Pelakor Profesional

Pelakor Profesional
Ancaman Serius


__ADS_3

Suasana hatinya yang sedang tidak baik, tiba-tiba semakin memburuk saat melihat Mirda berdiri dengan dua orang pengawalnya.


Ranti berniat menemui dengan wanita ini nanti. Tapi karena sudah berada di sini, dan tidak perlu lagi menghubungi, dia balas tersenyum tak kalah meremehkannya.


"Nyonya Mirda. Bisa kau jelaskan maksudmu itu?"


Mirda memang sudah mengetahui bahwa Ranti bukan orang yang mudah. Saat Keduanya pertama kali bertemu, jelas bahwa wanita cantik di depannya ini sangat berani, bahkan cenderung nekat.


Namun, karena sulit untuk menghubunginya dalam beberapa hari ini, Mirda sedikit kesal, dan memutuskan untuk mendatangi nya ke sini.


"Seperti yang aku katakan ... Aku kesulitan untuk menghubungimu. Bisa kau jelaskan kenapa itu bisa terjadi?"


Ranti pernah merasa telah membuat wanita ini membuka mata, agar mengetahui siapa sebenarnya Aldo, suaminya. Berpikir bahwa dia telah menyelamatkan seorang wanita yang baik, namun saat melihat Mirda saat ini, dia semakin yakin bahwa apa yang dilakukannya, salah.


Ranti menarik nafas panjang dan melepasnya dengan kasar. "Nyonya Mirda ... Aku memutuskan untuk membatalkan perjanjian ini ... Karena sepertinya, ini sama sekali bukan seperti apa yang kau ceritakan padaku."


Mata Mirda sedikit melebar, karena mendengar apa yang dikatakan Ranti. Dia sedikit gelisah saat Ranti tidak bisa dihubungi. Namun, begitu bertemu hal pertama kali yang dia dapat adalah ini.


"Membatalkan? ... Apa maksudmu?"


Ranti menggelengkan kepalanya, lalu mengangkat satu tangan dan mendorong udara di depannya. "Sudahlah! Kau tentu saja sudah tau kenapa. Jadi, aku tidak tertarik untuk menjelaskannya."


Setelah mengatakan itu, Ranti berjalan dan melewati Mirda serta pengawalnya begitu saja. Namun, saat dia hendak mendekati mobilnya, Mirda yang sempat terdiam, langsung berbalik, dan berkata.


"Hei, Jelaskan padaku, apa maksudmu?!"


Ranti menekan tombol alarm mobil dan menarik Handle pintu mobilnya. Namun, sebelum masuk dia menoleh pada Mirda, dan sekali lagi menggelengkan kepalanya seolah tak percaya, wanita itu masih bertanya.


"Sebelumnya, Kau tentu tau kenapa aku mau melakukan ini, bukan? ... Aku tidak tau apa motif kau dan wanita itu. Tapi, tentu saja aku tidak tertarik dengan permainan kalian itu."

__ADS_1


Mirda langsung menyadari bahwa Ranti telah mengetahuinya. Dan itu adalah pertanda buruk bagi dirinya. Jika Ranti membatalkan perjanjian dan tidak menyelesaikan misi nya, maka semua rencana yang sudah ada di depan matanya, akan ikut hancur bersamaan dengan itu.


Tepat sebelum Ranti memasuki mobilnya, Mirda kembali bicara.


"Ranti ... Mungkin kau lupa sesuatu. Tapi, aku juga bukan seseorang yang mudah. Tentu kau tidak berpikir bahwa aku akan membiarkan ini selesai begitu saja, bukan?"


Ranti yang mendengarnya, hanya tersenyum menantang. "Apa kau mengancam ku, Nyonya? ... Huh, Sepertinya, kau juga lupa akan sesuatu! ...  Lihat aku, baik-baik ... "


Ranti menajamkan matanya, untuk menegaskan apa yang akan dikatakannya.


"Apa aku terlihat takut padamu?"


Sekali lagi Ranti tersenyum meremehkan, sebelum akhirnya di memasuki mobilnya. Wanita itu. Memundurkan mobil dan memutar arah.


Di depannya, dia melihat Mirda dan pengawalnya masih berdiri. Ranti tersenyum dan menginjak pedal gas, dalam.


Derit suara bannya, langsung memekakkan telinga, orang-orang itu. Tidak sampai di sana, dia memacu mobilnya, hingga pengawal yang berada di belakang Mirda, langsung menangkap tubuh wanita itu, agar tidak tersambar oleh bodi mobilnya.


"Ah Sial! ... Seharusnya, aku menyenggol nya sedikit, biar wanita itu merasakan apa akibatnya, jika berani mempermainkan aku ... "


Mirda merasa sangat kesal dengan apa yang baru saja dilakukan Ranti padanya. Dia berteriak mengumpat seperti orang gila, diparkiran gedung itu.


Namun, begitu dia sudah merasa sedikit tenang. Sebuah senyum licik, kembali tersungging di wajahnya.


Mirda melihat ke arah di mana mobil Ranti tadi keluar dari sana, sambil bergumam.


"Ranti ... Tentu saja aku tau, kau tidak bisa semudah itu di ancam. Dan aku, tidak cukup bodoh untuk tidak mempersiapkan apapun, sebelum memutuskan berurusan dengan wanita sepertimu ... "


Setibanya di rumah, Nickolas terlah menunggunya. Melihat Ranti datang dengan wajah cerah, pemuda itu tau bahwa semuanya sudah bisa di atasi.

__ADS_1


"Nick, aku akan langsung bersiap-siap. Kapan kita akan berangkat?"


Mendengar itu, Nick tersenyum puas. Setidaknya, mereka akan meninggalkan kota ini, kemudian keduanya bisa memulai kehidupan mereka yang baru, di luar sana.


"Kita harus Check in, pukul sepuluh esok pagi."


"Baiklah ... Itu bagus."


Seperti apa yang baru saja dikatakannya, wanita itu langsung bersiap-siap untuk keberangkatan mereka esok hari.


Ranti melihat ponselnya yang kini berada di atas tempat tidur. Saat itu juga, dia berniat menghubungi Sasmi.


Begitu ponselnya menyala, dia langsung mendapatkan banyak notifikasi. Hal yang sudah dia duga sebelumnya. Hanya ada dua nama di sana, yang terlihat mencoba menghubungi nya berkali-kali dalam beberapa waktu ini.


Namun, alisnya bertaut saat melihat notifikasi terakhir. Sepertinya, itu baru masuk beberapa detik yang lalu.


Mirda terlihat mengirimkan nya sebuah gambar. Penasaran, Ranti langsung membukanya.


Detik selanjutnya, matanya melebar. Dia sangat mengenal gambar yang dikirimkan oleh wanita itu.


Sebuah pesan kembali masuk, di bawah gambar tersebut.


"Kau mungkin tidak takut pada apapun. Tapi, bagaimana dengan orang-orang yang ada di panti ini? ... Apakah, mereka tidak ada artinya bagimu?!"


Tidak berpikir panjang, Ranti langsung menekan tanda panggil di sana. Dia menempelkan ponsel itu ketelinga.


Beberapa detik saja, panggilan itu langsung tersambung.


"Mirda, Sialan!! ... Jika kau berani—"

__ADS_1


"Hei, Jallang!! ... Jangan coba-coba mengancam ku! ... Aku bersumpah akan melakukan sesuatu pada orang-orang di tempat itu, jika kau tidak menuruti, kata-kata ku ... !!"


__ADS_2