
Hari penikahan Febry..
Siang ini keluarga Antareksa sudah siap dengan dengan dresscode berwarna cream.
Gege sudah siap dengan Dress yang cukup indah membalut tubuhnya walaupun perutnya sudah semakin di depan, Marsha juga sudah siap dengan Dress selutut dan high heel yang membalut kaki jenjang nya.
Rambutnya ia tidak di biarkan terurai dia kepang sedikit agar menambah aksen anggun menurutnya.
Rama dan Marissa juga turut hadir di psta pernikahan Febry dan Bella, karena mereka mendapat kan undangan secara langsung dari Gusti dan Diana, selaku sahabat.
Perjalanan menuju hotel tempat resepsi Febry dan Bella cukup spesifik dan tidak memakan waktu terlalu lama, saat di parkiran Marsha benar-benar menyiapkan dirinya. Marsha berbesar hati ketika menghadiri pernikahan mantan pacarnya, tunggu. Mantan teman dekatnya.
Mengingat sudah cukup banyak waktu yang mereka lalui bersama, beginilah jika tidak mensegerakan niatan baik. Nyatanya yang berada di pelaminan bersama Febry bukan dirinya melainkan orang lain. Dan Marsha tidak bisa menolak dirinya agar tidak membenci sosok Bella yang seolah merebut Febry darinya.
Bisma yang menyadari kediaman Marsha lantas menggenggam tangan Marsha yang dingin dan berkeringat. “Are you Oke?” Tanya Bisma menelisik.
“Yes, I’m fine” Marsha menimpa tangan Bisma yang menggenggam tanggan nya.
“Kalau kamu gak mau masuk, kita balik ke rumah aja sekarang” Ajak Bisma, karena walau puun Marsha bilang kalau dia baikbaik saja, sangat kentara prubahan sikap yang tiba-tiba murung dan tidak berisik.
“No,Bis! Ayo kita masuk” Marsha kelar dari mobil dan berjalan beriringan dengan keluarganya.
Acara di gelar tertutup dan hanya beberapa yang memiliki undangan yang bisa hadir, di dalama caranya cukup santai dengan dekorasi yang di dominasi dengan warna hijau dan cream, serta music jazz yang mengalun dengan begitu menyejukan telinga.
Saat keluarga Antareksa muncul, Diana dan Gusti langsung menyambut mereka hangat.
“Akhirnya big bos datang juga, selamat datang Rama..” Sambut Gusti dan langsung memeluk sahabat nya. Diana juga tidak tinggal diam, ia memeluk Marissa dan Gege menantu yang sempat tidak di akui keberadaan nya.
“Apa kabar Gerana, kapan cucu Mama lahir?” Gerana tersenyum hangat ketika mantan Mama mertuanya sangat memperlakukan nya dengan baik,sekarang.
__ADS_1
“Baik,Ma. Mungkin tiga bulan dari sekarang” Ujar Gege.
“Rully” Sapa diana dan hanya di angguki oleh Rully di sertai senyuman tipis.
“Kabari Mama jika cucu Mama lahir” Gege mengangguk antusias. “kalian nikmati pestanya” Titah Gusti, Rully langsung beranjak menuju pelaminan untuk sekedar memberikan ucapan kepada karyawan nya sekaligus teman istrinya.
“Lho.. Ini siapa ?” Tanya Diana, telunjuknya mengarah kepada Marsha..
“Aku Marsha,tante masa lupa..” Ucap Marsha sambil mencium pungung tangan Diana dan Gusti. “Ohh astaga sudah besar ya,cantik persis Icha..” Tambah Diana, Marsha hanya tersenyum.
“Kalau kamu om sudah tahu, kamu anak nya Hanin dan Farhan” Bisma menggaruk tengkuk nya yang mendadak tidak gatal, pasalnya Diana dan gusti tahu, kalau anak bungsu mereka memaksa agar di jodohkan dengan Bisma.
“Kalian jadi menjodohkan putri kalian dengan putranya Farhan” Tanya Gusti.
“Ya begitu lah Gus, aku tidak bisa menolak jika takdir juga mendukung perjodohan kami” Tukas Rama.
“Syukurlah kalau memang begitu, aku sudah minta agar Bisma di jodohkan dengan anak bontot ku,Bianca. hanya saja Hanin menolak dengan sangat jujur kalau anak kamu pecicilan,ah anak itu, menang tidak bisa merubah sika pecicilan dan centilnya” Ucap Gusti dengan helaan nafas lelah.
“Gus,Di. Mereka siapa ?” Tanya nya Ramah, apa yang membuat tertarik? Karena ada Marsha. Dia sungguh ingin tahu apa kaitan nya si Arsitek dengan keluarga yang sepertinya bukan orang sembarangan.
