Pelabuhan Terakhir Marsha

Pelabuhan Terakhir Marsha
#PTM BAB36


__ADS_3

Marsha membanting pintu sangat keras sebagai bentuk protes kepada keluarganya, bagaimana tidak Marissa sangat ingin menjoodohkan nya dengan anak teman nya, tapi setelah Marsha mencoba walauu pun tidak ingin Marissa dan Rama seolah ingin menghalanginya padahal ini adalah impian mereka berdua bukan, lalu apa masalahnya toh yang di lakukan Bisma adalah kebodohan nya di masalalu, entah apa yang ada dalam pikiran kedua orang tua serta abang yang katanya sangat menyayanginya itu.


Ia masuk kedalam kamar mandi, dan mengguyur dirinya di bawah kucuran shower. Marsha menangis sejadi-jadinya, hidupnya tidak pernah mulus terkecuali dalam urusan bisnis jelas Marsha unggul. Namun jika menyangkut soal jodoh Marsha nol besar. Kenyataan nya ia di tolak oleh ibunya Febry saja masih membekas di relung jiwanya, belum lagi perjodohan nya dengan Bisma.


Anggap saja Marsha ingin menyembuhkan luka yang di torehkan febry dengan menerima perjodohan ini, walaupun ia tidak tahu arus akan membawa hubungan nya sampai dimana. Tangisannya semakin mengeras kala mengingat nasibnya yang tidak pernah mulus.


‘Apa salah ku.’ Lirihnya pelan dan nyaris tidak terdengar


Ia meneruskan ritual basah-basahan nya dengan mandi malam saja, karena besok ia harus segera menyelesaikan project baru yang sedang ia garap di bali, mau tidak mau ia harus ke bali untuk beberapa waktu ke depan, dengan enggan Marsha memejamkan mata nya dan masuk kea lam mimpinya.


\=\=\=\=


Meskipun kepalanya terasa berat Marsha tetap pergi menuju kantornya, berharap kejadian kemarin tidak pernah ada, saking tidak maunya bertemu dengan orang rumah Marsha pergi sangat pagi dan memilih mengistirahatkan tubuhnya di dalam kamar pribadi kantornya.


Kepalanya pusing dan berdenyut, Marissa yang berada di rumah sudah menduga kalau Marsha menghindari masalah yang tengah di hadapinya, ini lah kekurangan Marsha selalu lari dari masalah.


“Bu..” Ucap Yopy langsung masuk,karena sudah hampir lima menit ia mengetuk tidak ada jawaban sama sekali, ia takut dan curiga jika terjadi apa-apa dengan bos cantik nya.


“Ya ada apa Yop?” Tanya Marsha malas, ia bangkit dari sopa panjang yang sedang ia tiduri.


“Di bawah ada tamu, katanya mau ketemu ibu penting, padahal saya udah bilang kalau ibu lagi gak mau di ganggu” Ucap yopy tidak enak. “Siapa yop?” tanya Marsha penasaran.


“Kalau tidak salah dia salah satu klien nya ibu, tadi juga dia nyebutin namanya, Febry” Ujar Yopy dan langsung membuat Marsha tersenyum semangat.

__ADS_1


“Dimana sekarang?”


“Di lobby bu” Marsha langsung berlari kecil menuju ke lobby, ternyata Febry tidak seburuk yang ia pikirkan, Marsha Tarik kembali ucapan nya yang mengatakan bahwa Febry tidak memiliki pendirian karena pada kenyataan nya ia mendatangi kantor Marsha dan mungki saja ia akan memperbaiki hubungan mereka.


Sesampainya di lobby Marsha melihat Febry tengah duduk dan tepat di samping kanan nya ada tangan perempuan yang bergelayut manja dan bisa di pastikan itu adalah Bella, calon isrinya. Senyum Marsha yang tadinya mengembang hilang menguap begitu saja.


“Marsha..” Febry berdiri dan langsung menepis tangan Bella.


Dengan menetralkan perasaan nya Marsha berjalan menghampiri Febry “Ada perlu apa kalian kemari?” Tanya Marsha seraya mendudukan tubuhnya di sopa dekat mereka.


“Silahkan duduk, lebih enak berbincang sambil duduk bukan?” Febry dan Bella ikut duduk. “sha.. tujuan kami kemari adalah…” Bella menyela cepat “Tujuan kita kesini adalah tidak lain dan tidak bukan, untuk mengantarkan undangan ini. Kami akan menikah satu minggu dari sekarang, Kami harap kamu bisa datang” Febry hanya menghela nafas pelan, menyesal sangat ia mengizinkan Bella ikut untuk ini.


