
“TEMEN-TEMEN SEMUANYA HARI INI KALIAN BISA MAKAN GRATIS.. SEMUANYA SEPUASNYA.. AYO PESEN” Ucap Marsha berteriak, sontak semua murid-murid yang ada disana melihat Marsha dengan tatapan aneh.
“Kalian gak percaya.. tuh orang disana itu mau traktir kalian semua?” Marsha menunjuk ke arah Bisma yang tengah duduk menyantap makanan nya di meja paling ujung.
“Serius lo?!” Tanya salah satu siswa laki-laki.
“Gue serius, dia kan orang paling baik hati.. iya kan Bisma?” Ucap Marsha sambil tersenyum manis.
“Hmmm” Bisma hanya bergumam untuk menjawab pertanyaa Marsha.
“Tuh.. apa gue bilang cepetan pesen sesuka lo” Titah Marsha kepada siswa laki-laki tersebut.
Mendengar kata-kata Gratis semua siswa menyerbu setiap titik kantin, Marsha tersenyum bangga melihat para siswa dan siswi makan dengan lahap. Marsha hanya memesan air mineral dingin ia duduk di dekat Bisma yang sedang menatapnya penuh dengan ke marahan.
“Makasih ya Bismaaaa.. Udah baik mau neraktir kita” Ucap Marsha tanpa rasaber salah.
“Sama-sama.. Makasih lo udah bantuin gue ngabisin uang jajan selama satu bulan” Sarkas nya.
“Haha gue percaya lo orang kaya, duit segini pasti buka problem kan buat lo?” Di Tanya seperti itu gengsi lah jika menjawab ini masalah. Jelas Bisma akan menjawab bukan masalah.
“Jelas dong. Bisma” Ucap Bisma menyombongkan dirinya.
“Oke kalau gitu… gue balik ke kelas sekarang bye..” Marsha melambaikan tangannya ke arah Bisma. dan membawa dua botol air mineral.
“Bu.. pokok nya semua pesenan anak-anak di bayarin orang yang disana ya namanya Bisma” Marsha menunjuk ke arah Bisma.
“Iya baik Non.. terimakasih ya non”
“Terimakasihnya sama dia aja Bu” Ibu kantin itu tersenyum.
Bisma langsung membayar tagihan makanan yang di berikan oleh para pemilik kantin, dengan ramah Bisma melihat nota yang cukup banyak dengan nominalnya,ia langsung membayar semuanya cash.
Meskipun kesal tetap saja ia membayar semuanya dengann senyuman anggap saja ini adalah sedekah yang tidak terduga, ia yakin ayah dan ibu nya tidak akan mempermasalhkan jika uang jajan nya habis Cuma-Cuma, anak sultan mah bebas kali..
Seusai istirahat kedua di jam duabelas semua murid sudah masuk kedalam kelas, hari ini masih free pelajaran masih belum kondusif karena masih masa pengenalan satu sama lain.
Di dalam kelas ia masih memandang Marsha lekat dari bangku paling kiri. Mulai besok ia berjanji tidak akan membuat Marsha betah disini, Bisma akan mengerahkan antek-anteknya untuk membantu dirinya mengerjai Marsha.
“Dis.. kapan lo mau main ke tempat gue?” Tanya Marsha.
“Gue sih pengen tapi harus izin nyokap dulu”
“Izin lah dari sekarang.. nanti biar supir gue yang anterin lo ke rumah,gimana?” Usul Marsha,Didis mengangguk.
“Wait.. gue WA nyokap dulu”
Marsha mencatat jadwal pelajaran untuk di mulainya hari senin ini, mulai minggu depan pelajaran sudah akan di mulai.
“Sha… gue di izinin nyokap, tapi harus pulang di bawah jam 9 malem”
“Siap.. nanti gue suruh supir anter lo sebelum jam 9 gampang itu”
“Oke..”
“Nyokap gue pasti seneng gue bawa temen ke rumah” Tukas Marsha senang.. selama ia bersekolah tidak pernah ada yang datang berkunjung,karena semua teman nya minder memiliki teman sultan sepertinya.
