
Semua karyawan sudah mengurus project nya masing-masing,sedang ia juga tengah di sibukan dengan segala revisi yang datang dengan berbarengan. Klien baru dan itu membuat Marsha sedikit kewalahan.
Dengan segera ia memanggil salah satu Arsitek ke dalam Ruang kerjanya.
Tok..tok..tok
Setelah di persilahkan masuk Septian duduk dan menatap Marsha yang berdandan seperti perempuan. Karena yang ia biasa liahat adalah tas gendong dan celana jeans,tapi kali ini lain Marsha juga memoles lipstict di bibir nya.
“Ada yang saya bisa bantu Bos?” Ucap Septian.
“Kamu lagi di kejar dead line ga,Sep? Tanya Marsha.
“Ada satu lagi gambar revisi dan selebihnya saya free”
Marsha memberikan lima berkas pengajuan pembuatan rumah dari nol, Septian memandang heran kepada Bosnya ini. Mentang-mentang ia sudah berkata free setelah revisiannya.
“Kenapa Sep? Kebanyakan ya?” Ujar Marsha tidak enak.
“Dengan senang hati bos, ini mana aja yang musti di follow up?” Marsha menujuk dua map yang cukup tebal.
“Oke bos siap laksanakan, tapi saya dapat bonuskan?” Ucap Septian tersenyum tanpa malu, karena hanya dia lah satu-satunya karyawan yang berani mengatakan soal bonus atau yang lainnya.
Tapi justru Marsha sangat menyukai sikap terbuka yang di miliki septian, dari pada mereka yang sungkan kepada dirinya yang menjabat sebagai Bos. Lebih enak kan kalau lebih dekat agar lebih akrab.
“Hmm Oke tapi harus selesai di pertengahan bulan” Septian mengangkat tangan nya dan di simpan di kening.
“Kamu boleh kembali” Septian pergi dari ruangan Bosnya.
Karena hari sudah cukup gelap, Marsha memutuskan untuk pulang sepertinya sang Mama dan Papa sedang makan malam bersama di jam jam seperti ini.
Tapi dari pada ia harus kembali ke rumah dan jelas itu akan menjadi pertanyaan Rully nantinya, ia lebih memilih singgah di gerai kopi favorit nya.
Setelah memesan ia duduk di kursi paling ujung dekat jendela, ternyata menjalani hidup yang kata orang lain indah karena banyak uang itu salah. Di tekan harus segera menikah, mungkin ini juga yang Rully rasakan saat di desak menikah karena usia yang sudah cukup matang untuk menikah.
Marsha kembali menyeruput kopi miliknya,tatapan nya nanar ke arah luar jendela. Tatapan nya seolah menerawang tentang masa depan yang entah bagaimana akan di jalaninya.
Tapi lamuanan nya harus di hentikan oleh seseorang yang menyapanya tidak percaya.
“Marsha…” Sang empunya nama langsung melihat kepada wanita berpakaian rapi dan tidak lepas dari kacamatanya.
__ADS_1
“Didis?” Ucap Marsha sambil menunjuk wanita yang tampak Rapi dengan pakaian khusus kepemerintahan berwarna coklat muda.
“Adisti Milka?” Ulang Marsha lagi. Didis tersenyum lalu menghambur ke pelukan Marsha yang sudah berdiri di hadapan nya.
“Apa kabar Marsha” Ucapnya antusias. Didis melerai pelukan nya.
“Kabar Baik,dis. Lo sendiri gimana?” Didis melihat dirinya dan berucap “Seperti yang lo lihat, gue baik. Astaga Marsha makin cantik aja sih lo” Ujarnya.
“Lo Juga” Marsha merangkul Didis dan menuntunya agar duduk di mejanya.
Masih dengan tampang yang tidak prcaya Marsha justru terkekeh geli, mengingat sering kali mereka membuat janji temu setelah Didis kembali ke Jakarta beberapa saat lalu, tapi semua itu selalu gagal dengan segala macam gangguan.
Setelahnya Marsha sudah tidak terlalu ingin merencanakan sesuatu dan ia yakini itu akan gagal.
“Gak nyangka gue bakal ketemu sama ibu wakil direktur disini” Didis tersenyum malu.
“Gue justru yang gak nyangka bakalan ketemu sama Presiden Direksi Mars Copr, yang sangatt terkenal itu” Marsha terkekeh geli dengan sebutan panjang Didis ini sungguh berlebihan.
“Seterkenal itu kahhh gue?” Didis mengangguk, karena di kalangan Bisnis seperti pembanguanan suatu hotel dan lain sebagainya, perizinan nya itu harus melalui kantor kepemerintahan tempat Didis bekerja.
