
Pagi ini Marsha dengan takut-takut diam di dalam kamar mandi, ia berencana memeriksakan dirinya tengah berbadan dua atau tidak.
Dengan perlahan ia membuka tiga bungkus test pack, Marsha sudah menampung ari seni nya di dalam gelas kecil. Matanya tertuju kepada tiga alat yang sangat akurat untuk mengecek kehamilan.
Hanya butuh waktu tiga menit hasilnya langsung keluar, satu garis merah.
“Ohh alhamdullilah.. terimakasih yaallah” Marsha mengusap wajahnya bahagia.
Setelahnya seperti ada pencerahan Marsha mengingat sepenggal kejadian yang ia alami bersama Bisma. Dia sama sekali tidak melakukan apa pun, hanya saja kalau genggaman tangan serta pelukan itu memang di akui Marsha. Sedang yang kata Bisma ia memuji dirinya itu salah, Marsha tidak bilang Bisma ganteng itu sama sekali tidak benar.
Biarlah kejadian memalukan itu Marsha kubur dalam-dalam, karena kejadian itu tidak ada artinya sama sekali bagi Marsha. Entah bagi Bisma,mungkin sama-sama tidak ada artinya sama sekali.
Marsha berangkat menuju kantornya karena ada lanjutan janji temu dengan Febry orang terdekatnya saat ini. Marsha bisa semakin merasakan kasih sayang Febry secara langsung.
Tidak di pungkiri perasaan nya semakin dalam untuk Febry.
“Achaaa.. kamu apa gak akan sarapan dulu?” Teriak Marissa saat Marsha hendak keluar dari pintu utama.
Marsha berhenti lalu menoleh “Aku mau sarapan di luar Ma, berangkat ya” Ucapnya sambil terus berlari ke luar pager.
“Bos kecil gak pakai mobil?” Tanya pak Amin. Marsha terus saja berlari sambil berbalik. “Aku bareng temen Pak” Ucapnya berteriak kencang,sambil melambaikan tanngan pada supir kesayangannya.
***
“Pah, Kamu ngerasa gak kalau anak mu berubah?” Ucap Marissa sembari mengalaskan nasi goreng untuk sang suami.
“Iya Ma, Papa juga gitu apa dia udah punya pacar?” Tanya nya bergumam.
“Iya kali pah cuman belum berani bawa kesini.”
“Tar papa tanya aja deh Ma” Pungkas Rama.
Mereka menghabiskan makan pagi ini dengan hening, tidak ada lagi pembahasan lain, karena sebentar lagi Rully akan menikah dengan pilihan nya yang sangat cantik menurut Marissa.
Marissa membereskan sisa piring kotor kedalam wastafel dan langsung di bersihkan oleh Asti ART di rumah Rama.
“Ti, kamu di kasih bolu sama Marsha kemarin?” Tanya Marissa kepada wanita muda keturunan sunda tersebut.
“Muhun,Nyah. Bolunya tehh enak pisan, bawanya juga banyak” Marissa mengernyitkan dahi, ia sediki bingung kenapa anak bungsunya membeli begitu banyak bolu.
“Semua di bagi sama non Marsha” Tambahnya lagi.
Ia juga sama tadi menerima bolu dan disert box pemberian anak nya, rasanya memang enak dan sekaligus tidak asing di lidah Marissa. “Ti, dimana semua paper bag nya?” Tanya Marissa.
“Udah si Mbok buang ke tempat sampah,Nyah” Jawab Asti polos.
Marissa sungguh penasaran dengan rasa bolu dan cemilan manis lainnya, rasanya ia pernah memakan rasa ini dulu. Mudah- mudahan yang di curigakan nya benar, seseorang yang membuat ini sungguh memiliki peran aktif untuk hidupnya.
“Suruh Amin cari,Ti. Sekarang!” Asri berlari mencari Amin dan Yono untuk mencari paper bag yang di maksud majikan mereka.
__ADS_1
“Ono opo, Asti lari-lari?” Tanya Yono ketika melihat Asti berlari kearahnya.
“Pak Yono, bantu cari paper bag yang di buang Mbok yem” Ujar Asti buru-buru.
Dengan sigap Yono dan Amin mencari di setiap penjuru tempat sampah di rumah ini.
Amin mengangkat tangan nya kearah Asti “Ini bukan Ti?” Asti menoleh dan segera menghampiri Amin.
