Pelabuhan Terakhir Marsha

Pelabuhan Terakhir Marsha
#PTM BAB21


__ADS_3

Pagi ini Bisma bangun dan sudah berpakaian Rapi, ia ingin sesegera mungkin menemui Hanindia ibunya. Bisma ingin memastikan sendiri keadaannya.


Saat Bisma ingin masuk bertepatan juga ART nya keluar.


“Bi, Gimana Mami?” Tanya nya.


“Ibu belum mau sarapan,Mas” Jawabnya.


“Yasudah Bibi kembali bekerja, biar saya yang suapi mami” Bi adah pergi ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaan nya,sedang Bisma langsung masuk kedalam.


Terlihat Hanin tengah berbaring dengan lemah, sebetulnya ia juga sering lupa membawa inhaler nya tapi tidak selama kemarin, meningat jarak tempuh rumahnya yang agak jauh dari supermarket. Otomatis badannya pun ikut lemas dan setelah pemeriksaan dokter kluarga hanin hanya di haruskanistirahat total.


“Mam, sarapan dulu ya Bisma suapin” Bisma duduk di tepi Kasur dan meraih bubur yang berada di meja nakas.


Hanin perlahan bangun dan duduk bersandar di kepala ranjang, Hanin paling senang ketika sakit di suapi Bisma karena menurutnya meskipun Bisma terkesan cuek dan pendiam tapi tidak bagi Hanin. Ketika ia di rumah dan bersama keluarga Bisma benar-benar berubah dari aslinya.


“Enak kan Bubur buatan Bi Adah” Hanin mengangguk, dan terus menerima suapan dari tangan anak sulungnya.


“Mi, Kalau gitu Bisma jangan ngantor aja biar ngurusin Mami”


“Jangan Bim,Mami cuman harus istirahat yang cukup” Jawab Hanin lemah, ia baik-baik saja hanya masih terasa lemah saja.


“Yaudah Mami istirahat aja, nanti Bisma pastiin bakalan pulang cepet” Bisma mengelus pundak Hanin pelan.


“Iya..Kamu hati-hati di jalan ya” Bisma mencium punggung tangan Hanin sebelum pergi. Tapi sebelum ia beranjak dan benar benar pergi Hanin mencekal tangan nya “Bim, Mami pingin ketemu sama orang yang nolong Mami, yang Mami inget rambutnya panjang dan cantik”


“Udah cek CCTV rumah? Barang kali Bisma bisa cari dia”


“Kevin udah cek semalem, tapi gak keliatan kehalang pilar depan”


“yaudah Mi, kalau Allah izinkan kan bisa aja di pertemukan dengan tidak sengaja” Hanin mengangguk.


“Bisma pergi ya Mam”


“Iya Hati-hati di jalan”


Bisma segera berlalu menuju ruang makan yang sepi, karena sepertinya yang lain sudah berangkat lebih pagi.


888

__ADS_1


Siang Hari di kantor Bisma..


“Mbak saya mau ketemu sama yang punya kantor ini” Seorang wanita muda nan seksi memaksa masuk untuk bertemu Bisma. Jelas resepsionis tidak akan membiarkan sembarang orang masuk untuk bertemu dengan pemilik kantor kalau belum ada janji sebelumnya.


“Maaf Mbak, kalau ingin bertemu dengan pak Bisma, harus ada izin dulu dari beliau” Jelas Resepsionis.


“Telfon atasan kamu, saya pastikan kamu akan di pecat karena tidak membiarkan saya masuk, saya ini calon istrinya” Wanita yang di cepol itu langsung menghubungi Bisma.


Ia berfikir mana mungkin kan calon istri atasannya centil dan memakai baju kurang bahan seperti ini.


Setelah mendapat telfon dari lantai bawah Bisma turun melalui lift, karena ia yakin yang datang kesini adalah Bianca, teman satu sekolahnya dulu serta anak salah satu teman Farhan.


“Bisma…” Rengek nya manja saat Bianca menlihat hidung Bisma muncul.


“Ngapain kesini Bianca?” Tanya Bisma datar, padahal ia tahu kalau Biancapasti mengantarkannya makan siang.


“Bisma sayang, kok nanya mau ngapain sih,ini kan waktunya makan siang kita makan siang bareng ya” Bianca bergelayut manjadi Bisma di lengan kekar Bisma.


“Lepas Bi, malu tuh di liatin karyawan yaudah ayo ke atas” Bisma melepaskan gandengan tangan Bianca, benar-benarkelakuannya bikin malu. Sebagai bos ia harus terlihat berwibawa bukan.


