
Tugas di lapangan itu, berjalan sangat lancar bagi semua orang. Tepatnya, Ranti lah yang membuatnya seperti itu.
Hal itu dipertegas, dengan ajakan makan malam oleh para investor pada seluruh tim dari divisi marketing tersebut.
Mereka diperbolehkan pulang lebih awal, untuk bersiap-siap. Alexander sendiri, lebih memilih untuk kembali ke kantor nya.
Melihat itu, Ranti mencoba memanfaatkan keadaanya.
"Pak ... Apa boleh saya menumpang? Mobil saya ada di kantor ... "
Dewi dan Dion, sama sekali tidak keberatan. Saat ini, bagi mereka kekonyolan Ranti yang tersisa hanyalah mencoba menarik perhatian bos mereka yang tidak mungkin akan bisa dia lakukan.
Keduanya hanya menggelengkan kepala saat melihat Ranti memasuki mobil Alex.
"Aku rasa, meski langit runtuh, dia tidak akan berhasil ... "
Normalnya, orang lain akan melihat seorang wanita yang mencoba mendekati bis mereka, akan menganggap wanita itu murahan, atau matrelialis, bahkan Pelakor.
Akan tetapi, berbeda jika bos itu adalah Alexander Putra Mandala. Semua orang di kantor mereka, akan menikmati perjuangan serta drama yang akan terjadi, pada wanita tersebut.
Mendengar kata-kata Dewi itu, Dion hanya tersenyum dan berkata. "Selagi, tidak membahayakan pekerjaan, aku rasa aku bisa mentoleransinya."
Setelah mengatakan hal itu, dia masuk ke dalam mobil, di ikuti yang lainnya.
Sesampainya di kantor mereka. Ranti yang sudah mengetahui bahwa di ruangannya, pria itu memiliki kamar, Ranti meminta izin pada Alex untuk mandi di sana.
"Pak, rumah saya cukup jauh ... Apakah boleh saya menumpang beres-beres di kamar itu?"
Sebenarnya, hari itu masih belum terlalu sore. Ranti masih bisa bolak-balik dari rumahnya ke gedung itu setidaknya lima kali, sebelum makan malam itu di adakan.
Namun, kesempatan ini tidak bisa dia lewatkan begitu saja. Sebuah rencana, sudah berenang-renang di kepalanya.
Mendengar itu, mata Alex sedikit melebar. Dia masih tidak nyaman dengan ingatan terakhir, saat keduanya berada di kamar tersebut.
Akan tetapi, melihat Ranti sudah tidak mempermasalahkannya, Alex akhirnya mengangguk.
"Baiklah ... Silahkan, aku akan ada di ruanganku."
Ranti berlari ke mejanya, dan mengambil tasnya. Di dalam sana, dia mengeluarkan banyak barang.
__ADS_1
Saat ini, setidaknya ada lima kamera portabel yang memiliki ukuran sangat kecil, ada di sana. Beberapa alat perekamĀ suara juga tidak ketinggalan, dia bawa untuk memudahkan rencananya.
Ranti membawa itu semua naik, keruangan Alex. Berharap, dengan ini saja dia bisa mendapatkan bukti untuk digunakan istrinya agar bisa menang di pengadilan, saat mengungkap betapa busuknya pria itu.
Alex sengaja tidak menutup pintu kantornya, dan membiarkan Ranti masuk, begitu wanita itu tiba.
"Maaf, pak ... Saya harus membawa ini."
Alex hanya mengangguk, saat Ranti mengangkat tas dan menunjukkan nya. Dia merentangkan satu tangan menunjuk ke arah kamar itu, dan berkata.
"Ya, silahkan ... "
Ranti menutup pintu dibelakangnya sambil berpikir. "Sepertinya, dia sudah tidak sabar."
Setelah itu, Ranti masuk kemar tersebut, tanpa menutup pintu sama sekali.
Gambaran kamar tersebut, masih terekam di kepalanya. Hingga sampai dindalam, dia sudah tau harus meletakkan peralatannya di mana.
Pengalaman sudah membuat wanita tersebut mengerti, titik-titik yang paling tepat untuk menaruh benda tersebut. Dalam satu menit saja, Ranti merasa semua sudah siap.
Sambil memejamkan matanya,Dia menghirup nafas panjang, dan melepasnya secara perlahan. Setelah sedikit lebih tenang, Ranti bergumam.