“Bener ini pak Amin. Makasih ya Asti mau kasi ke nyonya dulu” Asti berlari kecil menuju rumah dan menghampiri Marissa yang tengah duduk di dalam ruangan TV.
“Nyah. Ini paper bag yang di bawa sama enon" Asti memberikan Paper bag tersebut.
Toko kue dan bolu SWEET HANS letaknya lumayan jauh dari sini, Marissa juga berencana untuk membeli beberapa kue,karena acara arisannya akan di selenggarakan besok lusa.
Karena waktu tempuhnya cukup jauh Marissa memilih pergi sekarang, lagi pula siang ini juga Marissa ada janji dengan calon menantunya,Gerana untuk membeli barang bawaan seserahan.
Marissa melajukan mobil nya tanpa supir, mungkin sudah lewat dua puluh menit ada mobil mewwah yang parkir di depan rumahnya. Sang empunya mobil pun keluar.
Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik. “Selamat pagi pak, apa Marissa ada di dalam?” Tanya Hanin.
Amin membuka kan gerbang “Mohon maaf,nyonya baru saja pergi. Atau mau saya telfon?” Hanin mengangkat tangannya. “Tidak usah, biar saya kesini lain waktu, saya permisi ya”
Itu lah Hanin mereka sudah sering membuat janji tapi tidak mau saling berkabar, biar kebetulan yang mempertemukan mereka,katanya.
Hanin melajukan kembali mobilnya, ia berencana akan membantu melayani toko kue saja seharian, habisnya ia tidak ada kegiatan yang menyenangkan seperti momong cucu begitu.. sayang nya itu hanya menjadi angannya saja, karena sosok menantu idaman nya saja belum ada.
Memakan waktu cukup panjang untuk sampai di toko kue miliknya. Seperti biasa sudah ramai pengunjung dan sepertinya toko ini baru buka setengah jam yang lalu.
Karena konsep toko kue Hanin lebih seperti café, jadi jika ada seseoran yang ingin memakan langsung pesanannya itu juga bisa.
Hanin melihat satu pelanggan berambut panjang namun di ikat dan di cepol ke atas. Gestur tubuhnya seperti Hanin kenal. Apa jangan-jangan..
“Marissa.. Cha? Itu kamu kan?” Ucap Hanin sepontan.. yang di panggil namanya langsung menoleh lah.
“Anin?!” Marissa terkesiap dengan mata berbinar, yang ada di hadapannya saat ini adalah benar sahabatnya.
Greb.. Anin memeluk Icha hangat, Marissa masih mematung ia tidak menyangkan kalau mereka akan bertemu disini, mengingat banyak sekali jadwal temu tapi selalu gagal.
Hanin melerai pelukan nya, ia tetap merangkul Hanin dan menuntunnya untuk duduk.
Mereka duduk berdampingan “Kamu apa kabar An?” Tanya Marissa khawatir sambil mengusap lengan nya.
“Aku baik Cha, Yampun gak nyangka banget kita ketemu disini” Ujarnya sambil mengelus lengan icha. “Tadi aku kerumah, tapi supir mu bilang kamu baru aja pergi” Icha tersenyum.
“Kebiasaan. telfon dulu kan bisa. Pasti mau kasih kejutan kan” Hanin mengangguk “Tapi selalu gagal” Sangga Hanin cepat dan itu di angguki Marissa.
“Olive..Liv” Teriak Hanin kepada salah satu karyawan nya. “Buatkan Kami minuman, coklat panas ya” Hanin mengajukan tawaran untuk Marissa, dan langsung di angguki. “gula nya sedikit ya Mbak” Pinta Marissa.
Marissa melihat sekeliling toko, Hanin seperti mengerti kebingungan yang tengah di rasakan oleh Marissa “Setelah menikah sama Mas Aan aku kan gak langsung punya anak, makanya aku di bikin toko kue sama dia dan sampai sebesar ini”
__ADS_1
“Ohh jadi ini toko punya kamu?” Marissa berdecak kagum melihat dekorasi yang manis serta kekinian.
“Iyaaa.. Ohya sorry ya tempo hari aku gak dateng ke acara ulang tahun mu. Asma ku kambuh” Ujarnya sedikit menyesal.
“Tidak masalah, Kevin sudah cukup besar ya. Ternyata kita sudah lama tidak bertemu” Hanin mengangguk membenarkan.
“Kita sama-sama sibuk setelah setelah menyandang status nyonya” Marissa dan Hanin terkekeh.
