Pelabuhan Terakhir Marsha

Pelabuhan Terakhir Marsha
#PTM BAB02


__ADS_3

Sesampai nya di rumah, dengan riang Marsha menyapa sang Mama yang sedang membaca majalah di ruang tamu milik keluarga antareksa.


“Sore Mama…” Sapa anak bungsunya sembari mencium pipi sang Mama.


“Sore sayang.. gimana hari pertama sekolahnya? Menyenangkan tidak ?” Tanya Marissa.


“Menyenangkan Ma, aku punya temen baru namanya Didis orang nya baik dan super cerewet” Marsha bercerita banyak tentang pengalaman pertama sekolahnya.


“Ohh yaaa? Nanti kapan-kapan ajak main kesini. Kita makan bareng okee”


“Oke,Ma”


“Sekarang kamu mandi gih sana, terus istirahat, nanti mama panggil kalau makan malam udah siap”


“Oke mah aku ke kamar dulu ya ma”


Marsha berlalu menuju kamarnya, ia menyimpan tasnya di rak kecil dekat rak sepatunya. Lalu ia bejalan menuju ke kamar mandi, lelah seharian berkeliling sekolah seluas itu.


Kamar yang rapi dengan aksen simple di setiap sudut ruangannya, satu ranjang ukuran besar , lalu disertai dengan meja belajar lengkap dengan fasilitas yang mempuni untuk seorang siswa yang tengah giat belajar seperti Marsha.


Setelah selesai membersihkan dirinya Marsha bergegas berpakaian dan langsung membaringkan dirinya di atas Kasur, berhubung belum mulai efektif belajar ia bisa bermalas-malasan sepuasnya. Sebetulnya bukan itu kebiasaan nya hanya saja akhir-akhir ini belajar bimble dan les tambahan membuatnya sedikit pusing dan mimisan.


Meskipun terkenal dengan ketomboyannya dan cukup mahir di bidang non-akademik tapi Marsha juga berusaha untuk mensejajar kan prestasinya di bidang akademiknya. Tak ayal jika mereka yang awalnya berteman menjadi menjauh secara perlahan karena Marsha yang terlalu senang belajar, dan menurut teman-teman nya semasa SMP Marsha. MEM-BO-SAN-KAN.


Sudah hampir petang tapi Marsha masih belum keluar dari kamarnya, Papa Rama sedang duduk bersama anak sulungnya di kolam belakang, Rully menghisap satu batang rokok di tangan nya.


“Bang..” Panggil Rama.


“Kenapa pah?” Rully melirik sang Papa yang sedang focus membaca koran.


“Kamu gak usah terlalu over sama Marsha, dia itu Gede udah remaja jangan terlalu di kekang” Ucap rama halus.


“Pah, papa tahu kan dia adik perempuan satu-satunya Abang. Abang gak mau dia ada yang nyakitin,abang juga gak mau dia salah dapet temen.”


“Ya tapi gak usah terlalu begitu juga lah…” Protes Rama, ia tidak senang jika anak bungsunya selalu mengeluh soal ini, bukan hanya sekali sudah kerap kali Rama Memberi pengertian untuk anak sulungnya, tapi tetap saja dia terlalu sayang.


“Sebenernya dia ngadu apa sama Papa?”


“Dia suruh Papa negur kamu, jangan lah cium kening dia di depan umum, mungkin dia malu”


“Ishhh Papa yaudah yaudah abang gak bakalan kayak gitu lagi. Mulai besok dia di anter pak Amin aja”


Rama mendengar nada kecewa dari cara bicara sang anak, Rama juga mengerti soal Rasa cinta sang kakak kepada adik tapi ya itu tadi, cara penyampaian nya salah, terlalu mengikat tanpa ada ke longgaran.


Rully berlalu menuju kamar sang adik, ia ingin memastikan apa saja yang di adukan sang adik terhadap sang Papa, sampai-sampai sang Papa berbicara cukup serius seperti sebuah ancaman.


Klek… Rully membuka pintu kamar Marsha.


“Bangun Lo..!”Bughhhh satu pukulan Guling mendarat tepat di kepala sang pemilik kamar.


“Anjrit!!! Ngapain sih lo bang ganggu gue mulu!” Teriak Marsha sambil meleparkan bantal tepat mengenaik punggung sang Kakak.


“Bangun lo, lo ngadu apa sama Papa?”


