Pelabuhan Terakhir Marsha

Pelabuhan Terakhir Marsha
#PTM BAB04


__ADS_3

Hari senin pun tiba, mulai hari senin ini Marsha sudah mengenakan seragam sekolah kemeja serta Rok kotak-kotak, tak lupa dasi serta jasnya yang berwarna abu-abu.


Marsha duduk di samping Rully, ia sudah mengambil jatah sarapan di meja nya.


“Cantik banget anak Mama pake seragam SMA, iya kan Pah?”


“Iya anak Papa sekarang sudah dewasa, cantik” Timpa Rama.


Rully sama sekali tidak menanggapi ucapan kedua orang tuanya, dimatanya Marsha tetap Acha adik kecilnya, ia tidak boleh dewasa sebelum waktunya.


“Bang.. Abang gak muji adik abang satu-satu nya ini?” Tanya Marissa di sela makan nya.


“Cantik apanya.. masih kecil gini di bilang cantik” Sangkal Rully, Marsha memanyunkan bibir nya kedepan mendengar perkataan dari sang kakak.


“Abang… jangan gitu,, adik kamu ini sudah remaja jangan terlalu di kekang, dari pada merhatiin adik mu terus mending kamu cari pacar deh biar ada temen curhat” Ucap Marissa mengalihkan pembicaraan.


“Itu lagi.. itu lagi, abang belum pengen punya pacar Ma,nanti kalau abang udah punya pacar juga pasti di kenalin ke Mama sama Papa kok”


Rully beranjak meninggalkan kedua orang tuanya, Marissa hanya menggeleng kepala pelan. Sudah ia duga Rully akan terus menghindar jika Marissa bertanya perihal jodohnya.


“Ma.. Aku juga berangkat ya takut telat” Marsha meraih telapak tangan Marissa dan Rama secara bergantian.


Pagi ini ia cukup bersemangat untuk mendapat ilmu Baru di sekolah baru, dengan di antar pak Amin mobil meluncur menuju sekolahan Marsha.


Rencananya kemarin ia ingin bermain kemall selepas melakukan latihan Volley tapi sang abang,Rully. Melarangnya dengan keras, meskipun itu pergi dengan pengawasan pak amin.


Marsha ingin segera sampai di sekolah, ia ingin menyampaikan permohonan maafnya kepada teman Barunya Didis, dia sudah berjanji akan menemaninya bermain, tapi karena ulah Rully, Didis jadi pergi sendiri.


Sesampainya di Gerbang sekolah Marsha turun dan pamit segera kepada pak amin.


Marsha menyusuri lapangan dan naik ke lantai dua, karena letak kelasnya di atas untuk semua angkatan kelas 10.


“Dis.. Didis tunggu” Didis melirik ke sumber suara..


“Hay Sha..” Didis melambaikan tangan kepada Marsha dan berhenti di tengah tangga.


Saat sudah di depan mata “Dis maafin gue ya, gara-gara abang gue lo jadi jalan sendiri” Ucap Marsha menyesal.


“Santai aja.. kita ke kelas yuk” Mereka bergandeng tangan sambil membicarakan pelaran yang akan mereka hadapi pagi ini.


Tanpa mereka tahu ada seseorang di balik pintu tengah memegangi ember air kotor bekas pel lantai.


Klek.. Byurrrrr satu ember air mendarat tepat di kepala Marsha karena Didis sigap menyingkir..


“Astaga….” Teriak Marsha..


Ia melihat ada Bisma dan para antek-anteknya tengah berdiri satu jajar dengan dirinya, semua siswa tidak ada yang bisa mencegah para anak-anak nakal seperti Bisma dan teman-temannya. Sepertinya mereka terlalu takut untuk mencegah .

__ADS_1


Perlahan Bisma mendekat ke arah Marsha dan berbisik.


“Mulai saat ini dan seterusnya gue bakalan bikin lo gak betah sekolah disini. Itu karena lo udah bikin masalah sama Gue” Buku-buku tangan Marsha memutih saat kepalan tangan nya semakin mengeras.


