Pelabuhan Terakhir Marsha

Pelabuhan Terakhir Marsha
#PTM BAB19


__ADS_3

Pagi ini suasana meja makan cukup hening, Marissa tidak membuka pembicaraan sama sekali,Rama juga. Apa mungkin karena Marsha yang selalu menolak makan malam bersama dan Marissa marah.


“Bang.. Lusa kan Mama ulang tahun, kamu mau kan ajak Gege ke pesta Mama?” Ucap Marissa tiba-tiba.Rully menatap sekitar.


“abang Usahain ya Ma,takutnya Gege sibuk ” Marissa mengangguk,.


“Please..Mama kepengen banget ketemu dia”


“Iya..iya ma”


Marissa melirik ke arah Marsha sebentar sambil menghela nafasnya. “Cha.. kamu apa gak mau bawa pacar di ulang tahun Mama?” Ucap Marissa beralih pandang kepada anak bungsunya.


“Huhhh…Ma, Mama tahu kan kisah percintaan aku gak pernah mulus” Marissa memutar bola mata malas, karena selalu itu jawab yang ia terima dari mulut Marsha.


“Iya itu karena kamu pemilih,Acha..”


“Harus dong, kita harus pilih-pilih kalau soal jodoh. Nikah itu harus sekali seumur hidup. Anggap aja aku jomblo berkualitas”


“Iya tapi kamu jangan terlalu pilih-pilih juga, atau coba ketemu dulu sama anak temen Papa” Komen Rama, Marsha menggeleng keras.


“Aku gak mau Pah, tar kalau bang Rully udah nikah baru aku kepikiran soal cari pacar, aku pengen kerja dulu” Marsha menyimpan sendok dan garpunya, ia meneguk air putih nya hingga tandas. Membahas ini sungguh mengesalkan.


“Aku udah selesai, mau jalan sekarang” Marsha mendahului Rully yang masih menhabiskan sisa sarapannya.


Marsha melajukan mobilnya dengan kecepat sedang, karena jalanan hampir padat di jam jam segini. Tak lama ia sudah memarkirkan mobilnya di parkiran kantor.


Ia berjalan menuju ruangan nya, sepertinya semua nya tengah sibuk dengan projectnya masing-masing. Marsha juga ingat kalau hari ini ada janji interview dengan Aden.


Sesampainya di dalam ruangan,Marsha ada memeriksa email dan isi revisi dari Bisma. Mau tidak mau ia harus beremu lagi dan lagi dengan Bisma sampai project pembangunan nya selesai.


Kring… Suara telfon yang masuk ke ruangan Marsha.


“Halo..” Ucap Marsha..


“Bu ini ada yang mau interview, langsung di anta raja?” Tanya Annisa.


“iya anterin aja” telfon terputus.


Aden dan Annisa berjalan menuju lantai tiga, Aden menelisik setiap sudut ruangan yang berada digedung ini. Ia berharap akan di terima disini dan memilik bos yang baik, tidak seperti bosnya yang dulu.


“silahkan masuk Mas” Aden mengangguk dan masuk, Kursi Marsha membelakangi Aden yang tengah berdiri, seketika Aden terkejut saat calon bosnya adalah Marsha teman sekolahnya dulu.


“Silahkan duduk Aden” Marsha tersenyum.


“Iya bu..” Jawab Aden kikuk. Ia tidak menyangka kalau Marsha akan menjadi calon Bosnya.

__ADS_1


“Gak usah basa-basi lagi, gue yakin lo udah pengalaman dalam mengurus keuangan, mulai hari ini lo di terima kerja disini” Tukasnya.


“Bu..” Interview macam apa ini.


“Jangan panggil gue bu.. panggil aja Marsha” Aden mengangguk dan menyodorkan tangan nya untuk menjabat tangan Marsha.


“Makasih,Sha” Ujarnya senang.


“Gue suruh Yopy jelasin job description lu ya” Aden mengangguk.


“Yop, Kasih tahu dimana mejanya, dan kasih tahu juga apa pekerjaannya” Ucap Marsha saat berada di depan meja Yopyta Sekretaris pribadinya.


Yopy mengguk “Ayo Mas, aku anterin ke lantai dua”


“Kita berdua permisi Bu” Yopy pamit dan mengantar Aden ke lantai dua menuju kubikelnya.


Interview hanya satu menit, ini adalah rekor tercepat karena teman.


Marsha kemabali menuju ruangannya tiba-tiba ponselnya berdering, panggilan masuk dari nomor yang tidak di kenal. “Hallo”


“Halooo apa benar ini dengan Mbak Marsha?” Tanya seoranglaki-laki di seberang sana.


“Betull.. ada yang bisa saya bantu?” Jaawab Marsha ramah.


“Begini mbak, saya Febry,saya dapat rekomendasi dari teman. Saya ingin membangun rumah dari nol dan membutuhkan design apa mbak Marsha bisa membantu saya?”


