Pelakor Profesional

Pelakor Profesional
Maaf! Tidak Apa-apa!


__ADS_3

Ranti berjalan sedikit tergesa-gesa, setelah hampir satu jam akhirnya Alex bergerak dan dia berhasil melepaskan diri saat itu juga.


Sekarang, dia sudah berada di parkiran mobil gedung itu. Begitu dia masuk ke dalam, dia terduduk, dan diam.


Lama dia memikirkan apa yang sedang terjadi. Berbagai macam kemungkinan, muncul di kepalanya. Sekarang, keyakinannya tentang apa yang sedang dia kerjakan, goyah.


"Apa yang sudah aku lakukan? ... Apa kau baru saja mencoba merusak rumah tangga sepasang suami istri, yang tidak memiliki masalah sama sekali?"


Saat mengatakan itu, Nafas Ranti menjadi sesak. Jika memang benar begitu, maka ini sangat bertolak belakang dengan apa alasanĀ  hingga dirinya nekad melakukan sesuatu yang tidak mungkin bisa di lakukan banyak orang.


"Nick!"


Hanya satu nama saja yang saat itu terlintas di kepalanya. Ranti langsung menyalakan mesin mobil, dan menancap gas dalam. Dia ingin secepatnya pergi dan sampai ke rumah.


Hanya butuh sepuluh menit saja, Ranti sudah berada di depan rumah. Dia memarkir mobilnya asal dan keluar dari sana.


"Nick !!"


Ranti langsung berjalan ke kamar Nickolas untuk membangunkan pemuda tersebut. Namun, saat dia berusaha menggedor pintu kamarnya, Dia baru mengingat bahwa pemuda tersebut sedang tidak di rumah.


Ranti langsung berlari ke atas, untuk menyalakan ponselnya. Dia tidak sabar menunggu hingga benda pergi pipih itu menyala.


"Sial ... "


Ranti mengumpat, karena saat ponselnya menyala dan langsung menghubungi Nick, ternyata ponsel pemuda itu tidak menyala.


Ranti mengirim pesan, agar Nick langsung menghubunginya, begitu membaca pesan tersebut.


Ranti melirik pada jam dinding kamarnya. Saat itu, sudah pukul lima pagi. Dia harus tau apa yang harus dia lakukan pagi ini.


Ranti berjalan mondar-mandir, berharap bisa menemukan jawaban. Namun, setelah satu jam berlalu, tidak ada apapun dari apa yang dia pikirkan berujung pada sebuah kesimpulan.


"Tidak, tidak ... Seharusnya, dia memang pria brengsek!"


Saat mengatakan hal itu, Ranti tidak merasakan kemarahan seperti biasanya. Malah, setelah itu terucap, rasa bersalah muncul di hatinya.


"Bagaimana jika tidak? ... Apa yang harus aku lakukan?"


Matahari telah terbit, tapi Nick tetap tidak menghubunginya. Ranti berpikir untuk mengakhiri permainan ini, cukup sampai di sini.


Dia mengambil ponselnya, dan mencoba menghubungi Mirda. Ranti berniat untuk meminta penjelasan pada wanita tersebut.


Namun saat itu juga, dia ingat bahwa saat ini wanita itu sedang bersama istri Alex.


Percakapan Alex dan Gladys yang dia baca, benar-benar membuat pikiran Ranti kacau.


"Ah, Sial ... Apa yang harus aku lakukan?"

__ADS_1


Ranti menghempaskan dirinya keatas tempat tidur. Namun, beberapa saat kemudian, dia kembali terbangun, dan menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Sebaiknya, aku berpura-pura tidak tau, sampai aku mendapat kepastian!"


Setelah menggumamkan itu, dia menganggukkan kepalanya, yakin bahwa itulah yang terbaik yang bisa dia lakukan, untuk saat ini.


Ranti segera berdiri dan berjalan ke kamar mandi. Bagaimanapun, dia tetap harus datang kembali ke kantor tersebut.


"Ran, ada apa denganmu?"


Ranti tersentak dari lamunannya, saat Dewi tiba-tiba saja sudah berada di dekatnya.


"Oh, tidak ... Aku cuma ... Hmm ... "


Dewi hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Sejak pagi, Dion tak henti-hentinya memuji wanita ini, namun sepertinya Ranti sama sekali tidak menjadi tinggi hati. Bahkan, dia melihat wanita ini terlihat tidak begitu peduli.


Dia dan rekan yang lain, mulai menyukai pegawai paling junior di divisi mereka ini. Memiliki seseorang yang cerdas dan bisa di andalkan di saat paling krusial di tempat kerja, membuat mereka merasa keberadaan Ranti di sana, memang sangat dibutuhkan.


Meski Alex tidak sombong, tapi pria itu jarang memuji. Namun tadi malam, beberapa kali pria itu memuji kinerja mereka. Bahkan, tidak ada yang percaya mereka menghabiskan makan malam, dengan sedikit hiburan dengan seorang Alexander Putra Mandala.


"Hmm ... Kalau kamu lelah, biar aku dan yang lainnya saja yang mengerjakan ini."


