
Sesampainya di kediaman Bisma yang sama megahnya, Marsha turun. Tidak ada yang menyambutnya, karena Hanin sudah memberi tahunya bahwa semua ART sedang kembali ke kampung mereka masing-masing.
Saat di dalam rumah tidak terdengar kehidupan sama sekali, sepertinya benar Kevin lebih senang menghabiskan waktunya di luar rumah saat week end seperti ini. Buktinya rumah ini sepi seperti tanpa penghuni.
Lamunan Marsha sontak di hentian Bisma, karena ia terus saja berdiri di dekat kursi.
“Sha! Kamu mau berdiri aja?” Ucapnya mengagetkan Marsha.
“Ehhh sorry” Marsha langsung duduk di sopa ruang tamu, pandangan nya terus beredar ke setiap sudut ruangan rumah ini.
Lagi dan lagi Marsha menghela nafas pelan, Bisma jadi bingung di buatnya. Antara harus menanyakan atau hanya diam, sebab ia tidak mau kalau mood Marsha harus berubah di saat moment rumah kosong seperti ini.
Hah tidak dapat di pungkiri hati dan pikirannya menginginkan itu, tapi seperti nya akan sulit.
“Bis.. berulang kali gue bilang gue gapapa Febry nikah sama orang lain, gue selalu bilang baik-baik aja tapi nyatanya gue gak baik-baik aja” Kini mata Marsha sudah berembun kala mengucapkan kata-kata tersebut.
“Gue berusaha buang perasaan yang menjijikan ini, tapi semakin dicoba semakin sulit. Bahkan gue sendiri gak berani menyimpulakan kalau gue udah jatuh sejatuhnya ke dalam labirin yang di ciptkan Febry” Ucap Marsha sendu, sekarang air matanya sudah jatuh dengan tanpa hambatan membasahi pipi mulus nya.
Bisma terdiam, mendengar rentetan penuturan Marsha barusan sangat mebuat hati Bisma sakit, karena sekarang ia tahu cinta Marsha sungguh besar tanpan Ia sadari. Bisma mengusap punggung Marsha pelan, Agar tangis nya tidak kembali pecah.
Kepalanya bergerak mengarah kedalam pelukan Bisma, ia kembali lagi menangis disana. Bisma mendekapnya dengan sayang. Tidak dapat di pungkiri apa yang Marsha rasakan, itu pula yang ia rasakan.
__ADS_1
“Udah jangan nangis terus… kalau kamu nangis terus nanti mata sama hidung kamu copot loh” Guraunya, Marsha memukul punggung Bisma pelan.
“Beneran tahu. Dulu Mami selalu bilang kaya gitu kalau saya nangis terus, saya takut dan auto berhenti nangis” Bisma terkekeh dengan ucapannya sendiri. Dengan otomatis isakan Marsha terhenti juga. Entah merasa takut hidung dan matanya copot tapi sepertinya Marsha sudah lebih baik seperti nya.
Bisma mengurai pelukan nya, di pegang bahu Marsha yang sedikit bergetar. “kalau mau melupakan seseorang, jangan berusaha terlalu keras. Saat kamu terus bersih keras melupakan orang tersebut, dengan otomatis kamu kembali mengingat semua soal kebaikannya dan termasuk kejahatannya. Bukan malah lupa tapi kamu akan terus merasa sakit” Bisma mencoba kembali memberi pengertian kepada Marsha. Marsha terus memandang lekat tepat ke bola mata Bisma.
“jika kamu ingin melupakan dia, ubah mineset kamu. Jalani hidup kamu yang sekarang dengan tanpa beban seperti saat kamu belum mengenal dia” Bisma enggan menyebutkan nama Febry, walaupun bagaimana Bisma merasa pemicunya adalah Febry. Dia selalu berhasil membuat wanitanya menangis dan itu sangat membuat hati Bisma sakit.
“Satu bulan dari sekarang kita akan menikah, saya tidak mau melihat calon istri saya menangis untuk orang lain” Lanjut Bisma lagi. Marsha hanya menunduk. “Maaf..” Ucapnya lirih dan nyaris tidak terdengar.
Bisma mengangkat dagu Marsha oleh telunjuknya, pandangan mereka kembali beradu.
Bisma mengarahkan Bibirnya dan Cup… Bisma mengecup tepat di bibir kemerahan Marsha. Tidak ada penolakan dari Marsha, walaupun Marsha sungguh terkejut dengan perlakuan Bisma.
Kejadian itu berlangsung cukup lama karena Marsha membalas cium[a]n dari Bisma, hatinya menghangat serta dadanya juga berdebar, jujur saja Marsha tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Bersama Febry atau bahkan dengan pria sebelum Febry.
Bisma melepaskan pangutannya, mereka sama sama salah tingkah, wajah Marsha memerah apalagi di bagian Pipinya blushing banget.
Bisma pula sama dia mendadak menjadi batu, Kaku. Bingung harus berkata apa, ia sunggu takut Marsha marah karena sudah lancang menciumnya tanpa Izin.
“Maaf..” Alhasil kata itu lah yang keluar dari mulut Bisma setelah menetralkan pikiran dan perasaannya. Mereka juga terdiam cukup lama, karena Marsha sama-sama bingung harus memulai pembicaraan apa. Mau marah ia terlihat sangat menikmati tanpa ada perlawanan.
__ADS_1
“Maaf Untuk?” Jawab Marsha menelaah. Bisma minta maaf untuk kesalahan nya yang mana?
“Saya sudah lancang tadi men…” Perkataan Bisma tercekat di ujung tenggorokannya.
“Santai, lagian satu bulan dari sekarang kita harus terbiasa” Jawab Marsha enteng, walaupun dalam kenyataannya ia sama tidak enak nya dengan Bisma soal kejadian tidak terduga macam tadi.
Jika bisa Marsha ingin tenggelam saja di dasar bumi untuk beberapa waktu, mengingat yang di lakukan mereka barusan membuat hati Marsha menghangat serta malu secara bersamaan.
“berarti kita bisa melakukan nya dengan sering?”
“Jangan terlalu bersemangat pak, nanti tidak akan special untuk malam yang kamu tunggu” Marsha beranjak setelah mengucapkan itu. Ia ingin berkeliling rumah milik calon mertuanya.
“Tunggu sayang..” Langkah Marsha terhenti saat Bisma menyebutnya dengan kata ‘sayang’ “sorry, Maksud saya Marsha” Marsha tersenyum. “Gue seneng di panggil gitu” Ujarnya malu-malu.
“Apa?” tanya Bisma tidak mengerti.
“Panggil sayang” Jawab Marsha dan Bisma langsung terkekeh.
“Yaudah saya ajak berkeliling rumah calon mertua, walaupun bagaimana kamu harus terbiasa dengan rumah ini, sini saya tunjukin kamar saya”
Mereka berjalan beriringan menuju kamar Bisma yang mungkin saja akan di tinggalinya nanti setelah menikah, babak baru dalam kisah percintaan mereka.
__ADS_1
Ingat lah jika kalian ingin melupakan sesuatu yang sangat menyakitkan, allah akan menggantinya dengan yang lebih indah. Jangan terpaku dalam keadaan tersulit apapun yang menurut kalian tidak ada jalan keluar, karena pada dasarnya manusia tercipta dengan akan dan kekuatannya.
Bersambung…