
Pintu yang dibuka tiba-tiba di ikuti sebuah suara yang mengejutkannya itu, membuat Alex memundurkan langkahnya.
Namun, karena tidak di Sergai oleh keseimbangan yang baik, pria itu berakhir terjerembab dengan bokong terhentak ke lantai.
"Auch ... "
Alex langsung memejamkan mata. Mengerang kesakitan. Namun, saat matanya terbuka, dia langsung terbelalak.
Kaki jenjang, putih dan paha yang sangat mulus, serta belahan dada yang terlihat jelas, karena hanya di balut sebuah handuk sedikit tinggi, langsung terhampar di depannya.
Semua itu, adalah milik Ranti. Jelas saat itu seluruh tubuh Alex langsung bereaksi. Akibatnya, Alex terdiam dengan keadaan terpana.
Ranti juga tidak menyangka akan melihat Alex setelah dirinya membuka pintu kamar mandi tersebut. Namun, saat melihat kondisi Alex saat ini, wanita itu tersenyum dan mendekat.
"Apa bapak ingin melihat lebih? ... Kalau begitu, bapak hanya perlu memintanya, aku akan—"
"Tidak! ... Tolong, jangan!!"
Reaksi Alex jelas terkesan sangat berlebihan. Pria itu langsung menutup mata di bantu sebelah lengan, sementara satu tangannya, dijulurkan tanda meminta Ranti jangan mendekat.
Melihat itu, Ranti berdiri dengan kedua kaki Alex berada di antara dua kakinya. Wanita itu memanyunkan bibirnya sambil menatap kebawah, melihat terus pada pria Nyang seperti sedang melihat hantu tersebut.
"Lihat ... Bukankah itu bisa berdiri?!"
Alex terdiam sejenak, setelah mendengar Ranti mengatakan hal tersebut. Reflek dia menurunkan kedua tangannya, dan mencoba menutupi miliknya yang sudah membesar, memberontak di sebalik celananya.
__ADS_1
Akan tetapi, saat dia membuka matanya. Sebuah pemandangan yang membuat tubuhnya bereaksi secara berlebihan, langsung membuat otaknya kembali kosong.
Mata Alex terpaku, pada benda warna hitam, yang berada di pangkal paha wanita yang kini berdiri terlalu dekat dengannya ini.
"Masih ingin membohongi saya? ... "
Alex menggelengkan kepala, begitu dia berhasil memejamkan matanya. Namun, tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.
"Jadi, katakan padaku ... Kenapa bapak masih memegangnya?"
Alex menunduk dan membuka matanya. "Ini ... Ini ... " Alex tidak tau bagaimana cara menjelaskannya. Tapi, semua membagi sudah diluar kendalinya. Bayangan pantang baru saja di lihatnya, masih membekas jelas di dalam kepalanya.
"Apa ... Katakan, dengan jelas!"
Jadi, dia terpaksa melakukan ini, meski hal seperti ini sudah jauh di atas toleransinya.
"Ranti ... Percayalah, ini bukan seperti apa yang sedang kami pikirkan. Aku memiliki penjelasan untuk ini. Jadi, tolong menyingkirlah ... dan cepat kenakan pakaianmu."
Ranti tampak berpikir sejenak, lalu akhirnya mundur, dan berbalik menuju lemari. "Sepertinya saya akan meminjam salah satu pakaian yang ada di sini ... Apa bapak tidak—"
Saat dia menoleh, Ranti tidak lagi melihat Alex di tempat tadi. Dia melirik pada pintu keluar, dan menemukan bayangan pria itu baru saja menghilang dari sana.
"Sepertinya, memang ada yang salah di sini ... !"
Setelah mengenakan pakaian, dan sedikit mendandani diri. Ranti akhirnya keluar. Dia tidak melihat Alex di kursi di belakang mejanya, seperti biasanya.
__ADS_1
"Ranti ... Duduklah, di sini. Ada yang ingin aku bicarakan!"
Ranti melihat Alex duduk dengan tangan terlipat di depan dadanya. Punggung lurus, dan wajahnya terlihat sangat serius.
Ranti hanya mengangkat alis nya sekali, dan mulai berjalan ke sana. Saat dia sudah menaruh bokong, dan mencoba menaikkan satu kakinya di atas kaki lainnya, Alex kembali bersuara.
"Tidak, sebentar ... !"
Kening Ranti mengerut, dan matanya bergerak mengikuti tubuh Alex yang berjalan untuk pindah tempat duduk.
"Begini, lebih baik!!"
Ranti mengangkat siku dan meletakkannya di atas lutut. Dia bertopang dagu, lalu bertanya.
"Baiklah, apa yang ingin bapak bicarakan? ... Ini pasti bukan masalah perkejaan, bukan?"
Alex melepas nafas kasar, dan menggelengkan kepalanya. "Tidak, ini bukan masalah pekerjaan. Tapi, jelas ini akan mempengaruhi pekerjaan."
Ranti menganggukkan kepalanya, dan melihat Alex berbalik dan menatapnya.
"Ranti ... Penyakitku tentang impotensi, bukankah sebuah kebohongan ... "
Alex langsung bisa melihat perubahan wajah Ranti saat itu juga. Namun, dia langsung melanjutkannya.
"Tapi, entah kenapa ... Sepertinya, tubuhku, tidak bereaksi yang sama, jika menyangkut segala sesuatu tentang tubuhmu ... Dan hanya, pada tubuhmu!"
__ADS_1