
Malam harinya. Saat Nick terjaga, dia sudah melihat Ranti duduk di sofa yang tadi, namun sudah mengganti pakaiannya
"Apa mbak sudah liat semuanya?"
Begitu mendengar suara pemuda itu, Ranti mengangguk dan berkata. "Nick duduklah, kita harus bicara ... "
Nick hanya tersenyum hambar, karena sudah menduga hal ini sejak awal. Untuk itu, dia harus menyelidiki hal ini, di luar sepengetahuan Ranti.
Namun, wajah Nick berubah saat melihat mata Ranti membengkak. Dia tau wanita ini akan terpukul karena fakta yang dia temukan, namun tidak menyangka akan seburuk ini.
"Mbak, gak apa-apa?!"
Ranti menggelengkan kepalanya, lalu berkata. "Nick ... Aku rasa, aku akan berhenti melakukan semua ini ... Sepertinya, apapun yang aku lakukan tidak akan mengubah apapun ... "
Mendengar itu, entah kenapa Nick merasa lega. Namun, dia membiarkan Ranti terus bicara.
"Aku pikir, dengan memberi pelajaran pada laki-laki brengsek, pada akan membuat wanita yang menjadi korban dari sifatnya itu, akan menjadi lebih baik ... Tapi, sepertinya kita salah ... Tidak, tidak ... Aku yang salah!"
Meski saat bicara Ranti tidak menatapnya, namun Nick tau bahwa wanita ini begitu merasa bersalahnya. Namun, dia mengetahui sebuah fakta yang tidak dicantumkannya di sana.
"Bukankah, Sejak awal kita berdua tau bahwa ini salah? ... Kenapa mbak mengatakan hal ini sekarang?"
Ranti langsung menggelengkan kepalanya. "Aku tau aku salah ... Tapi, aku tidak memperdulikan hal itu. Tapi, aku ingin menebus kesalahanku agar tidak ada lagi wanita yang akan bernasib seperti ... Seperti ... "
Bahkan Ranti tidak sanggup menyebut nama wanita tersebut. Mengingatkan ya saja membuat air matanya kembali berderai.
__ADS_1
"Maksud mbak, agar tidak ada lagi wanita berakhir buruk hingga memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri, seperti Cintya, kakakku ... ?"
Mendengar nama itu, apa lagi yang menyebutkannya ada Nick, nafas Ranti kembali sesak, dan air matanya kembali berurai.
Nick sengaja membiarkannya menangis. Namun, setelah beberapa lama, barulah dia kembali bicara.
"Secara keseluruhan, Ini bukan rencana Mirda ... Tapi memang Mirda yang memiliki ide untuk melibatkan mbak ... "
Sambil terisak, Ranti mengelengkan kepalanya. "Tidak penting ini rencana siapa Nick ... Tapi, ini ... Ini ... "
Tentu saja Ranti berpikir seperti itu, entah ini rencana siapa, faktanya ini benar-benar diluar apa yang direncanakannya.
"Bukankah mbak melakukan ini, demi diri mbak sendiri? ... Kenapa mengungkit Cintya? ... Di mataku, kalian berdua hanya korban. Itu saja ... "
"Aku ... Tidak ... Aku ... "
"Mbak, jujur ... Awalnya, aku sangat membencimu ... Itulah kenapa aku mencarimu dan berniat meminta pertanggungjawaban darimu. Tapi, melihat mbak sama hancurnya ... Aku berpikir, bahwa kalian berdua hanyalah wanita bodoh, yang di permainkan oleh satu orang laki-laki yang sangat brensgsek."
"Nick, aku juga salah ... Tapi, Cintya ... Dia ... Dia ... "
"Kebodohan juga sebuah kesalahan! ... Sejak awal tidak ada satupun dari keluarga kami yang mendukung pernikahan mereka ... Cintya termakan rayuan pria brengsek itu dan berakhir dengan sangat buruk ... Aku tidak bilang mbak benar. Karena kalian berdua, sama bodohnya!"
Saat mengetahui, penyebab kematian saudari kandungnya, Nick terbang ke Indonesia dan mencari wanita yang merebut suami kakaknya itu.
Namun, setelah memacari dan akhirnya menemukan Ranti. Saat itu, wanita ini benar-benar dalam kondisi rapuh.
__ADS_1
Nick menemukan Ranti sedang berdiri di sebuah jembatan yang sangat tinggi, dan akan segera melompat.
Ada hasratnya, untuk mendorong wanita tersebut, agar bisa membalaskan rasa sakit hatinya. Namun, melihat bagaimana hancurnya Ranti, pikiran Nick berubah.
Sesaat sebelum Ranti melompat, dan waktu itu Nick bisa memastikan bahwa wanita itu benar-benar akan terjun, karena kedua tangannya sudah tidak lagi berpegang dan tubuhnya sudah condong ke depan.
Langsung berlari mendekat dan meraihnya. Nick menarik Ranti dengan paksa dan melemparkannya ke jalan dengan kasar.
Saat itu, Nick masih menyimpan dendam pada Ranti. Saat itu, pemuda tersebut mengatakan pada Ranti untuk tidak mati agar bisa terus menanggung penyesalan seumur hidupnya.
Namun, setelah menyelidiki lebih dalam dan mengenal Ranti lebih baik. Saat itulah Nick tau bahwa baik Ranti dan kakaknya Cintya, memiliki banyak kemiripan.
Ranti tidak bangkit dengan mudah. Perlu berbulan-bulan bagi wanita itu untuk keluar dari rasa penyesalannya. Hingga suatu hari, dia keluar dari kamar, dan menyatakan keinginannya untuk membalas dendam.
Ranti berpikir, jika dia bisa menghancurkan banyak pria brengsek, maka dia sudah mengurangi kemungkinan wanita yang menjadi korban pria tersebut, agar tidak berakhir seperti Cintya.
Nick tidak menolak, malah memilih untuk membantunya. Sejak saat itu, dimulailah apanya sering mereka lakukan sampai terakhir kali, itu mereka lakukan pada Aldo, mantan suami Mirda, yang sama brengseknya.
"Nick aku ... Aku ... Sudah, tidak ... Ingin ... Hi—"
Saat mendengar itu, Nick langsung berdiri, dan meninggikan suaranya.
"Apa mbak akan kembali mencoba bunuh diri? ... Begitu?!"
Ranti tidak bisa berpikir, masa lalu itu begitu mengerikan baginya. Melakukan apa yang dilakukannya saat ini, meski membuatnya di hina semua orang bahkan oleh dirinya sendiri, Ranti sama sekali tidak peduli.
__ADS_1
Dia hanya ingin membalas dan mencoba menyelamatkan orang lain, agar tidak berakhir seperti Cintya. Dengan begitu, dirinya masih merasa berhak untuk terus hidup. Jika tidak, maka dia merasa sudah kehilangan tujuan keberadaannya di dunia ini.
"Mbak, meski aku kecewa dengan apa yang telah di lakukan Cintya, tapi ketahuilah ... Aku sangat mengenal kakakku dan menyayanginya. Dia wanita yang sangat baik, sama seperti mu ... Percayalah, jika dia tau apa yang sudah kamu lewati, Cintya pasti tidak ingin kamu berakhir seperti ini ... "