Pelabuhan Terakhir Marsha

Pelabuhan Terakhir Marsha
#PTM BAB05


__ADS_3

Pagi ini Marsha sudah duduk rapi di bangkunya, ia tidak mau kejadian Satu bulan lalu saat ia disiram air kotor oleh Bisma and the gang terulang lagi. Mulai saat ini Marsha harus benar-benar waspada terhadap nya, wajahnya saja yang manis tapi hatinya sangat busuk dan kotor.


Cukup menyenangkan ternyata sekolah disini, Marsha sudah mendapat kenalan yang bernama Marko kakak tingkat nya, wajahnya tampan dan selalu bersikap manis. Ia adalah ketua Osis di SMA yang mereka tempati, Jelas saja Marko menjadi idaman para siswi disini, pembawaan nya yang selalu stay cool tapi Ramah kepada siapa pun.


Tak jarang setiap perempuan yang mendapat perhatiannya akan merasa Baper,termasuk dirinya. Tapi untuk jatuh cinta Marsha tidak terlalu tertarik, dia tidak mau merasakan di tinggal pas lagi sayang sayang nya.


Terlihat Bisma memasuki kelas dengan kedua teman nya, ia sempat melirik Marsha sinis. Marsha sudah tidak memikirkan itu, yang harus ia pikirkan adalah bagaimana cara nya agar ia menjadi nomor satu di sekolah soal akademik dan non akademik.


Jika melihat cara Bisma menjawab dan belajar tentu sudah terlihat bahwa dia temasuk anak yang cerdas, sebagai balasan nya Marsha harus mengalahkan Bisma, Harus.


Sekarang pelajaran Bahasa Indonesia, semua orang di bagi menjadi lima kelompok untuk melakukan penelitian di novel yang mereka pilih, tentu itu harus di kerjakan secara berkelompok.


Dalam Hati Marsha ‘Ya tuhan jangan biarkan aku satu kelompok dengan si Bisma siaalan’ Do’anya dalam hati. Saat Guru menyebutkan Nama Marsha, ia lega ternyata memang tidak ada Bisma di dalam kelompoknya.


Tapi. Tiba-tiba Guru B.Indonesia tersebut berucap “Bisma ikut kelompok empat aja ya”


DEG.. jantung nya berhenti berdetak. Kenapa si Bisma harus di masukan ke kelompok marsha, padahal di kelompok lima juga bisa, Pak guru sepertinya Main-main soal ini.


Bisma duduk di meja yang mereka susun jadi bersisian.


Puput membuka pembicaraan “Kita mau bahas novel apa?” Tanya nya.


“Gimana kalau novel AKU MULAI MENCINTAINYA? Ini novelnya bebas Gendre kan?” Usul Aden.


“Iya Bebas. Oke aku setuju.. kalian gimana Guys?” Tanya puput.


“Gue ikut aja, gue juga pernah Baca kok tentang cinta dan perjodohan kan?” Ucap Marsha.


“Bener banget, lo gimana Bis?” Tanya Aden sambil menatapnya.


“Oke setuju, kita mau ngerainnya dimana?”


Mereka saling pandang satu sama lain, dan masing-masing befikir akan mengerjakan nya dimana dan rumah siapa. Ting ide tiba-tiba muncul di atas kepala Puput dan Aden.


“Gimana kalau kita diskusi nya di Café? Sekalian Hangout gimana?”


“Kapan ngerjain nya?” Tanya Marsha.


“Kalau nanti sore gimana?” Usul Bisma.


Ia ingin tahu style Marsha di luar sekolah, entah fikiran macam apa yang ada di dalam kepala nya. Bisma seperti penasaran akan sosok perempuan baru yang sangat ia benci untuk saat ini.


“Gue harus izin sama abang dulu, kalau gue gak di izinin gimana?atau kalau ngerjain nya di rumah gue gimana?” sanggah Marsha,ia yakin sang kakak akan mengiinkan tapi selalu ada syarat aneh di baliknya.


“Ogah gue masuk ke rumah lo, pokok nya tar sore gue sama yang lain nungguin lo. Kalau lo gak datang gue pastiin lo gak bakal dapet nilai” Tukas Bisma keras.


Sontak Marsha yang mendengar itu jadi takut,hal yang sangat pantang seorang Marsha tidak mendapat kan nilai.


Setelah semua mata pelajaran mereka lalui bersama, dan sekarang waktunya mereka pulang. Semua sudah sepakat sore ini akan mengerjakan tugas di Afternoon Café yang letaknya di pusat kota.


