Pelakor Profesional

Pelakor Profesional
Membuatku Seperti Orang Bodoh


__ADS_3

Melihat itu, Ranti tersenyum. Dia merasa Alex benar-benar seperti apa yang dia pikirkan. Namun, saat dia hendak mengangguk untuk memperbolehkan, tiba-tiba pria itu menggelengkan kepalanya cepat.


"Ah, aku tidak terbiasa dengan lelucon seperti ini ... cukup sampai disini saja!" Dia langsung menunjuk pada sofa, dan kembali berkata. "Cepat pelajari itu, sebelum jam makan siang."


Ranti mengernyitkan keningnya. Hampir saja dia merasa mendapatkan kesempatan untuk menjerat dan menguak kebusukan Alex, namun saat ini pria itu seolah langsung bisa mengendalikan dirinya.


"Oke ... Baiklah, jika bapak tidak mau. Jangan salahkan saya, jika bapak mencuri kesempatan lagi untuk menyentuhnya ... "


Alex tidak mengerti dengan cara berpikir wanita ini. Dia hanya diam, saat mendengar Ranti mengoceh kan itu.


Namun, beberapa saat berikutnya, keduanya larut dengan kegiatan Masing-masing. Dan tak terasa, waktu telah berlalu.


"Apakah kamu benar-benar telah mempelajari semuanya?"


Saat ini, keduanya sudah berada di dalam Lift, menuju lantai dasar. Ranti mengangguk-anggukkan namun tidak menjawabnya.


Alex merasa wanita di dekatnya ini, mulai sedikit bertingkah sedikit aneh. Namun, dia tersenyum menyadari itu. Ranti, ternyata tidak sesulit itu.


"Jadi, kita akan menemui investor lainnya?"


Keduanya sedang berkendara membelah jalan kota itu. Dari beberapa informasi yang di jelaskan Alex sebelumnya, mereka akan menemui seorang investor besar dari negeri Tiongkok, yang memiliki cabang perusahaan di sini.


"Ya, aku tidak begitu menguasai bahasa mereka ... Jadi, aku rasa kamu akan sangat membantu."


Saat mobil mereka berhenti di parkiran sebuah Restoran mewah, tiba-tiba saja Ranti melakukan hal yang tidak di duganya.

__ADS_1


"Apa ini di hitung lembur? ... Atau ... "


Saat itu, Alex yang tertegun karena tangan Ranti sedang berada di atas paha kirinya, langsung menganggukkan kepalanya.


"Ya, ya ... Bisa dikatakan seperti itu ... "


"Plak!"


Alex terkejut saat Ranti menampar pelan pahanya itu. Wanita itu mundur dan menyandarkan punggungnya kembali dan melipat tangan di depan dadanya.


"Saya tidak mau. Ini yang dinamakan bentuk eksploitasi ... Saya cuma karyawan divisi marketing ... Ini bukan pekerjaan saya, seharusnya bapak mempekerjakan asisten yang menguasai bahasa Chinese ... "


Alex tidak begitu mendengarkan apa yang dikatakan Ranti, karena dia berusaha menahan nafas, agar senjata miliknya kembali tertidur.


Sentuhan Ranti, ternyata memang memberi dampak besar dan reaksi yang berbeda pada dirinya. Alex baru bisa bernafas lega, karena senjata itu sudah terkendali.


Alex melihat Ranti sedang menggembungkan pipinya, menunggu jawabannya.


"Apanya?!"


Ranti melihat Alex seperti orang yang salah tingkah, kembali bertanya. "Soal Asisten, Pak Alexander Putra Mandala yang terhormaaaat ... "


Alex yang sejak tadi tidak terlalu menyimak, langsung mengganguk dan berseru.


"Baiklah, mulai saat ini kamu jadi asisten pribadiku ... Sekarang, mari kita lihat kemampuanmu."

__ADS_1


Mengarah itu, Ranti langsung tersenyum penuh kemenangan. "Pak, bapak tidak boleh menarik kata-kata ... "


Alex langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak, tidak akan ... Sekarang, ayo kita keluar dan menemui orang itu."


"Yes! ... Siap, Boss ... "


Alex kembali menggelengkan kepalanya saat melihat Ranti memberinya hormat ala militer itu. Dia sama sekali tidak mengingat, kapan terakhir kali dia memiliki seseorang yang bisa bercanda seperti ini dengan dirinya.


Alex tersenyum. Karena seingatnya dia tidak pernah memilikinya. Dia menatap Ranti sekali lagi, dan kembali berpikir, sekarang dia memilikinya.


"Tidak, usah senyum-senyum begitu. Nanti bapak jatuh cinta dengan saya, bagaimana?"


Alex tersentak, mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan wanita di sebelahnya ini.


"Tidak, mungkin! ... Aku memiliki istri yang—"


"Ya ya ya ... Kita lihat saja!"


Alex terdiam, karena saat itu Ranti sudah membuka pintu lalu keluar dari sana. Namun, tak berapa lama, wanita itu membungkuk dan melihat kedalam.


"Apa saya harus menemuinya sendiri, atau ... "


Alex segera menggenggam kepalanya. "Tidak, tentu saja ... Aku akan menemani ... Maksudku. Kamu yang menemani aku ... Ah, terserah!"


Ranti menutup pintu sambil tersenyum puas. Sementara Alex yang baru hendak keluar, menggerutu di dalam hatinya.

__ADS_1


"Wanita ini, membuatku seperti orang bodoh ... "


__ADS_2