Pelabuhan Terakhir Marsha

Pelabuhan Terakhir Marsha
#PTM BAB37


__ADS_3

tidak mengurangi rasa hormat aku mohon untuk kalian klik tombol favorite dan like terus comment dukung aku terus. makasih


Happy reading ❤️


Dengan semangat Bisma melangkah menuju lantai tiga ruangan Marsha, setelah sebelumnya berdebat dengan Annisa di meja resepsionis. Tapi setelah mendengar ini adalah perintah Marissa, Annisa memberikan izin.


Tapi langkah Bisma juga di cegat Yopy, karena bos cantik nya sedang tidak ingin di ganggu.


“Memang nya kenapa Marsha? Kenapa tidak bisa di ganggu?” Protes Bisma, Yopy langsung menggaruk tengkuknnya yang tidak gatal.


Tidak mungkin rasanya ia berterus terang soal Marsha yang tengah menangis tergugu di dalam ruangan nya. “E—mmm maaf Pak, beliau sedang sibuk” Hanya itu lah kata-kata yang keluar jadi mulut Yopy, ia tidak memeliki alasan lain selain mengatakan kalau Marsha tengah sibuk.


“Sesibuk apa? Ini perintah dari Tante Marissa” Bisma mengangkat paper bag yang setia dalam gengggaman nya.


“Perintah bu Marissa?” Tanya Yopy heran, biasanya kalau ada tamu Marissa selalu memberinya kabar terlebih dahulu, tapi ini tidak.


Bisma sudah hilang kesabaran, ia langsung masuk ke dalam ruangan tanpa menunggu persetujuan Yopy, Bisma melihat sang empunya ruangan tengah menelungkupkan tubuhnya di sopa panjang berwarna coklat tersebut, pemandangan di depannya sungguh sangat meremass hatinya, Marsha tengah menangis tersedu seperti ada yang menyakitinya lebih dari kata wajar.


Sepatu cats milik nya tercecer sembarang, kemeja nya kusut karena mungkin Marsha sudah berada dalam posisi itu beberapa jam yang lalu. Bisma menghampiri calon istrinya. Ia berjongkok dan mengusap punggung Marsha halus.


“Marsha.. Kamu kenapa?” Tanya Bisma setelah menyimpan paper bag berisi makan siang milik Marsha dan dirinya.


Marsha menoleh cepat dan sontak membuat Bisma terjengkit kaget, wajah cantik nya hilang di telan air mata yang berderai di area pipinya. Belum lagi air hidung yang mengalir dan Marsha tidak memperdulikan itu.


Marsha kembali menenggelamkan wajahnya di sudut sopa “Ngapain lo disini Bisma?” Rengek Marsha pelan, Bisa di pastikan Marsha sangat malu saat ini. Wajah buruknya sedang menangis dilihat Bisma.


“Kamu kenapa nangis?” Bisma kembali mengusap punggungnya.


Marsha masih terus saja menangis, Bisma melirik undangan di atas meja. ‘apa jangan-jangan karena ini?’ Bisma mengambilnya lalu membaca isi undangan nya, dan ternyata benar nama Febry dan Bella yang tertera di undangan tersebut.


Bisma jelas tahu siapa Febry, laki-laki yang sering bersama Marsha akhir-akhir ini. Dia juga tahu bagaimana akhirnya Febry dan Bella di jodoh. Dari siapa ia tahu kalau bukan dari kutu air Bianca yang tak lain dan tidak bukan Adik kandung dari Bella.


Keluarga mereka sedang mengalami penurunan terutama keluarga Febry, memang benar adanya jika keluarga Febry ingin tetap kaya tanpa bersusah payah, dan yang lebih parah karena Bella tengah mengandung anak orang lain dan laki-laki itu enggan bertanggung jawab.

__ADS_1


Anggap saja ini seperti simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan, tapi tidak untuk Febry, ia harus kehilangan Marsha yang sangat ia cintai dan harus menanggung hidup wanita yang mengandung anak orang lain. Entah Febry tahu atau tidak, yang pasti ini peluang besar Bisma untuk bisa menyembuhkan luka hati Marsha.


“Gue lagi pengen sendiri Bisma” Ucap Marsha lagi.


Bisma mendengus kesal. “Saya ini calon suami kamu Marsha! coba lah bercerita sedikit, Saya akan siap mendengarkan” Ujar Bisma membuat isak tangis Marsha berhenti sebentar. ‘sekali pun itu akan menyakiti ku’ terus Bisma dalam hati.


Marsha bangun dari tengkurapnya, dan Bisma langsung duduk di tepat di samping Marsha ia memberikan sehelai tissu untuk menyusut air mata dan air hidung alis ingus yang menghiasi wajahnya.