“apa yang membawa mu kemari? Jelas toko ini tidak akan terkenal samapai ke telinga nyonya Atareksa bukan, mengingat letaknya juga cukup jauh dari kediaman mu” Marissa menggelengkan kepala mendengar penuturan Hanin yang terkesan berlebihan.
“Anak bungsu ku sepertinya kemarin kesini, dia membawa beberapa kue dan membagikannya. Aku sempet coba juga, rasanya seperti tidak asing. Untuk memastikan dugaan kubenar aku datangi saja” Jelas Marissa.
“Dan dugaan mu benar Cha?” Marissa ternyum kala dugaan nya benar, pemiik toko kue ini adalah hanin.
“Ohh ya aku baru tahu kalau kamu memilik anak bungsu?”
“Iya penantian ku cukup panjang, dia lahir Sembilan tahun setelah Rully. Anak sulung mu itu sekarang bekerja dimana?” Tanya Marissa, karena seingatnya anak Hanin sungguh tampan dan mewarisi wajah Farhan. Sedang Kevin walaupun ia laki-laki wajahnya cenderung manis seperti Hanin.
“Sekarang dia memimpin perusahaan Mas Aan yang bikin hotel itu lho”
“Hebatnya,apa dia semakin tampan?” Hanin mengangguk antusias.
Mereka mengobrolkan tentang masa lalu yang sangat indah yang mereka lalui bersama, bisa melalui masa sulit ketika sama-sama ingin meraih beasiswa. Sampai pada akhirnya mereka di nikahi oleh anak konglomerat yang kekayaan nya tidak main-main.
“Oh ya cha, aku ingin menanyakan sesuatu. Saat Kevin hadir di pesta mu itu dia melihat sosok perempuan yang sangat cantik. Mungkin saja itu anak dari salah satu kolega mu atau Bang Rama. Sebab aku sangat penasaran akan sosoknya, kamu tahu, dia sudah membantu ku dua kali dalam keadaan yang mendesak” Marissa menautkan halisnya, memang siapa yang hadir dipesta orang tua. Seingatnya tidak adaa anak kolega Rama mau Pun Marissa yang hadir.
“Hmmm aku rasa tidak ada Anin, sebab hampir semua yang hadir disana ibu-ibu seperti kita dan bapak-bapak seperti bang Rama” Tutur Marissa.
“Aku sangat ingin menjodohkan nya dengan Bimbim anak sulung ku, dia selalu membantu aku setiap dalam kesusahan. Saat asma ku kambuh,saat aku akan di begal. Dia selalu saja menolong ku. Jelas ini bukan kebetulan mungkin saja ini takdir” Paparnya, Marissa kembali berfikir apa mungkin yang di maksudnya adalah Gerana menantunya.
“Aku yakin orang tuanya mendidiknya dengan baik, makanya dia selalu saja membantu ku” Terusnya lagi.
“apa nama anak yang kamu Maksud itu Gerana?” Tanya Marissa memastikan.
“Bukan, namanya Marsha. Aku tidak tahu nama panjangnya, sangat di sayang kan ya, kalau aku tahu.. aku akan langsung meminta nya pada orang tuanya agar bersedia menjodohkan nya dengan putra sulung ku” tersirat jelas kekecewaan di matanya.
Marissa menerawang dengan tatapan tidak percaya, ternyata anak bungsunya punya jiwa social yang tinggi bahkan bisa meninggalkan kesan baik bagi orang lain dan itu adalah sahabat nya sendiri.
“Hmmm namanya Marsha?” Tanya Marissa sambil terkekeh, sontak itu membuat Hanin menautkan halisnya, kekehan Marissa ini maksudnya apa.
“Iya namanya Marsha. Kemarin kami baru bertemu dan aku membawakan nya banyak kue untuk ia bawa, sebagai rasa terimakasih ku”
Terjawab sudah kenapa Marsha bisa begitu banyak membawa makanan manis, dan itu semua dari Hanin.
“Apa tadi kamu bilang.. jika kamu mengetahui siapa orang tuanya kamu akan memintanya untuk menjadi kan nya menantu?” Hanin mengangguk pasti.
“Kenapa kamu tidak memintanya langsung pada ku?” Ucap Marissa enteng.
Otak Hanin masih membeku mendengar penuturan tersebut, apa maksudnya adalah Marsha adalah anak Marissa?ohh astaga dunia ini sungguh sempit.
__ADS_1
Bersambung…