
“Kamu sudah bangun..” Suara serak dan berat itu terdengar juga pada akhirnya. Suara khas orang yang baru bangun tidur. seksehhh..
Marsha melotot.
“Bisma apa yang lo lakuin ke gue semalem!” Ucapnya sambil berbisik, karena Marsha tidak ingin membangun kan Didis yang tengah tertidur jika sampai bangun, tamatlah riwayatnya.
“Masa kamu gak ing..” Bisma mengatupkan bibirnya.
“Sutttttt, Jangan keras-keras” Potong Marsha cepat.
“Masa kamu gak ingat?” Marsha duduk tepat di hadapan Bisma.
“Lo jangan main-main sama gue” Bisik Marsha lagi, ia sungguh takut ketika Bisma berbicara kenyataan yang terjadi adalah… ah sudah lah.
“Saya gak main-main atau coba bohong, coba kamu inget inget kejadian semalem?” Marsha mendesahhh “Justru gue gak inget” Bisma tersenyum, mengerjai Marsha sangat menyenangkan.
“Semalem kita ke Bandung ini Villa keluarga saya, karena kita bingun mau bawa kamu pulang kemana. Aden sama Adisti setuju sambil liburan katanya” Tutur Bisma.
“Kenapa gak minta persetujuan gue?” Protess Marsha berbisik.
“Kamu itu udah gak sadar Marsha, yaudah dari pada dapet masalah mending kita bawa kamu kesini aja” Jawab Bisma tak kalah berbisik.
“Sekarang lo jelasin ke gue, kenapa lo bisa tidur bareng gue sambil meluk?” sebenarnya marsha tidak ingin mendengar penjelasan Bisma, tapi ini harus di luruskan, iya kalau mereka tidak melakukan hubungan tersebut, kalau ya? Jelas Marsha yang rugi.
“semalem waktu saya angkat kamu kesini dan nidurin kamu di ranjang. Tiba-tiba kamu bangun terus bilang ‘Bisma.. gue suka sama lo, gue sependapat sama Didis kalau lo ganteng’” Jelas Bisma sambil mencibir gaya seperti perempuan.
Marsha menutup matanya.
“Kamu megang tangan saya, terus kamu peluk.. dan kita emm emm” Ucap Bisma tertahan, ekspresinya sungguh membuat Marsha kesal.
“Jadi apa yang lo lakuin? kita ngelakuin apa?!” Ucap Marsha pelan namun penuh dengan penekanan.
__ADS_1
“Kamu pikirkan aja deh biasanya kalau orang abis pelukan selanjutnya ngapain” Jelas Bisma ambigu.
Marsha menggelengkan kepalanya lagi dan lagi, terlintas di fikiran nya agar Bisma tidak terlalu menuntut atau membuka rahasianya tadi malam.
“Oke. Mulai saat ini kita lupakan kejadian semalam, anggap aja itu gak pernah terjadi , gue gak akan minta pertanggung jawaban lo” Ucap Marsha panik, Bisma tersenyum miring kearah Marsha.
“Segampang itu kamu bilang lupain? Yang jadi korban itu saya, Marsha. Saya yang di perk[o]sa kamu lho,tega kamu ya” Ujar Bisma serius. Malah tatap wajahnya jadi sendu serta kedua tangan yang terulur menutup kedua dadany.
Marsha berdecak kesal “Ck.. Bisma please jangan lebay gitu, meskipun gue yang… astaga malu gue ngomongnya. Yang harusnya rugi disini gue!”
“Gak bisa! Tunggu satu bulan dari sekarang kalau kamu ha[m]il saya akan tanggung jawab!” Ohh tuhan apalagi ini. Marsha hanya Bisa mematung mendengar kalimat Ha[m]il dari Bisma.
Segampang itu Marsha memeberikan makhotanya? Sebenarnya Marsha sangat ragu dengan penjelasan yang di berikan Bisma tapi yang jadi masalah ia sama sekali tidak bisa mengingat kejadian semalam. Yang berputar di kepalanya hanya kejadian saat Bisma berkata yang memulai ini adalah dirinya, apa jangan-jangan karena pengaruh alcohol jadi sepenggal kejadian semalam terhempas begitu saja.
“Sebaiknya kamu mandi, biar otak kamu bisa berfikir lebih jernih” Bisik Bisma meninggalkan Marsha yang masih terus menerus menepis kenyataan yang ada.