“Ngaduin Lo, karena lo nyebelin,gue udah Gede bang gak usah di perhatiin segitunya”

__ADS_1


“Tapi kalau ada yang gangguin Lo gimana, gue gak mau adik Cewek satu-satunya di sakitin orang”


“Gue ngerti Abang sayang sama gue, tapi gue minta kelonggaran dikit aja. Gue janji bakalan jaga diri baik-baik. Janji” Peluk…


“Oke gue bakal kasih kelonggaran,tapi.. kalau lo mau ke luar dan pergi sama temen-temen lo harus Izin gue! Pokoknya Harus.”


“Deal!!” Marsha melepas pelukannya dan menjabat tangan sang kakak untuk tanda persetujuan perjanjian mereka. Akhirnya,setelah bertahun-tahun hidup dalam pengawasan Rully ia bisa bebas seperti tahanan penjara.


“Yaudah kita turun, Mama udah siapin makan malam yang super enak” Rully merangkul pundak Marsha sayang.


“Ayok..” mereka berjalan beriringan menuju ruang makan yang berada di lantai bawah.


“Lo jangan biasain mau magrib tidur, kata Nenek Pamali” Ujar Rully saat menuruni tangga.


“Inget aja lo. Iya abang bos, gue gak bakal tidur di jam segini”


Sesampainya di meja makan mereka duduk dan makan bersama seperti kebiasaan nya sedari dulu. Tidak boleh ada yang melewatkan makan malam dan sarapan pagi.


***


“Ma.. sarapan nya aku bawa ya, gak akan keburu soalnya. Aku berangkat *Muachhh” Marsha Berlari setelah menyambar roti miliknya.


Sebetulnya Rama ingin menegurnya tapi untuk kali ini Rama memberi anak bungsunya toleransi karena sedang masa Ospek.


“Pak Amin,, kata Papa mulai hari ini pak amin anter jemput aku ya” Ujar Marsha saat berpapasan dengan Pak Amin.


“Den Rully gimana non?”


“Gak gimana-gimana, pokonya pak amin cukup anter jemut aku mau nungguin di sekolah boleh mau pulang boleh, nanti satu jam sebelum aku telfon pak amin”


“Siap Jalan kita??” Tanya Marsha.


“Let’s Gow lah” Jawab pak amin sambil membukakan pintu depan. “Silahkan Bos kecil” Amin mempersilahkan.


“Terimakasih pak amin hihi” Jawab Marsha terkikik geli. Sebesar ini masih di juluki bos kecil lucu kan.


Mobil melaju menuju sekolah dengan sedikit ugal-ugalan karena ini permintaan si bos kecil, ia harus sampai lebih awal dari yang lain. Mobil menyusuri jalanan yang sudah lumayan padat di jam pagi seperti ini.


“Pak.. berhenti di depan, itu sekolahan aku. Pak amin pulang aja deh.. nanti satu jam sebelum pulang aku telfon pak amin, OKe”


“Okeh” Mereka tos ala-ala anak gahol untuk melakukan perpisahan beberapa jam kedepan.


Pak Amin dan Marsha termasuk yang paling dekat di antara yang lain, karena sejak SD dulu pak amin lah yang menemaninya belajar atau les tambahan di luar sekolah. Jadi waktu yang mereka lalui cukup lama. Setelah lulus SD dan naik ke jenjang SMP sang Abang lah yang mengantar bos kecil kemana pun ia mau..


Suatu kehormatan sekarang bisa mengantar bos kecil yang sudah tidak kecil lagi. Pak amin masih melihat ke arah Marsha yang sedang berjalan riang menuju ke dalam pintu gerbang.


Tiba-tiba ponsel pak Amin berbunyi.


“Assalamuallaikum Den Rully”


“Waalaikumsallam,Pak amin, Bapak kan yang mulai saat ini antar jemput Marsha lagi?’’


“Iya Den”


“Pak.. kalau misalkan dia mau minta antar selain ke rumah tolong suruh dia hubungi saya dulu, kalau saya ACC pak amin boleh antar dia,Ya”

__ADS_1


“Baik den”


“Yasudah ya pak amin kalau gitu, terimakasih”


Sambungan telfon terputus, Pak Amin sudah memastikan sang bos kecil masuk kedalam sekolah, ia segera melajukan kendaraan nya menuju rumah utama.


..


