
"Mengintip?!"
Tanpa sadar Ranti meninggikan suaranya. Entah kenapa Dia sama sekali tidak menerima Alex menuduhnya seperti itu.
"Ya! ... Kalau tidak, bagiamana bisa kamu berakhir di dalam kamar itu?"
Ranti langsung terdiam, saat Alex menunjuk pintu kamar yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Itu ... Saya ... Waktu itu ... Saya ... "
Tidak ada kalimat yang bisa di Rakai Ranti. Untuk menjelaskan bagaimana dia bisa berakhir di sana, waktu itu. Jelas itu hanya karena rasa penasarannya.
Alex menarik nafas panjang dan melepasnya dengan kasar. Dia memijit kedua pelipis matanya, sebelum akhirnya kembali bertanya.
"Jawab aku dengan jujur, apa kamu juga menceritakan ke jadian di atap gedung dan saat pertama kali kita bertemu, pada orang-orang di kantor ini?"
Tentu saja pertanyaan itu dijawab dengan gelengan kepala yang cepat dari Ranti. "Pak, saya tidak mengatakan apapun soal itu ... Tentang yang saya katakan pada Dewi tadi, itu karena saya tidak punya alasan lainnya. Lagipula, bapak lihat sendiri kan? ... Siapa yang akan percaya pada saya."
Alex meletakkan tangan dia kedua sisi pinggangnya. Ia tertunduk, sambil memikirkan kata-kata Ranti.
"Baiklah ... Aku percaya padamu."
"Hah?!"
Ranti terkejut karena Alex tiba-tiba melunak, dan menatapnya sambil berkacak pinggang.
__ADS_1
"Baiklah, lupakan saja ... Ada hal penting kenapa aku ke tempat kalian pagi ini ... "
"Begitu saja? ... Maksud saya, sudah?!"
Saat itu Alex sudah berbalik dan berjalan ke meja kerjanya. Namun, saat ingin duduk, dan kembali bicara.
"Ranti ... Aku tidak tau apa masalahmu. Tapi, kamu selalu menyimpulkan sesuatu, tanpa bertanya atau berpikir terlebih dahulu ... Aku akui kamu sangat cerdas dalam beberapa hal. Tapi ... "
Ranti melipat tangan di dadanya, balik bertanya. "Tapi, apa?"
Alex memundurkan kepalanya sedikit, saat melihat Ranti sudah kembali berubah ke mode percaya dirinya.
"Kamu ceroboh, dalam beberapa hal ... Itu saja."
Ranti ingin menanggapinya, namun saat itu juga dia langsung berpikir untuk mengurungkan niatnya. Lagipula, ini tidak berakhir seperti apa yang dia bayangkan sebelumnya.
"Baiklah, ceroboh terdengar tidak terlalu buruk ... "
Alex mendengar ocehan wanita itu. Namun, dia hanya menggelengkan kepalanya berusaha tidak mempedulikannya.
"Pelajari berkas-berkas ini sebelum jam makan siang ... Setelah itu, kita akan pergi ke suatu tempat."
Ranti melihat tumpukan map yang ada di meja kerja Alex. Tingginya tumpukkan itu, membuatnya tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Semuanya?"
__ADS_1
Alex menganggukkan kepalanya. "Ya, semuanya ... "
Setelah mengatakan itu, Alex menarik satu berkas di sisi lainnya. Beberapa detik kemudian, pria itu sudah tenggelam dalam pekerjaannya, mempelajari lembar demi lembar halaman di sana, sebelum akhirnya menandatanganinya.
"Mau kemana?"
Saat itu, Ranti telah berjalan dengan membawa tumpukan map yang setinggi lehernya itu.
"Bukankah bapak meminta saya untuk mempelajarinya? ... Jadi, tentu saja saya harus membawanya ke meja saya."
Mendengar itu, Alex langsung menggelengkan kepalanya sambil menunjuk sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Lakukan saja di sana ... Kita tidak punya banyak waktu. Tanyakan padaku, jika ada yang tidak kamu pahami ... "
Ranti mengangguk-anggukkan kepalanya, "Baiklah, sepertinya bapak senang berduaan dengan saya ... Oke, tidak apa-apa ... Itu bagus, bukan? Ini akan membuat orang-orang itu menjadi percaya dengan apa yang tadi aku katakan ... "
Alex mendengus lalu mengangkat wajahnya. "Mereka tidak akan percaya ... Lagipula, kamu sudah mengetahuinya dari mereka bukan? ... Aku tidak lagi menyembunyikan hal ini."
Ranti yang baru saja menaruh semua berkas itu di atas meja di dekat Sofa, langsung berjalan mendekat.
Dia menaruh kedua tangan di meja itu dan menunduk mendekatkan wajahnya pada pria itu.
"Pak, aku ingatkan sekali lagi ... Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, saat benda itu berdiri ... Jadi, jangan berbohong pada saya, tentang penyakit impotensi itu ... "
Alex menelan ludah. Posisi Ranti saat ini, membuatnya tidak bisa fokus. Bahkan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat ke arah bellahan dada wanita itu, meski saat ini wanita ini menggunakan pakaian yang sedikit tinggi.
__ADS_1
Ranti yang menyadari itu, tersenyum. "Apa bapak ingin menyentuhnya lagi? ... "
"Hah? ... Bolehkah?!"