Pelabuhan Terakhir Marsha

Pelabuhan Terakhir Marsha
#PTM BAB06


__ADS_3

Sesampainya di dalam rumah Marsha bergegas masuk kedalam kamarnya,selama berjalan ia memikirkan pandangan Bisma yang terkesan teduh kepada dirinya di saat mereka tengah mengerjakan tugas bersama.


Marsha jadi berfikir bahwa Bisma mungkin sudah mengajak berdamai secara tidak langsung, setidaknya Marsha tidak perlu mengeluarkan energinya untuk melawan Bisma yang notabene orang tidak penting bagi Marsha.


Waktu sudah menujuk di angka sepuluh kurang lima belas menit, semua orang di rumahnya sudah memasuki kamar mereka masing-masing. Sudah pasti di jam-jam seperti ini akan tampak sepi.


Tapi saat ia menginjakan kaki di karpet dalam kamarnya, terlihat sekarang sang Abang tercinta tengah mengotak atik computer miliknya, sontak sang empunya kamar sungguh terkejut ada sosok mahluk yang selalu menghantui di setiap tidur dan bangunnya.


Ya… siapa lagi kalau bukan Rully sang kakak tersayang sepanjang masa, Marsha pun muak sendiri mendengar penyataan yang ia buat.


“Astaga.. ngapain lo nyusup ke kamar gue?” teriak Marsha.


“Kenapa? Gue gak boleh masuk kedalam kamar adik tercinta gue?” Rully berbicara sambil mendekat.


“Ya tapi gak ngagetin juga” Marsha memutar bola mata malas, lalu ia membaringkan tubuhnya di atas Kasur king miliknya.


“Ehh lo beneran kerja kelompok kan?” Tanya Rully penuh selidik.


“Emang lo gak merhatiin emang?”


“yang gue lihat, lo lagi double date sama ketiga temen lo dua cowok dan satu cewek, bener kan. Apa jangan-jangan lo pacaran sama tuh cowok tengil?”


“Idih.. enggak!!” Bantah Marsha,jelas Bisma bukan type nya sama sekali. Bukan.


“Tapi itu lo deket-deketan”


Marsha sungguh di buat kesal dengan pertanyaan pertanyaan sang kaka yang terkesan tidak masuk akal. Dima mana orang yang sedang berdiskusi akan tampak lebih dekat agar mereka bisa dengan mudah untuk bertukar fikiran satu sama lain.


Meskipun ia sangat tidak ingin berdekatan dengan Bisma, tapi dia harus professional dalam hal ini, ia tidak boleh melibatkan perasaan terhadap apa yang ia benci.


Jelas Marsha membenci Bisma untuk saat ini, karena apa yang ia lakukan kepada Marsha itu Jahat.


“Ohh astaga.. berarti selama lo meeting sama para karyawan lo gak focus dong?”


“Ckckck.. apa yang bakal papa fikirin soal ini? Hmmm lo kerja gak sungguh sungguh, lebih baik besok gue buat pengaduan” Ucap Marsha gambling, ia menjadi membalikan keadaan Rully lah yang ia buat panik dan kalang kabut.


“Stttt.. jangan, nanti Papa pasti marahin gue”


“Hahaha ternyata udah dewasa juga masih takut Papa, yaudah gak usah so soan marahin gue lagi. Gue tahu batesan batesan yang harus dan yang gak harus gue lakuin,lo gak usah takut”


“Oke gue gak bakal ngelakuin hal ini lagi, tapi lo harus janji jangan bilang sama Papa”


Setelah berkata itu Rully pergi meninggalkan kamar adik bungsunnya menuju kamar miliknya, Rully jadi semakin terfikir untuk tidak terlalu mengekang Marsha, dampaknya mungkin akan berpengaruh kepada sikisnya.


Marsha menghela nafas dan membuka hoody yang sedari tadi ia pakai, sangat lelah padahal hanya berfikir beberapa jam saja ohh astaga setelah di ingat, Bisma lah yang selalu menguras tenaganya.


Huhh Marsha sekarang berharap agar tidak bertemu dengan Bisma di dalam mimpi sekali pun, wajah angkuhnya dan kelakuan nya yang buruk sungguh membuat Marsha muak.


Entah apa yang akan Bisma lakukan besok, yang pasti Marsha yakin dirinya akan di buat tidak nyaman oleh Bisma nantinya.


***


Keesokan pagi nya Marsha bangun dengan wajah yang sangat segar walau pun bisa di bilang dirinya kurang tidur karena tidur di antas jam Sembilan, tapi suasana hatinya cukup baik, dan beruntungnya do’a nya sebelum tidur di kabulkan untuk tidak bertemu dengan Bisma walau pun hanya dalam mimpi.


