langkah kaki yang terputus Marsha masih bersemangat menemui klien yang bernama Febry. Sebab ini adalah pertemuan pertamanya, semenjak tanda tangan kontrak kerja dengan Febry,Marsha hanya bertukar gambar dan kabar melalui whats upp.


Kenapa kakinya tertatih saat berjalan? Itu adalah perbuatan Bisma yang dengan sengaja memberhentika kendaraan Marsha dengan alasan Marsha yang mengendarai motor secara ugal-ugalan.


Kecelakaan tidak bisa di hindarkan, mau tidak mau lututnya yag putih harus mencium aspal dan sebagi gantinya ia harus mendapat luka lecet yang cukup dalam sampai-sampai celana jeans yang ia kenakan robek persis dengan luka di lutut nya tersebut.


Setelah saling bertukar kabar mereka,Febry dan Marsha bertemu di parkiran dengan tidak sengaja. Karena Febry hanya melihat di profil Whats Upp nya saja.


“Mbak.. Marsha ya?” Tanya Febry kepada wanita yang baru saja turun dari motor KLX nya.


Marsha bisa menebak siapa yang bertanya barusan. “Mas Febry?” Tebaknya tepat sasaran.


Kenapa Marsha bisa mengetahui kalau pria di depannya adalah Febry? Itu karena ia satu-satunya yang memanggil Mbak walau pun Marsha sudah berulang kali memintanya agar memanggilnya dengan sebutan nama saja,tapi tetap saja memanggil seperti itu.


“Benar sekali..” Febry tersenyum kearah Marsha.. Oh sungguh manis sekali,batin Marsha berbisik.


Marsha terkekeh ternyata klien nya satu ini cukup asik dan sepertinya humoris. Hmm Marsha tidak tahu saja kalau aslinya Febry bagaimana. Lebay.


Tapi masa iya kan Febry lebay di depan wanita cantik seperti Marsha, sebab ini harus di ingatkan kembali,Febry aslinya lelaki tulen hanya saja karena pergaulan ia menjadi lebih parah,lebay.


“Kita makan siang dulu ya.. abis makan terus bahas kerjaan gimana?” Tawar Febry, Marsha mengangguk dan mereka berjalan bersisian menuju meja yang mereka pesan.


Febry sesekali melirik Marsha yang tengah memakan makan siangnya. Tidak di pungkiri wajah Marsha sungguh cantic dengan manis yang mendominasi. Rambut panjang dandanan nyentrik menambah nilai plus untuk seorang Marsha Putri.


“Kamu oke juga ya..” Ucap Febry di sela makan nya.


Marsha menautkan halisnya OKE dalam arti apa nih. Belum apa-apa Marsha sudah di buat blasing.


“Okee bagaimana maksudnya?” Tanya Marsha.


“Ya Oke aja.. emm sepertinya pencapaian kamu udah banyak’’ Marsha menggeleng..


“ini belum apa-apa kok Mas Febry”


“kamu cantik,karir cemerlang, mau nyari apa lagi?”

__ADS_1


Febry memang mulai tertarik dengan Marsha, walaupun pertemuan tatap muka mereka baru di lakukan hari ini tepatnya beberapa menit yang lalu. Marsha juga begitu, ia merasa ada yang aneh di dalam hatinya, seperti ada yang mendorong hatinya ketika obrolan FFebry berlanjut.


“Amin..” Jawab Marsha pendek.


Ia bingung harus jawab apa, selain orang nya humoris ternyata Febry termasuk orang yang blak-blakan dan terusterang. Sebagian orang ada yang suka kesan terus terang tapi kebanyakan orang juga tidak menyukainya.


Mereka menyelesaikan acara makan nya dengan bumbu komedi Febry yang mendominasi, setelahnya mereka membahas soal pekerjaan karena Febry akhir bulan ini karena anggaran nya sudah cukup dan semua hasil kinerja Marsha sangat bagus.


***


Sore harinya Marsha berencana bertemu dengan Didis, karena semenjak pertemuannya beberapa hari lalu mereka sudah saling merindukan dan sekarang disini lah Didis.


Di kantor Mars Corp milik sahabatnya, mereka sudah memilik janji temu dan langsungdi liliskanoleh Annisa untuk menuju lantai atas. Tapi saat hendak menaiki lantai dua Didis berpapasan dengan seseorang yang ia kenal.


