Pelakor Profesional

Pelakor Profesional
Kembali dan sebuah Rencana


__ADS_3

Suara derit logam yang bergesekan, mengiringi detik demi detik yang dia lewati di sini. Suara itu berbunyi secara konstan seolah menjadi irama saat dia mencoba mengingat kenangan masa lalunya di tempat ini.


Ranti duduk di sebuah ayunan tua, di depan panti asuhan tempat di mana dia di besarkan. Hidup serba kekurangan, dan tidak pernah mendapatkan apa yang dia inginkan.


Namun, itu terasa begitu indah karena saat itu di di kelilingi oleh orang-orang yang dia sayangi.


Malam itu, terasa begitu sepi. Sasmi yang sudah melihat kedatangan Ranti sejak beberapa jam yang lalu, namun tidak langsung menemuinya, memutuskan untuk membiarkannya sendiri.


"Ranti ... Kamu yang paling kuat dan cerdas, di antara semua yang pernah aku besarkan, nak ... " Gumam Sasmi, kepala pengelola panti, sambil menyeka air matanya.


Tak lama setelah mengatakan itu, dia melihat Ranti berdiri sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh bangunan panti asuhan itu.


Sasmi melihat gadis itu menyeka air matanya. Namun, detik kemudian dia melihat seraut wajah yang telah lama menghilang di sana.


Wanita tua itu melihat Ranti tersenyum, namun bukan senyum seperti biasanya. Bukan, begitulah senyum dari wajah gadis itu Seharusnya.


"Apa yang terjadi? ... "


Sasmi sempat berpikir bahwa dia tidak akan pernah lagi melihat wajah gadis itu, tersenyum seperti itu sebelumnya.


Akan tetapi, malam ini dia kembali melihatnya. Tentu saja Sasmi terkejut. Itu adalah senyuman gadis kecil Kebanggaannya.


Sasmi sempat berniat untuk menghampirinya, namun dia melihat Ranti sudah berbalik dan mulai berjalan pergi.


Tidak mencoba memanggilnya, Sasmi membiarkan dia pergi. Namun, senyuman Ranti tadi, sudah mengalir ke hati hingga membuat wanita tua tersebut ikut tersenyum.


"Kamu kembali, nak ... Kamu kembali ... "

__ADS_1


Sasmi tidak tau apa yang terjadi, tapi dia yakin sosok yang dirindukannya dari wanita muda itu, telah kembali.


Keesokan harinya, pagi hari, Nick mengantarkan Ranti kembali ke gedung Mandala.


Di dalam mobil, keduanya tidak banyak bicara. Karena, pada malam sebelumnya mereka telah membahas banyak hal, tentang apa yang akan mereka lakukan mulai hari ini, hingga ke depan.


"Mbak ... "


Begitu mobil berhenti, saat hendak turun, Ranti menoleh pada Nick yang memanggilnya. Dia tersenyum dan berusaha meyakinkan pemuda itu, bahwa dia tidak akan berubah pikiran.


"Nick ... Aku hanya ingin mengajukan surat pengunduran diri saja. Setelah itu, semua akan selesai ... "


Nick yang yang tadi berniat menahannya, langsung mengurungkan niat. Hal ini sudah mereka bahas hingga lewat dini hari.


Begitu semua berakhir, mereka akan berangkat keluar negeri untuk meninggalkan negara ini dalam waktu yang cukup lama, bahkan mungkin, selamanya.


Mendengar itu, Ranti menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu ... Mobilku masih ada di sini. Jadi, tunggu aku di rumah ... "


Tidak menunggu tanggapan Nick, Ranti membuka pintu mobil dan keluar dari sana.


Alexander Putra Mandala, duduk dengan wajah murung. Tidak ada pekerjaan yang bisa dia pikirkan saat ini.


Otaknya tidak bisa di ajak bekerja sama, seperti biasanya. Ranti tidak kunjung menjawab panggilannya, bahkan tidak pernah membalas pesan untuk mengabarinya. Bahkan, sejak tiga hari yang lalu, nomor ponsel wanita itu, tidak lagi aktif.


"Sepertinya, aku memang harus menyusul kerumahnya dan meminta maaf ... "


Alex baru saja ingin berdiri hendak melakukan apa yang baru saja dia gumamkan, namun tiba-tiba saja pintu ruangannya terbuka.

__ADS_1


Seperti yang pernah dia alami sebelumnya. Alex merasa sedang berhalusinasi. Ranti muncul dari pintu tersebut, dan langsung berjalan ke arahnya.


Dia menolak untuk mempercayai apa yang dilihatnya, tapi hal ini terasa begitu nyata. Namun, detik berikutnya dia akhirnya menyadari bahwa itu bukan hayalannya saja.


"Selamat pagi, Bos ... Maaf, karena tidak datang bekerja beberapa hari ini ... "


Alex mengerjapkan matanya beberapa kali, untuk memastikan wanita yang berdiri di seberang mejanya itu saat ini, tidak menghilang.


Setelah beberapa saat, Alex akhirnya bisa menerima kenyataan bahwa Ranti benar-benar telah datang kembali.


Alex menelan ludah, sebelum akhirnya berbicara.


"Ehem ... Pagi! ... Sudah, tidak apa-apa. Aku pikir kamu ... Kamu ... "


Alex mengelengkan kepalanya cepat. Saat  dia berpikir untuk tidak membahas hal lain dan menundanya nanti.


Fakta Ranti sudah kembali saja membuatnya merasa lega. Alex tidak ingin gegabah untuk mengungkit masalah pribadi mereka saat ini. Dia memutuskan akan meminta maaf, pada saat dan cara yang tepat.


"Sudahlah ... Ada banyak hal yang harus kita lakukan. Sepertinya, kamu akan sibuk. Kembalilah ke meja kamu ada beberapa berkas di sana yang—"


Alex tidak bisa melanjutkan kata-katanya, karena saat itu juga Ranti menaruh sesuatu di atas meja, dan mendorong benda itu mendekat.


"Apa ini?"


Ranti membungkukkan tubuhnya sekali, sebelum akhirnya berkata.


"Bos, itu surat pengunduran diri ... Saya ingin berhenti bekerja."

__ADS_1


__ADS_2