Semua buku pelajaran miliknya sudah lengkap berada di dalam tas kanvas kesayangan nya, tak lupa Rok dan seragam baru untuk berjaga-jaga jika Bisma melakukan hal yang tidak menyenangkan lagi seperti tempo hari.


Bukan mau berprasangka buruk hanya saja sedia payung sebelum hujan itu lebih baik kan.

__ADS_1


Setelah melakukan sarapan bersama dengan keluarganya Marsha pergi dengan di Pak Amin seperti biasanya, sesampainya di dalam kelasnya. Marsha langsung duduk di samping Didis yang sudah menyambutnya dengan senyuman.


“Gimana tadi malem, ngerjain tugas bareng Bisma Agung?” Bisiknya pelan. Marsha memasang wajah kesal.


“Gak gimana gimana,emang menurut lo gue harus gimana?” Jawab Marsha ketus.


“Ya misal.. lo minta nomor Whats Upp nya gitu, atau minta foto… coba kalau gue”


“Males banget gue… eoohhhh” Jawab Marsha malas.


Sekarang Bisma tengah melirik dirinya yang berada di sebelah kiri meja milik nya, tepatnya ia sedang menatap Marsha dengan tatapan yang terkesan dengan senyuman tulus.


Pasti ada Gajah di balik batu ini, selama ia bersekolah tidak pernah sekalipun Bisma menarik ujung Bibirnya untuk tersenyum kepada Marsha atau kepada siswa lain nya.


Ini patut di curigai, apa lagi yang akan ia lakukan terhadap dirinya.


Setelah guru datang dan memberikan bimbingan, sekarang adalah sesi Tanya jawab yang cukup menyenangkan bagi Marsha dan Bagi siswa siswi yang lain.


Tapi saat Marsha hendak menjawab, di kursi yang ia duduki seperti ada magnet yang menarik dirinya agar tidak bisa menjawab pertanyaan dari guru Fisika yang menunjuk dirinya.


“Kenapa Marsha? Apa ada masalah?” Tanya Pak Bowo guru fisika tersebut.


“Maaf pak saya … gak bisa berdiri” Marsha kini melirik roknya yang menempel di kursi miliknya.


Ohh siapa yang melakukan ini terhadapnya, kalau sampai dia tahu siapa pelakunya ia tak akan segan untuk memukul wajahnya dengan tangan nya sendiri.


“Lho kenapa?” Pak Bowo berjalan mendekat ke arah Marsha dan memeriksa nya.


“Ada yang naro lem di kursi saya pak”


Semua siswa dan siswi di kelasnya diam tidak ada yang menjawab.


“KM, geledah semua tas, Bapak yakin lem yang orang ini gunakan adalah lem Super Glue. Jika mendapati ada di salah satu tas murid bekas lemnya,langsung bawa ke ruang BK”


“Baik Pak” Ucap KM bersemangat.


“Sekarang kalian keluar” Semua siswa sudah berjalan mengantri keluar kelas.


Wajah Bisma pucat,ia lupa membuang barang bukti yang berada di dalam tasnya. Ia harus menerima hukuman apapun itu.


KM masih memeriksa masing-masing tas milik tema-teman Marsha, di dalam kelas hanya menyisakan lima orang, Pak Bowo yang menemani KM menggeledah tas, Didis,Puput dan Marsha.


“Dapat.. Pak ini ada dua kantong Lem super Glue” KM itu menggangkat Lem yang di gunakan pelaku untuk mengerjai Marsha.


“Tas milik siapa itu?”Tanya pak Bowo ia langsung mengambil kantong Lem tersebut.


“Bisma Yudishtira Pak” Pak bowo menggelengkan kepala.


Anak ini… Gumam pak Bowo.


“Tempo hari juga Bisma dan kawan-kawannya” Ucapan Km langsung di potong oleh pak Bowo.


“Bapak sudah tahu.. Bisma dan para temannya kan yang mengerjai Marsha dengan menyiram nya dengan air kotor” Jelas pak Bowo. Anehnya kenapa Marsha tidak melaporkan kasus pembulian semacam ini. Bisma dan para kawan-kawannya harus di hukum supaya ada efek jera.


“Marsha.. sepertinya rok yang kamu pakai harus di robek, apa kamu bawa rok ganti?” Tanya pak bowo.


“Bawa ko pak” Jawab Marsha santai.

__ADS_1


“Kamu kenapa kok gak lapor kalau mereka sudah sering kali mengerjai kamu”


“Gapapa, mau ngelaporin orang yang benci sama kita bukan beresin masalah malah nambah masalah pak. Kalau sekarang bapak dan Guru-guru lain udah tau alhamdullilah bukan saya yang pengadu sama guru” Pak bowo mengangguk mengerti mendengar penjelasan panjang Marsha.


