Pelakor Profesional

Pelakor Profesional
Tidak Ada Ruginya Mencoba


__ADS_3

Di lantai di mana divisi marketing berada, saat jam makan siang, Dion memasuki ruangan dimana semua anggotanya bekerja.


"Dewi, apa Ranti sudah kembali?"


Dewi yang tengah bersiap-siap untuk turun dan makan siang, hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Belum, Pak. Mungkin ada banyak hal yang mereka bahas."


Mendengar itu, Dion mengernyitkan keningnya. Karena jika memang banyak hal yang di bahas, seharusnya dirinya dilibatkan. Karena kepala Marketing di perusahaan ini, adalah dirinya.


"Oh, begitu. Baiklah ... "


Dewi hanya mengangguk, dan segera berlalu melewatinya. Namun, dia masih terpaku di sana sambil memikirkan hal itu.


"Apa kehadiran wanita ini, sedang mengancam posisiku?"


Dion akhirnya berjalan dan meninggalkan ruangan tersebut. Dia berharap Ranti bukankah sebuah ancaman. Bagaimanapun, dia menyukai wanita itu berada di divisinya.


Akan tetapi, bersaing dalam prestasi untuk merangkak ke atas, bukanlah hal baru di dunia kerja. Dion berlalu dengan segala pemikirannya.


Sementara itu, di sebuah kamar di dalam gedung tersebut, Ranti mulai sadar. Dia berusaha membuka matanya yang terasa sangat perih.


"Kamu sudah bangun? ... Baguslah."


Ranti tidak bisa melihat keberadaan Alex, namun bisa mendengar suaranya. Dia mengedarkan pandangannya, hingga akhirnya dia bisa melihat pria itu berdiri bersandar pada lemari di sebelahnya.


Belum sempat Ranti bertanya, Alex sudah kembali berbicara. "Sebenarnya aku ingin memanggil dokter. Tapi, aku lihat kamu hanya kelelahan saja. Sekarang, wajahmu tidak sepucat tadi."


Ranti mengamati terus Alex yang sedang berbicara, sambil mencoba mengingat apa yang membuatnya berakhir di tempat ini.


Namun, tiba-tiba saja ingatan itu membuatnya langsung mengangkat tangan dan menyentuh bibirnya. Dia kembali menatap Alex, yang tersenyum padanya.


"Maaf, Nona Ranti ... Sebelum kau marah dan mencoba melukaiku, sebaiknya kau ingat dulu bahwa kejadian itu adalah kecelakaan, aku mencoba membantumu ... "


Ranti mengingatnya. Namun, dia tetap terdiam. Kejadian ini begitu asing baginya. Namun, tak lama setelah itu, Alex kembali bicara.


"Baiklah ... Aku ada meeting. Setelah menghabiskan makanan itu, minumlah obat di sebelahnya. Istirahatlah di sini dan kau akan baik-baik saja."


Alex sama sekali tidak membiarkannya bersuara. Sekarang pria itu sudah tak lagi di sana.


Meski kepalanya masih terasa berat, Ranti mencoba untuk bangkit. Dia melihat beberapa jenis makan ada di nakas di sebelah tempat tidur. Di sana juga ada beberapa obat dan vitamin.


Ranti melirik ke arah pintu dimana Alex tadi menghilang, dan kembali menatap makan di sana. Dia berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengangguk dan berkata.


"Baiklah, aku memang lapar ... "

__ADS_1


Tentu saja begitu, terakhir dia makan adalah malam sebelumnya. Sekarang, waktu sudah menunjukkan pukul dua lewat tengah hari.


Ranti berpikir sejenak, saat setelah makan. Sekarang, dia memiliki kekuatan untuk kembali turun ke lantainya.


Dia menggelengkan kepala, lalu mengambil obat-obat itu, lalu memasukkan ke mulutnya. Di meminum habis air di gelas yang ada di sana, untuk mendorong ke lambungnya.


Ranti kembali terbangun, beberapa jam setelahnya. Tidak ada lagi rasa perih di matanya, dan kepalanya tidak lagi terasa sakit.


"Oh, sudah bangun? ... Baguslah!"


Suara Alex yang muncul secara tiba-tiba itu, sontak mengejutkannya. Namun, lagi-lagi Alex bicara tanpa memberinya kesempatan untuk bicara.


"Nona Ranti ... Aku ke sini untuk membangunkannya. Aku tidak bisa terus menunggu di sini, sementara istriku sudah menungguku pulang ... Jadi, apa kau sudah merasa sedikit lebih baik?"


Ranti mengangguk, dan langsung menjawab. "Sudah, pak ... Terimakasih."


Alek mengangguk, mengerti. "Baiklah, aku rasa jika kamu tidak bisa mengemudi, sebaiknya panggil taksi saja ... Aku tidak bisa mengantarmu, karena aku sedang buru-buru, oke?"


"Oh, iya Pak ... Terimakasih!"


Ranti sempat melihat Alex menggelengkan kepalanya sekali, sebelum akhirnya pergi dari sana.


Dia pun ikut berdiri, dan langsung berjalan. Entah kenapa dia berharap pria itu menunggunya dan bisa turun bersama.