“Ini lho Mbak Yen. Beliau teman ku, sekaligus pemegang saham terbesar di perusahaan yang aku dan Bella pimpin, dan yang ini adalah anak bungsunya Marsha” Marsha tersenyum dan meraih tangan Yeni yang tampak tidak memberikan respon karna keterkejutannya.
“Saya anak bungsu dari pak Rama Antareksa” Ucap Marsha dengan sedikit menaikan dagunya.
“Rama Antareksa? Yang punya brand make up Whanda itu ya” Lirihnya nyaris tidak terdengar.
Diana menyahut “Wah bang Rama terkenal juga ya” Rama hanya tersenyum.
“Ayo silahkan lanjutkan, aku akan menyambut tamu yang lain dulu”
__ADS_1
“Baik lah terimakasih atas sambutan nya. Kami turut berbahagia” Ucap Rama dan langsung beranjak menuju ke pelaminan menyusul Rully dan langsung di ikuti oleh Marsha dan Bisma.
Bisma senang ketika hubungan na dengan Marsha ada kemajuan, meskipun Bisma tahu Marsha menggandeng lengan nya mesra hanya untuk memperlihatkan bahwa dirinya baik baik saja didepan Febry dan Bella.
Tapi ia senang, setidaknya Marsha ingin mencoba mencintai bisma walaupun lagi-lagi itu sangat sulit baginya. Yang pasti Bisma tidak akan memaksakan kehendak sekaligus. Perlahan namun pasti Bisma akan membuat Marsha percaya akan cinta nya yang tidak main-main.
“Selamat ya buat kalian.. semoga jadi keluarga bahagia” Tutur Marissa seraya menarik Bella kedalam pelukan nya. Walaupun bagaimana Bella adalah salah satu anak dari sahabatnya, meskipun Marissa juga tahu kalau dirinya dengan Diana tidak pernah akur dulu, tapi tetap Marissa juga menyayangi Bella.
“terimakasih tante sudah menyempatkan hadir di prnikahan kami” Ucap Bella seakan bahagia sambil melirik Febry yang tersenyum canggung karena sebentar lagi akan berhadapan dengan perempuan yang jujur saja masih ada di dalam lubuk hatinya. Marsha.
“Sama-sama Bella” Marissa dan Rama beranjak.
Dan akhirnya Marsha bisa melihat dengan jelas wajah Bella dan Febry yang canggung dan salah tingkah. Jujur saja Bella tidak pernah tahu jika Marissa memeliki anak perempuan yang justru tidak pernah muncul kepermukaan. Jika Marsha mengadukan ini semua kepada orang tuanya jelas perusahhan milik orang tuanya yang di naungi oleh perusahaan Rama akan hancur.
“Selamat untuk kalian…” Cetus Marsha sambil mengarahkan tangan nya kearah Bella.
Meskipun ragu Bella menyambut uluran tangan Marsha. “Terimakasih” Hanya kata itu yang terucap dari bibir Bella. Ia sangat bingun harus berkata apa, karena kenyataan yang begitu beruntun nyaris membuatnya pingsan.
“Selamat ya Mas Febry” Kini Marsha menjabat tangan Febry dengan ekpresi wajah yang di buat sedater mungkin. Respon Febry hanya menggelengkan kepala tidak rela ketika Marsha melepaskan genggaman tangan nya.
Sebelum pergi Marsha berucap “Oh iya ini calon suami ku, bulan depan kami akan menikah. Kalian dateng ya” Bisma menyodorkan tangannya untuk menyalami Febry walaupun dengan ragu Febry menyambut uluran tangan nya.
Pengorbanan adalah merelakan sesuatu yang tidak bisa kita gapai, Febry sadar betul apa yang telah ia perbuat kepada Marsha terlebih saat ia tahu orang yang di sakiti nya adalah adik dari bos nya. Tapi Febry kembali merenung dia menganggap ini adalah takdir yang di haruskan Tuhan untuk hidupnya.
Walaupun bagaimana Febry turut senang ketika dengan mudah Marsha bisa melupakan nya, setidaknya ada yang mengobati pujaan hatinya saat luka besar yang di sebab kan oleh dirinya. Febry juga berusaha mempercayai Bisma kalau ia tidak akan menyakiti Marsha yang seperti dirinya,pengecut.
“Selamat.. aku usahakan akan hadir di pesta pernikahan kalian” Ucap Febry tulus, dan hanya di tanggapi anggukan pelan oleh Marsha, tiba-tiba matanya menghangat. Sekuat tenaga ia berusaha agar air mata nya yang berharga.
Marsha tetap mnggandeng lengan Bisma yang berada tepat di samping nya.
__ADS_1
Ia mencoba memakan hidangan walaupun makanan yang walau hanya tersangkut di kerongkongannya saja