Di jam tiga tepat para siswa dan siswi membubarkan diri masing-masing dan pulang menuju rumah nya masing-masing.
Marsha dan Didis sedang menunggu pak amin di pos satpam sekolahan, setelah di telfon oleh bos kecilnya pak Amin langsung meluncurke tempat tujuan.
Tidit..(Anggap lah suara klakson ya..
“Bos kecil.. Udah nunggu lama?” Tanya pak Amin masih di dalam mobil.
“Belum ko, ayo dis masuk” Marsha mempersilahkan Didis masuk terlebih dahulu kedalam mobil.
__ADS_1
Saat sudah di dalam mobil Didis melirik sebentar ke arah pak Amin.
“Pak,, aku duduk di belakang ya. Oh iya pak ini Didis temen baru aku” Didis menyalami pak Amin.
“Salam kenal ya non Didis”
“Iya Pak.”
Pak Amin beralih ke Marsha sekarang.
“Bos kecil kita mau lanjut kemana ini?” Tanya Pak Amin.
“Kita langsung pulang aja , biar aku beli makanan dari rumah aja deh”
“Kita jalan langsung ya non”
“Okey pak”
Mobil sudah melaju menuju kediaman antareksa yang berada di kompleks yang elite di kalangan nya, Didis sempat terkagum tak kala menaiki mobil yang sangat mewah dari milik ayah nya. Didis juga sebenarnya termasuk kalangan atas, ayahnya adalah anggota DPR tapi masih tetap kaya ayah nya Marsha yang pemilik usaha Make-up standarisasi halal satu Indonesia.
“Sudah sampai Bos kecil.. silahkan non” pak amin membuka kan pintu untuk mereka berdua.
“Makasih pak Amin” Ucap Marsha dan Didis berbarengan.
Didis melihat kesekeliling rumah Marsha sangat besar. “Sha ini rumah Lo?” Tanya nya terkesima.
“Bukan. ini Rumah nyokap sama bokap” jawab nya santai “Udah buru masuk!” Marsha menarik tangan DIdis masuk kedalam rumahnya.
“Ma..Mama…” Ucap Marsha masuk kedalam rumah.
“Hey sayang, baru pulang? Ehh ada siapa ini?” Tanya Marissa.
“Oh iya Ma, ini Didis temen nya aku, Dis kenalin Mama gue” Didis mencium punggung tangan tangan Marissa.
“Manis sekali, panggil Mama aja biar akrab”
“Hehe iya Mama Marsha”
“Kalian sudah makan? Mama rencananya gak akan masak, kalian pesen makanan aja gih”
“Iya Ma, kita ke kamar aja yuk” Marsha menggandeng tangan Didis lagi menuju kamarnya, saat melihat frame foto dinding rumahnya, Didis melihat ada foto sang pemilik kantor kosmetik yang terkenal. Rama Antareksa.
Sesampainya di dalam kamar Didis di buat takjub dengan interior kamar yang kekinian, memang Marsha bukan anak orang sembarangan ternyata.
“Sha.. emm yang tadi bokap lo?” Tanya didis.
“Hmmm kenapa emang?”
“Lo anak nya Pak Rama Antareksa?”
“Iya, kenapa? Kaya kaget gitu?”
“Kenapa gak bilang?”
“Masa gue harus bilang, hay gue Marsha putri Antareksa anaknya Bapak rama Antareksa.. harus banget ya begitu?”
“Hahaha ya gak begitu juga kali, gue heran aja padahal lo anak orang nomor sekian tapi justru gak ada yang tahu”
“Sengaja, gue benci kalau punya temen yang liat bokapnya siapa”
“Haha bener juga, berarti gue temenan sama orang kaya dong?” ledek Didis.
“ANnjrott ngeselin lo, pokonya di sekolah gak boleh ada yang tahu gue keluarga antareksa”
“Siap bos kecil” Ucap Didis hormat.
__ADS_1
Mereka mengobrol membicarakan soal pengalaman masa SMP dan lain-lain, makanan yang mereka pesan sekarang adalah Pizza kesukaan keduanya. Mulai sekarang mereka menjadi teman dekat, Didis juga tidak pernah memiliki teman yang sangat terbuka seperti Marsha, karena teman yang didis kenal dulu, hanya memanfaatkan kecerdasan nya serta hartanya saja.