Sepulang dari sekolah Marsha bergegas mandi dan mengenakan pakaian santai celana panjang dan Hoody hitam, tak lupa tas berbahan kanvas kesukaannya.

__ADS_1


“Mama.. Sore ini aku mau kerja kelompok di afternoon café bareng temen, di izinin kan Ma?” Marissa mengernyitkan dahi, untuk apa minta izin dirinya semenjak Marsha menginjak bangku SMP Marissa tidak dapat kewenangan memberikan izin dan itu sudah di ambil alih oleh Rully.


“Kamu udah izin sama abang kamu?” Tanya Marissa.


“Belum..” Jawab Marsha ragu.


“Izin aja dulu, Mama takut salah” Marsha kembali menghela nafas kesal. Soal pelajaran sepertiini pun ia harus tetap meminta izin kepada sang Kakak, memangnya jika ia tidak mendapat kan nilai Rully akan bertanggung jawab memang nya.


Dengan raut wajah kesal Marsha meraih ponsel di dalam sakunya,ia bertujuan ingin menghubungi sang kaka dan meminta izin.


Di dalam hatinya ‘semoga di izinkan yaallah’ ia mengusap wajahnya sambil menunggu panggilan ponselnya tersambung.


“Haloo Cha, ada apa telfon abang masih meeting, ada yang mau di pesan?” Tanya nya beruntun.


“Bukan Bang, gue mau izin kerja kelompok di afternoon café. Izinin nya please kalau gak di izinin gue gak dapet nilai” Rungutnya, itu sungguh membantu disaat saat seperti ini.


Sebab Marsha termasuk salah satu anak yang yang jarang merungut dan memohon kepada siapapun sekalipun itu kepada kedua orang tuannya dan kepada abang semata wayang nya.


“Hmm oke gue izinin”


“Yes.. Mak..” Ucapan nya di potong seketika.


“Tapi..”


“Tapi apa lagi sih bang?”


“Lo harus di temenin sama pak Amiin dan sepanjang lo ngerjain tugas pak amin Harus sambungin VC ke Ponsel gue”


Setelah meminta izin penuh dengan drama Marsha pergi di antar oleh driver pribadinya yaitu pak amin, wajahnya tampak sumringah karena untuk kali pertamanya ia bisa berjalan-jalan keluar meskipun itu tidak lepas dari tatapan sang kakak melalui sambungan Vidio Call.


Sesampainya café yang di tuju Marsha berjalan beriringan dengan pak Amin, Pak amin menjaga jarak dengannya barang kali ia akan merasa malu jika berjalan berdampingnya yang hanya supir di rumahnya.


“Pak Amin, Sini. Kenapa jauh-jauh sih” Protes Marsha sambil menarik lengan pak Amin yang berjalan di belakangnya.


“Aduh bos kecil, maaf bapak takut Bos kecil malu kalau kita jalan deketan sama supir lagi” jawab pak amin sungkan.


“Alahh… Biarin aja, udah ayookkk” Marsha menggandeng lengan pak amin sampai masuk kedalam café, saat akan membuka pintu café Marsha justru berpapasan dengan Bisma yang baru datang.


“Bokap lo?” Tanya nya heran.


“Kenapa emang?” Jawab Marsha angkuh menaikan dagunya di hadapan Bisma.


“Haha gak papa,nanya aja gak boleh emang?” Marsha tidak menjawab pernyataan Bisma dan memilih masuk dengan pak amin kedalam.


Kursi yang di pilih teman teman nya adalah di area Privat Garden yang hanya di huni oleh ke empat anak manusia ini termasuk dirinya.


“Pak amin tunggu disini ya,ini uang buat pak amin beli kopi, pak amin suka ngopi kan?” Marsha meberikan dua lembar uang berwarna merah dan langsung di tolak oleh pak amin.


“Gak usah bos kecil, bapak ada ko” Marsha memasukan uang yang ia lipat kedalam saku kemeja milik pak Amin.


“Udah ambil aja, buat jajan” Marsha berlalu tapi sedetik kemudian ia berbalik lagi ke arah pak Amin.

__ADS_1


“Oh iya dari sini kelihatan kan pak buat VC ke bang Rully?”


“Bisa Bos kecil bisa, terimakasih ya”


“Bukan apa-apa pak, aku kesana dulu” Saat berbalik dan masuk kedalam privat garden yang di pilihkan puput dan Aden, Marsha justru masih melihat Bisma yang temangu di depan pintu kaca.