Febry berencana akan menjelaskanya tidak terlalu buru-buru dan to the point agar Marsha tidak terlalu sakit kala mendengarnya, tapi mau bagaimana ucapan si kutu kupret Bella sudah seperti kereta exspess yang tidak ada hentinya.


Bella dan Febry pergi, sedang Marsha masuk kedalam ruangan nya. Tidak tidak di pungkiri hatinya saat ini bagai di tusuk-tusuk duri yang entah kapan hilang nya dan kapan sembuh nya.


88


Di tempat lain….


“Chaa.. aku minta maaf atas kelakuan Bisma di masa lalu, aku sudah menghukum nya dengan membiarkannya hidup di Amerika tanpa siapa pun, aku juga tahu siapa perempuan yang ia kerjai nya tersebut, tapi betapa bodohnya aku tidak mengingat kalau itu adalah Marsha” Ujar Hanin kepada Marissa dengan wajah yang sedih.


Karena mereka berlima tengah duduk dan makan siang bersama termasuk dengan Bisma, ia harus tahu keputusan apa yang sudah Rama buat untuk hubungan nya dengan Marsha.

__ADS_1


“Sebenarnya perbuatan Bisma sudah sagat keterlaluan dan tidak bisa di tolerir, tapi sepertinya kita harus buktikan kalau ucapan akan membahaiakan Marsha bukan hanya di mulutnya saja" Ahhh akhirnya Bisma bisa bernafas lega, Rama sudah menyetujui hubungan nya dengan Marsha.


“Iya om saya berjanji akan membahagiakan Marsha, dan untuk kejadian dulu saya mohon maaf, kebencian tidak mendasar hanya karena beasiswa” Ujar bisma dan itu mengundang kekehan dari keempat orang tua di hadapan nya.


“Iya sudah Bim tidak perlu membahas ini, yang lalu biarkan lah berlalu. Dan sekarang saatnya kamu menata masa depan dengan Marsha, jadi kapan pernikahan kalian akan di selenggarakan?” Tanya Marissa menyudahi drama yang di besar-besarkan Rully.


“Terimakasih Om,Tante sudah memaafkan kesalahan saya dan terutama memberikan kesempatan yang besar ini” Bisma tersenyum “Oh ya kemarin saya juga sudah mengobrol banyak dengan Marsha, Dia tidak keberatan soal pernikahan yang akan di selenggarakan bulan depan” Lanjut Bisma lagi, jelas itu membuat senyum Hanin tidak henti.


“Aku senang lho cha anak kita akan berjodoh, ternyata allah mempertemukan kita dengan cara yang gak terduga” Ujarnya membuat semua mengangguk setuju. “Iya An, aku merasa bersyukur karena Marsha akan mendapat pendamping hasil didikan mu” Puji Icha membuat Hanin tersenyum.


“Sebaiknya Bimbim kirim makan siang untuk Marsha” Usul Icha di sela makan siang nya, “Makanan favorit Marsha apa tante?” Tanya Bisma penasaran.


“Kamu jalan ke kantornya pokonya di sebelah kiri ada resto makanan diet, kamu pesen aja menu komplit itu yang paling dia suka, biasanya dia sering telat makan siang, karena gak punya ayang” Marissa terkikik sendiri kala mendengar ucapan nya yang terkesan menghina anaknya sendiri.


“Gapapa gak punya ayang Ma, bentar lagi kan bakal punya suami” Ucap Rama membela karena dalam waktu dekat pernikahan Marsha dan Bisma akan di gelar besar-besaran. Agar dunia tahu kalau Marsha putri Antareksa adalah anak orang nomor sekian di Indonesia.


“Iya udah Mi,Pi Aku pamit” Bisma meraih tangan Hanin dan Farhan untuk menciumnya. “Tante,Om aku pamit ya” Bisma kembali meraih tangan sang calon mertua.


“Hati-hati ya Bim, pastikan Marsha makan makanan nya ya” Bisma mengangguk saat mendengar Marissa memberinya pesan yang akan ia lakukan .


Kesempatan apapun itu akan Bisma lakukan semaksimal mungkin. karena menurutnya kebahagiaan Marsha lah yang paling penting. Bisma segera melajukan mobil sport nya menuju resto yang di maksud oleh Marissa tadi, sungguh ia tidak sabar untuk melihat wajah berbinar calon istrinya.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2