“Haha… udah kaya artis dong ya” Mereka tertawa bersama.
“Gimana, udah dapet belum?” Masha menautkan halisnya.
“Dapet apa?” Didis menaik turunkan halisnya sembari menelisik wajah merona sahabatnya.
“Pacar..” Cetusnya tiba-tiba. Marsha sontak bersuara keras.
“HAHAHAHAHA…Pacar?? Hahhhh Pacara?” Marsha menyusut sudut matanya yang berair, ucapan Didis barusan sedikit mencubit hatinya, Kenapa? Karena ia tidak pernah memiliki kekasih hingga detik ini.
“Gak ada pertanyaan lain?” Tanya Marsha datar, Didis menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Roman-romannya ia akan mendapat masalah jika bertanya soal ini kepada jomblo abadi.
Ishhh Amit-amit jangan sampai neng Marsha jadi jomblo abadi. Kalau jomblo terakreditasi oke lah.Hihi
“Sorry Sha, maksud gue gak kesana” Ucap Didis, terlihat jelas rasa ketidak enakan di wajahnya.
“Lo kan tahu kisah cinta gue gapernah mulus dari dulu, jadi jelas gaperlu gue jawab kan” Jawab Marsha sambil tersenyum jahil. Didis mendorong bahunya pelan.
Didis sungguh takut bila sahabatnya yang lama tak ia jumpai akan merajuk di awal pertemuannya lagi. Kalau itu benar terjadi Didis akan merutuki dirinya sendiri sepanjang hidupnya.
__ADS_1
Mau di ingat bagaimana pun kebaikan Marsha dan Mama Ica tidak akan terhitung.
“Iya Maaf, barang kali lo udah bertranspormasi gitu jadi Play girl. Kalau di lihat dari postur tubuh dan gaya lo sekarang, gue rasa lo cukup kompeten dan memenuhi syarat”
“Lo antara ngeledek ama muji nih… gue pakean gini karena hari senin aja Dis” Didis mengangguk.
Memang tidak ada yang berubah dari Marsha, wajahnya ,cara bicaranya.. Masih Marsha yang ia kenal Sembilan tahun lalu.
“Dua duanya kali ya Hahaha” Mereka berdua tertawa.
Mengingat kembali masa-masa indah di sekolah, yang kadang membuat mereka tertawa dan menangis. Hanya satu minusnya,Puput. Kalau saja ia berada di Indonesia, mungkin keseruan mereka bertambah.
Banyak juga yang Didis dan Marsha ingin tanyakan perihal hubungan nya dengan Aden. Karena satu-satunya kisah percintaan yang mulus tanpa hambatan.
Sudah A sampai Z yang mereka bicarakan bersama, kalau saja kedai coffe yang mereka datangi buka hingga 24 jam mungkin mereka akan menghabiskan malam ini hingga pagi di sini.
Di karenakan waktu sudah menunjukan pukul 22.00 Marsha pulang dengan Didis yang berjalan beriringan menuju parkiran.
Mereka berpisah di kendaraan masing-masing.
“Sampai jumpa lagi ya Marsha..” Didis memeluk Marsha erat.
“Iya Didis, kapan-kapan kalau ketemu jangan di rencanain lah suka gagal” Usul Marsha dan Didis membenarkan itu. Dunia seperti tidak ingin mempertemukan mereka dengan satu kata SIBUK.
“Bener banget Shaa.. gue bakal tunggu kapan waktu kebetula itu datang,pasti”
Mereka masuk kedalam mobil dan saling melambaikan tangan satu sama lain, persahabatan yang terjalin di antara mereka itu sangat kental. Sebab saat tengah di sibukan dengan pekerjaan masing-masing mereka akan merasa sakit karena merindukan sahabat.
Apalagi mengingat Puput, yang jauh tinggal di negeri orang,tanpa orang tua atau bahkan sahabat seperti yang ada di Jakarta. Tapi Marsha tahu itu, Puput sangat menyukai nya tinggal di Negeri ginseng yang mana ia bisa lebih mengenal budaya di sana dan mayoritas muslim yang membuatnya semakin penasaran.
Marsha mengendarai mobilnya menuju rumah utama milik Rama dan Marissa, ia yakin juga sang Mama pasti sudah di rumah sekarang. Telinganya harus siap memakan nasehat-nasehan yang sangat baik dari mulut manis Mamanya.
Belum lagi abangnya, yang akhir-akhir ini ikut mengomentari kejombloan hakiki Marsha. Padahal dia juga jomblo dan justru lebih menyedihkan di banding Marsha.
Besambung….
jangan lupa like dan komen ya..
beri novel ku rating 5 bintang ya
__ADS_1