Pelakor Profesional

Pelakor Profesional
Makan Siang


__ADS_3

Ranti tidak terlihat begitu menanggapinya, namun Dion tau entah bagaimana bisa, Bram mengenali wanita ini.


"Ran! Apa kamu akan makan bersama kita?!"


Ternyata kedatanganya kali ini di lihat oleh Dewi. Ranti memaksakan senyumnya dan menganggukkan kepalanya.


Dia menoleh pada Dion yang masih terlihat menunggu tanggapannya. "Pak, bapak bisa menceritakan siapa pria itu padaku, jika bapak ikut makan bersama kami, bagaimana?"


Mendengar ajakan Ranti, Dion langsung menganggukkan kepalanya, cepat. "Ya, tentu saja ... Tentu saja. Kalau begitu, pergilah ke sana, biarkan aku yang membawa memesankan makananmu. Kamu mau pesan apa?"


Setelah mengatakan apa yang ingin dimakannya, Dion menganggukkan kepalanya dan langsung berjalan.


Ranti sendiri juga langsung berjalan menghampiri meja di mana Dewi dan yang lainnya duduk.


Saat itu, Ranti berpikir bahwa ternyata di perusahaan ini, dia di kelilingi orang-orang yang cukup baik. Dion baru saja menunjukkannya dan itu membuatnya sedikit lega.


Seperti janjinya, Dion menceritakan sepak terjang Bram, yang ternyata sudah lama dikenalinya. Tidak terlalu mengejutkan, tapi saat itu Ranti merasa, keputusannya untuk membiarkan Anin tetap bersama pria itu, terasa salah.


"Ranti, aku hanya kasihan dengan istrinya yang begitu mencintainya. Tapi, kadang, aku membenci sikap istrinya yang masih memaafkan sikap buruk pria brengsek itu."


Ranti membasahi kerongkongannya dengan jus yang di pesannya. Dia tidak menyangka akan mendapatkan informasi seperti ini.


Bahkan, beberapa wanita yang duduk bersamanya, pernah menjadi target Bram. Beruntung Dion memasang badan, hingga pria itu beralih pada yang lainnya.

__ADS_1


"Jujur saja, aku hampir tergoda. Mulutnya benar-benar manis ... Dia bahkan terlihat begitu perhatian saat orang tuaku sakit. Namun, karena Pak Dion sudah mengingatkan, aku menjadi sedikit waspada."


Ranti menyimak salah satu pengakuan wanita yang pernah di dekati Bram. Dan cerita itu, mendapat anggukan dari Dewi dan yang lainnya.


"Meski aku tau kalian tidak menyukaiku ... Tapi, perlu kalian tau, sebagai laki-laki, aku tidak menyukai pria itu ... "


"Lalu, kenapa bapak masih terlihat akrab dengannya? ... Seharusnya, bapak bisa mengadukannya pada komite kedisiplinan perusahaan bukan?"


Dion menghela nafas panjang, lalu melepasnya dengan kasar. Dia menggelengkan kepalanya, lalu berkata.


"Bramantyo ... Adalah ular berkepala dua. Dia pernah menjebakku, hingga aku tidak bisa melakukan apapun untuk itu ... "


Dewi melebarkan mata, dan bertanya dengan suara rendah. "Jadi, Bapak pernah berselingkuh? ... Dengan siapa? Apa salah satu wanita di gedung, ini?!"


Dion menatap pada semua mata yang begitu tertarik dengan rahasianya. Saat dia menjadikan tubuhnya seolah hendak berkata. Reflek semuanya mengikutinya.


Sekali lagi Bram menatap mereka satu-persatu, sebelum akhirnya berkata.


"Apa kalian berharap aku mengatakan sesuatu yang membuatku tidak bisa memarahi kalian jika membuat kesalahan, saat bekerja?"


Semuanya langsung mundur, dengan wajah kecewa. Sementara Dion tersenyum puas. Namun, tiba-tiba senyumnya menghilang begitu seseorang datang ke meja mereka.


"Aku tidak tau jika Divisi marketing sekompak ini ... "

__ADS_1


Mereka semua menoleh pada pria yang entah sejak kapan sudah berdiri di sana, dengan tatapan terpana.


"Boleh aku bergabung?"


Mereka tidak menjawab, melainkan masih melihat pria itu seolah tidak percaya dengan apa yang kini mereka saksikan.


Bahkan, bukan mereka saja. Tapi seluruh orang yang ada di kantin itu, sekarang juga menatapnya dengan cara yang sama.


Karena tidak ada yang menjawabnya, Alex yang sudah menyadari semua orang di kantin kini juga sedang menatapnya, kembali berkata.


"Oh, ayolah! ... Apa kehadiranku di sini, benar-benar tidak di harapkan?"


Mendengar itu, Sontak semua orang berdiri.


"Tidak pak, ya ... Maksud mu silahkan!"


"Silahkan duduk! Silahkan, maaf!"


Dion tidak hanya sekedar berdiri saja, melainkan mundur dan menunjuk kursinya sendiri. "Silahkan pak! Duduk di sini saja ... Saya berdiri saja!"


Alex tersenyum dan mengedarkan pandangannya. Dia menarik satu kursi dari meja lain, dan meletakkannya diantara Dion dan Ranti.


"Ayo, duduklah kembali ... sepertinya, suasana di sini, sangat menyenangkan untuk makan siang ... "

__ADS_1


Selain Ranti yang tetap duduk, mereka semua menganggukkan kepala lalu kembali duduk di sana.


"Lalu, Pak Dion ... Siapa wanita itu?"


__ADS_2