
Tidak seperti apa yang Alex bayangkan, namun sepertinya wanita ini memang tidak sedang bercanda.
"Ranti ... Aku minta maaf! Aku.tau aku.salah karena telah sedikit ... Tidak, aku salah karena memaksa kamu untuk melakukan sesuatu yang—"
Alex langsung berdiri dan mengatakan kalimat-kalimat yang sulit di susunnya. Tentu saja dia tidak ingin wanita ini berhenti bekerja. Namun, kata-katanya harus terhenti karena saat itu juga Ranti menggelengkan kepalanya dan menyela.
"Pak Alex ... Ini bukan tentang itu. Tapi, saya memang ingin berhenti. Karena saya bekerja langsung pada bapak, jadi saya mengajukan surat ini ke sini ... "
Alex menggelengkan kepalanya cepat, dan berjalan mengitari mejanya. Ranti berbalik mengikuti langkah kaki pria itu, dan akhirnya saat ini keduanya berdiri saling berhadapan.
"Ranti, aku tau aku sudah kelewatan. Itu kenapa aku mencoba terus menghubungi kamu ... Aku ingin meminta maaf. Jadi, tolong jangan berhenti hanya karena kesalahanku ini ... "
Ranti sedikit gugup. Dia tau bahwa sebenarnya ini sama sekali bukan salah Alex. Pria ini hanya berusaha untuk sembuh dan membahagiakan istrinya. Ranti tau itu.
Namun, melihat wajah Alex begitu merasa bersalah, membuat rasa bersalahnya kembali muncul.
"Pak Alex, ini bukan karena hal itu, sungguh. Ini ... Ini ... "
Jika diurut kembali, dirinyalah yang sangat bersalah di sini. Namun tentu saja dia tidak bisa mengatakan hal tersebut.
Meski tidak tau apa motif Gladys dan Mirda yang telah melibatkan nya hingga berakhir sampai pada situasi seperti ini, semua itu tidak akan terjadi jika dia mencoba mencari tahu lebih dalam terlebih dahulu tentang pria ini.
"Baiklah ... Sepertinya, kesalahanku bukan ini saja ... Apa kamu merasa pekerjaan yang aku berikan sangat berat? ... Aku bisa meringkasnya. Atau, kamu ingin kembali ke divisi marketing? Aku bisa mengaturnya ... Tapi, tolong jangan berhenti. Aku minta maaf ... Katakan, apa keinginan kamu. Aku ... "
Saat itu, Alex langsung memikirkan banyak hal. Namun hanya satu hal yang dia inginkan. Pria itu tidak mau Ranti berhenti bekerja.
__ADS_1
"Pak Alex, ini tidak ada hubungannya dengan itu ... Percayalah! Beberapa hari ini saya memikirkan banyak hal, dan saya akhirnya memutuskannya ... Saya memiliki rencana lain dalam hidup saya. Itu saja ... "
Alex terdiam, dan mencoba mencari apa yang sedang ditutupi wanita ini padanya. Dia tau bahwa ada sesuatu yang membuat Ranti memutuskan berhenti bekerja, dan bersikap seperti ini.
Alex tidak tau apa itu, namun juga merasa tidak berhak menanyakannya. Dia berpikir cepat, untuk mengendalikan situasi saat ini.
"Baiklah, karena kamu bekerja langsung padaku, aku memutuskan untuk menolak surat pengunduran dirimu ... "
Mendengar itu, mata Ranti langsung melebar. "Pak! Saya tidak sedang bercanda! Saya sangat serius dengan hal ini!" Tegasnya.
Alex mengangguk lalu mengangkat kedua bahunya. "Aku juga serius!"
Ranti melipat tangan di depan dada. Dia melihat pada Alex yang sedang memasang wajah senang, terlihat sudah memiliki cara menahannya.
Dengan suara pelan, wanita itu kembali bicara. "Tuan Alexander Putra Mandala ... Aku bilang, aku ingin berhenti. Jadi, aku berhenti!"
Sempat terkejut, Namun begitu Alex tidak mau mengalah. "Ya, aku sudah mendengar nya. Tapi, aku menolaknya. Bukankah, kamu tau aku bisa melakukan itu?!"
Beberapa saat yang lalu, Ranti sempat merasa simpati pada pria di depannya yang sudah berkacak pinggang ini. Namun, sekarang dia merasa sedikit jengkel melihatnya.
Ranti menghela nafas panjang, lalu melepasnya dengan kasar.
"Terserah! ... Aku sudah mengajukan surat pengunduran diri. Aku tidak mau tau! Pokonya, Aku berhenti!"
Setelah mengatakan itu, dia langsung melangkah pergi. Alex sama sekali tidak berniat menahannya, namun saat wanita itu sudah berdiri di dekat pintu, pria itu berkata.
__ADS_1
"Ranti ... Kamu wanita cerdas ... Tentu kmu tau, kalau itu tidak bisa terjadi semudah, bukan?! Besok, masuklah dan kembali bekerja!"
"Buk!"
Alex melihat wanita itu menghempaskan pintu sedikit kasar, sebelum menghilang. Senyum yang tadi dia paksakan, ikut menghilang saat itu juga.
Alex tau bahwa dirinya sedikit egois. Namun, hanya itu cara agar Ranti tetap terikat dan bekerja di sini.
Saat keluar dari lift, Ranti masih terlihat kesal. Dia sam sekali tidak berharap Alex menahannya.
Di klausul kontrak dia memang tidak bisa berhenti begitu saja, sebelum beberapa proyek yang sedang dia tangani selesai. Kecuali, Alex sendiri yang memintanya.
Bukan hal yang dia pikirkan sebelumnya. Namun sekarang, itu membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa.
"Terserah ... Bahkan, aku tidak peduli Jika dia mau menuntut—"
"Menuntut? ... Siapa yang akan menuntut mu, Nona Ranti Olivia ... "
Langkah Ranti terhenti, karena mendengar suara tersebut. Matanya sedikit melebar, saat mendapati siapa yang berdiri di depan dan bertanya padanya.
"Nyonya Mirda?!"
Mirda tersenyum sinis, sebelum akhirnya berkata.
"Ranti, bukankah kau seorang profesional? ... Aku sudah beberapa mencoba menghubungi mu, namun tidak berhasil! ... Apa begini cara kerjamu?!"
__ADS_1