Pelabuhan Terakhir Marsha

Pelabuhan Terakhir Marsha
#PTM BAB07


__ADS_3

Di dalam Ruang UKS Marsha sedang mengopres tangan nya menggunakan air Es dan di bantu oleh perawat yang bekerja di UKS sekolahan. Perawat itu juga tahu kasus yang di alami Marsha, tentang pembullyan yang di lakukan oleh Bisma.


Kasus ini sudah viral di kalangan sekolah, petugas kebersihan yang melihat kejadian Marsha yang di siram air kotor juga melihat saat Bisma menaruh lem di kursi milik Marsha.


Petugas itu jelas tidak bisa tinggal diam, di tambah lagi ada bukti CCTV yang mengarah jelas kea rah lorong pada saat mereka menyiram Marsha.


“Ini tangan kamu kenapa?” Tanya perawat itu, dan membawakan satu gelas air putis untuk Marsha.


“Jangan bilang kamu udah bikin perhitungan sama anak bandel itu?” Lanjutnya.


Marsha tersenyum “Kok ibu tahu saya udah ngehajar dia?” Ucapnya.


“Saya sudah sering mendapati luka seperti ini di tangan anak-anak yang berkelahi. Tapi bukan perempuan tepatnya, bagaimana kalau kamu yang baliik di laporkan?”


“Saya gak takut, tapi saya yakin mereka gak akan berani”


“Wah super sekali… saya perban ya” Perawat tersebut memberikan  perban di tangan Marsha yang memar akibat berbenturan dengan wajah Bisma agung sial;an.


Saat Marsha mendapat penanganan dari perawat, Didis dan Puput masuk tanpa permisi membuat perawat dan Marsha terperanjat kaget.


“Sha.. Marsha.. lo gak papa?” Tanya mereka sibuk.


“Ishhh.. ngapain kalian kesini?” Bisik Marsha, ia paling tidak suka di khawatir kan orang lain seperti ini. Toh selama hidupnya ia selalu bisa menyelesaikan apa pun itu jika sang kakak tidak meng etahuinya.


Kalau Rully mengetahui ini, sudah pasti Bisma akan berakhir dalam dekapan sang kakak.


“Kita khawatir tahu…” Rungut Puput.


“tapi.. apa yang lo lakuin tadi.. KEREN..” Puji mereka berdua, Didis sampai betepuk tangan kecil di hadapan perawat.


“Gue tahu apa yang kalian khawtirkan, tapi, mulai sekarang kalian juga tahu gimana cara gue menyikapi masalah. So.. mulai sekarang kalian belajar buat gak khawatir sama gue” Didis dan Puput mengangguk mengerti .

__ADS_1


Perawat sudah membereskan peralatannya “Sudah selesai, kalian bisa kembali kekelas” Marsha dan kedua teman nyaberanjak dari Ruang UKS menuju kelasnya.


Marsha tidak tahu kalau kasusnya sudah sampai di telinga Marissa dan Rama, diam-diam Guru BK menelfon orang tua Marsha bertujuan untuk meminta maaf secara langsung.


Marissa dan Rama sedang dalam perjalanan menuju sekolah anak bungsunya, Marissa sudah gagal menjadi ibu, artinya Marissa tidak benar-benar mengertahui masalah yang di hadapi anaknya.


Selama ia tahu, Marsha adalah anak yang ceria di matanya. Tidak anak mata tertekan sejauh ia memperhatikan. Ternyata Marissa salah, marsha justru memiliki masalah yang jauh lebih berat dari siswa siswi lain.


Setibanya di area sekolah Marissa berjalan dengan Rama suaminya, sebelumnya ia sudah menelfon Amin agar tidak datang untuk menjemput bos kecilnya.


Saat sedang berjalan Marissa dan Rama sudah di sambut oleh guru BK yang menangani kasus pembulyan Marsha,anaknya.


“Selamat datang Bu Marissa dan pak Rama” Sapa Guru BK sambil menyalami kedua orang tua Marsha.


Ibu-ibu paruh baya ini sudah lama menjabat  menjadi guru BK dan menangani segala kasus anak-anak nakal di sekolah ini, dan baru pagi ini melihat salah satu petinggi dan pengusaha sukses Rama Antareksa.


“Silahkan masuk Bu,Pak” Rama dan Marissa langsung masuk dan duduk di sofa, Guru BK yang bernama Yuni itu kini sudah sama sama duduk di depan mereka.


“Bu.. mohon maaf ada apa sebenarnya.. saya sangat khawatir” Ujar Marissa khawatir, ia takut Marsha,putrinya mengalami shok akibat tindakan pembullyan yang Marsha alami.


“Tenang dulu bu Marissa, putri ibu baik-baik saja.” Ucap bu Yuni menenangkan,


 


Kini Rama yang angkat bicara karena ia sama tidak sabarnya dengan Marissa “Sebenarnya apa yang terjadi kepada anak saya bu?” Ulang Rama dengan jelas.


