Pelabuhan Terakhir Marsha

Pelabuhan Terakhir Marsha
#PTM BAB18


__ADS_3

Marsha tengah duduk di cozy café menunggu anak sulung dari Farhan Yudishtira, sudah hampir satu setengah jam ia disini tapi tidak ada tanda-tanda kedatangan anak dari Farhan tersebut.


Marsha memesan satu minuman dingin di sana, sebenarnya perutnya sudah keroncongan dan memanggilnya untuk di isi,tapi karena janjinya dengan anaknya Farhan ia tidak ingin mendahului.


Satu jam berlalu…


Marsha kembali menghela nafas, bodohnya ia tidak menanyakan siapa nama anaknya bahkan ia tidak meminta nomor ponsel anak sulungnya Farhan. Bagaimana jika ia juga menunggu disini tanpa mengetahui ternyata Marsha juga ada di sini.


Jika mencoba menghubungi Farhan itu rasa tidak mungkin, sebab ia tahu siang ini Farhan tengah menemui kliennya sebagai mana yang di katakana nya kemarin. Air minumnya sudah surut setengah gelas, ternyata hal yang paling membosan kan adalah menunggu.


Tiba-tiba datang seorang pria tinggi tegap menggunakan kaca mata hitam berjalan dengan santai, ia mencari cari seseorang yang sudah menunggunya dua jam yang lalu. Entah Dia tahu atau tidak yang menunggunya adalah Marsha, tapi yang pasti ia langsung berjalan ke arah Marsha.


Tepat di depan meja Marsha ia membuka kaca matanya, Marsha berdiri berniat menyalami anak Farhan Yudishtira tersebut. Tapi gerakan tangan nya terhenti, karena yang ia lihat sekarang adalah Bisma Yudshtira, nama yang tidak pernah ingin ia sebut selama Sembilan tahun ini.


Orang yang sangat ia hindari, dan orang yang ia benci sampai di sudut hatinya.


Bisma tersenyum miring dan duduk, kaki nya menyilang di sofa. Ia menatap Marsha yang masih berdiri termangu dengan kehadiran Bisma yang tiba-tiba.


“Mau duduk atau berdiri aja?” Ujarnya. Kini Bisma berdiri tepat di hadapan Marsha.


Marsha mendelik tajam “Silahkan duduk” Ucap Marsha mempersilahkan. Bisma kembali duduk.


Bisma melirik gelas yang berisi jus stowberi milik Marsha, ia menyilangkan tangan di depan dadanya.


“Kamu memesan minuman sebelum saya datang?” Marsha menautkan halis.


“Mohon maaf pak, dengan siapa saya berbicara?” Tanya Marsha pura-pura tidak tahu.


“Come on Marsha, masa kamu tidak tahu saya?” Marsha menatap Bisma dengan malas “Perkenalkan saya, Bisma Yudishtira anak sulung dari bapak Farhan Yudishtira” Bisma mengayunkan tangan nya berniat untuk menyalami Marsha.

__ADS_1


Anggap saja Marsha sudah melupakan kejadian dulu, dan ia juga merasa jika mungkin Bisma tidak akan semenyebalkan dulu. Marsha membalas jabatan tangan Bisma.


“jadi soal gambar yang karyawan saya ajukan terakhir kenapa selalu bapak tolak?” Tanya Marsha seformal mungkin. Ia tidak ingin bersikap seperti teman yang hamble dan terbuka. Sebab dari dulu mereka bukan teman kan.


“Kamu kenapa pesan minuman sebelum saya datang?” Tanya nya lagi, karena saat pertanyaan itu di ajukan kepada Marsha, Marsha malah mengalihkan pembicaraan.


“Mohon maaf bapak Bisma yang terhormat, saya menunggu disini sudah hampir dua jam. Bapak fikir menunggu gak bikin haus” Ketus Marsha dan Bisma bersorak dalam hati.


Ternyata Marsha tidak pernah berubah, tidak bisa di pungkiri Bisma menyukai ketika Marsha marah. Hanya ia sendiri tidak tahu suka macam apa yang di rasakan nya, karena sudah hampir Sembilan tahun berlalu mungkin saja perasaan cintanya yang dulu telah berubah.


“Seharusnya kamu pakai Atitude kamu dong, kamu pesan setelah saya datang jangan mendahului seperti ini” Sarkas Bisma.