Reseptionis itu bisa memastikan juga, kalau yang menganggap mereka suami istri hanya di pihak si istrinya saja.


Kakinya menyilang dengan anggun tampak jelas pahaaa mulus nya terekspose, sebagai laki-laki jelas Bisma merasa gerah melihat pemandangan haram di depan matanya.


“Bisma.. Ayo di makan..” Bianca beranjak dari sopa dan berjalan ke samping Bisma.


Bisma menghela nafas. “Bi.. Kamu kan cuman mau anter makan siang aja kan?” Bianca mengangguk antusias.


“Kalau gitu kamu mending balik aja sekarang, saya ada pertemuan sama Arsitek setelah ini”


“Aku kesini kan pengen makan bareng”


“Saya lagi sibuk” Sela Bisma cepat,ia tidak ingin Marsha memergokinya sedang berduaan degan Bianca.


“Kamu tega aku udah datang jauh-jauh hiks…” Bianca mulai berkaca-kaca karena tu lah senjata andalannya.


“Sttttt….” Bisma menaruh telunjuknya tepat di depan Bibir Bianca.


Sementara itu Marsha tengah dalam perjalanan menuju ruangan Bisma di antar oleh sekretarisnya. Sekretarinya fikir hanya ada Bisma di dalam dan ternyata.

__ADS_1


“Ouchhh Maaf Bos, saya tidak tahu” ucap wanita paruhbaya yang mengantar Marsha ia langsung menutup kembali pintunya.


“Mbak gak lihat pemandangan barusan kan?” Tanya Bu Ina. Marsha buru-buru menggeleng. Padahal ia jelas melihat siapa wanita yang bersama Bisma. Si kutu air Bianca.


“Jadi gimana bu?pertemuannya di casel aja?” Bu Ina hanya menggedikan bahu.


“Tunggu! Antar Marsha ke ruang Meeting,nanti saya kesana” Marsha dan Ina sontak melihat keaarah pemilik suara. Dengan buru-buru Bisma masuk kembali kedalam ruangan nya.


Marsha berjalan menuju ruang meeting dengan Marsha mngekor di belakang Ina.


“Silahkan masuk Mbak Marsha,mau minum apa?’’


“Enggak perlu bu Ina, saya nunggu Pak Bisma dulu”


“Baiklah, Kalau begitu saya tinggal ya” Marsha mengangguk, dengan segera iamembuka laptop dan beberapa pekerjaan yang sudah ia print untuk diperlihatkan kepada Bisma.


Dalam hati ternyata mereka masih berhubungan sampai detik ini, yang Marsha tidak tahu adalah Bisma yang mencoba mengejar dirinya padahal Marsha masih berada di tanah air tercintanya. Tapi untuk apa pemikiran seperti itu muncul.


‘Lama banget sih.. belum kelar kali ya’ Bisik Marsha pada dirinya. Tiba-tiba pintu terbuka, Marsha refleks berdiri.


“Sorry lama. Duduk” Ucap Bisma karenaia mlihat Marsha yang terperanjat saat melihat kedatangan Bisma tadi. Marsha kembali duduk.


“Mana yang mau kamu perlihatkan?” Marsha memperlihatkan kertas yang berisi progresgambaranya. Bisma menelisik semua pekerjaan Marsha. Sejauh ini tidak ada masalah menurut hati kecilnya.


“Ini Pintunya satu jajar semua?”


“Iya sesuai dengan yang Pak Bisma minta” sayang nya tidak ada yang kurang dari gambar Marsha, jadi tidak ada yang bisa di kritik.


“Untuk nakas nya gimana? Apa warnanya sudah sesuai dengan interior yang lain?”


“Iya warna coklat kan?” Tebak Marsha. Bisma mengernyitkan dahi.


“Krem!”


“Ih Coklat pak Bisma” Kata Marsha tidak mau kalah.


“Revisi semua jadi warna krem, besok kamu kesini lagi” Bisma langsung beranjak dari tempat nya. Meninggalkan Marsha yang sangat kesal.


Saat di luar, Bisma bergerutu kenapa Marsha tidak merasa cemburu kepadanya, apa dia jelaskan saja siapa Bianca? Tapi apa hubungannya kan. Lagi pula Marsha benar-benar tidak peduli siapa Bianca dan apa hubungan merka. Sekali pun mereka akan menikah Marsha tidak perduli .

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2