Ranti melihat tangan Dewi sudah menarik beberapa map yang ada di mejanya. Sudah hampir siang, namun Ranti tidak menemukan fokusnya. Pikirannya melayang entah kemana.


"Kamu, mau apa? Eh, maksudku ... Aku ... "


Dewi melihat wajah Ranti sedikit pucat, dan matanya juga sedikit merah. Dia yakin wanita di depannya ini berusaha menemani para investor itu hingga selesai, dan berakhir kelelahan bahkan mungkin kurang tidur.


Mendengar itu, Ranti menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, aku tidak apa-apa."


Dewi mengangguk, namun tetap menarik berkas-berkas itu. "Baiklah, tapi biarkan aku dan yang lainnya yang mengerjakan ini. Kau bisa beristirahat hari ini. Kau pasti kelelahan. Jadi, hari ini kami bisa santai."


Sebenarnya, saat mengemudi ke sini pagi ini, Ranti memang merasa sedikit meriang, dan kepala pusing.


Akan tetapi, pikirannya masih terpaku pada Alex. Dia ingin tau apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga pria itu. Dan bagaimana keadaannya sekarang.


"Apa dia baik-baik saja?"


Hal ini juga sedikit mengganjal di hatinya. Jika Alex memang seburuk yang Mirda katakan, setidaknya Alex pasti terbiasa dengan wanita.


Namun, tadi malam pria itu terlihat tidak nyaman saat para investor yang mereka temani, membahas segala sesuatu yang menyangkut tentang hal tersebut.


Melihat Alex mabuk berat. Ranti berpikir Alex memang payah, atau memang tidak terbiasa dengan minuman seperti itu.


"Bukankah ini sangat tidak wajar?"


Ranti memijit kepalanya, yang pusing dan juga terasa sakit. Namun, beberapa saat kemudian seseorang kembali mengagetkan nya.

__ADS_1


"Ranti! ... Pak Alex memintamu untuk menemuinya!"


"Hah? ... "


Dion mengernyitkan keningnya, heran. Wanita yang sehari yang lalu terlihat sangat cantik mempesona, sekarang terlihat sedikit kacau.


"Kamu sakit?"


Mendengar itu, sekali lagi Ranti menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak, pak. Saya baik-baik saja."


Meski tidak yakin dengan jawaban anak buahnya itu, Dion tetap menganggukkan kepalanya. "Baiklah! jika begitu, temui dia sekarang. Pak Alex menunggumu di ruangannya."


Ranti hanya mengangguk, lalu berdiri. Saat itu, dia merasakan kepalanya bertambah sakit. Dia mengerjakan matanya berkali-kali, agar mendapatkan fokusnya. Setelah itu, dia langsung berjalan menuju lantai Ruangan Alex.


"Langsung masuk saja ... "


Ranti mengernyit heran, melihat Asisten yang biasa di depan ruangan Alex memberitahukan itu, saat dia sampai di depan ruangan tersebut. Ranti memaksakan diri untuk tersenyum, dan kembali berjalan.


Dia berhenti sejenak, saat ingin menjual pintu tersebut.


"Oh, kamu sudah datang? Masuklah!"


Ranti mendapati Alex tidak berada di mejanya. Sebaliknya, pria itu sedang duduk dan kini berdiri menyambutnya.


Berbeda dengan dirinya yang terasa kacau, entah kenapa saat pria itu tersenyum padanya, Ranti merasa pria itu sangat sehat dan segar.


Sekali lagi dia memaksakan senyum, dan berjalan mendekati Alex. Namun, karena kepalanya yang sejak tadi sudah sakit, saat mendekat Dia merasa keseimbangannya hilang. Ranti berjalan oleng dan terhuyung ke samping.


Namun, karena Alex berada cukup dekat, tangannya reflek ingin menggapai pria itu.


Alex yang menyadari bahwa wanita di depannya itu akan terjatuh, berusaha menangkapnya. Namun, tangan Ranti lebih dahulu menarik pakaiannya.


Karena tidak siap dengan beban serta posisi nya yang kurang pas, hampir saja Alex ikut terjatuh dan menimpa bunuh wanita itu.


Beruntung hal tersebut tidak terjadi, karena Alex sempat melebarkan kaki, dan menahan wanita tersebut.


Setelah beberapa detik berlalu, mata mereka berdua melebar. Keduanya saling menatap dengan jarak yang benar-benar sangat dekat dan, yang menyebabkan itu adalah karena bibir Keduanya kini sedang bertaut.


Reflek Alex menarik kepalanya, lalu mengakar tubuh wanita itu agar kembali berdiri.


"Maaf!"


"Maaf!"


Kedua serentak meminta maaf, dan kemudian kembali berkata serempak.


"Tidak apa-apa!"

__ADS_1


"Tidak apa-apa!"


Keduanya sempat tersenyum canggung, sebelum akhirnya kepala Ranti menjadi pitam dan akhirnya benar-benar tumbang, karena kehilangan kesadarannya.


__ADS_2