
Alex tidak tau harus membawa Ranti kemana. Hanya satu tempat yang terpikir olehnya saat itu. Dan sekarang, di sinilah mereka berada saat ini. Kamar yang ada di ruangan kantornya.
Alex membaringkan tubuh wanita itu, di tempat tidur dengan hati-hati. Setelahnya, dia langsung berdiri dan berderap ke kamar mandi.
Jantungnya terasa berdetak sangat cepat, dan dadanya terasa sesak. Namun, bukan itu yang membuatnya ke sini. Alex segera membuka ikat pinggang, lalu kancing kemudian terakhir resleting celananya.
Dia menelan ludah, dan matanya melebar. Benda itu benar-benar berdiri. Dan dia sudah merasakan sensasi ini, sejak berada di klub tadi.
"Jadi benar ... "
Alex menghadap ke cermin dan dan kembali melihat ke bawah, untuk memastikan. Sensasi ini benar-benar belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Itulah yang membuat dadanya sesak, dan jantungnya berdetak sangat cepat. Dengan Ranti bersamanya, Alex membayangkan bisa melakukan hal yang tidak mungkin bisa dia lakukan sebelumnya.
Dia senang, tapi juga sedih di saat bersamaan. Dan yang jelas, hatinya terasa sedikit kesal.
"Sial ... Kenapa bukan Gladys?! ... "
Alex benar-benar berharap bisa melakukan itu dengan istrinya. Akan tetapi, dia tidak mengerti kenapa miliknya hanya bisa bereaksi dengan Ranti.
__ADS_1
Sekarang, beberapa pikiran sedang berenang-renang di kepalanya. Karena Ranti ada di luar sana, sedang tak sadarkan diri.
"Jadi begini, Rasanya ... "
Dorongan yang dia rasakan, membuat otaknya berpikir mesum. Saat ini, Alex sangat ingin mencium, menyentuh, memeluk dan mencumbu Ranti.
Sesuatu yang tentu saja tidak boleh, meski bisa dia lakukan saat ini. Karena ini pertama kalinya Alex merasakan dorongan itu, dia menjadi kesulitan untuk mengontrolnya.
Awalnya, dengan kontak fisik. Setelahnya hanya dengan melihat dan sekarang, dengan membayangkan apa yang bisa dilakukannya saja dengan Ranti, Senjata miliknya sudah berdiri.
Alek berusaha mengatur nafasnya agar lebih teratur. Namun, itu sama sekali tidak membantu. Meski matanya terbuka, pikirannya sudah tidak bersamanya. Saat dia terpejam, itu menjadi semakin buruk.
Alex menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba melawan hasrat yang tidak siap dia alami dalam situasi ini.
Alex semakin tidak bisa mengendalikan pikirannya. Dia sangat ingin berada di dekat Ranti saat ini. Sekali lagi dia menatap batangnya di cermin.
"Kau memiliki Gladys! Kau miliknya!"
Itulah yang di gunakan pada sesuatu yang sangat mirip dengannya itu. Namun, dia menggelengkan kepala, lalu kembali berkata. "Sial ... Aku benar-benar ingin merasakan bagaimana rasanya ... "
__ADS_1
Kata-kata itu keluar dengan suara bergetar. Dia tidak bisa membayangkan jika Gladys tau apa yang ada di pikirannya saat ini. Istrinya pasti sangat kecewa, karena semua pengorbanan yang wanita itu lakukan, akan menjadi sia-sia.
Alex menatap wajahnya yang ada di cermin sekali lagi, dan berkata. "Gladys, maafkan aku ... "
Setelah itu, dia bersiap untuk keluar dari sana. Begitu berada di depan pintu kamar mandi itu, dia melihat pada Ranti yang masih terbaring dengan memperlihatkan bagian pahanya yang sangat mulus.
Alex berjalan mendekat. Dan duduk di tempat tidur itu. Dia memindai seluruh tubuh Ranti dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Saat itu, otaknya seperti lumpuh dan hanya bisa memikirkan satu hal.
Alex menarik nafas panjang, sebelum akhirnya memberanikan diri.
Alex mencoba membuka satu sepatu yang masih melekat di kaki Ranti, lalu melepas yang lain setelahnya. Dia sedikit terkejut saat Ranti melepas nafas panjang.
Alex berbalik dan menatap pada Ranti sekali lagi. Kemudian dia mengangguk, sebelum akhirnya berdiri.
"Aku mencintai istriku ... "
Setelah menggumamkan itu, Alex berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu. Tepat saat pintu itu tertutup, Ranti membuka matanya.
Dia tidak bergerak namun matanya menatap langit-langit kamar itu dengan nanar serta pikirannya kacau. itu bukan karena minuman yang mengisi lambungnya. Ranti dengan jelas mendengar apa yang digumamkan Alex, sebelum pria itu pergi.
__ADS_1
"Dia benar-benar mencintai istrinya ... "
Tak ada keraguan sedikitpun, saat Ranti mengucapkan kata itu dari mulutnya.