
Saat berjalan di dalam gedung perusahaan itu, seperti biasanya banyak mata yang menatapnya. Hal yang sudah biasa Ranti alami meski tidak di sini.
Namun, kali ini Ranti merasa sedikit berbeda. Orang-orang di gedung ini menunjukkan rasa hormat bahkan kagum padanya. Tentu saja itu membuat Ranti heran.
"Apa orang-orang di sini, sangat ahli dalam menutupi wajah asli mereka? ... Bukankah sekarang saat yang tepat untuk memandangku dengan tatapan iri atau semacamnya?"
Meski tidak begitu memikirkan pencapaian nya di perusahaan ini. Ranti juga tidak menganggap persaingan dalam Karir sebagai hal yang tabu. Belum sebulan dia di sini, posisinya melompat ketahap yang bahkan dirinya sendiri, masih sulit mempercayainya.
"Mungkin, jika semua tidak berakhir seperti ini ... aku sudah menikmati kehidupan dunia kerja seperti ini sejak lama ... "
Beberapa kali pikiran seperti ini terbesit di kepalanya. Akan tetapi, Ranti memilih untuk lebih realistis. Apapun posisinya saat ini, itu semua tidak lebih dari usahanya untuk menaklukkan Alex.
"Ran ... Sesibuk itulah?"
Di kantin perusahaan, Ranti di sapa Dewi. Wanita itu sepertinya merasa heran, kenapa dia ingin membawa makanan ke ruang bos.
"Tidak juga ... Tapi, Bos sepertinya ingin makan berdua denganku. Bukankah itu sesuatu?"
Mendengar itu, Dewi mencebik tak percaya. Begitu juga orang-orang yang mendengarnya. Sekarang, mereka melihat Ranti dengan cara berbeda.
Awalnya, mereka merasa Ranti adalah wanita bodoh yang mencoba menaklukkan hati Alexander Putra Mandala, yang mana hal tersebut sudah dianggap sebagai sesuatu yang mustahil bagi semua orang yang mengenal pria itu, sedikit lebih jauh.
__ADS_1
Sekarang, Ranti seolah menunjukkan kapasitasnya. Dewi dan rekan-rekannya di divisi marketing, adalah saksi bahwa tidak hanya cantik saja. Tapi, wanita ini benar-benar cerdas. Bahkan, saat ini mereka mulai sedikit mengagumi Ranti.
Itu kenapa, saat Ranti mengatakan hal ini, Ranti tidak percaya. Baginya, Wanita cantik ini jelas sedang bercanda.
"Kenapa? ... Kamu tidak percaya?"
Dewi menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak, tidak ... Aku akan mempercayai apapun yang kamu katakan saat ini ... "
Ranti mengangguk tidak peduli. Dia sudah tau tidak ada satupun yang akan mempercayai dirinya, meski apapun yang dikatakannya adalah yang sebenarnya.
"Baiklah, kalau begitu ... Aku ke atas ... "
Dewi dan yang lain hanya tersenyum dan menggelengkan kepala mereka melihat betapa tidak pedulinya Ranti dengan seluruh tatapan yang selalu menghujaninya, di manapun dia berada.
Apa yang dikatakan Dewi, mendapat anggukan setuju dari rekannya yang lain.
"Ya, setidaknya dia tidak berubah, meski aku rasa dia pantas sedikit menyombongkan diri ... "
Dewi melirik pada temannya, dan mendesah. "Aku rasa, wanita yang mampu mendapatkan apapun yang dia mau, tidak memiliki sifat itu, bukan? ... Lihat saja, Pak Alex hanya sebuah lelucon di pagi hari baginya."
"Jika kalian benar-benar ingin mengikuti nya, sebaiknya mulai dari sekarang bawa makanan kalian ke atas, dan bekerjalah lebih banyak daripada biasanya ... "
__ADS_1
Mereka semua berbalik dan mendapati Dion juga sudah berdiri di sana. Namun, detik kemudian Dewi berkata.
"Aku akan mencobanya nanti ... Tapi, tidak hari ini. Berkas-berkas di mejaku membuat nafsu makan ku menghilang ... "
Setelah mengatakan itu, Dewi langsung pergi dan yang lain mengikutinya. Sementara itu, Dion masih berdiri dan melihat Ranti batu saja menghilang, di balik pintu Lift di lantai tersebut.
"Siapa wanita itu? ... "
Dion sedikit terperanjat, dan menoleh ke samping. Dia mendapati pemimpin divisi lain yang berada di lantai berbeda, sudah berdiri di sana.
"Sial, kau Bram ... Mengagetkanku saja!"
"Aku bertanya, siapa wanita itu? Sepertinya kau sangat tertarik dengannya ... "
Dion menggelengkan kepalanya, lalu mulai berjalan. "Lupakan, bahkan investor saja tidak mampu menaklukkan nya ... Jadi, simpan niatmu untuk mendekatinya. Lagipula, dia berada langsung di bawah Pak Alex ... "
Bram berjalan mensejajarinya, dan tersenyum. "Ah, selagi dia bukan Nyonya Gladys, selalu ada kesempatan bukan?"
Dion menghentikan langkah, dan menatap pada temannya itu tajam sambil menunjuk wajahnya. "Bramantyo ... Aku tidak mau lagi, Anin istrimu, menelfonku tengah malam, hanya untuk menanyakan keberadaan mu ... sementara kau sibuk menunggangi wanita lain dan mematikan ponselmu."
Setelah itu, Dion kembali berbalik dan berjalan sambil berkata.
__ADS_1
"Ubah kebiasaan buruk mu itu, dan fokuslah pada keluargamu. Mereka membutuhkan mu, lebih dari wanita-wanita yang kau kejar-kejar itu ... "
Bram yang melihat Dion seperti menggerutu, tersenyum meremehkan. "Huh, kau hanya tidak bisa melakukan apa yang bisa aku lakukan ... Itulah kenapa Hidupmu, membosankan."