Pelabuhan Terakhir Marsha

Pelabuhan Terakhir Marsha
#PTM BAB10


__ADS_3

Tut…. Marsha mencoba menelfon sang kakak di sambungan pertama tidak mendapat jawaban.


Marsha memandang kedua teman nya, tapi ia langsung mencoba menelfonnya lagi.


Tut….


“selamat siang..” Sapa seseorang di balik telfon.


Suaranya sangat asing di telinga Marsha, suara lembut perempuan?


“Siang.. Ini Mbak Dera?” Tanya Marsha memastikan, Dera adalah salah satu orang kepercayaan Rully yang menjabat sebagai asisten pribadinya.


“maaf bukan.. saya Raisa. Em teman nya Rully, ini dari siapa?” Marsha tersenyum,jangan-jangan ini pacar barunya Rully.


“Ohh.. Kak Raisa, Aku Marsha adiknya nya bang Rully, bang Rullynya kemana ya Kak?”


“Rully nya lagi ke toilet..”


“Ada apa sayang..? Ada telfon? Dari siapa?”


Marsha tersenyum puas, setidak nya ia punya Kartu As sang kakak, Rully pasti akan melakukan apa saja asal Marsha tutup mulut.


“Adik kamu” Marsha tersenyum lagi, seperti itu lah kira-kira ekspresinya sekarang.


Sayang… ini sudah bisa di pastikan hubungan mereka bukan main-main, tenyata sang abang bisa romantis juga.


“Cha.. ngapain lo nelfon gue” Sarkas Rully pelan.


“Bang.. gue mau izin jalan sama temen-temen”


Rully jelas serba salah, melarang Marsha itu jelas akan membuat image nya jelek di hadapan sang pacar baru, tapi jika memperbolehkannya juga hal yang sangat tidak mudah.


Marsha sungguh tahu situasi,menelfon di saat dirinya sedang bersama sang kekasih.


“Bang.. Izinin ya please.. gue pergi sama Didis sama Puput,pakai mobil Puput” Terus Marsha karena tidak mendapat respon dari Rully.


“Emang kalian mau kemana?” Tanya Rully. Sepertinya Rully tengah menahan amarahnya, mungkin Marsha sedang menguji dirinya dengan cara seperi ini.


“Mau ke time zone sama nongkrong aja, pokonya sebelum petang gue udah balik, janji”


“Di anterin pak Amin ya” Titah Rully lembut.


“Enggak bang, gue pergi pake mobil Puput. Kalau lo gak izinin gue bakalan telfon Mama aja, ada yang harus Mama tahu” Ancam Marsha. Meskipun ia juga sedikit takut kalau kakak nya kan mengaung .


Glek.. Rully menelan salivanya dengan susah payah, Marsha tidak pernah main-main dengan ucapannya bisa saja perkataan ABC bisa jadi bertambah EFGH dan seterusnya.


“Oke..oke abang izinkan, tapi janji sebelum petang lo udah harus balik ke rumah, ngerti?” Ujar Rully penuh penekanan.


“Yes…Makasih Bang Rully, janji sebelum petang gue udah balik” Jawab Marsha takut-takut.

__ADS_1


Tanpa persetujuan sang abang, ia langsung mematikan sambungan telfon nya.


Marsha bersorak kegirangan di depan kedua teman dekat nya,dan di depan siswa siswi kakak tingkat dan yang lain.Marsha lupa kini ia sedang berada di mana.


“lo apaan sih Sha,jadi malu nih gue!” Cicit Puput, karena mereka menjadi pusat perhatian di kantin dan itu gara-gara Marsha.


“Biarin.. Abis nya gue seneng put. Kapan lagi kakak gue sebaik tadi ngijinin kita buat main sampe sore”


Didis bertepuk tangan kecil,dia juga sama senang dengan Marsha sebab Didis melihat sendiri bagaimana over proektifnya Rully kepada Marsha.


“Yaudah skuy berangkat” Ujar Puput sambil berdiri.


Setelah membayar minuman mereka bertiga Marissa di apit oleh Puput dan Didis. Keceriaan terpancar dari wajah mereka bertiga.


Tanpa mereka sadar ada dua pasang mata yang sedang mengamati mereka. Siapa lagi kalau bukan Aden, dan yang satu pasang matanya lainnya adalah Bisma.


Bisma memergoki Aden tengah mengamati puput, setelah bernegosiasi akhirnya Bisma mengikuti rencana Aden yang akan mengikuti mereka sampai di mall yang di tuju.


Bukan tanpa tujuan Aden mengikuti mereka, itu sudah sangat kentara Aden ingin mengikuti Puput yang sudah ia taksir semenjak masuk di kelas yang sama. Sedang Bisma, ia tidak tahu alasan spesifiknya tapi hatinya tergerak tiba-tiba saat mendengar Marsha bersorak karena akan hangout bersama kedua teman nya.


Lucu memang,wajah nya, rambut lurusnya menari-nari tertiup angin.


‘Ohh ****.. ngapain lo mikirin dia Bim’ Bisma menggelengkan kepalanya ketika ia membayangkan wajah cantik Marsha, otaknya selalu menolak jika hatinya memuji Marsha sempurna.


Mungkin yang di katakan orang benci dan cinta itu tipis memang benar. Buktinya,Bisma sangat menanam rasa benci di dalam hatinya,tapi entah mengapa dorongan lain tiba-tiba muncul di sudut hatinya.


Jika di perkirakan mungkin dorongan itu hanya sebesar biji kacang hijau, harusnya itu tidak berarti apa-apa bukan. Mengapa pula Bisma sekarang tengah menyetir mobil milik Aden dan membuntuti mobil milik Puput. Kalau tidak ada something wrong dihatinya.