“Saya minta maaf pak Bisma, mari silahkan bapak mau pesan apa? Sepertinya bapak kena macet makanya Rese” Ucap Marsha tanpa sadar.


“Kamu sebut saya rese?!” Marsha menggeleng.


“Pertemuan kali ini batal, mood saya sudah hilang. Silahkan lanjutkan” Titahnya sambil beranjak pergi.


“Pak..Pak Bisma saya mohon saya sudah menyusun pertemuan ini, gak lucu juga kan waktu saya sia-sia dua jam ini” Keluh Marsha, sebenarnya ia sungguh tidak mau kalau harus merendahkan diri di depan Bisma,tapi ini soal bisnis. Marsha tidak mau kalau kantornya di cap sebagai perusahaan yang tidak kompeten. Karena Marsha sekarang tahu siapa Bisma dan keluarganya.


“Maaf saya sibuk, nanti saya akan menghubungi kamu untuk janji temu lagi” Bisma melipir meningalkan Marsha yang memandangnya dengan kesal. Saat Bisma hendak masuk kedalam mobil ia melirik kembali kea rah Marsha, Marsha tengah berjalan ke mejanya dengan kaki yang di hentak- hentakan.


Dalam benak Bisma, ia sangat senang bisa bertemu dengan Marsha kembali. Di dalam hati kecilnya Bisma sangat ingin minta maaf, memang benar hidup dengan rasa bersalah dalam sisa hidup kita itu tidak enak.


Tapi anehnya buka itu yang ia utarakan, malah kata-kata yang tidak semestinya di bahas. Dan itu jelas perintah langsung dari otak nya, yang membuat Marsha semakin kesal bukan melupakan masa lalu. Ternyata Bisma juga tidak berubah selama ini mengingat usia nya yang sudah genap 24 tahun. Tapi saat berhadapan dengan Marsha, sikap tegas dan egois nya keluar.


Ia kembali ke kator yang sudah ia ambil alih sekitar enam bulan terakhir sebelum ia kembali ke Indonesia, dengan senyum mengembang ia sukses membuat Marsha akan terjebak bersamanya. Bisma juga punya rencana tersendiri untuk tetap bisa bertemu Marsha.


__

__ADS_1


Sekembalinya kekantor wajahnya sangat muram, makan siang yang tertunda dan di komentari soal attitude. Marsha sudah meminta maaf dan memohon kepada Bisma tapi tidak di gubris, Marsha sampai mau menjatuhkan dirinya untuk memohon kepada Bisma manusia yang sangat ia benci.


Di dalam ruangan nya Marsha memeriksa berkas yang di simpan Yopy, ada beberapa berkas yang harus di tanda tanganinya. Dan satu cv lamaran, sepertinya ini adalah orang yang di rekomendasi oleh Yopy.


Marsha menarik kertas dari dalam Amplop lamarannya,ia fikir orang yang di rekomendasikan Yopy akan mengirimkan CVnya melalui email. Tapi ternyata orangnya cukup teliti dan itu menjadi nilai plus untuk Marsha.


Ia membaca CV atas nama Aden Dirganara lulusan UGM jurusan menejemen Marsha meneliti foto terbarunya, benar saja ini Aden teman semasa sekolahnya. Segera ia meminta Yopy masuk kedalam ruangan nya.


“Yop.. Ini yang kirim CV siapa nya kamu?” Tanya Marsha.


“Itu kakak sepupu saya bu dari Yogya, dia udah pernah kerja di bank” Marsha mengangguk.


“Dia lagi ada di Jakarta atau di Yogya?’’


“Kebetulan waktu saya suruh melamar kesini dia sedang dalam perjalanan kesini. Dia tinggal dulu di tempat saya untuk sementara” Ujarnya menjelaskan.


“oke kalau begitu, besok pagi suruh dia menemui saya. Saya mau interview dia bisa?”


“Bisa bu, besok saya akan suruh dia menemui ibu”


“Oke baiklah, kamu boleh kembali”


Yopy membungkukan badannya dan keluar dari ruangan Marsha, Marsha senang jika memang Aden bisa bekerja disini. Memang mereka tidak terlalu dekat tapi Marsha cukup mengenal Aden yang Ramah dan baik.


Setidaknya tidak akan ada rasa canggung di antara mereka karena awalnya mereka memang saling mengenal.


Bersambung…


jangan lupa like jempolnya ya..

__ADS_1


vote sebanyak-banyaknya ya kalau kalian suka cerita ini🙏


__ADS_2