Pelakor Profesional

Pelakor Profesional
Terjebak


__ADS_3

Ranti memperhatikan Alex, yang terlelap dengan seksama. Wajah pria itu terlihat sangat damai, meski sedikit memerah akibat alkohol yang dia tenggak.


"Jika kau bukan seperti apa yang wanita itu  katakan, aku rasa dirimu cukup ... Hmm, tidak. Kau benar-benar menggoda."


Ranti tersenyum miring, saat menyadari pikiran tersebut sempat terlintas bahkan di ucapkannya. Akan tetapi, di saat bersamaan dia juga menyadari bahwa, orang yang terlihat sangat baik, sangat berkemungkinan menjadi yang terburuk.


Dia sangat menyadari hal itu. Dan dia pernah Mengahadapi satu orang yang seperti itu. Orang yang pada dasarnya, membuat dia berakhir seperti saat ini.


Ranti menghela nafas panjang, dan melepasnya. Setelah itu dia kembali menggelengkan kepalanya. Sebenarnya, dia juga sedikit merasa pusing. Hanya saja, kontrol dirinya terhadap alkohol sedikit sudah terlatih.


Sepertinya, Ranti merasa usahanya hari ini sudah cukup. Meski belum menunjukkan hasil yang berguna. Setidaknya, saat ini dia dan pria itu sudah sedikit dekat.


Hanya menunggu waktu saja, sebelum dia bisa menaklukkan pria ini. Karena juga merasa sangat letih, Ranti akhirnya memutuskan untuk pergi.


"Tidak, saat ini ... Tapi, kau tidak akan bisa selamanya menutupi kebusukannya tuan Alex. Aku akan membongkarnya agar wanita yang kau sakiti, mendapatkan kehidupannya kembali ... "


Ranti berdiri dan langsung menyambar tas miliknya yang ada di atas laci di kamar itu. Namun, baru saja beberapa langkah dia berbalik, dia mendengar suara ponsel bergetar.


Berpikir bahwa itu adalah miliknya, dia membuka tas, namun menemukan ponselnya dalam keadaan mati.


Dia melirik ke arah di mana Alex, tertidur. Dari lobang di saku celana pria itu, Ranti melihat cahaya berkedip-kedip.


Sebuah pikiran lain muncul di kepalanya. Biasanya, dia sama sekali tidak tertarik dengan ponsel orang lain. Akan tetapi, Alexander Putra Mandala yang kini terkapar di sana, adalah target nya.


Ranti berpikir bahwa mungkin saja di dalam ponsel tersebut, pria ini menyimpan sebagian atau mungkin saja segala kebusukannya.


Dia menaruh tas, dan kembali mendekat pada Alex. Disaat bersamaan, dia mencoba merogoh saku depan sebelah kanan celana milik pria tersebut.


Namun, karena posisi pria itu, ponsel tersebut sangat sulit untuk di keluarkan.


Saat ini, tubuh Ranti berada di atas tubuh Alex. Namun, dia menggunakan kedua lutut dan satu tangan untuk bertopang dan satu tangan lainnya, berusaha mendorong benda berbentuk persegi panjang, yang terlihat jelas tercetak di celana pria itu.


"Oh, sial ... Ini sulit!"

__ADS_1


Ranti kembali berdiri, dan mengitari tempat tidur tersebut. Berharap Mencoba dari sisi lain, akan memudahkannya.


Dia sedikit merangkak, agar tidak terlalu membuat ranjang itu bergerak kuat. Saat sudah dekat, dia kembali berusaha memasukkan tangan untuk mengeluarkan ponsel tersebut.


Namun, setelah beberapa kali mencoba, dia menyadari usahanya tidak akan berhasil, kecuali dia memaksa tangannya masuk ke sana.


Namun, tentu saja itu berpotensi membangunkan pria ini dan Ranti tidak mengunakan hal itu terjadi.


Ranti melipat kedua tangannya di dada dan berpikir. Dia memperhatikan saat ini ponsel  tersebut terjepit sehingga sangat sulit untuk menariknya keluar dari sana.


Namun, tak lama kemudian sebuah ide muncul di kepalanya. Tak berpikir panjang Ranti langsung melakukan apa yang baru saja terlintas di kepalanya tersebut.


Wanita itu mencoba membuka ikat pinggang Alex pelan-pelan, sambil terus memperhatikan wajah pria itu.


