
Di meja makan..
“Cha.. kenapa kamu gak bilang kalau kamu mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari teman satu kelas kamu?” Ucap Marissa tiba-tiba. Gerakan marsha terhenti saat sedang mengambil nasi dan lauk pauknya untuk makan malam bersama keluarganya.
Jelas saja semua mata tertuju kepada Marsha termasuk Rully.
“Jangan bilang kalau tadi Mama sama Papa…” Ucapan Marsha terpotong .
“Iya Papa sama Mama di panggil sama Bu Yuni, kenapa kamu gak bilang sih kalau kamu di kerjain temen satu kelas kamu?” Ucap Rama, Rully awalnya tidak terlalu memperhatikan pembicaraan antar kedua orang tua dan adik bungsunya, tapi saat mendengar ada kata-kata di kerjain membuatnya membuka mulut seketika.
“Di kerjain apa maksudnya Pa? Tanya Rully penasaran.
“Itu waktu awal masuk sekolah dia di kerjain sama temen sekolahnya”
“Siapa yang ngerjain lo, biar gue hajar” Ucap Rully kesal.
“Udah! Udah.. kalian gak usah terlalu ribet deh, lagian aku gak papa beneran,jangan terlalu khawatir gitu”
“Jadi apa artinya ucapan kamu waktu itu? Menyenangkan? Menyenangkan apanya kamu di kerjain kayak gitu, Mama gak terima Acha” Berondong Marissa kesal.
“Tapi emang aku baik-baik aja Ma.”
Semua menghela nafas pelan, Marsha benar-benar keras kepala. Tapi Rully tidak bisa tinggal diam. Ia harus membuat perhitungan dengan Bisma. Harus.
----
Marsha menyelesaikan makan malamnya dengan malas, sebab bahasan yang di angkat malam ini adalah tentang Bisma. Marsha sungguh malas di buatnya, apalagi Marissa mempermasalahkan soal mengapa ia tidak memberitahukan perihal insiden pengguyuran dan pengeleman roknya.
Sungguh ia baik-baik saja Mama Icha.. tapi mungkin setiap perasaan orang tua akan sama ketika melihat anak tercintanya di perlakukan sedemikian rupa.
Di dalam kamar juga Marsha hanya bisa memandangi tangan kanan nya yang di batul perban,untung nya itu bisa menjadi bukti kalau Marsha tidak tinggal diam, dan tidak bertindak apa-apa.
__ADS_1
Rama sudah percaya dengan penuturan Marsha, sebab ia tahu siapa anaknya ini.
Rully juga tahu kemampuan bertinju sang adik, sewaktu kecil Marsha juga pernah berlatih di sasana tinju hanya beberapa tahun saja, tapi jika melihat skilnya sekarang Marsha pasti jauh lebih mahir.
Hati kecilnya seperti mengirim perintah pada otak nya, apakah Bisma songong baik-baik saja? Buku jarinya sakit sudah pasti wajah nya juga sakit.
‘Oh astaga.. come on Marsha,ngapain lo mikirin orang kaya dia. Dia pantes dapet bogem mentah dari lo, mulut sama kelakuan nya sama, sama-sama buruk’ Gumamnya pelan.
Jujur saja Marsha sedikit khawatir akan ke adaan Bisma, Marsha juga yakin kalau orang tua Bisma sudah mendapat surat panggilan orang tua. Tapi entah fikiran perduli itu muncul dari mana, tapi sungguh Marsha mencemaskan keadaan nya.
Marsha larut dalam fikiran nya sampai-sampai ia tertidur tanpa pindah dari kursi yang menghadap computer miliknya.
Keesokan harinya Marsha bangun dengan ke adaan leher sakit dan mata perih, jika Marissa mengetahui ini,apalagi Rully ia akan di marahi habis-habisan. Mereka akan menyangka Marsha belajar terlalu keras dan itu yang paling tidak di sukai oleh Rully.
Ia meraih jubah mandinya dan masuk kedalam kamar mandi, pelajaran hari ini harus bisa ia cerna dengan baik, mengalahkan Bisma sampai ia bisa berfikir kalau berurusan dengan Marsha adalah keputusan salah yang ia ambil.
**
Di sekolah…
Tidak di sangka juga ternyata Marsha sehebat itu, dan itu sangat di akui Bisma. Sebab luka lebam di wajahnya masih sangat Nampak dan malah semakin terlihat.
