Pelakor Profesional

Pelakor Profesional
Minta Waktu


__ADS_3

Apapun yang dilakukan Ranti, tentu saja bukan untuk hal seperti ini. Dia merasa simpati pada Alex, tapi juga di saat bersamaan, dia menaruh curiga.


Untuk orang seperti Alex, bukan hal sulit untuk membayar mahal seorang dokter. Bukan tidak mungkin semua ini sudah di rencanakan.


Ranti melihat Alex saat ini, dan apa yang dilakukannya saat pagi Hari, kecurigaannya mulai goyah.


"Pak ... Saya ... Saya ... "


Mendengar wanita itu menjadi gugup, cepat Alex berbalik dan menatapnya. "Ranti, aku akan melakukan apa saja, jika kamu mau membantu ku ... Katakan! Apa yang kamu inginkan ... Aku—"


Tidak sempat Alex menyelesaikan kata-katanya, Ranti langsung berdiri. Hal tersebut, membuat pria itu langsung terdiam.


"Beri aku waktu ... Aku harus memikirkannya."


Hanya itu yang terpikirkan oleh wanita itu saat ini. Dia bisa saja langsung memberi jawaban, tapi dia juga butuh waktu untuk berpikir, agar apapun yang akan dilakukannya ke depan, tidak menjauh dari niat awalnya.


Melihat wajah Alex langsung berubah kecewa, Dokter Rey langsung bersuara.


"Pak Alex ... Bu Ranti bukan menolak, tapi dia meminta waktu untuk berpikir. Saya rasa, Bapak tentu mengerti alasannya, bukan?" Ucap Dokter itu, untuk menenangkan Alex.


Ranti menoleh pada Dokter tersebut, mencoba melihat raut wajahnya. Ini terlalu sempurna untuk sebuah Sandiwara. Ranti yakin dokter yang sedang mengangguk padanya itu, mencoba membantunya.

__ADS_1


"Bu Ranti, saya mengerti ini bukan hal yang mudah. Jadi, saya mengerti jika anda memang perlu waktu untuk mempertimbangkannya."


Alex menatap Dokter tersebut, kemudian kembali menatap pada Ranti. Dia berpikir dengan bagaimana sikap Ranti padanya, dia merasa wanita ini bersedia langsung untuk membantunya.


Akan tetapi, dari wajah Ranti saat ini, Alex yakin wanita yang biasanya terlihat mudah dan sedikit gila ini, berniat untuk menolak membantunya.


"Ranti ... Aku, bisa ... "


Melihat Alex sedang berusaha meyakinkannya, Saat itu juga Ranti kembali bersuara.


"Pak Alex ... Mungkin bapak berpikir bahwa aku sedikit mudah ... Tapi, jangan berpikir jika aku akan membiarkan orang menyentuhku begitu saja. Jika bapak memang butuh bantuanku, setidaknya beri aku waktu untuk mempertimbangkannya ... "


Setelah mengatakan itu, Ranti langsung berbalik dan pergi dari sana. Untuk sesaat pikirannya sangat kacau.


"Ranti ... Tunggu! ... "


Ranti terus berjalan cepat meski dia mendengar Alex memanggilnya di belakang.


"Sial! ... Ini sama sekali bukan hal yang aku harapkan! ... "


Saat Alex ingin mengejar, Dokter Rey langsung menahannya. "Pak Alex, Sebentar ... Biarkan saja dia!"

__ADS_1


Alex menoleh pada Dokter yang kini berjalan ke pintu dimana dia berdiri di depannya.


"Bagaimanapun, dia seorang wanita ... Jika bapak tidak membiarkannya sendiri sekarang, saya ragu ke depan dia mau membantu. Tolong, jangan mendesaknya ... "


Mendengar itu, Alex melemah. Dia mencoba menarik nafas panjang, dan melepasnya. Setelah sedikit tenang, dia menganggukkan kepalanya.


"Baiklah Dok. Sepertinya, ini salahku. Aku terlalu bersemangat, sehingga melupakan perasaan nya."


Dokter Rey mengangguk. "Tapi, Pak Alex ... Jika apa yang anda katakan memang benar, maka kemungkinan anda untuk sembuh, semakin besar. Mungkin, kita bisa menemukan semacam therapist yang mungkin bisa membantu anda."


Alex sudah pernah mencoba cara seperti ini sebelumnya. Namun, gagal. Dia ingin mengatakan itu, tapi Dokter tersebut kembali berkata.


"Dulu, anda tidak memiliki keyakinan ... Sekarang, tentu saja itu sudah berbeda, bukan?"


Mendengar apa yang dikatakan dokter tersebut, Wajah Alex kembali berubah.


Dulu, dia tidak begitu yakin cara tersebut bisa membantu. Karena saat itu, sang therapist memintanya membayang sesuatu yang belum pernah dia rasakan.


Akan tetapi, saat ini sudah sangat jauh berbeda. Dia sudah pernah merasakannya bahkan tidak hanya sekali.


"Dok, aku rasa pertemuan ini tidak sia-sia ... Apa kau mengenal seseorang?"

__ADS_1


Melihat semangat Alex kembali muncul, Dokter Rey tersenyum puas. Dia menganggukkan kepalanya, sebelum akhirnya menjawab. "Tentu ... Saya mengenal satu, yang cukup bagus. Saya akan menghubunginya."


"Baik, Dok. Terimakasih!"


__ADS_2