“Bisa mbak, saya akan kirimkan denahnya. Dan saya juga minta alamat emailnya”


“Baik Pak” Telfon terputus.


Marsha kembali berkutat dengan laptopnya, dia sudah mengambil project untuk membangun rumah dan hotel secara bersamaan.


---


Di kantor Bisma..


Bisma tengah memandangi foto di aplikasi berwarna hijau miliknya, siapakah sosok yang ia perhatikan di foto tersebut? Siapa lagi kalau bukan Marsha, karena semenjak pertemuan nya kemarin Bisma kembali mengingat betapa buruknya perlakuan dirinya pada Marsha.


Tapi yang belum Bisma pahami adalah kenapa ia masih teringat kepada Marsha,Bahkan segala yang ada di diri Marsha. Entah karena merasa bersalah tidak mendapat maaf entah juga karena perasaan nya belum terbalaskan.


Apalagi ia melihat respon Marsha kemarin juga tidak terlalu beda dan lebih bringas dari Sembilan tahun sebelumnya. Bisma menyugar rambutnya kebelakang “Harusnya gue gak lakuin itu” Erang nya lemah, Bisma sangat suka jika membuat Marsha marah, tapi justru itu akan membuatnya kehilangan peluang kan.


“Gue harus telfon dia sekarang” Gumam nya.. ia meraih ponsel pintar nya dan menyambungkan nya.


Deringan pertama hening tidak ada jawaban..

__ADS_1


Marsha melirik pnselnya yang terus menerus berdering..


“Haloo…” Pada akhirnya.


“Selamat siang Marsha..” Sapanya..


“Iya selamat siang, apa lo hubungin gue? Progres gambar baru 40% setelah 80% baru bisa revisi” Tuturnya gamblang, Marsha sungguh malas harus bertemu tanpa tujuan dengan Bisma.


“Ternyata kamu sangat bersemangat.. saya suka” Marsha hanya berdecak malas.


“Bagaimana kalau malam ini kita makan malam?” Tawarnya..


“Dalam rangka apa?”


“tidak dalam rangka apa-apa, saya hanya ingin makan malam saja dengan kamu”


“Oke di Afternoon Café” Pinta Marsha.


“Jam tujuh malam” Tut…


Sambungan telfonnya langsung di putus satu pihak oleh Marsha, sebenarnya Bisma sangat ingin berbincang banyak dengan Marsha hanya saja ia sendiri bingung harus membahas apa selain pekerjaan yang sedang Marsha garap. Tidak ada lagi bahasan pribadi yang harus Bisma tahu, karena Marsha seperti menutup dirinya.


Bisma dan Marsha mengerjakan pekerjaan nya secepat mungkin, karena ada janji dan itu harus di tepati. Tapi sebelum ia pergi memenuhi janjinya kepada Bisma ingin singgah dulu sebentar di supermarket terdekat dari kantornya.


Ia mengambil beberapa keperluannya, sabun, lotion,dan parfum. Tak lupa mie instant kesukaannya karena semenjak bekerja ia selalu diam diam memasak mie tanpa sepengetahuan Rully di kantornya.


Setelah membayar Marsha berjalan ke luar masih ada waktu satujam untuk sampai di café yang ia janjikan kepada Bisma. Ia melihat satu ibu paruh baya tengah memegangi dadanya yang terlihat sesak.


Jelas Marsha tidak tinggal diam, ia berjalan dengan cepat menghampiri ibu-ibu tersebut.


Ia meraih tangan sang ibu yang masih terlihat putih dan cantik.


“Bu… apa ibu baik-baik saja?” Ibu-ibu tersebut terus memegangi dadanya dengan nafas tersenggal.


“Nabulizer saya..” Suaranya tercekatt. Ia merogoh tasnya tapi nihil.


“Saya bantu cari bu” Marsha ikut merogoh tas milik ibu paruh baya tersebut dengan sama panik nya.


Marsha ikut panik saat wanita itu merosot dan bersandar di pilar dekat Marsha. “Gak ada bu, saya antar ke rumah sakit ya bu” Ia langsung menggeleng.


“Antar saja saya kerumah,ini kunci mobil saya” Marsha menerima kunci mobil wanita itu.


Marsha segera memapah ibu itu di bantu dengan orang sekitar, anehnya seperti tidak orang sebelum Marsha membantu. Barang belanjaan ibu tersebut dan milik Marsha sudah berada di dalam mobil.


Dengan petunjuk dari pemilik mobil Marsha mengendarai mobilnya dengan cepat namun tetap Rapi, karena kondisi ibu di sampingnya ini cukup mengkhawatirkan. Di tambah lagi suara ponsel milik Marsha terus menganggu konsentrasinya, Marsha sangat yakin itu adalah Bisma, karena saat ia melirik jam di dasboadr mobil sudah pukul tujuh malam lewat.

__ADS_1


Persetan dengan panggilan Bisma yang ia abaikan, Marsha lebih mementingkan nyawa seseorang dari pada hanya sekedar makan malam.


Bersambung…


__ADS_2