Akan tetapi, Ranti hanya sempat melihat pintu kantor itu baru saja tertutup, menandakan bahwa Alex sudah tidak ada lagi di ruangan tersebut.


Namun, beberapa saat setelah nya ponselnya bergetar. Tanpa melihat siapa yang memanggilnya, Ranti langsung menjawab nya.


"Ranti Olivia ... Bagiamana kabarmu?"


Beruntung bukan Ranti dahulu yang bersuara. Karena mendengar siapa yang berbicara di seberang, dia langsung menyadari bahwa itu adalah suara Mirda.


"Nyonya Mirda ... Ada apa?"


Dari seberang sana, Mirda langsung menjawabnya. "Tentu saja aku hanya ingin bertanya, dengan perkembangan misi mu. Apakah kau masih merasa kesulitan?"


Ranti tidak langsung menjawab. Sekarang, di kepalanya berputar-putar banyak pertanyaan. Namun, segera dia menggelengkan kepalanya dan menjawab.


"Tidak, tidak ... Aku rasa aku bisa mengatasinya."


"Bagus, bagus ... Tapi, aku menelfon tidak hanya untuk menanyakan itu saja. Apakah kau punya waktu?"


"Tentu, apa kau ingin kita bertemu?"


"Ya, datanglah ke sebuah klub privat di ... "

__ADS_1


Ranti langsung berkemas, sesaat setelah sambungan itu terputus. Dia tau dimana klub yang dimaksud oleh Mirda.


Seperti wanita itu, dia juga memiliki sesuatu untuk dipastikan. Sebelum dia bisa membahas ini dengan Nick, sementara itu Ranti mencoba mencari informasi sebanyak yang dia bisa.


Mirda tersenyum setelah setengah jam menunggu, Ranti baru saja masuk ke dalam ruangan yang disebutkannya.


"Tidak mengejutkan sama sekali, kau bisa masuk begitu saja ketempat ini ... "


Perlu sebuah kartu khusus untuk bisa memasuki tempat ini. Namun, Ranti mengatakan bahwa dia sama sekali tidak memerlukan bantuan Mirda untuk bisa sampai ke ruangan ini.


Tidak banyak basa-basi, Ranti langsung duduk dan langsung bertanya. "Tentu saja ini bukan sebuah undangan untuk menemanimu menghabiskan malam, bukan?"


Melihat bagaimana Mirda berakhir di sini, kadang timbul rasa sesal di hati Ranti. Dia tidak menyangka, Mirda mengambil langkah yang salah, setelah lepas dari Aldo, suami Parasitnya itu.


"Oh, tidak ... tentu saja. Meski kau.sangat cantik dan menggoda, Aku masih lebih memilih untuk ditemani beberapa pemuda."


Ranti hanya mengangkat dagu sedikit, lalu kembali bertanya. "Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?"


Melihat itu, Mirda hanya menggelengkan kepalanya, sebelum kembali berkata. "benar-benar, Profesional ... "


Namun, sebelum Ranti ingin menanggapi itu dengan wajah malas, Mirda kembali bersuara.


"Ranti, kita tidak punya banyak waktu ... Aku ingin kau membawa bukti secepatnya. Lakukan apa saja untuk mendapatkannya. Istrinya, tidak lagi bisa menunggu. Kau  mengerti?"


Ranti sempat berpikir sejenak, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. Namun, setelah itu dia balik bertanya.


"Nona Mirda ... Apa kau tau jika Alexander Putra Mandala, memiliki penyakit, impotensi?"


Mendengar itu, mata Mirda melebar. Namun, cepat dia mengendalikan diri dan kemudian berkata. "Ya, semua orang berkata seperti itu. Bahkan, jika kau bertanya padanya langsung, kau akan mendapatkan jawaban yang sama ... Tapi. Bukankah kau seorang Profesional? ... Apa hal-hal seperti ini, bisa kau percayai begitu saja?"


Ranti sempat terdiam, lalu kembali bertanya. "Baiklah! ... Tapi, beritahu aku. Jika Alexander Putra Mandala hancur, apa untungnya bagimu? ... "


Sementara mereka berdua terus berbicara. Di tempat lainnya, di sebuah Rumah yang lebih mirip seperti istana, Alexander tengah berbaring di sebelah istrinya.


Dari sisi manapun dia melihat, Gladys memiliki kecantikan yang sama atau mungkin lebih dari Ranti.


Menurut Alex, Perbedaan dari keduanya hanyalah pada watak mereka. Gladys istrinya, jauh lebih lembut dan penyayang. Sedang Ranti Olivia, sedikit agresif dan kasar. Namun, wanita itu juga sangat cerdas.


Namun saat ini, Alex yang sedang menatap kedua telapak tangannya. Sekarang dia memikirkan satu lagi perbedaan diantara keduanya.


Setelah itu, dia menatap pada tubuh istrinya, sambil berpikir.


"Apa sebaiknya, aku memulai nya dari bagian itu? ... "


Alex memperhatikan dada Gladys yang berada di balik kain berbahan satin. Meski tertutup, kedua bukit itu terlihat jelas di matanya.

__ADS_1


Alex menganggukkan kepalanya, lalu mendekati istrinya. "Baiklah, tidak ada ruginya mencoba, bukan?"


__ADS_2