“Liatin apaan Lo?!” Ketus Marsha saat melihat Bisma menatap dirinya dengan tatapan yang sulit di artikan. Dengan polos ia menggeleng.


“Minggir! Gue mau lewat” Marsha menyingkirkan tangan Bisma yang berada di gagang pintu tersebut.


Bisma seperti terhipnotis melihat Marsha yang memperlakukan Driver nya denga sangat Ramah dan terkesan sangat dekat, terus sebutan bos kecil pada dirinya membuat Bisma yakin kalau Pak Amin ini adalah supirnya dan bukan ayahnya.


Hebatnya, saat Bisma menyangka pak Amin adalah ayah nya Marsha tidak menjawab iya dan bukan, malah Marsha menggandeng lengan Pak Amin sampai duduk di kursi nya, belum lagi ia memberikan beberap lembar uang kertas kepada sang supir.


Bisma yakin lingkungan dan didikan keluarga Marsha sangat baik untuk saling menghargai satu sama lain.


Kini Marsha sudah duduk di kursi yang menghadap ke arah puput dan Aden, Bisma masih berjalan menuju ke arah mereka yang langsung akrab saat mendapat tugas seperti ini.


Bisma duduk bersisian dengan Marsha dan mengambil satu batang rokok dari dalam saku celana jeans nya, ia menyelipkan batang rokok tersebut di sela jarinya dan langsung menyalakan dengan mini gas di tangan nya.


Mau protes bagaimana, toh Marsha juga tahu tujuan Aden dan Bisma memilih Privat Garden seperti ini agar mereka bisa bebas menarik nafas dengan benda tersebeut.


Dengan Serius keempat otak anak manusia ini bekerja dengan ekstra, mereka menuangkan ide-ide bagus untuk menganalisa novel yang sudah mereka bicarakan tadi siang di sekolah. Memang dasarnya mereka cerdas menganalisa novel begini adalah hal mudah bagi mereka.


Hampir satu jam lebih mereka berdiskusi, dan akhirnya selesai. Sekarang adalah sesi akhir makan malam bersama.


Mungkin jika ada yang melihat mereka berempat pasti seperti dua pasang anak ABG tengah melakukan kecan bersama, sebab cocok saat Aden dan Puput saling bercengkrama.


Hah mereka berdua cocok? Lalu Dirinya harus bersanding dengan Bisma begitu? Ohh tidak bisa.. Jelas Bisma si menjengkelkan itu bukan typenya.Bukan.


“Sha kenapa lo diem aja sih?” Tanya Puput sambil memakan makanan nya.


“Ahh enggak.. ohh iya ini gak ada diskusi lanjutan kan ya?”


“Kenapa emang?” Tanya Bisma.


“Ribet.. gue harus izin sama abang. Makanya gue pengen ini beres sekarang juga”


“Oke berarti tugas gue yang harus print”Ucap puput riang, bagus sekali dalam satu kelompok ini, tidak ada yang bekerja sendiri dan hampir semua orang di dalam kelompoknya bisa di ajak bekerja sama.


Meskipun terkadang Bisma yang agak sulit di atur, tapi berkat kepintaran nya yang setara dengan Marsha semua nya bisa sesuai dengan rencana.


Mereka membayar pesanan nya masing-masing, padahal semuanya akan di traktir aden tapi mereka semua menolak, mereka berpamitan satu sama lain dan pulang ke rumahnya masing-masing.


Aden dengan mobil miliknya yang sering kali ia gunakan ke sekolah,Puput juga, di usianya yang baru menginjak 16 tahun sudah di perbolehkan membawa kendaraan nya masing-masing.


Hampir pukul Sembilan sekarang,untungnya ide menyambungkan Vidio call kepada sang kakak sangat berguna, sebab sudah malam seperti ini Marsha tidak mendapatkan terror dari sang kakak yang berbau ancaman seperti: Tidak di beri uang jajan atau tidak boleh keluar rumah dan lain sebagainya.


Rully memang satu dari seratus yang sangat protektif terhadap adiknya,dalam arti berlebihan seperti ini. Itu bukan tanpa sebab. Ia terlalu menyayangi adik satu-satunya ini.


Ia tetap anak kecil bagi Rully bukan remaja yang baru gede yang haus akan kebasan,apa jadinya Marsha jika ia menjadi salah satu cabe-cabean yang berbonceng di satu motor. Rully bergidik ngeri saat membayangkan kan hal semacam itu tentang sang adik tercinta.

__ADS_1


__ADS_2