Bisma berjalan melewati Marsha yang berada di depan nya, pandangan kebencian sangat mendominasi jelas di sorot mata Bisma tapi justru itu tidak membuat Marsha menjadi takut. Semakin Bisma membencinya, semakin besar peluang Marsha untuk mengalahkan Bisma, merebut beasiswa yang sudah sering kali ia terima semenjak SMP.
Marsha sudah tidak perduli jika sekarang ia harus terus berurusan dengan Bisma, tapi seharusnya peringatan Marsha tempo hari cukup mengingatkan mereka terutama Bisma untuk tidak menggangu dirinya. Karena Marsha tidak akan main-main soal ancaman nya kepada siapapun.
“Dis.. lo udah nyampe dari tadi?” Ucap Marsha saat duduk di sebelah Didis. Didis hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Eh.. nanti lo mau kuliah di mana kalau udah lulus?” Ucap Didis sambil menyangga kepalanya menghadap Marsha.
“Pengen yang jauh sekalian, kalau lo?” Marsha menatap Didis serius.
__ADS_1
“Nyokap nyuruh tetep di Indonesia,kasian kalau gue tinggal sendiri” Marsha mengangguk.
Dengan atau tanpa persetujuan Rully, Marsha akan tetap kuliah di luar negeri seperti impian nya yang ingin memiliki perusahaan di bidang kontruksi. Mengingat sang Papa selalu saja membahas hobby yang berfaedah, misal, hobby menggambarnya harus bermanfaat dan menghasilkan uang.
Dari pada di kamar nya hanya di penuhi dengan gambar animasi gak jelas. Padahal kalau di dalami lagi design animasi juga bisa mendapatkan uang bukan.
Hanya mungkin Rama berfikir yang lebih realistis ya menjadi Arsitek seperti impian nya dulu, tapi mimpinya menjadi Arsitek harus kandas saat kedua orang tuanya meminta Rama menjalan kan usaha yang sudah di rintis kedua orang tuanya sampai sebesar sekarang.
Karena sudah di beri gambaran oleh Rama, Marsha sudah bulat akan mengambil jurusan Design Arsitektur. Dimana pun ia berkuliah itu tetap harus di Luar negeri.
Bukan berarti ia tidak cinta dengan negara kelahiran nya, hanya saja ia harus lepas dari bayang-bayang sang kakak. Ada tujuan lain juga sebetulnya, agar Rully bisa memulai kehidupan nya sebagai manusia dewasa yang harus hidup berdampingan.
Seperti yang kita tahu di usianya yang menginjak di 25 tahun, ia masih betah menjomblo dan entah apa faktor pemicunya. Jika di lihat dari segi fisik jelas Rully tampan walau pun dengan wajah khas Indonesia. Dompet tebal,jelas. Wanita mana yang tidak tertarik dengan wajah tampan dan dompet tebal.
Tapi tetap saja sulit bagi Rully untuk mencari wanita yang bersedia menerimanya yang nyaris tidak ada kekurangan nya.
**
Ada empat pelajaran yang sudah mereka lewati dengan gampang tanpa hambatan, siang mereka pulang lebih awal di karenakan ada rapat guru yang tidak bisa di tunda. Didis,dan Puput tengah duduk bersama Marsha yang sedang meminum esteh pesanannya.
“Mumpung pulang cepet,gimana kalau kita ngemall?” Usul Puput, dia paling bersemangat jika itu menyangkut soal pulang lebih cepat atau kongkow dan ngopi di mall.
“Ide bagus” Didis membenarkan ide dari Puput, karena hari ini sungguh membosankan. Jika ia pulang di rumah hanya ada ART dan supir keluarga.
“Ah.. Tapi Marsha” Sambung Didis bingung.
“Kenapa Marsha?” Tanya Puput tak kalah bingung.
“Dia mana bisa main sama kita, harus izin sama abang bos yang seksi itu lho” Ucap Didis dan tanggapi senyuman tipis oleh Masha. Itu memang benar ada nya, pasti berbelit-belit jika meminta izin kepada kakanya.
“Ehh kita kan belum coba, gue telfon dulu..”
__ADS_1
Bersambung….
Jangan lupa LIKE DAN KOMEN JUGA. DANSATU LAGI JANGAN LUPA VOTE JUGA