Pelakor Profesional

Pelakor Profesional
Hari Pertama


__ADS_3

Jam sebelas malam, Alex masih berada di ruang kerjanya. Namun, sampai saat ini dia belum mendengar Gladys istrinya pulang.


Beberapa waktu terakhir, Alex mulai menyadari bahwa istrinya lebih sering terlibat kegiatan sosial, bersama Mirda, lewat salah satu yayasan sosial milik perusahaannya.


Mirda yang juga memiliki saham di sana, ditunjuk sebagai ketua pengelola yayasan tersebut. Melihat istrinya memiliki kegiatan, tentu saja Alex langsung mendukungnya.


Lagipula, tidak ada hal lain yang bisa dilakukannya selain menuruti permintaan istrinya tersebut. Dengan menyadari keadaannya sendiri, meski permukaan mereka terlihat bahagia, Alex tau Gladys merasa kesulitan.


Alex menutup laptop, dan berjalan keluar ruang kerjanya. Dia berjalan ke kamar dan memilih untuk tidur. Dia tidak perlu menunggu Gladys, karena malam ini akan sama dengan malam-malam sebelumnya.


Sebagai suami istri, mereka akan tidur bersama. Bedanya, keduanya benar-benar tidur dan bersama di atas ranjang ini.


Alex menghela nafas panjang, setelah berbaring. Namun saat dia melepas nafas itu dan hendak menutup mata, sekilas bayang Ranti melintas dipikirannya.


"Apa aku bisa melakukan itu, jika dengannya?" Batinnya.


Namun, setelah beberapa lama, dia menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak, tidak ... Meski bisa, dia tentu akan menolak ... Lagipula, aku memiliki istri, yang menyayangiku ... Aku tidak boleh menyia-nyiakan pengorbanan Gladys selama ini, untukku ... "


Seperti yang dikatakan Alex sehari sebelumnya, pagi ini tatanan di ruangan ini benar-benar berubah. Ada dua meja di dalam kantor ini.


Melihat itu, Ranti tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Bukankah ini lebih terlihat seolah aku adalah bos kedua di perusahaan ini?"


"Ya, akan terlihat seperti itu? ... Bukankah ini menarik?"


Ranti merinding saat tiba-tiba saja Alex yang entah sejak kapan, berdiri di belakang, terlebih mendengar gumaman nya itu.

__ADS_1


Cepat Ranti berbalik, dan tersenyum. "Selamat pagi, Bos ... Sebagai orang kedua, apa yang harus saya lakukan hari ini?"


Alex berjalan melewatinya, lalu duduk di kursi di belakang mejanya. Setelah itu, dia memperhatikan Ranti dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Bagaimana, apa anda menyukai penampilan saya? ... Atau, ingin yang lebih sedikit terbuka?"


Alex baru saja ingin menggelengkan kepalanya, namun Ranti mengangkat Rok nya sedikit lebih tinggi.


"Apa segini, cukup? ... "


Alex langsung tertegun, saat Ranti kembali menurunkannya. Dia melupakan apa yang baru saja akan dikatakannya pada wanita ini, karena wanita itu datang mendekat, dan menyandarkan tubuhnya.


"Atau, Bos memang terobsesi dengan yang ini ... "


Ranti menunggu sedikit lama, membiarkan Alex menelan ludah. Dia langsung berdiri lalu berbalik pergi.


Dia tau Ranti sengaja menggodanya. Menurutnya, Mungkin cara wanita ini bercanda sudah berada pada level yang berbeda.


Akan tetapi, dia tidak bisa membohongi diri sendiri, bahwa dia menyukainya. Tidak, Alex bukan menyukainya. Namun, dia penasaran kenapa tubuhnya selalu bereaksi berbeda pada wanita ini.


Beberapa saat yang lalu, senjata miliknya sudah bereaksi, walaupun saat ini sudah normal kembali.


Dia menatap Ranti yang sudah menarik satu berkas, dan menunduk untuk mempelajarinya.


"Sudah saya katakan, keberadaan saya di sini, akan membahayakan perusahaan ini, bukan?"

__ADS_1


Alex tersentak, karena setelah mengatakan itu, Ranti langsung menoleh dan menatap langsung pada matanya.


"Tuan Alexander Putra Mandala ... Anda sudah terjebak, dalam pesona seorang Ranti Olivia ... Sebaiknya, mulai saat ini, anda berhati-hati!"


Ranti mengatakannya sambil tersenyum. Namun, apa yang dikatakannya bukanlah sebuah candaan. Dia tau, Alex sudah berada dalam jangkauannya.


Namun, Alex mendengar itu hanya bisa tersenyum dan mengangkat bahunya. Lalu berkata jujur.


"Baiklah, Nona Ranti Olivia ... Kamu benar. Sepertinya, aku memang sudah terjebak pada pesonamu ... Soal masalah perusahaan, aku akan memikirkannya nanti ... "


Keberadaan Ranti tidak seburuk yang dia bayangkan. Buktinya, Alex bisa melewati hari itu dengan konsentrasi penuh. Jika dia memikirkan Ranti, dia hanya perlu sedikit mengangkat wajahnya.


Wanita itu tepat berada di depannya. Jadi, semuanya tidak terlihat akan menjadi masalah kedepannya.


Namun, yang tidak Alex sadari saat ini, adalah kenapa dia harus memikirkan Ranti Olivia. Di situlah masalah yang sesungguhnya.


"Bos, apa saya harus menunggu anda selesai? ...  karena ini sudah jam istirahat siang. Apa anda sudah kenyang hanya dengan melihat saya?"


"Ya, tidak ... Maksudku tidak, tentu saja ... Melihatmu itu sesuatu. Tapi ... Maksudku ... "


"Oke oke ... Aku akan memesan makanan dan membawanya ke sini, apa itu terdengar bagus?"


Alex langsung menganggukkan kepalanya. "Yah, itu terdengar sangat bagus ... "


"Baiklah, aku akan kembali!"

__ADS_1


Begitu Ranti menghilang dibalik pintu, Alex langsung bersandar pada kursinya.


"Wanita ini, benar-benar membuatku, tidak bisa mengendalikan diri ... "


__ADS_2