Setelah mengatakan itu, dia mengangguk untuk memantapkan hatinya. Ranti mulai melepas pakaiannya, di kamar itu, kemudian masuk ke kamar mandi.
Di salam sana, dia juga meletakkan dua kamera dan satu alat perekam suara. Canggihnya alat-alat itu, semua terhubung pada penyimpanan yang telah disiapkan Nick pada akun Server Doodle Drive, milik mereka.
Ranti kembali sengaja membiarkan pintu kamar mandi itu sedikit terbuka. Dia tidak ingin rencananya gagal hanya karena sebuah pintu macet, dan sulit untuk di buka.
Wanita itu, menyalakan air dan mulai membasahi tubuh di bawahnya. Satu menit, dua menit, tiga, lima, sepuluh menit berlalu, namun sepertinya Alex belum menunjukkan tanda-tanda pergerakan.
"Apa dia menunggu di luar?"
Menurut Ranti, bagi pria hidung belang, kesempatan ini sangat mereka nanti-nantikan. Jika Alex memang seperti apa yang di katakan Mirda, seharusnya pria itu sudah memikirkan cara agar saat ini bisa berdua dengannya di kamar mandi ini.
Namun, saat itu Ranti tidak mau menyamakan Alex dengan Target-target yang pernah dia taklukkan sebelumnya. Dia menganggap pria itu sudah sangat lihai, dan memiliki cara yang jauh lebih halus, dan mungkin juga, lebih licik.
Ranti terlalu lama di bawah guyuran air itu. Akhirnya, dia memutuskan untuk keluar dari kamar mandi.
Ranti nekad sedikit melipat handuk yang tergantung di dalam kamar mandi itu, dan melilitkan ke tubuhnya. Hingga belahan dadanya terlihat sangat jelas. Begitu juga dengan bagian bawah yang hampir memperlihatkan pangkal pahanya.
__ADS_1
Dia tersenyum saat melihat pintu kamar itu tertutup. Saat itu juga, Ranti menduga, bahwa Alex sudah ada di dalam kamar tersebut, siap menerkamnya kapan saja.
Akan tetapi, lagi-lagi Ranti harus kecewa. Tidak ada siapapun di dalam sana.
"Tidak mungkin ... !"
Ini sudah sangat jauh dari perkiraannya. Jika sampai pada tahap ini Alex tidak melakukan apapun, maka apa yang dia baca, di data yang di berikan Nick, mungkin adalah sebuah Fakta.
Akan tetapi, data itu terbantah dengan satu fakta yang nyata.
"Aku melihat sendiri benda itu bisa berdiri ... jadi, tidak mungkin data yang di berikan Nick, benar."
Ranti menatap ke pintu, berharap gagangnya bergerak, dan seseorang masuk dari sana.
Semenit, dua menit, tiga, lima ... Sepuluh menit lagi berlalu, namun hal yang dia harapkan tidak kunjung terjadi.
"Haaacciiuu ... "
Ranti mulai bersin. Berlama-lama di bawah air, dan masuk keruangan dengan pendingin udara yang bersuhu rendah, membuat tubuhnya, mulai sedikit meriang.
"Sial ... Apa dia memang sehati-hati itu?"
Hanya itu yang bisa Ranti simpulkan saat saat ini. Dia memutuskan untuk kembali mengenakan pakaiannya.
Namun, baru saja pakaian itu dia kenakan seluruhnya, pintu kamar itu di ketuk.
"Tok tok tok tok!"
"Ranti ... Di dalam lemari itu, ada beberapa pakaian wanita, milik istriku. Aku rasa, pakaian itu cocok jika kamu yang memakainya. Silahkan pilih dan gunakan saja yang kamu suka ... pakaian kantor, tidak nyaman untuk suasana makan malam."
Mendengar itu, Ranti hanya bisa menjawab. "Iya Pak ... Terimakasih."
Setelah itu, Ranti langsung membuka lemari yang ada di sudut kamar. Dan benar saja, di sana terlihat beberapa pakaian wanita yang terlihat masih sangat baru.
Bahkan Pakaian dallam, juga ada, dan sama barunya. Ranti memegang keningnya, dan menatap pintu itu sekali lagi.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Setitik keraguan, mulai muncul di kepalanya. Hatinya mulai berkata, hal yang terbalik dengan pikrannya.
__ADS_1