Melihat usahanya kali ini cukup mudah, Ranti melanjutkan dengan membuka kancing celana pria tersebut. Entah kenapa, saat melakukannya jantungnya sedikit berdebar.


Sebuah bayangan melintas di kepalanya. Namun, cepat Ranti menepis hal tersebut, dan kembali mengawasi mata Alex yang mungkin saja terbuka saat dia melakukannya.


Namun, dia harus menelan ludah, saat kembali teringat dengan apa yang pernah dilihatnya. Di sebalik resleting ini, Ranti pernah melihat senjata Alex berdiri sempurna.


Namun, beberapa saat kemudian, dia berhasil mendapatkan ponsel tersebut. Hanya saja di waktu bersamaan, Alex juga terlihat bergerak.


Ranti bersusah berbalik untuk berdiri, namun terlambat. Alex sudah menariknya dan membawa tubuhnya dalam pelukan pria itu.


Jantung Ranti berdetak kencang, berpikir bahwa dia sudah ketahuan, dan Alex sengaja menahannya agar tidak kabur.


Ranti berniat ingin memberontak, namun saat itu juga ponsel yang ada di tangannya kembali menyala. Nama yang muncul di layar ponsel tersebut, langsung membuat Ranti mengurungkan niatnya.


"My Beloved wife? " (Istriku tercinta)


Tidak ada tanda-tanda bahwa Saat ini, Alex ingin merampas kembali benda itu darinya. Saat itulah Ranti sadar bahwa pria ini sama sekali tidak terbangun.


"Sayang ... "

__ADS_1


Sebuah hembusan angin kecil di belakang tengkuknya, sukses membuat seluruh rambut di tubuh Ranti merinding.


Alex bergumam sambil membenamkan kepala di belakang lehernya. Pria itu mempererat pelukan, hingga membuat Ranti sulit untuk bergerak.


Ranti terdiam sedikit lama, menunggu. Namun, setelah beberapa menit berlalu, Alex tak kunjung melepaskan pelukannya.


Hal itu membuat Ranti berpikir bahwa dia sedang dalam bahaya. Jika Alex terbangun dengan posisi ponsel pria itu ditangannya, maka ini akan menjadi malapetaka.


Namun, dia saat bersamaan dia tidak yakin bisa keluar dari dekapan pria ini tanpa membangunkannya.


Ranti memikirkan cara agar segera bisa keluar dari situasi ini. Akan tetapi, saat ini dia juga penasaran dengan apa yang ada di tangannya.


Di hatinya, dia yakin dengan membuka ponsel ini, maka dia akan mendapatkan informasi yang mungkin saja sangat dia butuhkan. Dan jika beruntung, dia bisa mendapatkan lebih dari itu.


Dalam posisi tersebut, Ranti mencoba mengusap layar ponsel itu, meski sedikit mustahi, dia berharap pria ini tidak menguncinya.


Satu detik kemudian, mata Ranti melebar dan mulutnya ternganga. Alex sama sekali tidak mengunci layar ponselnya. Saat itu juga, semua pesan yang ada di sana, terbuka.


Ranti membeku sebentar, saat melihat pesan dari istri pria yang sedang memeluknya erat saat ini.


"Sayang ... Karena kamu di luar kota, aku dan Nyonya Mirda memutuskan untuk menginap di sini saja."


Itulah pesan pertama yang di baca Ranti di layar itu. Namun, kalimat tersebut, membuatnya berpikir sangat jauh.


Barulah beberapa saat kemudian, Ranti mengusap kebawah dan melihat percakapan keduanya, yang terlihat begitu mesra.


Ini sama sekali bukan percakapan antara dua orang yang memiliki masalah dalam hubungan mereka. Berdasarkan apa yang terus di baca di sana,  Ranti yakin, Alex dan istrinya sangat mesra.


Saat itu, juga Ranti terdiam dan berpikir. Meski belum tau apa motifnya, dia yakin bahwa Mirda mungkin saja sudah berbohong, dan mencoba memanfaatkannya.


Sekarang, Ranti sama sekali tidak tau apa yang harus dia lakukan. Saat ini, dia sedang terjebak di atas ranjang di dalam pelukan laki-laki, yang mungkin saja bukan seperti apa yang sudah dia pikirkan selama ini.


"Mirda ... Apa maksudmu, dengan semua ini?" Batinnya, geram.

__ADS_1


__ADS_2