“Aden?” Gumam nya pelan.


Sedang Aden menunjuk Didis tidak menyangka.


“Adisti?!” Pekiknya tidak menyangka.


“Ngapain lo Den disini?” Tanya Didis antusias lalu menyalami Aden.


“Gue menjabat jadi mentri keuangan disini” Aden menyombongkan dirinya


“Cie mentri keuangan, Puput udah tahu lo kerja sama Marsha” Tanya Didis.


“Udah lah,orang dia yang nyuruh gue nerima kerjaan ini.. yuk gue anter ke ruang bu bos” Mereka brjalan briringan sampai di depan ruangan marsha.


Tok..tok..tok


“Bu Presdir ada tamu agung nih” Ucap aden sambil terkekeh dari luar.


“Masuk” Titah Marshasambil berteriak,ia sudah tahu maksud dari tamu agung yang di ucapkan oleh Aden.


Mereka berdua masuk dan langsung duduk di kursi sopa.


“gue kelarin dulu revision gambar hotel si Bisma ye, kalian pesen makanan gih atau ngapain dulu gitu”

__ADS_1


“Bisma?” Ucap mereka bersamaan.


“Iya si Bisma, gue lagi ada project bareng sama dia”


Rencana nya malam ini Didis akan mengajak Marsha pergi ke kelab malam. Kehidupan Didis saat di Australi memang sedikit bebas, entah Marsha mau atau tidak tapi ia akan tetap pergi kesana.


Hampir dua jam Didis dan Aden menunggu di ruangan Marsha dan akhirnya selesai juga. Didis sudah mengutarakan niatnya untuk pergike kelab malam. Itu langsung di settujui Aden.


“Yakin kesini?” Tanya Marsha dalam mode bingung. Sebelumnya kan ia belum menginjak pernah menginakan kaki di tempat seperti ini.


“Yakin cha, udah lama gue ga ke kelab setelah kepulangan gue ke indo” Jelas Didis antusias. Mereka bertiga pun masuk.


Marsha mengedarkan pandangan nya ke seluruh penjuru ruangan dance flor menjadi lautan manusia, banyak manusia berpakaian kurang bahan dan melakukan hal-hal di luar norma.


Music disk jockey berdentum dengan keras sampai memekakan telinga Marsha.


“Anjir berisik banget” Keluh marsha berteriak kepada Aden.


“Jangan katro lo. Disini memang begini, mendingan lo pesen minum sana”Jelas Aden berteriak.


Marsha bingung harus meminum apa di tempat seperti ini, ia melihat didis sudah Duduk dengan gelas di tangan nya. “Lo minum apaan?” Tanya nya.


“Ini?” Didis mengangkat gelas nya. “Ini Wine waktu di Ausy gue sering minum ini, cobaindeh emang kalau pertama nyoba pasti aneh” Didis memberikan satu gelas wine untuk Marsha.


“Gapapa nih gue minum ini?” Marsha ragu saat akan meneguk minuman nya. Ia juga melihat cara Didis meminumnya, seperti di sesap.


Dengan ragu Marsha menoba nya ‘Hmm ini tidak terlalu buruk’ gumam nya pelan. Ia melirik gelas nya yang sekarang sudah kosong. Anehnya malah Marsha ingin minum lagi dan lagi.


“Enak kan?” Tanya Didis tepat di kuping Marsha.


“Enak.. gue baru nyobain sekarang” Ucap Marsha sambil terkekeh.


“Astaga jangan bilang stelah 24 tahun lo baru nyoba?” Marsha tidak mengelaknya karena memang kenyataan nya Marsha baru mencoba minuman beralkohol.


Aden masih sibuk meliak liuk di atas dance flor yang di penuhi kerumanan wanita cantic nan seksi. Benar kata orang walau pun sudah berkata cinta, tetap saja jika jauh dimata segala kemungkinan akan terjadi. Buktinya Aden malah asik bercengkrama dengan wanita lain, saat Puput jauh dari korea.


Tidak terasa Marsha sudah menghabiskan hingga beberapa gelas, sekarang pandangan nya menjadi mengabur, kepala nya sungguh berat.

__ADS_1


Ia menyandarkan kepalanya di kepala sopa. Tapi sayup-sayup dalam kegelapan, ia melihat sosok yang paling ia hindari. Siapa dia…


Bersambung.


__ADS_2