Pelabuhan Terakhir Marsha

Pelabuhan Terakhir Marsha
#PTM BAB27


__ADS_3

Sekembalinya dari Bandung Marsha lebih banyak diam otak nya benar-benar beku karena kejadian itu. Kejadian yang tidak pernah Marsha bayangkan sebelumnya.


Dua hari pula Marsha memilih mendiamkan diri di kamar, tidak pergi ke kantor dan beberapa pekerjaan yang terbengkalai pun ia serahkan kepada empat Arsitek miliknya. Termasuk gambar yang di garapnya,Project Bisma.


Terpuruk? Jelas, Marsha selalu memikirkan segala sesuatu yang akan menimpa jika benar-benar hamil. 


Satu bulan dari sekarang pula, Abang tercinta akan melangsungkan pernikahan dengan Gege kekasih menuju halal nya. Jika kemungkinan ia hamil terjadi, itu artinya Marsha harus menikah dengan Bisma.


Lalu bagaimana dengan Febry, jujur saja kedekatan nya beberapa bulan ini sangat menjadi mood booster untuknya. Febry selalu menjadi idola baginya wajah tampan dan senyum manis anggap saja itu ciri khas dari seorang Febry.


Mengapa Marsha bisa membuat pernyataan seperti itu? Itu karena baru ada laki-laki yang bersikap benar-benar baik dan tulus kepadanya. Jadi kita bisa menyimpulkan bahwa Marsha benar-benar telah jatuh kedalam pesona Febry.


Marsha terus menerus memandangi perutnya yang rata, apa mungkin ada kehidupan disana. Jika Ya, Marsha sungguh senang, tapi bagaimana menghadapi cemoohan orang tentang dirinya yang hamil di luar nikah.


***


Dua minggu kemudian….


Sore ini Marsha sudah mengerjakan semua deadline gambarnya, ia juga sadar terlalu terpuruk dalam suatu kemungkinan yang belum pasti akan kebenaran nya itu tidak baik. Ia bangkit dan memulai aktifitasnya.


Marsha harus memeriksakan dirinya kedokter kandungan, tapi bagaimana jika ada yang melihat. Jelas itu pasti akan membuat reputasi keluarga dan dirinya hancur.


Marsha kembali mengingat ‘Biasanya perempuan hamilkan suka pakai test pack kalau cek’ Oh ya kenapa Marsha sangat ingin mengecek ini soal kehamilan nya, itu karena dia sudah telat datang bulan.


Di raihnya tas kerja serta barang bawaan lainnya, ia berniat pergi ke apotek dan membeli alat tes kehamilan. Meskipun dengan rasa malu yang menjalar di wajahnya,Marsha sudah membulatkan tekadnya.


Ia memasuki mobil hitamnya dan berhenti di salah satu apotek besar di pinggir jalan.


“Mbak, Ada tespect?” Tanya nya langsung setelah masuk kedalam apotek tersebut.


“Ada Mbak, mau yang harga berapa?” Tanya petugas apotek tersebut.


“Pokonya yang akurat, kasih saya satu-satu dari berbagai merk” Ujar Marsha mantap.

__ADS_1


Petugas apotek segera menyiapkan barang pesanan Marsha.


“Ini Mbak” Kantong kresek berisi bebagai macam test pack sudah berpindah ketangan Marsha.


“Terimkasih Mbak” Marsha berlalu dan memberikan uangnya langsung tanpa meminta kembaliannya.


Saat Marsha sudah melangkah dua langkah dari meja kasir “Mbak!” Marsha menoleh.


“Semoga hasilnya positif” Marsha tersenyum untuk menanggapi ucapan si pelayan toko tersebut. Hati dan pikiran nya benar-benar dongkol dengan semua yang di rasakannya saat ini.


Marsha membeli begitu banyak test pack ya karena ia sangat ingin hasil yang akurat. Akurat negative tapi bukan positif, agar ia tidak terus di hantui rasa yang entah lah.. sulit di gambarkan.


Wanita yang tengah memasukan barang bawaannya kedalam tas, jelas melihat ibu-ibu paruh baya yang tengah menahan tasnya yang sedang di Tarik oleh sosok laki-laki yang berboncengan di atas motor.


Siapa lagi kalau bukan Begal, Marsha jelas tidak tinggal diam, hatinya begemuruh marah apalagi ketika melihat orang-orang yang ada di lokasi hanya memandang takut-takut tanpa bertindak sesuatu.


Wanita gagah tersebut berlari dan menendang tepat di wajah si begal yang duduk di jok penumpang. Sontak motor nya oleng  dan terjatuh tas itu sudah kembali dalam pelukan si pemilik.