“Kita harus agak jauh ogeb!! Kalau ketauan mereka gimana?” Sentak Bisma kesal.


“Iya..asal jangan ketinggalan jejak aja,”


“Gue faham” Jawab Bisma malas, memang itu yang ia inginkan.


Jangan sampai mereka mengetahui seorang Bisma Yudishtira mengikuti Marsha dan yang lain, kalau pun ketahuan ia harus punya alasan yang sangat akurat dan tepat.


Sesampainya di mall yang mereka tuju Marsha dan yang lain turun di ikuti oleh Puput yang paling terakhir keluar dari dalam mobil.


“Ohh sungguh pujaan hati gue cantik pake banget” Ucap Aden asal. Bisma mendelik tidak suka, lebay sekali si Aden ini, fikirnya.


“Geli gue dengernya hoekkk” Bisma memperagakan muntah mendengar perkataan Aden.


“Biarin.. gue ini. Dari pada lo, ngapain lo ngikutin mereka gak mungkin lah lo ikutin mereka kesini bareng gue kalau gak ada maksud tertentu” Bisma gelagapan mendengan tuduhan aden yang nyaris benar untuknya.


Tapi dengan wajah yang masih datar Bisma menjawab “Gue.. emm Guee.. Gue cuman nemenin lo doang, kasian lo gak ada temen buntutin ayang beb lo” Sekenanya Bisma .


“Dih gak percaya gue, Lo naksir si Adisti mana mungkin” Ucapan Aden terpotong seketika.


“Gue naksir Marsha juga gak mungkin kali” Aden menatap Bisma penuh selidik, apa jangan-jangan Bisma tertarik pada Puput cemceman Aden.

__ADS_1


“Anjs ngapain lo natap gue gitu. Udah buru tar kehilangan jejak baru tahu rasa lo!!” Bisma beranjak dari kursi kemudi agar Aden tidak menaruh curiga kalau dirinya menyukai Puput seperti yang ada di fikiran Aden saat ini.


Aden jadi ketar-ketir mendengar cakapan Bisma barusan, sia-sia jika mereka membuntuti Puput dan yang lain kalau baru sampai di parkiran sudah ketinggalan jejak.


Bisma dan Aden masih terus mengikuti Marsha dan yang lain, mereka beberapa kali masuk ke dalam outlet baju dan keluar dengan jinjingan di tangan masing-masing.


“Bisma.. kita sambil belanja aja gimana?Biar gak terlalu mencurigakan” Usul aden dan langsung di angguki oleh Bisma.


Mereka kembali memasuki toko pakaian, tanpa pikir panjang panjang mereka juga ikut masuk kedalam toko tersebut, mata mereka masih tertuju kepada tiga gadis yang tidak jauh dari hadapan mereka.


“Bis gimana cocok gak gue pake ini?” Ucap Aden tanpa menatap Bisma.


Bisma mengangguk saja.


“Kalau ini cocok gak buat gue?” Tanya Bisma sambil mengambil asal baju yang tergantung di dekatnya, ia meletakan itu tepat di dadanya.


“Cocok banget, mencerminkan lo banget” Jawan Aden sekenanya.


Para pelayan di toko tersebut justru memandang heran ke arah mereka berdua.


“Mas.. Udah lama pake ini?” Ucap salah satu karyawan yang merasa lucu ketika ada dua orang anak muda yang masuk kedalam toko ini.


“Iya Mbak, cocok kan buat saya?” Bisma tidak mendengar jawaban si pelayan toko, karena justru mereka tengah mentertawakan Aden dan dirinya.


Bisma melirik kepada pelayan tersebut, mereka masih tetap sibuk berbisik dan tertawa cekikikan tidak jelas. Bisma melirik kearah pakaian yang ia pakai. Dan alangkah terkejutnya saat Bisma melihat.


Ternyata mereka mengikuti Marsha dan yang lain hingga ke toko Underware khusus wanita. Jelas wajahnya malu berat, mau di taruh dimana wajah tampan nya. Mengingat perkataan sebelum nya. Cocok,cocok dan cocok.


Oh Astaga.


"Holly ****!!" Cicit Bisma.


Bisma melempar ke sembarang arah satu set Underware berwarna pink yang ia pegang, wajahnya berubah semerah semangka matang. Aden justru belum sadar saat Bisma panic ingin keluar dari tempat mengerikan seperti ini.


"Den..Aden liat nih kita di toko apaan?" Bisik Bisma di telinga Aden .


Aden juga sama terkejutnya dengan Bisma ia langsung melempar Bra yang ia pegang dan berlari sejauh mungkin, Bisma juga turut serta dengan Aden.


Untuk menetralkan suasanan otak dan hatinya Aden berhenti di gerai kopi yang suasanya cukup nyaman dan enak. Mereka memesan minuman dingin dengan ektra es.


“Sumpah Bis, gue malu, gue malu….” Ucap aden sambil menyembunyikan wajahnya di balik lipatan tangan nya di atas meja.


“Sama!! Asli gue malu sampe ke tulang” Jawab Bisma juga.


Ingin sesegera mungkin ia pulang dan menenggelamkan kepala nya dan wajahnya, jangan kan melihat memegangnya saja baru tadi itu sekali, dan rasa nya sungguh memalukan.


Untungnya tindakan nya tadi tidak di ketahui oleh Marsha dan Puput, jika mereka tahu malunya bukan lagi ke tulang tapi sampai di urat nadi.


Bersambung…

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen


__ADS_2