Antara ingin melawan atau hanya diam, mereka semua, Geng nya si Bisma sialan tengah mentertawakan Marsha dengan puas. Dengan tarikan nafas pelan Marsha memilih pergi dan meminta didis membelikan seragam baru untuk nya. Sebagai teman yang baik Didis sigap membelikan pakaian Baru untuk Marsha.


Marsha harus mandi lagi disini. Di sekolahan. Benar-benar ia harus membuat perhitungan dengan si Bisma Bre*gsek. Setidaknya bogem mentalnya harus merasakan pipi mulus milik Bisma.


Di dalam kelas suasana hening tercipta saat Marsha masuk sudah lengkap dengan seragam yang kering. Terlihat juga OB yang sedang membersihkan bekas air siraman nya jadi.


Pelajaran sudah berlangsung dan lagi Bisma,Bisma,Bisma yang maju ke depan. Lagi-lagi Marsha kalah cepat oleh Bisma, ia hanya bisa menghela nafas.


Seperti mendapat kepuasan tersendiri Bisma tersenyum kearah Marsha angkuh. Marsha semakin yakin ini ada hubungan nya dengan kalahhnya Bisma saat main Basket. Harusnya impas kan yang jadi pemenangnya kan Marsha kenapa dia harus marah dan membalasnya lagi dan lagi.


Bisma gak gantle memang, masa perempuan di ajak menjadi lawan. Jika sekarang ada seseorang yang di benci Marsha itu adalah Bisma yudishtira, si sikopat angkuh dan dingin. Melihat wajahnya sunguh muak dan menjegkelkan memang.


Tapi tidak ada pilihan lain selain menghadapi si tengiil nan songong ini, tidak terbayangkan selama tiga tahun ia harus melihat wajah itu yang memuakan, ohh sungguh ini cobaan yang harus ia jalani dengan ikhlas.


Tindakan pembullyan seperti tadi tidak ada yang berani melaporkan kepada Guru BP di sini, mereka juga tidak mau terlibat jauh dengan urusan yang bukan kapasitas mereka.


Dua mata pelajaran sudah mereka lewati dengan gampang, karena murid-murid disini temasuk yang cerdas hanya yang membedakan adalah kemalasan mereka.


Saat istirahat suasana kantin cukup riuh karena kedatangan kakak tingkat terpopuler. Makin bad mood aja nih Marsha padahal baru satu hari.


“Lo udah selesai belum dis?” Tanya Marsha.


“Tau aja lo, udah buru abisin anterin gue ke perpus”


Didis mengangguk dan langsung lahap memakan sisa nasi goreng miliknya. Aneh, kok si kutu air satu malah nyamperin ke empat orang siswi terpopuler itu, dan “Hay Kak?” Sapa si Bianca kutu air. Mereka larut dalam obrolannya, tanpa tahu Marsha tengah memperhatikan mereka. Yang Marsha tangkap dari obrlan mereka adalah seorang adik yang tengah mengadu kepada sang kakak.


“Pantes sama nyebelin nya”Gumam Marsha pelan. Didis sedikit mendengar “Lo ngomong apa barusan?” Tanya Didis penasaran.


“Engga-enggak.. gue gak ngomong apa-apa. Udah ayo anter ke perpus”


“Oke..oke” Marsha menarik lengan Didis paksa,karena sudah tidak sabar melihat tumpukan sumber ilmu yang tertata Rapi diruangan yang di sebut Perpustakaan.


Marsha mengambil beberapa buku untuk ia baca di rumah, meskipun di rumahnya ada ruang baca tapi tetap lebih kaya buku di perpustakaan sekolah. Kalau di rumah lebih banyak majalah dan novel kesukaan sang Mama.


“Udah nemu buku nya?”


“Udah.. Yok ke kelas, keburu bell masuk”


Mereka berjalan lagi menuju kelas nya yang cukup jauh dari perpus, ada dua pasang mata yang mengamati Didis dan Marsha yang Baru saja keluar dari perpustakaan.


“Gue Rasa si Marsha Gak bisa di remehin gitu aja,Bis” Ucap teman yang bernama Yusuf.


“Maksud Lo?”