“PAK!! TELFON POLISI DONG KOK MALAH DIEM AJA” Ucap Marsha berteriak ke salah satu bapak-bapak yang jadi penonton.


“Bu.. Ibu gapapa, kita duduk dulu” Marsha memapah ibu-ibu tersebut ke bangku dekat penjual bakso.


“Bang air mineral satu” Ucap Marsha, pedagang asongan itu langsung mendekat kearah Marsha dan memeberikan air mineral yang ia pinta.


“Di minum dulu bu” Marsha menyodorkan botol minum yang sudah di buka. Ibu-ibu itu langsung meminum nya pelan.


“Makasih ya Nak” Ibu itu mendongak melihat Marsha,seketika keningnya mengerut wajah gadis di depannya sangat tak asing.


“Kamu yang nolongin saya kan?” Marsha mencoba mengingat, karena saat tadi ia menolong ibu-ibu tersebut tidak terlalu jelas memperhatikan wajah sang ibu.


“Kamu yang nolongin saya waktu asma saya kambuh kan?” Jelas nya lebih rinci, Marsha mengangguk setelah menelisik kembali wajah Hanin.


“Ooh iya bu saya ingat,bagaimana kabar ibu? Kenapa masih berpergian sendiri?” Berondong pertanyaan Marsha dan langsung di sambut senyuman teduh Hanin.

__ADS_1


“Saya habis dari bank ambil uang buat gaji karyawan. saya pikir mungkin ini tidak terlalu berbahaya, tapi sepertinya saya di ikuti semenjak saya keluar dari bank”


“terimakasih ya, kamu selalu menolong saya” Hanin mengusap lengan Marsha lembut.


“Sama-sama bu sudah menjadi kewajiban saya menolong orang yang tengah ke susahan” Ujar Marsha bijak, memang harus seperi itu kan saling tolong menolong antara sesama.


“Kalau boleh tahu siapa  nama mu nak?” Tanya Hanin penasaran, ia sangat ingin tahu nama gadis yang sudah berbaik hati menolong dirinya.


“Saya Marsha Bu” Jawab Marsha tersenyum. “Saya Hanin panggil saja tante jangan ibu, supaya lebih akrab” Marsha kembali mengangguk. “Baik Tante Hanin”


“Oh ya, setelah ini tante mau kemana? Lebih baik mobilnya di simpan disini dan di ambil supir, Tante mau kemana biar saya antar”


“Ide bagus, kalau kamu tidak keberatan bisakah antar tante ke toko kue tante?” Marsha mengangguk dan langsung membantu Hanin berdiri.


Mereka berjalan bersisian dengan Marsha yang merangkul pundak Hanin seperti tidak ada jarak di antara mereka. “Silahkan” Titah Marsha, ia membuka kan pintu untuk Hanin.


Dalam Hatinya, Hanin merasa hangat menjalar di seluruh tubuhnya, tidak pernah ia di perakukan semanis ini oleh anaknya terlebih anak Hanin adalah laki-laki jadi perasaan nya tidak sepeka Marsha.


Di dalam mobil Hanin terus bercerita tentang kehidupan nya yang memilik dua putra yang memilik sifat berbeda serta suami yang memiliki sifat tidak jauh beda dengan sifat anak sulungnya.


Marsha mendengarkan Hanin dan kadang-kadang ikut tertawa karena cerita Hanin yang menurutnya lucu, jika di lihat mungkin saja Hanin memiliki usia seperti sang Mama ,Marissa. Karena dari stail dan caranya mendidik anak kurang lebih sama dengan cara Marissa.


Mereka saling melempar pertanyaan dan jawaban satu sama lain, karena kadang-kadang juga Hanin bertanya soal keluarga Marsha, dan kehidupannya.


Yang hanin tahu hanya, Marsha yang seorang karyawan di salah satu kantor swasta yang bergerak di bidang pembangunan. Tidak ada pembahasan yang mendalam seperti menanyakan siapa nama orang tuanya atau siapa nama sepupunya, Marsha pun begitu, ia enggan terlalu ingin tahu siapa nama kedua anaknya yang di ceritakan nya tadi, karena itu akan melanggar privasi seseorang.


Tidak terasa obrolan mereka yang begitu panjang, sampai- sampai mereka tidak menyadari jika merekka sudah sampai di toko kue milikk Hanin.


Bersambung…


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN..


SERIUS LIKE DAN KOMEN KALIAN ADALAH MOOD BOOSTER KU UNTUK MENULIS..

__ADS_1


LOVE YOU ALL


 


__ADS_2