Pelabuhan Terakhir Marsha

Pelabuhan Terakhir Marsha
#PTM BAB25


__ADS_3

Bisma hanya menggeleng melihat Marsha terus menerus meminum wine yang menurutnya rasanya unik dan enak. Bisma ikut meminum Wine yang Didis pesan. Bisma juga melihat ada yang berbeda dari gadis bekacamata yang bernama lengkap Adisti Milka itu. Ada pribahasa, Dulu kau cupu sekarang kau suhu.


Bisma juga selama hidup di negeri orang kerap kali menghabiskan waktu di kelab malam terkenal di Amerika, terlebih hampir semua teman nya gemar datang ke tempat-tempan menyenangkan namun harom..


Sepulangnya Bisma dari luar negeri baru kali ini ia menginjakkan kakinya di kelab malam, karena pekerjaan yang banyak dan itu jelas sangat menyita waktunya.


“Stop! Behenti Sha!” Cegah Bisma saat Marsha lagi-lagi menuangkan wine di gelasnya.


“huhhhh.. siapa lo larang-larang gue” Racau Marsha tidak jelas. Bisma mengelap wajahnya frustasi.


“Ishh Dis gimana nih? Gak mungkin kita bawa dia kerumahnya, tar yang ada kita bertiga di bunuh sama abangnya” Ucap Aden penuh dengan kekhawatiran. Karena ia juga tahu bagaimana sifat abang nya Marsha.


Didis menggedikan bahunya “Bawa hotel aja kali ya” Usulnya, Bisma menggeleng tidak setuju.


“Atau kita ke Villa bokap gue aja di Bandung, besok juga kan week and” Didis mengangguk antusias.


“Asik holyday nih kita?” timpa Aden .


Didis sudah menghubungi Mama icha dan memberi tahunya bahwa Marsha menginap di rumahnya, karena besok ada acara kebandung. Tidak ada balasan dari Mama icha mungkin saja sudah tidur karena waktu sudah tepat di angka satu dini hari.


“Udah lah Bis kita jalan sekarang aja” Usul Aden.


Bisma langsung mengangguk dan menghampiri Marsha yang tengah terkulai lemah di kepala sopa.


“Sha.. kamu bisa jalan ga?” Bodoh.. orang mabok lo tanya emang bakal jawab bener.


“Haaa? Jalan? Bisa dong, gue kan punya kaki hihi” Ucapnya mendayu sambil terkikik sesekali, berbeda lah dari Marsha yang biasanya.


Dengan tanpa banyak bicara Bisma memapah Marsha sampai kedalam mobilnya. Malam ini yang bertugas untuk menyetir adalah Aden, sebab walau pun ia banyak minum tapi dia masih normal dan sadar.


Perjalan Bandung Jakarta cukup jauh, karena villa milik Bisma letaknya di dataran kota bandung,yaitu Lembang.


Bisma terus menerus menggenggam tangan Marsha, ia takut terjadi sesuatu dengan wanitnya. Eh Ralat wanita ini.


Tidak di pungkiri kalau hatinya sedang berbunga, banyak yang ingin ia tanyakan kepada Marsha, karena katanya orang mabuk akan jujur dalam berucap.

__ADS_1


 Mereka akhirnya sampai di Lembang dengan selamat setelah sebelumnya merka berhenti di salah satu mini market yang buka 24 jam untuk membeli cemilan dan minuman. Mereka juga sudah di sambut oleh pekerja yang bertugas menjaga dan membersihkan tempat tersebut.


Ada tiga kamar disana dan satu kamar untuk pegawai karena mereka tinggal juga di villa tersebut. Aden berencana akan tidur bersama Bisma dan Marsha bersama Didis. Sebenarnya kepala Bisma sudah benar-benar berat dan sekarang harus mengangkat tubuh tinggi Marsha menuju kamarnya.


Didis sudah berbarinng di sofa panjang ruang tengah, Bisma membantu Marsha agar nyaman tidur di tempat baru. Hanya gumaman kecil yang terdengar dari bibirnya.


Bisma duduk di tepi Rajang di tatapnya wajah cantik Marsha. Di sentuhnya pipi mulus itu.


“Emhhhh” Marsha membuka matanya sayu.


“Kalau masih pusing kamu jangan dulu bangun” Bisma menahan Marsha yang ingin bangun dari berbaringnya.


“Bisma?” Marsha menatap dengan sayu tepat ke bola mata Bisma.


“Ya?” Jawab Bisma gelagapan.


“Gue benci sama lo” Marsha seketika bangun dari berbaringnya lalu duduk tegak.


“Gue benci sama lo, gue benci” Ucap Marsha parau. “Kalau aja lo bisa bersikap lebih manis, mungkin aja gue sependapat sama Didis, lo ganteng” Bisma tersenyum menang. Ternyata Marsha memilik sisi suka walaupun hanya secuil.