Marsha sudah masuk kedalam kamar mandi dan meraih pakaian yang di sediakan Bisma, entah kapan ia membeli ini tapi saat Marsha lihat ukurannya mungkin akan cocok dengan dirinya.
“Hhhhh..” Marsha menghela nafas berat, ia terus mengguyur dirinya di bawah shower kamar mandi. Walaupun waktu masih menunjukan pukul enam pagi, di villa ini seperti tidak ada kehidupan. Didis masih tidur dengan posisi yang sama.
Aden entah tidur dimana juga Marsha tidak tahu. Dengan segera ia mengenakkan pakaian yang di sediakan Bisma, satu set pakaian dalam dan satu stel celana jeans serta satu kaos polos berwarna putih.
Rambut panjang yang tergerai basah ia gelung menggunakan handuk kecil, wajahnya sembab dan matanya memerah. Menangis di sertai air kucuran shower membuat matanya benar-benar perih.
Terlepas dari masalah yang tengah menimpanya,Marsha kembali mengernyitkan dahi, ketika mematut dirinya dicermin.’Kok bisa tahu sih dia ukuran baju gue’ Marsha menutup mulutnya seolah tidak percaya akan prasangkanya. ‘Apa jangan-jangan dia pegang pegang gue’
Saat larut dalam lamunan nya ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya. Marsha mebukanya,ternyata itu adalah pegawai di rumah ini “Neng, Mas Bisma nyuruh ambu buat bangunin Neng. Sarapan dulu atuh” Ucap ibu-ibu paruh baya itu
“Baik, Bu terimakasih” Marsha pergi menyimpan handuk nya lalu menyisir rambutnya.
Di meja makan sudah ada Didis yang tengah duduk sambil memainkan ponselnya, Marsha duduk dekat Didis, ternyata Bisma membelikan pakaian ganti untuk semua yang menginap disini termasuk Aden.
__ADS_1
‘ini couple atau gimana sih, semua yang duduk di sini memakai kaos polos warna putih’ Ucap Marsha dalam hati.
Didis melirik kearah Marsha. “Lo lain kali kalau gak suka minum gak usah minum, lo mabok semalem” Ujarnya sambil menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
“Gue tahu..” Jawab Marsha malas. “Kapan kita balik?” Lanjutnya.
“Siang ini kita balik ke Jakarta” Jawab Bisma, sambil melirik konyol kearah Marsha.
“Bisma, udah lama lo punya villa disini?” Tanya Aden buka suara.
“Udah lama luamayan, bokap kan punya perkebunan tea disini” Jelas Bisma dan di angguki oleh Didis dan Aden. Marsha masih acuh seprti biasa.
“Oh ya Dis, lo simpen ponsel gue?” Tanya Marsha, Didis langsung memberikan ponsel milik Marsha.
“Gue udah selesai” Marsha meraih ponselnya dan berjalan keluar rumah.
Perkebunan tea yang sangat luas terpampang nyata di hadapan nya, bebrapa kali Marsha menarik nafas nya dalam, udara yang tidak terkontaminasi oleh polusi sangat segar dan wangi khas tanah nya berbeda.
Di buka ponselnya, Marsha melihat chat room bersma ibunya.
Terakhir balasan dari Marissa hanya ‘Iya achha hati-hati dijalan, abang kamu gak akan nanyain soalnya lagi diluar kota’
Syukurlah.. mungkin jika Rully tahu masalahnya akan ribet bet bet.
‘Didis memang pengertian’ Marsha mencoba melupakan sejenak masalah dengan berkeliling di kebun tea disana sudah banyak yang bekerja sebagai pemetik tea. Menyusuri jalanan yang menanjak dan banyak batu kerikil sebagai alasnya.
Kadang kehidupan yang di alami seseorang jelas berbeda beratnya, dan bagaimana pula seseorang itu bisa menghadapi masalah tersebut. Seperti Marsha ia mencoba terus mengingat kejadian tadi malam, dan akan menghindari Bisma mulai detik ini jika kejadian itu memang benar adanya.
Mungkin satu bulan dari sekarang ia harus seger memeriksakan diri ke dokter tanpa sepengetahuan siapa pun, bagaimana nanti jika kenyataan nya benar ia hamil atau tidak.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN NYA YA. GRATIS KO SUER😂😂