Pelakor Profesional

Pelakor Profesional
Suka


__ADS_3

Alex tidak mengerti kenapa Ranti bersikap seperti itu. Namun setelah tangisnya reda, wanita itu kembali bersikap seperti semula, dingin.


Suasana di ruangan itu kembali menjadi asing. Jika tadi Alex merasa bahwa Ranti bersikap dingin karena memikirkan masalah, sekarang Alex lah yang tidak tau apa yang harus dikatakannya.


Hal itu karena akhirnya dia mengetahui yang menyebabkan wanita itu bersikap dingin, adalah dirinya sendiri.


Hari terasa berjalan begitu cepat, meski keduanya sama-sama tidak bisa berkonsentrasi pada apapun.


"Bos, sudah waktunya pulang. Jika tidak ada lagi, Saya duluan."


Alex hanya mengangguk, saat Ranti sudah berbalik, dan tidak terlihat ingin menunggu tanggapan darinya.


Namun, ketika Alex kembali menunduk pada berkas yang ada di depannya, dia kembali mendengar Ranti berbicara.


"Karena ini sudah habis waktu kerja, bolehkah aku memanggil namamu saja?"


Alex kembali mendongakkan kepalanya, lalu tersenyum. Meski itu terdengar sangat tidak sopan, bagaimanapun dia adalah atasan wanita itu. Akan tetapi, hati Alex senang jika Ranti mau bersikap lebih santai dengannya.


"Tentu ... Tidak masalah."


Setelah mengatakan itu, Ranti menganggukkan kepalanya, begitu juga Alex.


Setelah Ranti menutup pintu, Alex tidak langsung menunduk. Dia masih menatap pada pintu di mana Ranti baru saja menghilang.


Baru beberapa detik saja, entah kenapa dia merasa kehilangan, dan ingin wanita itu tetap di sini, atau setidaknya tadi, Ranti mengajaknya pulang bersama.


"Alex! ... Jika kau siap untuk melakukannya, katakan saja. Oke?"


Alex sempat terperanjat, karena pintu yang dia tatap dengan nanar tadi, kembali terbuka. Dan wanita yang entah kenapa tiba-tiba saja dia rindukan padahal baru menghilang beberapa detik dari pandangannya itu, muncul kembali, dan mengatakan hal yang sejak tadi ingin dia tanyakan.


"Oke?!" Tanya Ranti sekali lagi, memastikan.


"O-oke ... Oke! Ya, tentu saja. Oke oke!" Jawabnya cepat.

__ADS_1


Namun, saat Ranti ingin kembali menutup pintu, Alex langsung berseru.


"Ranti, sebentar! ... "


Ranti melihat Alex sudah berdiri dan menyambar jasnya yang tergantung, lalu berjalan mendekat.


"Apa itu berarti saat ini juga?" Tanya Ranti curiga.


Alex menelan ludah, karena dia tidak bermaksud untuk itu. Namun, entah karena dorongan apa, hatinya tergelitik untuk balik bertanya.


"Jika memang sekarang, apa kamu siap?" Tanyanya, Ragu.


Ranti mendorong pria itu dan kembali ke dalam. Dia memperhatikan Alex dari ujung kaki, hingga ujung kepala.


Merasa ditelanjangi Ranti, pria itu benar-benar menjadi gugup. Namun, saat dia akan bersuara, wanita itu langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak! ... Sekarang bukan waktu yang tepat ... " Ranti kembali membuka pintu dan melanjutkannya. "Sebaiknya, kita pulang saja, dan menjernihkan pikiran masing-masing, sebelum melakukannya."


Berpikir bahwa Ranti akan langsung berjalan, jadi Alex juga langsung melangkah  setelahnya.


"Alex, rahasiakan ini dari istrimu! Mengerti?"


"Ya, tentu saja!"


Meski tidak hari ini, namun Alex cukup senang. Setidaknya, harapannya untuk pulang bersama wanita itu, terkabulkan.


"Aku tidak suka perasaan saat wanita ini meninggalkanku ... " Batin Alex, sambil melirik Ranti yang berdiri di sebelahnya, saat masih berada di dalam lift.


Sore itu, Alex tidak langsung pulang ke rumah. Sebaliknya, dia mengarahkan mobilnya ke sebuah tempat untuk menemui Dokter Rey, setelah terlebih dahulu membuat janji dengannya.


"Rey, dia mau melakukannya!" Ucap Alex, saat keduanya baru saja duduk di sebuah cafe.


Melihat wajah pasien yang ditanganinya yang akhirnya lebih terlihat seperti temannya itu sangat cerah, Reynaldi hanya hanya bisa menanggapi dengan tersenyum.

__ADS_1


"Itu bagus! Jadi, kapan kalian akan memulainya?"


"Saat aku siap!" Jawab Alex cepat.


Hal itu menyebabkan kerutan kening dokter itu, bertambah satu garis. "Tuan Alex ... Bukankah saat itu andalah yang terlihat begitu tidak sabar, dan terkesan mendesaknya? Jadi, kenapa sekarang anda  berkata seolah anda belum siap?"


Saat itu juga, wajah cerahnya langsung menghilang. Alex terlihat kebingungan mencari jawaban atas pertanyaan itu.


Melihat Alex seperti itu, entah kenapa Reynaldi menjadi sedikit curiga. Dengan nada suara sedikit rendah, dia kembali bertanya.


"Sebentar!"


Alis Alex bertaut, saat melihat Reynaldi menatapnya dengan tatapan curiga. "Rey, ada apa?"


Tidak langsung menjawab, Reynaldi mencoba memastikan sekali lagi. Dan dia menggelengkan kepalanya.


"Tidak mungkin!"


"Hei, apanya yang tidak mungkin? Dia sendiri yang akhirnya menyetujui nya. Dan perlu kau ketahui bahwa aku sama sekali tidak memaksanya."


Mendengar itu, Reynaldi kembali menggelengkan kepalanya. "Tidak, maksudku bukan itu. Tapi, ini hal lainnya."


"Apa maksudmu?"


Dokter itu memundurkan tubuhnya, dan bersandar pada sofa dimana keduanya duduk saling berhadapan. Sekarang, Alex melihat pria itu melipat tangan di dadanya.


Alex masih berpikir bahwa dokter ini tidak mempercayai kata-katanya. Jadi, dia berniat untuk mempertegasnya.


"Rey, sudah aku katakan Ranti—"


"Kau menyukai wanita itu!"


"Hah?"

__ADS_1


__ADS_2