
Marsha tengah berjalan- jalan dengan Febry ia berencana akan menemui sang ibu yang sekaraang tinggal di rumah barunya.
Di singkat saja ya pernikahan gege dan Rully sudah beberapa hari lalu di laksanakan.
Kedekatan mereka semakin jelas terasa, begitu pembangunan rumah nya selesai tapi cinta mereka tidak pernah usai. Malah semakin berkembang.
Banyak oleh-oleh yang di bawakan oleh Marsha untuk ibunya Febry, karena febry juga bercerita soal ketiga adik perempuan nya yang di hidupi oleh Febry. Anggap saja Febry menjadi tulang punggung keluarga semenjak ayahnya meninggal.
Rumah yang indah serta asri sudah jelas terlihat, dan mungkin saja akan Marsha tempati nantinya. Karena Marsha merasakan juga kalau Febry tidak main main dengan ucapan nya untuk segera mempersunting Marsha. Anggap saja Marsha sudah bulat dengan tekadnya, karena hanya Febry lah yang tidak pernah menanyakan siapa orang tuanya dan apa pekerjaan nya.
“Mas.. ini mau taro mana?” Tanya Marsha sambil memegang kotak tea dan gula.
“Taro di sana aja, Sha” Ucap Febry sambil menunjuk ke lemari di atas kepala Marsha.
Mereka menghabiskan hari ini bukan hanya sekedar berjalan-jalan tapi juga belanja bulanan.
“kamu mau aku bikini sesuatu?” Tanya Febry. “Kamu bisa masak memang nya,Mas?” Jawab Marsha dengan pertanyaan yang sedikit meremehkan Febry.
Soal masak memasak itu hal biasa untuk Febry, sebab sebelum ibunya memiliki rumah di Jakarta Febry sudah hidup sendiri jadi jelas masalah kecil seperti memasak adalah makanan nya sehari-hari mengingat pergaulan nya juga dengan wanita tidak di ragukan lagi.
“Jangan meremehkan gitu” Febry tersenyum sombong kearah Marsha.
Ia mengambil celemek di lemari dapur, dengan terampil ia meraih pisau dan ayam vilet, dengan segera ia memotong ayamnya menjadi kotak dadu kecil.
Ia juga mengambil sayuran seperti bawang bombai dan cabai paprika. Febry berencana akan membuatkan makan siang ayam saus mentega untuk Marsha.
Marsha sampai terkesima dengan apa yang Febry lakukan, dia saja sebagi wanita hanya bisa membuat menu makanan yang itu-itu saja. Kalau masalah masak memasak Marsha nol besar pemirsa.
“Sudah siap..” Ucap Febry sambil mengangkat piring berisi ayam mentega yang sudah matang dan wangi nya sungguh menggugah selera.
__ADS_1
Marsha bertepuk tangan kecil. “Udah gak sabar nyobaaa” Ujar Marsha tak sabaran.
Mereka duduk di kursi meja makan dan memakan makanan nya dengan diam, karena rasa yang tidak biasa tiba-tiba muncul. Marsha menyadari kalau perasaan nya untuk Febry sudah semakin mendalam .
Di sela makan siang yang terlewat hadir empat orang wanita yang tanpa permisi ikut duduk di anara mereka berdua. Satu di antara nya sepertinya Marsha, tapi entah siapa dan dimana ia melihatnya.
Sedang satu ibu-ibu paruh baya hanya memandang dingin tepat di bola mata Marsha. “Ini siapa By?” Tanya sang Ibu.
“Bu.. kenalin ini Marsha Arsitek yang bangun rumah ku” Jawab Febry berseri, ia juga akan mengenalkan Marsha sebagai calon istrinya.
“Perkenalkan Tante saya Marsha” Ujar Marsha sopan, ia meraih tangan sang Ibu namun di tepis seketika.
“Saya sudah tahu,Marsha. Kamu yang di gaji anak saya kan buat bikin rumahnya?” Marsha melongo mendengar ucapan Ibunya Febry barusan, seperti di hujam seribu panah tepat di jantungnya.
“Berarti kamu cuman karyawan kan ya? Hanya saja kamu menjabat menjadi Arsitek,benar begitu” Ingin sekali Marsha bicara “GUE ANAKNYA RAMA ANTAREKSA YANG PUNYA KANTOR MAKEUP MEREK WANDHA.. SEDANG KAN GUE,GUE YANG PUNYA KANTOR MARS CORP, BUKAN GUE KARYAWAN NYA TAPI GUE BOSNYA!”