“Baik, tapi kamu harus bersedia untuk ikut keruang BK setelah ini” Marsha mengangguk.


“Kalian, Puput dan Adisti Bantu Marsha ya, Bapak akan Urus Bisma dan kelima teman nya” Pak Bowo dan Ketua Murid pergi keluar dan menghampiri Bisma dan para antek-antek nya.


Puput dan Didis membantu merobek rok Marsha dengan pelan,mereka takut gunting yang mereka gunakan akan menggores dan menyakiti paha Marsha.


“Sha,Lo baik-baik aja kan?” Tanya didis yang kini sedang menatap nya dengan cemas.


“Haha seperti yang lo lihat, gue baik-baik aja” Marsha menjawab dengan Ringan. Lantas diaharus apa? Harus menangis hanya karena Rok nya di lem? Ohh mohon maaf itu bukan dirinya.


“Sumpah, dalem keadaan ginipun lo masih bisa senyum heran gue”Timpa Puput, Puput berfikir perasaan kemarin saat mereka mengerjakan tugas bersama bisma tidak terlihat tidak senang. Tapi sekarang Bisma berubah menjadi orang yang berbeda.


“Udah buru kelarin, gue yang di kerjain lo pada yang pada mellow, ada urusan yang harus gue beresin”


Didis dan Puput segera membereskan tugasnya, hampir setengah jam Marsha bisa keluar dari Rok sia;an yang menjebaknya.


Marsha kini sudah berganti roknya dengan rok Baru, mulai saat ini ia harus menujukan siapa dirinya, agar tidak ada lagi orang yang meremehkannya. Jika ada yang ingin mengerjainya lagi, mereka harus tahu dengan siapa mereka berhadapan.


**


Marsha sedang menunggu Bisma and the gang di lorong sebelum masuk ke ruang BK, Ia benar-benar harus membuat perhitungan dengan Bisma. Harus.


“Hukuman Macam apa, membersihkan toilet selama satu bulan” Keluh salah satu teman Bisma.


“Udah untung cuman bersiin toilet, coba kalau di skors apa kata nyokap sama bokap. Bisa bisa gue gak di kasih uang jajan” Timpa temannya yang lain.


Saat mereka melewati lorong tersebut Marsha menarik kerah baju Bisma sampai punggungnya membentur dinding. Ia menarik kerah bagian depan seragam Bisma.


Kelima teman nya sudah menarik lengan Marsha, dengan sigap Marsha menghempas tangan mereka.


“gue gak ada urusan sama lo” Marsha menarik kerah baju teman Bisma yang menyiram nya dengan air bekas pel lalu membantinggnya ke lantai. Semua temannya menatap heran sikap Marsha yang tiba-tiba Kasar.


Kini Marsha berpaling kepada Bisma lagi.


“Lo udah kibarin bendera perang sama gue. Loharus tahu sama siapa lo berhadapan” Marsha kembali menarik kerah bajunya di hantamnya wajah tampan dan mulus milik Bisma.


*Bughhhh


*Bughhhh


Bogem mentah itu mendarat tempat dimata kirinyanya serta di tambah bonus di sudut bibirnya juga. Pukulan itu menyisakan bekas kemerahan yang akan berubah menjadi lebam.


“Gue gak takut kalau sekarang lo mau laporin gue karena ini. Ini sebagai bentuk peringatan dari gue, kalau lo coba-coba ngerjain gue lagi. Lo harus inget, sama siapa lo berhadapan” Desis Marsha sambil berlalu setelah menghempas tubuh Bisma hingga terjatuh.


Sepanjang perjalanan hidupnya tidak ada yang pernah berani kepada dirinya, apalagi ini seorang perempuan yang memukulnya dengan cukup keras walaupun dengan sekali pukulan di wajahnya.


Kelima teman nya membantu Bisma berdiri dan bungkam tidak berkomentar apa pun, peringatan Marsha membuat mereka terkena mental.


Entah apa yang Bisma fikirkan saat ini, anggap saja saat ini ia syok dengan apa yang di lakukan Marsha barusan.


Didis dan Puput mengikuti Marsha kala ia berkata ada Masalah yang harus di beresin. Saat melihat Marsha berkata dan melakukan hal tidak terduga Didis dan Puput bertepuk tangan kecil, mereka sangat memuji keberanian Marsha yang melawan sendiri tingkah Bisma tanpa bantuan siapapun.


Setelah pergi ia pergi ke UKS untuk mengopres tangan nya yang juga memerah akibat memukul wajah Bisma. Perasaannya sudah lega sekarang, selama hidupnya tidak ada yang pernah ia takuti selain kepada Tuhannya dan kepada kedua orang tua dan sang abang tercinta.

__ADS_1


__ADS_2