
Sementara di dalam kelas, Marsha justru tampak tenang menghadapi soal soal yang sedikit membuat yang lain pusing, tapi tidak dengan Marsha.
Hatinya benar benar sudah plong kala tangan nya telah terjun bebas menghantam wajah yang sungguh ia benci. Di kelas ini, sudah tidak ada lagi yang Marsha takutkan, meskipun itu berurusan dengan Bisma sekali pun.
“Untuk tugas yang sudah selesai tolong kumpulkan ke depan, kalau ada yang belum selesai kumpulkan minggu depan”Ujar guru Agama yang mengajar diakhir jam pelajaran.
Ada beberapa siswa yang mengumpulkan tugas kedepan termasuk Marsha. Marsha membereskan perlengkapan tulisnya dan berniat untuk menyimpannya di loker miliknya.
Ternyata Bisma sedang membereskan loker miliknya, dengan malas Marsha memasukan buku dan alat tulisnya sesegera mungkin. Bisma sudah berjalan mendekat, ada sesuatu yang ingin ia sampaikan kepada Marsha tapi melihat Marsha yang acuh Bisma kembali mengurungkan niatnya.
Didis dan Puput Sudah terlebih dahulu pulang dan mereka berpisah di pintu kelasnya saat Marsha akan berbelok kearah loker miliknya.
Kini ia justru berjalan sendiri menuruni lorong dan tangga yang lumayan sepi, sesampainya di parkiran sekolah, bukan mobil pak Amin yang menjemputnya tapi mobil sang Papa lengkap dengan Mama tercintanya.
Dari kejauhan Marissa sudah melambaikan tangan ke arah Marsha yang kini berjalan mendekat.
“Lho.. Mama tumben jemput” Ucap Marsha saat sudah berhadapan dengan Marissa. Marissa memeluk anak bungsunya hangat.
“Iyaa.. tadi Mama nyalon terus di jemput Papa soalnya mobil Mama lagi di bengkel” Akunya ceria, sebenarnya Marissa sudah sangat ingin menanyakan bagaimana ke adaan sang anak setelah perlakuan tidak mengenakan yang di lakukan oleh para pelaku yang entah bermotif apa.
Tapi semua rasa penasaran Marissa harus di tahan, sebab Rama sudah mewanti wanti istri tercinta agar membahas ini di rumah dan harus membuat anak nya senyaman mungkin, agar tidak ada lagi yang ia tutup tutupi jika ada masalah seperti ini lagi.
“Oooo gitu.. yaudah kita pulang sekarang” Ajak Marissa sambil membuka kan pintu mobil kursi penumpang untuk sang anak tersayang.
Saat sudah di dalam mobil Rama memandang wajah anaknya dari kaca spion tengah “Gimana sekolahnya,sayang? Apa menyenangkan?” Tanya Rama tersenyum, ia sungguh ingin mendengar jawaban Marsha, bagaimana ia akan menjawab setelah Rama mengetahui permasalahan yang ia hadapi.
“Seperti biasa, selalu menyenangkan Pah. Bahkan aku bisa kalahin semua temen-temen di kelas kalau ada tugas yang di kerjakan di depan” Ujar Marsha senang, benar kan apa dugaan Rama. Anaknya ini justru menyembunyikan ini semua dari dirinya selaku orang tua.
“Syukurlah kalau begitu..jadi kita langsung pulang?” Tanya Rama memastikan barang kali Marsha ingin membeli sesuatu, Rama pastikan ia akan selalu menuruti apapun itu. Sekali pun itu makanan yang di larang Rully.
“Enggak,Pah. Aku mau pulang aja. Udah gerah banget pah pengen mandi” Tolaknya halus, tapi memang itu yang sekarang Marsha inginkan. Mengguyur kepalanya yang panas akibat insiden yang tidak terduga seperti pagi tadi.
