Pelabuhan Terakhir Marsha

Pelabuhan Terakhir Marsha
#PTM BAB20


__ADS_3

Sesampainya di kediaman ibu tersebut Marsha langsung di sambut oleh security rumah tersebut.


“Mbak.. Maaf Mbak siapa ya?” Tanya security itu dengan mengernyitkan dahi.


“Pak tidak penting saya siapa, tadi ibu itu sesak nafas, lebih baik bapak bawakan inhaler milik ibu itu sepertinya asma nya kambuh” Security itu punlangsung berlari kedalam rumah.


Marsha membuka pintu mobil penumpang dan kembali menenangkan Hanin, ya ternyata yang di atar Marsha adalah Hanindia. Tak berapa lama security itu kembali dengan satu anak muda yang di kira-kira usianya di bawah Marsha.


“Ma! Mama ini inhaler Mama” Hanin menerima inhealer tersebut dan memakainya secara berkali sampai nafasnya tidak secepat tadi.


Anak muda yang datang itu langsung beralih pandang kepada Marsha yang harap-harap cemas. “Mbak gimana kejadiannya?” Tanya nya pelan.


“Sebaiknya ibu kamu di bawa ke dalam dulu, biar istirahat” Kevin menurut dan langsung memapah Hanin sampai kedalam kamarnya. Dengan segera Kevin kembali menemi Marsha di garasinya.


Marsha tengah memberskan barang belanjaan miliknya.


“Mbak.. terimakasih sudah mengantar Mami kesini”


“Sama-sama, tolong jangan biarkan Mami kamu jangan biarkan berpergian sendiri ya saya khawatir kejadian seperti tadi terulang lagi” Kevin menganguk.


“Baik Mbak, Oh iya Mbak mau pulang ya? Biar saya antar” Tawar Kevin. Marsha langsung menggeleng .


“Tidak terimakasih, Kalau begitu saya permisi ya semoga ibu kamu lekas sembuh” Marsha bergegas mencari taksi di antar sampai di depan gerbang oleh Kevin.


Bodohnya kevin hanya berkata terimakasih tanpa menanyakan nama gadis misterius itu, gadis yang sudi menolong orang lain atas dasar kemanusian, Kevin fikir mungkin saja sudah jarang di temukan gadis seperti Marsha.


‘Bego! Kenapa gak nanyain namanya sih’ gerutu Kevin sambil masuk kedalam rumahnya.


Sementara di dalam taksi Marsha harus terus mendapat terror dari Bisma yang mungkin sudah menunggunya hingga jamuran.


Ponselnya terus saja berdering..


“Mbak.. apa gak di angkat aja telfonnya siapa tahu penting” Titah supir taksi yang membawa Marsha ke supermarket tempat ia meninggalkan mobilnya tadi.


“gapapa pak,biarin aja gak penting” Marsha mengalihkan pandangan nya ke luar kaca. Ponselnya terus saja berdering dengan panggilan dan berbagai notifikasi pesan masuk.

__ADS_1


Ternyata Bisma memang mahluk paling menyebalkan yang pernah Marsha tahu, dengan malas Marsha mengangkat panggilan Bisma. “Halo.. Ya Bisma?” Jawab Marsha seolah tidak ada apa-apa.


“Marsha! Kamu berniat mempermainkan saya?! Saya menunggu kamu di sini sudah dua jam,kamu menghilang tanpa kabar. Kalau kamu tidak mau makan malam dengan saya bilang aja dari awal!” Marsha menjaukanponsel dari telinganya,kalau tidak mungkin saja gendang telinganya akan berdengung.


“Gue minta maaf Bisma, tadi ada masalah yang mendesak, gue juga ga sempet ngabarin lo” Marsha menghela nafas,karena ternyata ia sudah sampai di supermarket.


Dengan kode dari Marsha pak supir menerima uang dan membantu Marsha membawa barang belanjaannya ke dalam mobilnya.


“Masalah mendesak apa? Bisa kan kamu sempetin buat kabarin saya?”Cecar Bisma marah. Marsha hanya bisa mengghela nafas lagi dan lagi. Sebab tidak ada yang bisa ia jadikan alasan dan tidak mungkin juga kan Marsha bilang sudah menolong seseorang.


“JAWAB MARSHA! JANGAN DIEM AJA!” Suara Bisma kian meninggi satu oktaf, ia sungguh marah ketika Marsha mengabaikan nya.