Saat melewati lapangan yang masih cukup sepi ia melihat ada bola basket yang tergeletak tanpa pemilik, ia meraih bola itu dan memantulkan nya dan memasukan nya kedalam Ring.


“Yes.. Ternyata kemampuan gue masih cukup bagus” Gumam nya. Tanpa sadar ada yang merebut bolanya, Bisma, teman baru satu kelasnya.


“Gue tantang Lo sepuluh poin telak, kalau lo menang gue traktir selama satu bulan”


“Oke!”


Marsha merebut bolanya,berbekal kemampuannya soal basket semenjak menginjak SMP dengan cepat ia bisa mengalahkan Bisma dengan satu kedipan mata, semua orang yang melihat pertandingan itu bertepuk tangan heboh termasuk Didis yang sudah berada di pinggir lapang menyambut Marsha.


“Selamat Marsha.. lo bisa kalahin si bisma songong” Ungkap Didis sambil memberikan saputangan untuk menyeka keringatnya.


“Lebay Lo! Masih pagi gue udah keringetan gara-gara tuh cowok” Keluh Marsha.


Bisma sedang di hampiri wanita centil beda kelas namun satu angkatan, dia tengah sibuk mengelap keringat Bisma dan menenangkan amarahnya yang di kalahkan telak oleh seorang perempuan.


Marsha menghampiri Bisma yang tengah duduk di sisi lain lapangan Basket.


“Gue tau lo orang kaya, gak perlu traktir gue selama satu bulan. Hari ini lo bayarin semua siswa siswi yang makan di kantin Oke” Marsha berlalu dengan wajah tersenyum penuh ledekan.


“Tunggu.. siapa Lo main pergi-pergi aja dan gangguin Bisma gue!” Ucap si perempuan centil.


“Gue? Marsha putri anak 10 IPS 1, gue gak ada urusan sama lo Minggir!” Marsha mendorong tubuh si cewek centil dengan telunjuknya.


“Udah..udah bi,ini gak ada urusan nya sama Lo, mending lo balik ke kelas sana!” Bisma mendorong pelan tubuh Bianca agar menjauh dari mereka berdua. Dengan kesal Bianca pergi menuju kelasnya.


Sekarang tubuh bisma beranjak mendekat ke arah Marsha “Oke.. Gue bakal bayarin satu sekolah makan di kantin tapi inget, urusan kita belum selesai” Seringaian mucul di sudut bibir Bisma.


“Gue gak takut” Bughhh… Marsha mendorong tubuh bisma sampai ia terhuyung ke belakang.


“Ayo Dis, kita ke kelas” Marsha menarik tangan Didis dengan penuh kekesalan.


Belum satu hari berada di sekolah ini, ia sudah terlibat masalah dengan Bisma si anak songoong di kelasnya. Apalagi untuk kedepan nya Ohh tiga tahun harus melihat si Bisma Sikopat darah dingin.


Ya,memang nya sebutan apa yang cocok untuk orang yang jarang bicara sepertinya. Bisma si Agung begitu? Mmendengar nya saja sudah merasa muak.


Belum lagi si kutu air Bianca, seperti ingin lebih memiliki masalah dengan Marsha gara-gara Bisma, menyebalkan….


Menyesal sih tidak, hanya saja seperti membuang-buang waktu jiga berurusan dengan dua cecunguk itu.


Belum lagi jika para antek-antek si Bisma tahu ia di permalukan sedemikian Rupa, Marsha yakin hidupnya dalam masalah besar. Tapi tunggu.. Marsha kan bukan gadis lugu dan penakut, dia akan melawan siapa saja orang yang berusaha menyakitinya atau sekedar untuk mengerjainya.


Lihat saja jika setelah ini Bisma and the Gang nya memulai masalah, bendera perang akan berkibar.


GIMANA MENURUT KALIAN KISAH AWAL MARSHA?? KOMEN YA.


JADI AKU BAKAL CERITAIN DARI AWAL KEHIDUPAN MARSHA DAN SAMPAI BERHASIL JAUH DARI BAYANG-BAYANG BISMA YANG SELALU MENGERJAINYA. KISAH NYA DAN FEBRY AKAN DI EKSPOSE SETELAH MASA SMA DAN KULIAH MARSHA SELESAI YA. TOLONG BERSABAR YAPARA READERSKU TERCINTAAA…

__ADS_1


__ADS_2