Untung kedua orang tuanya tidak menyadari ada luka di tangan nya, jika mereka tahu mungkin akan mengintrogasi sampai ke akarnya. Itu yang di takutkan Marsha, sebab jika Marissa atau Rama mencurigai ini masalah selanjutnya justru akan ketahuan.
Dalam diam Marsha menyembunyikan luka memar dan sedikit goresan di jari-jarinya di bawah tas yang ia pangku. Pandangannya menerawang ke arah luar jendela. Ternyata kehidupan dengan siapa yang ada di belakang kita atau tentang siapa orang tuanya itu sangat berpengaruh.
Masa masa Smp yang ia lalui sangat tenang karena mereka tahu dengan siapa mereka berhadapan dan Marsha sungguh membenci itu. Tapi justru ia lebih nyaman seperti ini, ia sangat bebas berekspresi dalam menyuarakan hatinya yang sedang kesal terhadap seseorang.
__ADS_1
Seperti saat ia menghantam wajah Bisma yang sungguh manis menurut Didis.
“Sayang..Achaa..” Ucap Marissa sambil melambai-lambaikan tangan nya tepat di depan wajah Marsha.
Tapi di luar dugaan pandangan Marsha masih tetap jauh menerawang seperti semula. Marisa sampai masuk dan duduk di samping Marsha untuk memastikan anaknya baik-baik saja.
“Cha.. Hey..kamu kok malah ngelamun” Marissa menggoyang tangan Marsha dan saking antengnya anak ini melamunkan sesuatu yang menurutnya menyenangkan, sampai tersentak kaget .
“Ishhh.. apa sih Ma, bikin kaget aja deh” Jawab Marsha kesal, Marissa paling senang sepertinya melihat anaknya pingsan karena jantungan.
“Lah.. kamu yang apaan mah. Mama udah panggil panggil dari tadi emang dasar aja kamu ngelamun nya kebangetan” Tukas Marissa jengkel, ia kini menarik Marsha untuk masuk kedalam rumahnya.
Ia berjalan digandeng oleh Marissa hingga masuk kedalam kamar.
“Sekarang kamu mandi terus istirahat, Mama sama Papa tunggu di bawah. Ada yang mau Mama bicarakan sebelum abang kamu pulang” Marsha mengernyitkan dahi saat mendengar penuturan Marissa.
Apa yang mau di bicarakan oleh kedua orang tuanya? Apa jangan-jangan mereka menyadari luka di tangan Marsha.
Kini fikiran Marsha bercabang, ia sungguh takut ibunya akan bertindak jauh dari ekspektasinya. Marsha memilih menenggelamkan tubuhnya sebentar di bath-up kamar mandi nya, masih dengan fikiran yang berkecamuk.
_-_
“Ma!! Apa maksudnya surat ini?” Teriak Farhan,Ayah Bisma. Ia sambil memperlihatkan surat panggilan dari sekolah yang di tujukan untuk putra mereka Bisma Yudistira.
Hanin Ibunda Bisma menarik nafas pelan,untuk sekedar menetralkan. Sebelum nya Farhan tidak pernah semarah ini jika anak nya membuat onar.
“Tenang kan diri mu Pah, mungkin Bisma punya alasan lain melakukan hal tersebut” Ujar Hanin menenangkan, Farhan membulatkan matanya sempurna karena istrinya Hanindia selalu saja membela anaknya yang tampan namun bandel.
“Kau ini!! Bela saja terus putra mu itu Hanin! Bela saja terus, biarkan dia menjadi anak yang manja dan tidak bertanggung jawab” Sarkas Farhan keras. Hanin membelai da da suaminya yang tak kunjung meredakan amarahnya. Bukan tanpa alasan Farhan marah seperti ini, setelah mendapat surat panggilan orang tua,Farhan juga menerima telfon dari pihak sekolah soal apa saja yang di lakukan Bisma kepada teman satu kelasnya.
