Pelakor Profesional

Pelakor Profesional
Pulau dengan 1000 Pria


__ADS_3

Ranti yang baru saja keluar dari Ballroom hotel tadi, berniat langsung turun dan pulang.


Namun, saat dia baru saja mendekat pada tempat di mana Lift berada, dia mendapati sekitar enam orang pria berpakaian serba hitam dan  berbadan tegap, tampak berdiri seolah sedang menunggu.


Tak berapa lama, terdengar dentang suara bel pintu lift terbuka. Saat itu juga, Ranti melihat semua pria itu, membungkukkan tubuhnya, tampak memberi hormat, pada orang yang baru saja keluar dari sana.


"Nyonya Muda ... "


Seorang Wanita berjalan melewati seluruh pria tersebut, dengan wajah sedikit terangkat, yang memberinya kesan angkuh.


Namun, tak beberapa langkah di berjalan, begitu dia melewati Ranti, wajahnya sedikit mengernyit heran.


Ranti yang tidak mengerti maksud dari tatapannya itu, juga mengerutkan sedikit keningnya, tak kalah herannya.


Tak lama, Ranti mendengar salah satu pengawal wanita tersebut, berseru kepada-nya.


"Hei Nona, tunjukkan tata krama mu! Tidak taukah kau, siapa yang ada di depanmu?!"


Tentu saja wanita cantik itu, merasa bahwa dirinya juga harus ikut menunduk untuk menunjukkan rasa hormat pada dirinya.


Namun, bukan Ranti Olivia namanya, jika dia bersedia menundukkan kepala bahkan harus membungkuk segala, apalagi pada seorang wanita yang sama sekali tidak dikenalnya.


Tentu saja bukan berarti Ranti ingin mencari masalah. Apalagi saat ini dia bisa merasakan para pengawal yang berjalan bersama mereka, menoleh dan menatapnya di balik kaca mata hitam mereka.


Ranti tersenyum, sebelum menggelengkan kepalanya.


"Maaf, Nyonya ... Aku sama sekali tidak mengenalnya dan kenapa aku harus menunduk padanya? Jadi, sebaiknya aku pergi saja ... Permisi ... "


Ranti sama sekali tidak menunggu tanggapan dari orang-orang itu, dan mulai melangkah menuju lift, yang masih terbuka.


"Hei, hentikan dia ... "


Seseorang memberikan perintah, yang terdengar agar salah satu dari pengawal di sana, menghentikan langkahnya.


Ranti memejamkan matanya, sambil menahan kesal. "Orang kaya dengan segala kegilaannya ... "


Saat itu, dia merasakan bahwa seseorang datang mendekat, dan memegang bahunya.


Sudah sangat pantang bagi Ranti untuk membiarkan seseorang menyentuhnya, jika dia tidak mengizinkannya. Apalagi jika dia sama sekali tidak mengenalnya.


Reflek Ranti mengambil dua jari di tangan yang menyentuhnya itu, lalu meremas dan memelintirnya.


"Arghhh ..."


Sontak karena rasa sakit yang dia terima dari jari yang terasa akan patah itu, membuat tubuh laki-laki itu ikut berbalik kebelakang.


"Jangan berani-beraninya tangan kotormu ini, menyentuhku, brengsek ... !"


Ranti langsung mendorong tubuh pengawal itu menjauh, lalu mundur ke belakang dan masuk kedalam Lift. dia segera menekan tombol dan pintu lift pun mulai tertutup.

__ADS_1


Sepertinya itu tidak sempat karena beberapa orang lainnya kini juga sudah datang untuk menghentikannya.


Namun, tiba-tiba saja suara seruan serentak, menghentikan langkah mereka.


"Tuan Alex ... "


Ranti tidak mendengar nama itu dengan jelas, namun sempat melihat semua pengawal berbalik dan menunduk lebih dalam, sebelum pintu lift tersebut tertutup secara keseluruhan.


"Cih, satu lagi drama orang kaya yang memuakkan ... " Gerutunya.


Sementara Ranti sudah berlalu, Wanita itu datang mendekat pada Alex, dan langsung memberondonginya dengan ciuman.


Saat wanita itu merasa puasa dan berhenti, Alex bertanya.


"Sayang ... Dari mana saja? Kenapa tidak menjawab saat aku menghubungimu?"


"Ah itu, aku hanya kebawah sebentar, tidak ada hal penting. Lalu, kenapa kamu berada di sini?"


Alex hanya menggelengkan kepalanya. "Sepertinya aku melihat seseorang yang pernah aku temui sebelumnya berjalan ke arah sini. Tapi, saat aku mencarinya aku bertemu denganmu ... "


Mata wanita anggun itu sedikit melebar. Dan bertanya, sedikit berseru.


"Apa orang yang kau maksud itu, adalah seorang wanita? ... Apa dia cantik? ... Bagaimana kalian bertemu? Dan-"


Wanita itu terpaksa harus menghentikan kata-katanya, karena Alex langsung mencium bibirnya hingga wanita itu terdiam seketika.