“Besok hari sabtu.. lo mau kemana?” Tanya DIdis sambil memakan satu suap pizza milik nya.
“Gak kemana-mana, sabtu gue les minggunya gue mau latihan Volly, kenapa?”
“Gak papa gue cuman nanya aja, weekand gue gak ada acara soalnya. Abis latihan Volly kalau gue jemput ke gor gimana?”
“Terus mau kemana?”
“Kita jalan, ke time zoon gitu..”
“Tar gue izin sama abang gue deh, kalau boleh nanti abis latihan Volly gue telfon lo oke”
“Oke..”
Mereka menghabiskan makanan nya hingga tandas, badan boleh kecil tapi perut jangan di Tanya.
Sudah hampir pukul tujuh Didis sudah membereskan tasnya yang sedari tadi di keluarkan. Setelah selesai Didis berpamitan kepada Marissa dan Rama.
“Didis mau langsung pulang aja?” Tanya Marissa saat didis mencium punggung tangan nya.
“Iya Mama Marsha, soalnya Bunda tadi uda telfon”
“Ohh begitu ya, Achaa tolong bilang sama amin anterin Didis samapi Rumah” Titah Marissa.
“Papa nya Marsha,Didis pulang dulu” Didis pamit kepada Rama.
“Iya Hati-hati di jalan ya” Ucap Rama.
“Iya Mama.. Papa, Bang” Rully mengangguk.
“Salam buat ayah dan bunda Kamu ya”
“Iya Ma selamat malam”
“Malam..”
Didis sudah menaiki mobil yang di setiri pak Amin, Marsha melambaikan tangan nya kepada Didis.
Perlahan-lahan mobil meninggalkan garasi besar milik keluarga antareksa. Setelah mobil hilang dari pandangan nya Marsha dan Marissa memilih untuk masuk dan makan malam bersama dengan keluarga nya.
“Cha.. itu temen kamu nama nya beneran Didis?” Tanya Marissa heran.
“Pasti dari tadi Mama mau nanyain ini ya sama aku Hehe..”
“Iya Mama penasaran Achaaa”
“Namanya Adisti Ma, tapi di panggilnya Didis”
“Oooo.. Kamu Marsha kenapa gak ngenalin diri Acha aja?”
“Ihh Gak mau Mama.. dari kecil aku paling gak suka di panggil itu, nanti di ledekin lagi Acha Acha Nehiinehi. Gak mau ah” Rajuk Marsha.
“Hehe Mama Bercanda, ayo makan sekarang” Ujar Marissa sambil memeluk anak bungsu tercintanya.
Malam ini mereka lalui dengan makan malam bersama seperti biasanya. Rully yang masih sibuk saja selalu menyempatkan pulang untuk makan malam bersama.
Semenjak di tinggalkan oleh kakek dan nenek dari mama Marissa dan Papa Rama, rumah ini menjadi sepi, sebab Rumah yang di bangun Rama dengan hasil kerja kerasnya membesarkan produksi make-up yang di teruskan oleh anak sulungnya Rully.
Dulu sekali keluarga Marissa hanya keluarga dari kalangan biasa dan hanya anak pegawai negeri biasa, hati Rama terpaut saat sang wanita membantu ibunya yang tengah ke susahan karena barang bawaan belanja. Marissa mengabaikan niat berbelanjan nya hanya untuk membantu sang bunda membawa jinjingan yang berat.
Dari situ lah keluarga Antareksa terbentuk dan bersatu dengan keluarga Marissa, dan tercipta lah anak- anak yang tampan dan cantik juga menawan. Sikap Ramah mereka juga di turunan oleh kakek dan nenek moyang mereka yang baik hati saat di beri harta yang cukup oleh yang maha kuasa.
Jangan lupa sapa aku di Komen dan tekan like lalu berikan rating lima bintang 🌟🌟🌟🌟🌟 ya thank you
__ADS_1