Entah sadar atau tidak Bisma menarik tangan Marsha kedalam genggamannya, Bisma tidak bisa menahan ini lagi. Ia benar-benar mengakui perasaannya terhadap Marsha tidak berubah.


“Haahh kenapa lo minta maaf?” Marsha menatap Bisma walaupun Bisma yakin Marsha akan lupa besok soal ini.


Greppp Marsha memeluk Bisma.


Jelas Bisma gelagapan ketika di peluk secara tiba-tiba seperti ini, tapi ia juga tidak memiliki kuasa karena tubuhnya tidak bisa menolak. Masa bodo jika besok ia harus kena damprat Marsha karena sudah lancing, tapi ia juga punya alasan.


“Sha lepasin..” Ucap Bisma pada akhirnya, ia tidak mau hawa na[f]su menguasai tubuhnya, mengingat perasaan dirinya terhadap Marsha tidak pernah berubah,malah semakin dalam jika di rasakan.


“Biarin gini, sebentar aja” Marsha memejamkan matanya.


Ia menarik leher Bisma yang di peluknya sampai Bisma ikut berbaring di atasnya. “Ohh Shittttt” sungguh posisi macam apa ini, Bisma terus saja memberontak ingin lepas dari pelukan Marsha,tapi kakinya malah terkunci oleh kaki Marsha.


“Yatuhan cobaan macam apa ini” Ucap Bisma lemah.

__ADS_1


Akhirnya ia hanya bisa pasrah dan menunggu matahari segera menyingsing, sebab anggka dijam seperti lama berputar dan hanya stak diangka empat.


Kali ini Bisma bisa merubah posisinya jadi menyamping menghadap Marsha, wajah cantiknya jelas terpampang nyata, ia sangat ingin meraup sesuatu yang sangat manis menurutnya, tapi sayang Bisma tidak mau melakukan tanpa persetujuan si pemilik.


Dengan pikiran yang bekecamuk Bisma tidur dalam dekapan Marsha, satu jam setelahnya Marsha bangun. Guling yang sangat nyaman di peluk, hmm mimpinya menjadi nyata ketika isi mimpi tersebut Marsha tengah memeluk punggung yang kokoh.


‘Hah.. badan siapa nih’ Marsha membola ketika ada rambut tebal di samping pipinya.


Kini semakin terasa hembusan nafas yang hangat di leher jenjang Marsha, Marsha melirik wajah sang pmilik nafas. “BISMA” Serunya pelan.


Tunggu. Tapi ini dimana. Marsha kembali mengedarkan pandangan, tanpa panik ia melepas pelan pelukannya. Marsha beranjak dari ranjang besar yang ia tiduri semalam, lalu ia berjalan ke arah luar dan melihat Didis tidur telentang di sopa ruang tengah.


Ia kembali masuk kedalam kamar, pikiran nya tidak jernih ketika mendapati orang yang sangat ia benci justru ada dalam pelukan nya. Apa yang sudah mereka lakukan semalam. Marsha bertanya-tanya pada dirinya sendiri dan terus menerun mencoba mengingat kejadian semalam.


Yang ia ingat hanya, ketika Aden menghubungi Bisma untuk ikut bergabung di pesta kecil-kecilan yang di buat oleh Didis. Selebihnya Marsha tidak bisa mengingat karena semakin mengingat ,kepalanya semakin terasa berat.


Secepat kilat ia mencari ponselnya, tapi dimana. Bagaimana Marissa,Rully dan Rama. Sepanjang hiduupnya ia tidak pernah menginap tanpa kabar, jelas itu akan membuat ke gaduhan di rumahnya. Bisa-bisa ia digantung oleh abang tercintanya.


‘Ohh Astaga’ Marsha kembali mendesan dan melirik ke atas Rajang.


Bisma tengah tertidur dengan nyenyak, seketika pula ia mematut dirinya,merasakan apa ada yang berubah dari pakaiannya. Tapi ternyata masih utuh dan tidak ada yang berubah di dalam dirinya.


Marsha benar-benar khawatir Bisma melakukan sesuatu yang akan merugikan dirinya di masa depan, tapi saat di rasa-rasa tidak ada nyeri di bagian inti tubuh yang biasa orang lain rasakan ketika malam pertamaaa.


Sebulnya Marsha ingin berteriak kepada Bisma tapi ia urungkan, karena itu akan membuat kegaduhan di dalam Villa ini. Tapi ia juga takut Didis atau Aden berfikiran yang tidak tidak terhadap dirinya Dan Bisma.


Marsha mengusap wajahnya frustasi. Ia berjalan mondar-mandir seperti gosokan listrik.


Tapi tiba-tiba “Kamu sudah bangun?” Suara serak nan berat itu akhirnya terdengat.


Besambung…


 JANGAN LUPA LIKE NYA ATUH YA 🙏🙏


SOK AUTHOR MAU UP 2 SAMPAI 3 EPISODE TAPI JANGAN LUPA KOMEN JUGA, VOTE DAN KASIH RATING LIMA BINTANG OKEEE❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2