Grebbb …


Marsha langsung memeluk Bisma dan kembali menangis tersedu.


“Apa salah gue Bisma..” Ucapnya, ia menenggelamkan wajah nya di dada bidang Bisma.


Bisma mengelus kepala nya dan sesekali menghirup aroma rambut Marsha yang manis.


“Hati gue sakit Bisma..” Keluhnya lagi.


“Menangis lah agar hati mu lebih puas Marsha..” Ucap Bisma..


Bisma mengurai pelukan nya, ia membaringkan Marsha di pahanya sangat terlihat jelas wajah cantiknya yang kacau terlebih penampilan nya yang membuat Bisma geleng kepala.


Bisma menyandarkan kepala nya di sandaran sopa,ia juga ikut memejamkan matanya sampai terlelap. Anggap lah ini acara tidur siang bareng di kantor.


Yopy sudah menutup agenda bos cantiknya untuk tidak bertemu dengan siapapun, karena yang ia rasakan sikap bos cantiknya tengah tidak menentu karena satu dan lain hal. Marsha mengerjapkan matanya karena area lehernya terasa sakit. Dada nya juga sesak karena ada yang memeluk nya posesif.


Sadar akan posisi nya Marsha terbangun dan membuat Bisma juga ikut terbangun.


“Udah bangun?” Tanya Bisma serak khas bangun tidur..


“Sorry..” Ucap Marsha lirih.


“Gapapa kok, Kamu mending makan dulu tadi saya kesini mau ngajak makan siang. Ehh tapi kamunya lagii nangis” Marsha mendorong sisi tubuh Bisma tidak suka.

__ADS_1


Marsha berbinar kala melihat barang bawaan Bisma, ia tahu betul makanan kesukaan nya.


“Ini enak banget Bisma..” Tuturnya sambil terus mengunyah makanan nya . perutnya benar-benar lapar karena hampir setengah hari ia menangis.


“Habiskan lah..” Bisma juga ikut memakan makanan diet yang menunya nasi merah, chiken katsu dan salad sayur.


Bisma memberinya minum air putih dan langsung di teguk habis oleh Marsha.


“Makasih Bisma” Ucap Marsha tulus, dan hanya di tanggapi senyuman manis oleh Bisma.


“Jadi kenapa kamu nangis?” Tanya Bisma penasaran,Marsha hanya menggeleng.


“Kamu bilang ingin terbuka dan mulai dari awal, tapi malah kamu yang tertutup” Marsha mengehla nafas.


“Temani gue menghadiri pernikahan mereka” Ucap Marsha sambil menunjuk undangan yang berada di atas meja. Bisma langsung mengangguk.


Ide gila muncul seketika di benak Marsha dia akan datang dengan Bisma agar Febry tahu bahwa dia tidak begitu berharga dalam hidupnya walaupun kenyataan nya berbanding terbalik.


Bisma juga sangat melihat raut wajah kecewa dari Marsha, tapi Bisma tidak akan menyia-nyiakan kesempatan indah ini, kesempatan untuk merebut hati Marsha walau pun Bisma yakini ini akan sulit.


“Kamu laper apa doyan?” kata Bisma menyindir.


“Dua-duanya Bisma, ternyata menangis membutuhkan banyak energy”


“Saya janji ini kali terakhir kamu menangis karena laki-laki, karena setelahnya saya akan bikin kamu tersenyum sepanjang hidup kamu” Bisma berkata tulus dan hanya di angguki oleh Marsha.


Barang kali ini lah pilihan terbaik untuk hidupnya, sekali pun ia tidak akan tahu apa yang akan di lakukan Bisma di masa depan, tapi jika di lihat perkataan Bisma tidak main-main soal akan membahagiakan nya.


“Tadi lo bilang, lo calon suami gue? Papa kan belum seratus persen ngasih restu buat kita” Itu lah pertanyaan yang sangat ingin Marsha tanyakan sedari tadi. Tapi karena begitu nyaman berada dalam dekapan bisma, Marsha sampai lupa dengan segalanya.


“kamu tenang aja, Papa Rama udah ngasih kita restu, tadi siang sebelum kesini saya bertemu mereka dulu”


“Papa?” Tanya marsha heran.

__ADS_1


“saya harus membiasakan diri menyebutnya seperti itu, karena satu bulan sekarang kita memang harus terbiasa” walaupun berat Marsha menarik ujunng bibirnya untuk tersenyum . karena samapai sekarang Marsha belum bisa membukahatinya untuk Bisma mengingat pendekatan nya yang sangat singkat.


Bersambung…


__ADS_2