
Bram tersenyum dan matanya menatap langsung pada mata Ranti. Dengan jarak sedekat itu dan ketidaksiapannya, tubuh Ranti membeku.
"Aku rasa ini memang takdir ... Aku sudah memutuskan untuk tidak menemuimu lagi, tapi kau muncul di sini."
Ranti memang sempat terdiam sejenak, namun tak lama dia dapat mengendalikan dirinya. Wajah nya berubah datar dan balas menatap Bram, memberi peringatan.
"Aku membiarkanmu bebas, karena aku menyayangi Anin ... Jadi, ketahui tempat mu, brengsek!" Desis Ranti.
Meski Ranti berkata seperti itu, namun Bram tidak peduli. Wajahnya masih dengan senyum yang sama. Pria itu tampak begitu percaya diri.
"Ayolah Ranti ... Bukankah saat itu kau juga menikmatinya? Aku hanya memberikan yang kau butuhkan saat itu. Jadi jangan berpikir kalau hanya aku yang bersalah ... !"
Ranti sama sekali tidak ingin membahas hal ini, apalagi dengan pria ini. Sampai saat ini, dia sama sekali belum yakin apa yang terjadi saat itu.
Namun, ketika Anin menemukan mereka sedang bergulat di atas kasur, di saat itulah Ranti menemukan kesadarannya. Rasa malu dan bersalah, membuat Ranti terpojok.
Sementara saat itu, pria ini menuduhnya yang lebih dahulu menggoda. Karena Ranti hanya diam, Anin semakin yakin dan mempercayai suaminya.
Mengingat itu, Ranti menjadi sangat kesal. Tiba-tiba dia mendorong tubuh Bram yang mengurungnya, lalu menunjuk tepat ke ujung hidung pria tersebut.
__ADS_1
"kau pasti sudah memasukkan sesuatu pada minuman yang kau berikan padaku ... Jika tidak, mana mungkin aku membiarkan pria busuk seperti dirimu, menyentuh ku ... !"
Itulah satu-satunya dugaan yang bisa meyakinkan Ranti kenapa dia tidak bisa mengendalikan hasratnya saat itu.
Bram tidak menjawab, namun dari matanya, Ranti bisa memastikan bahwa memang itulah yang terjadi.
"Sekarang menyingkirlah dari hadapanku dan jangan tunjukkan wajahmu di depanku lagi. Jika tidak ... "
"Jika tidak, apa? ... Katakan, apa yang akan kau lakukan jika aku masih tetap menemuimu ... "
Melihat Bram yang balik menantangnya, membuat Ranti sedikit gugup. Namun, saat itu ingin mengatakannya, Bram memegang bahunya lalu mendorongnya kembali Kedinding.
Mendengar itu, jantung Ranti terasa berhenti berdetak dan udara di sekitarnya seolah menipis. Bram adalah segelintir orang yang tau masa lalunya yang sangat kelam.
Meski yang terjadi bukanlah seperti apa yang Pria didepannya ini pikirkan, namun itu tetap tidak merubah fakta bahwa dia memang menyebabkan hancurnya hidup seseorang hingga orang itu terpuruk, dan menghabisi nyawanya sendiri.
Melihat bagaimana reaksi wajah Ranti, Bram tersenyum puas. Pria itu merapikan pakaian atas wanita yang terdiam membisu itu, kemudian berkata.
"Bagus! ... Sepertinya kau belum melupakannya ... "
__ADS_1
Bram mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu kembali menatap pada Ranti dengan tatapan penuh peringatan.
"Aku tidak akan menemui, tapi kau yang harus menemui ku jika aku memintamu, mengerti? ... Sekarang, aku hanya ingin menyapamu. Jadi, jangan berpikir terlalu banyak ... "
Setelah mengatakan itu, Bram pergi meninggalkan Ranti yang masih terdiam , menatap nanar ke depan.
Barulah beberapa saat kemudian, dia jatuh berjongkok. Ranti memegang dadanya yang terasa sangat sesak. Ingatan tentang apa yang di katakan Bram sebelumnya itu, membuatnya tidak bisa bereaksi apapun.
"Ranti, kenapa kamu berjongkok di sana? ... Apa terjadi sesuatu?"
Ranti tersentak saat tiba-tiba saja Dion berdiri tidak jauh dari sana. Pria itu menatapnya heran, namun Ranti bisa melihat Dion juga menatap ke arah di mana tadi Bram berjalan.
"Tidak, tidak apa-apa ... Aku hanya ... "
Ranti menggelengkan kepalanya, lalu mengangkat satu tangan. "Lupakan saja. Aku tidak apa-apa!"
Dion mengangguk dan melihat wanita itu berjalan melewatinya. Namun, cepat dia mensejajari Ranti dan kembali berkata.
"Ranti, Aku tidak ingin mencampuri urusan siapapun ... Tapi, tadi aku seperti melihat kamu dan Bram berjalan ke sini. Jadi aku mengikuti kalian ... Aku tidak mengenalmu lama, tapi aku mengenal pria itu. Demi kebaikanmu, jauhi dirinya! Pria itu, brengsek!! ... "
__ADS_1