Ingin rasanya ia berteriak, tapi apa daya itu bukan lah dirinya, biarkan orang lain menilai tentang dirinya tapi jangan menyesal jika suatu saat kalian tahu siapa sosok Marsha yang sangat Othorrr idolakan.
“Ohh jelas tidak cocok jadi calon menantu saya, karena yang harus menjadi calon menantu itu seperti Bella. Coba kamu lihat Bella, sudah cantik, baik, dan kamu tahu apa lagi? Dia adalah bos di kantornya” Jelas Yeni,Ibu nya Febry.
Marsha mengangguk paham,ternyata yang ada di kepala ibunya Febry hanyalah uang.jika di ingatkan kembali juga Febry adalah karyawan swasta lalu apa bedanya. Apa jangan-jangan Bu yeni ingin kaya dengan jalan pintas.
Dan Ahaaa… marsha baru mengingat siapa wanita yang diam di hadapannya ini dengan senyum kemenangan, itu adalah wanita yang sama dengan kakak kelasnya sewaktu dulu di SMA yang sangat cantik dan populer di masanya.
Cantik? Tapi ko belum nikah padahal kan udah tua.. nikahnya juga di jodohkan lagi, bodohnya mungkin mata Bella belum terbuka kalau dengan terang-terangan adik dan ibu nya Febry hanya menginginkan tahta untuk anaknya dan istana bagi kedua anak perempuan.
Febry juga tidak menyanggah ucapan orang tuanya, atau setidak nya membela Marsha. Karena sepertinya ia sama terkejutnya dengan Marsha.
“ohh jadi kapan pernikahan nya akan di laksanakan?” Tanya Masha, ia mencoba menetralkan perasaannya sekuat mungkin ia menahan air matanya agar tidak keluar.
__ADS_1
“Secepatnya.. ia kan Mas Febry” Kali ini Bella yang angkat suara.
“Baik lah.. semoga lancar sampai hari H” Ucap Marsha beranjak dari duduknya.
Selera makan nya sudah menguap begitu saja, pembicaraan yang tidak bermutu dan malah menyakiti hatinya. Marsha berjalan cepat setelah meraih tas gendongnya.
“Bu.. Ibu Keterlaluan” Febry beranjak mengejar Marsha.
Marsha sedang memberhentikan taksi tidak jauh dari gerbang rumahnya.
“Sha.. Marsha tunggu” Febry meraih tangan Marsha agar berbalik kepadanya.
“Apalagi Mass??” Jawab Marsha malas dan menyentak pegangan tangan Febry, “Tatap mata aku, maafkan aku. Aku gak tahu menau soal ini, kamu harus percaya sama aku” Ucap Febry apa adanya, sebab iya Febry tidak mengetahui soal ini.
“Untuk apa aku percaya sama kamu Mas? Selama ini juga aku baru sadar kalau kedekatan kita tidak berarti apa-apa” Marsha tak kuasa untuk tidak menangis.
Febry memeluknya mencoba menenangkan Marsha, sangat nyaman..
Tapi dengan segera Marsha mendorong tubuh Febry untuk menjauh “Stop jangan dekat-dekat lagi,turuti perkataan ibu mu yang melahirkan mu” Marsha pergi dan langsung masuk kedalam taksi.
Hatinya benar-benar hancur dan sekarang benar hatinya layu sebelum berkembang, ternyata tidak di restui itu tidak enak. Apa yang di rasakan oleh Gege kaka iparnya beberapa waktu lalu kini di rasakan sendiri olehnya. Cinta tidak di restui, apa jangan-jangan ini Karma yang di tuai Marsha saat Marissa mati-matian tidak menyetujui hubungan sang abang dengan Gerana.
Jika ia ingin mengikuti perasaan ia ingin menangis sejadi-jadinya. Meratapi nasibnya yang selalu gagal dalam kisah cintanya dengan berbagai faktor. Apa ini tanda nya Marsha harus menuruti sang Mama yang mengajak nya makan malam bersama keluarga temannya.
Dan itu artinya Marsha harus sudah siap memilih jalan untuk menikah, walaupun ia tahu menikah bukan sebuah permainan, setidaknya ada yang mengobati luka nya yang sudah menganga terlalu besar dan itu disebabkan oleh febry yang menurutnya sangat berarti akhir-akhir ini.
Ia harus membicarakan ini dengan sang Kakak ipar,gege. Karena hanya ia lah satu-satunya orang yang akan mengerti dengan kondisi hatinya saat ini.
Bersambung..
__ADS_1
JANGANLUPA LIKE DAN KOMEN NYA