Setelah itu, Alex tersenyum dan mulai membawa istri tersebut kembali berjalan. Gladys, sangat posesif.


Karena bagi Alex, itu semua Karena istrinya itu, begitu mencintai dan takut kehilangan dirinya.


"Hmm, ceritanya panjang. Tapi, hampir saja wanita itu, membuat aku benar-benar tidak memiliki harapan lagi, untuk memiliki keturunan ... "


"Apa?! ... "


"Sudahlah, aku akan menceritakannya nanti saat waktu luang, sekarang ayo temani aku menyelesaikan acara ini ... "


Mereka terus berjalan menuju ketempat acara seremoni untuk menyambut dirinya di adakan.


Sebenarnya, Alexander tidak begitu nyaman dengan keramaian. Apalagi dia tau bahwa orang-orang yang datang ke tempat ini sebagian besar dari mereka hanyalah penjilat-penjilat busuk, yang rela melakukan apa saja jika dia minta, hanya sekedar untuk merasa lebih dekat dengan dirinya.


Tanpa perlu banyak basa-basi, setelah kedatangannya dengan di dampingi oleh Gladys istrinya, yang langsung menyita seluruh orang yang hadir di sana, Alex langsung menuju panggung.


Dari bawah, Gladys menyaksikan suaminya baru saja memulai pidato dan menyebutkan sedikit bocoran rencana proyek besar-besaran yang akan di lakukan perusahaannya dalam waktu dekat.


Sementara itu, di sebelahnya tiba-tiba saja Gladys mendapati seorang wanita telah berdiri di sana.


"Aku telah  menemukannya ... "


Melihat bagaimana cara wanita itu menyampaikan kalimatnya, Gladys langsung mengerti topik yang sedang di ungkit Mirda.

__ADS_1


Dia mengedarkan pandangannya, untuk memastikan keberadaan suaminya. Wanita itu tersenyum saat melihat Alex tampak sedang berbasa basi dengan orang-orang penting, jauh di sana, setelah menyelesaikan pidatonya.


"Sebaiknya, kita mencari tempat lain untuk bicara ... "


Keduanya lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut. Mirda membawa Gladys ketempat di mana dia akan menghabiskan malam, dengan pemuda yang sejak tadi mendampinginya.


Namun, saat baru saja sampai di pintu kamar, Gladys berbalik. Wajah wanita itu tampak berubah menjadi sangat angkuh.


Dia langsung berkata pada empat orang pengawal setianya dengan nada penuh penekanan.


"Kalian ... Pastikan siapa saja tidak mendengar apa yang aku bicarakan di dalam. Kalian mengerti?!"


Empat orang itu menganggukkan kepala mereka tanda mengerti. Setelah itu kedua wanita itu langsung masuk ke dalam.


Saat baru saja pintu tertutup, Mirda dengan nada bangga, melebarkan tangan dan langsung berseru pada wanita itu.


"Hei ... Aku sudah menemukan orang yang bisa membuatmu menguasai setidaknya separuh kekayaan Mandala ... Jadi, apa yang kau janjikan padaku, selain kursi di dewan eksekutif, sebagai balasannya?"


Mendengar itu, Wajah wanita cantik tersebut berubah sangat cerah. Saat itu juga, dia berkata.


"Aku akan membelikanmu sebuah pulau, dengan seribu pria tampan di dalamnya. Kau bisa bercinta tiga kali sehari, dengan  berbeda-beda pria, setiap kali melakukannya ... "


Ranti langsung menggelengkan kepalanya merasa tak percaya.


"Meski aku akan sangat menyukainya, tapi aku belum sehebat dirimu, dalam menangani pria ... Nyonya muda."


Gladys menjawab kata-kata Mirda itu, dengan sebuah kalimat, yang membuat keduanya langsung terbahak membayangkannya.


"Jika kau begitu kesulitan, maka aku akan membantu mu di sana .... "


"Hahahaha ... "


"Hahahaha ... "


Keduanya masih tertawa, saat membayangkan semua itu. Dan apa yang akan mereka dapat, saat berhasil menyelesaikan semuanya.


Saat keduanya berhenti tertawa, Gladys bertanya pada Mirda, untuk memastikan.


"Apa dia memang bisa di harapkan? ... Kau tau bahwa cara ini terasa mustahil, bukan?"


Mirda melipat kedua tangan di dada, sebelum akhirnya berkata.


"Orang-orang tidak akan curiga, Karena dia satu-satunya wanita yang aku kenal, yang bisa menandingi kecantikan dirimu, dan memiliki seribu cara untuk membuktikan Tuan Muda Alexander Putra Mandala yang sangat terhormat itu, telah melanggar perjanjian pra nikah kalian ... "


Mendengar Mirda mengatakan bahwa ada seseorang yang memiliki kecantikan yang menyamainya, membuat Gladys sedikit tidak senang. Dan seolah terancam.


"Apa dia secantik itu?"


Mirda mengangguk sekali, sebelum akhirnya menjawab yakin.

__ADS_1


"Maaf, tapi ya ... Dia secantik itu ... "


__ADS_2