__ADS_1


“Liat aja dia bawa buku sebanyak itu, gue yakin dia bakalan kalahin lo dari pelajaran”


“Ini gak bisa di biarin” Bisma kembali mengepalkan tangan kesal,bisa-bisanya posisi yang sudah di tempatinya harus tergeser orang lain.


Tiga pelajaran lagi yang harus Marsha hadapi bersama kawan-kawan yang lain, ia selalu menjawab pertanyaan pertanyaan dari pada guru yang di ajukan,Marsha cukup aktif sekarang anggap saja ia menikung soal yang di tujukan untuk Bisma, Makin kesal lah si tengil Bisma.


Dengan tanpa bersalah Marsha menjawab dengan semangat.


Setelah jam pelajaran Usai semua siswa dan siswi pulang. Marsha harus sedia seragam bersih dan sepatu untuk cadangan jika Bisma and the gang mengerjainya seperti tadi lagi.


Ia pulang dengan wajah yang sangat lelah, wajahnya tiba-tiba glowing keringat. Saat sampai kedalam rumah ia tidak mendapati siapa-siapa di dalam rumah. Papa tercinta nya masih saja sibuk kerja, Mama nya tidak jauh paling arisan bulanan dan berbelanja. Sedang kakak terposesifnya pasti tengah di kantor juga, dan mana bisa ia di ajak berbicara soal keluh kesah selama di sekolahan.


Ehh tunggu. Marsha kan bukan type anak yang pengadu, selama kedua orang tua dan abang nya tidak mengetahui perihal ia di kerjai habis-habisan pagi tadi, semuanya akan baik-baik saja.


Marsha sudah rapi mengenakan celana pendek serta kaos polos yang gombrong, perutnya berbunnyi sedaritadi minta di isi.


“Mbok…Mbok…” Panggil Marsha memasuki dapur.


“Nggeh Non, Ada yang bisa di bantu?” Tanya nya Mbok Yem menghampiri anak majikan nya,


Marsha menggelayut manja di lengan Mbok Yem, memang anak –anak nya Marissa sangat dekat dengan para pegawai di rumah ini, sedari kecil mereka selalu di ajarkan untuk menghormati setiap orang tua.


“Ono opo to Non, Gelendotan beginii di tangan si Mbok” Marsha nyengir kuda memperlihatkan deretan Gigi putih dan rapi miliknya.


“Hehe aku boleh kan Mbok Masak mie instan, Please” mohon Marsha, Marissa memang menyediakan mie instan hanya saja sesekali mereka memakan nya. Dan harus izin dulu kepada sang Abang.


‘OMG masa makan mie harus izin sama Bang Rully’ Gerutu Marsha kesal.


“Mbok Bisa buatkan, hanya saja Non, harus..” Ucapan Mbok Yem terpotong.


“Harus izin Abang? Ishhhh Ngeselin” Marsha besidekap kesal.


“Nggeh non, atau mau Mbok buatkan yang lain?”


“Yaudah aku Izin sama abang aja deh” Marsha meraih ponselnya dan langsung menghubungi Rully.


“Hallooo.. ngapain lo telfon?” Ucap Rully to the point.


“Bang bolekan gue makan mie instan, udah satu minggu gue gak makan mie instant” Rungutnya sedih.


“Hmm Boleh,yaudah gue tutup” Jawab Rully cepat karena karena ia tengah meeting sore ini dengan para karyawan nya.


“Yes thanks abang.. Muachhh”


Marsha meletakan Ponselnya di atas meja makan, Mbok yem langsung meraih juga mie intan di atas laci besar dapurnya. Berlebihan memang, anggap saja keluarga Antaresa adalah keluarga higienis, tapi itu berlaku untuk Rully, dan dia menanan kebiasaan yang baik menurutnya kepada anggota keluarganya.


Kalau Marissa dan Rama sih tidak terlalu membatasi sesuatu yang wajar-wajar saja, seperti halnya memakan Mie, itu hal yang biasa bukan. Rully terlalu takut jika mereka mengkonsumsi Mie insan terlalu banyak itu akan menyebabkan jerawatan,sugesti itu nama nya bang….

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen nya ya❤️👍


__ADS_2