“Bu,Pak mohon maaf sebelumnya atas kelakuan peserta didik kami yang menyebabkan ini semua. Masalah yang menimpa Marsha, sungguh saya sesalkan Pak, coba bapak lihat video ini” Bu yuni memberikan Ipad kepada Rama dan Marissa, dan langsung di terima oleh mereka berdua.


Video tersebut memperlihat kan Marsha yang di perlakukan dengan tidak layak, Marissa kini menutup mulutnya lebar-lebar, kala ada seseorang yang menyiram putri kesayangan nya dengan air bekas pel lantai.


Rama juga tak kalah terkejutnya dengan Marissa, namun ia hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat perlakuan tidak mengenakan untuk anaknya. Tangan besarnya mengepal menahan kesal kini buku-buku jemarinya memutih tak kala menahan amarah yang memuncak.

__ADS_1


“Siapa yang melakukan ini semua kepada anak saya Bu?” Desis Rama pelan.


“Namanya Bisma,Pak. Dan ada kelima teman nya lagi yang membantu kelancaran nya saat melakukan aksinya tersebut” Ujar Bu Yuni dengan tenang.


Bu yuni juga tahu perasaan Rama dan Marissa, jikalau ini menimpa kepada anak nya atau sanak saudaranya. Namun sebagai guru BK, Yuni disini mencoba menengahi kala orang tua murid ingin bertindak kepada siswa yang membuat onar kepada mereka.


“Bapak dan ibu mohon berbesar hati menerima musibah yang menimpa Marsha. Tapi bapak dan ibu tidak perlu khawatir kami sudah menghukum para pelaku pembullyan tersebut. Kami selaku jajaran staf memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian ini. Saya dapat pastikan kejadia seperti ini tidak akan pernah terulang lagi” Yuni mengucapkan rasa penyesalan yang teramat dalam, mengingat ia berurusan dengan siapa kali ini.


“Saya tidak akan memperpanjang urusan ini, tapi saya mohon untuk pelaku dihukum dengan sepantasnya bu” Ujar Rama tegas. Jika mengikuti nafsunya Rama sungguh ingin bertemu dengan siswa yang bernama Bisma tersebut. Tapi untuk kali ini Rama menurunkan egonya, karena ada yang lebih berwenang untuk menangani kasus seperti ini.


“Pah.. gimana kondisi sikis Marsha kalau dia mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan seperti ini” Keluh Marissa sedih, ia tengah menggoyang lengan Rama.


“Sabar Ma, kita tahu bagaimana anak kita menyikapi sebuah masalah. Papa yakin Marsha bertindak dengan segala nalurinya” Ucap Rama menenangkan. Jujur saja Marissa sungguh tidak tenang sebelum ia melihat kondisi anaknya.


“Bu saya yang akan pastikan sendiri keadaan Marsha dan saya juga yang akan pastikan sendiri hukuman apa yang pantas untuk Bisma danGang nya jika masalah seperti ini terulang kembali.” Marissa mengangguk mendengar penuturan Yuni yang sangat serius menanggapi masalah ini.


Bukan masalah dengan siapa Yuni berhadapan, jikalau masalah seperti ini terjadi pada siapa pun. Yuni akan bertinka sama tegas nya seperti menghadapi kasus yang menimpa Marsha.


“Baik bu Yuni, kalau begitu kami permisi ya. Terima kasih atas informasinya, karena saya yakin Marsha tidak akan mau bercerita soal ini kepada kami” Marissa berkata sambil bergegas berdiri dan menyalami Bu yuni.


“Terima kasih juga atas kemurahan hati Ibu dan Bapak untuk tidak membesar besarkan, saya memanggil bapak dan ibu kemari karena saya fikir bapak dan ibu berhak tahu masalah apa yang tengah di alami oleh Marsha dan saya sungguh menyesal untuk itu” Yuni menyalami Marissa dan Rama secara bergantian.


“Saya pamit ya bu Yuni” Ujar Marissa, Yuni mengangguk.


Rama dan Marissa berjalan kembali menujumobil mereka dan akan menunggu Marsha yang pulang sekitar dua jam dari sekarang.


Banyak pertanyaan yang bergelirya di kepada Marissa dan Rama untuk anaknya Marsha. Mereka berdua berharap Marsha jujur akan apa yang di alami oleh dirinya beberapa waktu lalu. Mengingat waktu kejadian insiden penyiraman air pel tersebut sekiar satu bulan yang lalu,itu berarti Marsha mengalami hal tidak mengenakan di awal sekolahnya.


Lalu apa arti kata menyenangkan yang di ucapkan oleh putri bungsunya, apa Marsha sengaja agar kedua orang tua nya tidak tahu mengenai masalah ini. Entahlah tapi ini sungguh membuat Marissa tidak sabaran.


SPOILER : ADA BEBERAPA BAB LAGI SEMASA MARSHA SEKOLAH, DAN PADAAKHIRNYA MARSHA MENEMUKA PELABUHANNYA YA.

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA.


__ADS_2