“Pah, aku mohon jaga bicara mu. Jangan terlalu keras kepada Bisma,”
“Lantas aku harus diam. Saat mendengar apa yang di lakukan anak mu terhadap teman satu kelasnya?” Teriak Farhan lagi, Hanin lagi-lagi terkesiap mendengar teriakan sang suami yang menggelegar di seluruh ruangan.
“kita dengarkan dulu penjelasan Bisma ya Pah, kita tunggu sampai Bisma pulang ya. Kamu duduk dulu dan minum ini” Hanin dengan sabar menghadapi watak Farhan yang sangat keras dan terkadang egois.
Seketika tubuh Farhan luluh saat Hanin memberikan nya tea hangat yang ia buat sendiri untuk sang suami, Hanin terus saja mengelus punggung Farhan dengan lembut. Padahal kemarahan nya yang tertuju untuk putra nya malah harus di telan oleh Hanin sendiri.
__ADS_1
Sudah menunggu beberapa saat Bisma datang dengan tenang nya.
“Assalamuallaikum Mah,Pah” Ujar Bisma saat memasuki kedalam rumah.
Sebetulnya Bisma ini termasuk anak yang baik dan juga sopan, hanya saja satu kurangnya, ia tidak suka jika memiliki saingan di bidang apa pun.
“Duduk Bim” Titah Farhan masih dengan mode sabar. Bisma menurut dan langsung duduk di hadapan Hanin dan Farhan.
“Ada apa Pah?” Tanya Bisma yang melihat ketidak nyamanan sikap orang tuanya uang pura-pura tidak apa-apa.
“Bisa jelaskan soal ini Bim?” Farhan melemparkan secarik kertas yang mendarat tepat di paha Bisma.
“Ini..Ini.. Dia yang mulai duluan Pah” Belanya pada diri sendiri, Farhan menggelengkan kepalanya mendengar pengakuan anak sulung nya yang jauh dari ekspektasi yang ia lihat.
Bisma justru tidak tahu kalau Farhan sudah melihat semua kelakuannya di CCTV yang di kirim oleh Bu Yuni via pesan Whats Upp. Setelah mendapat surat yang ia terima langsung dari kurir sekolah ,Farhan langsung mendapat telfon saat itu juga.
Jadi bukti mana lagi yang mau dia elakan.
“Kamu jangan coba-coba membohongi Papa,Bisma!! Papa sudah tahu dari bu Yuni. Semuanya! Jadi papa harap kamu tidak membohongi papa, terutama membohongin Mama yang sangat menyayangi mu” Tukas Farhan dengan nada yang naik satu oktaf.
“tapi memang dia yang mulai,dia meres Bisma buat bayarin satu sekolahan makan di kantin”
“Itu sudah pasti bukan tanpa alasan, kalau kamu gak mau jujur, Papa sendiri yang akan mendatangi Siswi yang bernama Marsha tersebut”
Hanin mencoba mencerna perdebatan antara anak dan suaminya ini.
Siswi perempuan? Namanya Marsha …
“Jangan bilang kamu berurusan dengan seorang wanita,Bim?” Selidik Hanin dan pada akhirnya Bisma mengagguk dan membenarkan perkataan Hanin dan Farhan.
Sungguh tergurat jelas wajah kecewa dari Farhan dan Hanin, lebih baik memiliki masalah dengan laki-laki saja bisa di nilai gantle, coba ini berurusan dengan seorang wanita.
Farhan yang mendengar Bisma di hajar pun hanya bisa menertawakan anak sulungnya yang memiliki memar di sudut bibir dan di hidung mancungnya. Bukan marah justru Farhan akan berterimakasih jika bisa bertemu dengan anak yang bernama Marsha tersebut.
Niat hati ingin mengadukan bahwa ia mendapat kekerasan dalam bentuk pukulan di area wajah, alih-alih di mendapat pembelaan Bisma justru di cemooh oleh kedua orang tuanya.
Sungguh malang nian nasib mu bang Bimbim (Bisma)
__ADS_1
Makanya kalau berani jangan ama Cewek, sini Maju hadapin othorrr.. nanti othorrr kaburrr :p