Heran sama mas Bisma baru segini marahnya udah kaya mau makan orang, dulu kamu nyakitin Marsha sampai membekas kok gak ngerasa sih. Kalau aku jadi Marsha udah tak lelepin kepalanya di rawa-rawa Pov othorrr..


“Terserah lo de Bis mau percaya apa gak sama gue, tapi gue punya alasan yang logis buat batalin acara kita yang hanya sekedar makan malam” Lagi-lagi jawaban Marsha menohok hati Bisma, tanpa ada nya rasa bersalah.


“Kamu bilang sekedar makan malam?”


“Ya terus apa? Emang makan malam biasa kan?” Bisma tidak bisa menjawab.


“Tap..” Tut…


Sambungan telfon di putus dari pihak Marsha, ia melajukan mobilnya dengan perlahan menuju mention. Bayangan Hanin yang merasakan sesak terlihat jelas di matanya. Ia seperti melihat ibu nya sendiri.


Tapi Marsha tidak ingin terlalu memikirkan siapa dan bagaimana keluarganya, yang pasti do’a nya dalam hati adalah ‘semoga ibu tadi lekas sembuh.’


Rasa lelah sangat tampak di wajahnya, harus bekerja dan menyetir bulak balik lalu di beri bonus amukan Bisma yang semakiin membuat kelelahannya bekali kali lipat.


----


Di kediaman Farhan…


Bisma sudah turun dari mobilnya dan berjalan menuju kedalam rumahnya, ia melihat adiknya,Kevin yang tengah duduk di ruang tamu, sepertinya anak ini tengah menunggu dirinya.


“Kev, Kenapa masih disini ini udah malem” Ujar Bisma mendudukan bokongnya tepat di samping Kevin.

__ADS_1


“Kak, asma Mami kambuh lagi” Tuturnya Murung, tidak di pungkiri ada penyesalan yang menelusup di balik dadanya. Seharusnya saat sang Mami pergi, Kevin dapat memaksa untuk mengantar Hanin, bukan malah membiarkan. Dan jika saja Kevin berhasil membujuk Hanin, mungkin kejadian seperti tadi tidak akan terjadi.


“Terus keadaan Mami gimana?” Raut wajah Bisma berubah menjadi murung, ia takut sang Mami yang sangat ia cintai terluka.


“Untungnya waktu di supermarket ada orang baik yang anter Mami kesini” Bisma masih mendengarkan penuturan sang adik bungsu.


“Sayang nya aku gak sempet nanya namanya siapa” Lanjut kevin menyesal.


“Udah gapapa, mungkin nanti kita bisa tahu siapa yang nolong Mami lain waktu.” Ucap Bisma tersenyum.


“Tapi keadaan Mami udah baikan kan sekarang?” Tanya Bisma lagi dan langsung di angguki Kevin.


“Papi udah tahu?”


“Udah Kak, tadi begitu aku kasih tahu mami sakit, papi langsung pulang” Jelas Kevin.


“Yaudah, kamu balik ke kamar aja istiahat besok kan kuliah” Kevin berdiri dan berjalan masuk kedalam rumahnya.


Bisma masih diam karena mendengar Hanin yang kambuh saat di luar rumah, apa jadinya jika tidak ada yang menolong dan mengantarnya kerumah, Bisma tidak dapat membayangkan jika hal terburuk akan terjadi kepada ibundanya, Hanindya.


Jika di beri kesempatan bertemu dengan orang tersebut Bisma akan mengabulkan satu permintaan nya, apapun itu Bisma akan berusaha meloloskan keinginan sang penolong.


Kekesalan nya terhadap Marsha jadi teralih karena kabar Hanin yang sakit, ingin nya ia melihat Hanin. Tapi Bisma merasa ini sudah terlalu lama dan ia yakin Hanin sudah terlelap.


Mandi malam adalah solusi untuk ia lebih tenang dan lebih nyaman saat tidur, ia harus menyiapkan diri untuk dua hari kedepan bertemu Marsha, ia sangat ingin melampiaskan amarahnya karena insiden tadi.


Bagaimana pun caranya Bisma harus bisa dekat dengan Marsha, sekali pun itu harus membuat nya di benci Marsha seumur hidupnya.


BERSAMBUNG....


Othorrrr : Emmmm hati-hati loh Mas Bisma, ucapan adalah do’a. emangnya situ mau di benci neng Marsha seumur hidup?


Bisma: Gapapa..aku ikhlas thorrr asal sama-sama terus:’(


Othorrrr: Yakin ya, nasib kamu ada di tangan ku lho Mas Bisma HAHAHAHa

__ADS_1


Bisma: Aku pasrah :/


__ADS_2