
Semua mata terpana, saat kedatangannya. Ranti Olivia secantik biasanya. Namun, malam ini dia terlihat sangat luar biasa.
Dewi dan beberapa wanita lainnya, sedikit ragu dengan kesimpulan mereka. Melihat Ranti datang dengan Alexander, keduanya seperti pasangan yang sangat cocok.
"Jika pak Alex tidak seperti apa yang kita tau. Nyonya Gladys, sepertinya dalam masalah ... "
Tanpa sadar, Dion menggumamkan kalimat itu. Namun, karena suaranya sedikit besar, Dewi dan yang lainnya langsung menganggukkan kepala mereka, menyetujuinya.
Mereka semua masuk ke dalam restoran tersebut, setelah menunggu kedatangan bos mereka ini. Siapa sangka, jika Ranti tidak menggunakan mobilnya, dan datang berdua dengan Alex, ke sana.
Makan malam itu, berlangsung cukup meriah. Ranti benar-benar bisa mengendalikan para investor tersebut.
Hasilnya, kata sepakat langsung bisa mereka dapat, hanya tinggal satu tanda tangan saja, hingga semuanya benar-benar terwujud dan proyek besar dengan keuntungan yang juga besar, di genggaman mereka.
Salah seorang investor dalam bahasa asing, bertanya pada Ranti. "Nona Ranti ... Sebenarnya, aku menyukaimu. Aku berpikir bahwa mungkin saja kita bisa sedikit lebih dekat. Akan tetapi, saat melihat kau dan Tuan Alex bersama, sepertinya kesempatanku, sudah hilang, bukan?"
Saat ini, orang-orang di sana terkejut dengan bahasa yang digunakan oleh pria itu pada Ranti. Mereka sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan.
Mereka menoleh pada Ranti, penasaran. Namun, detik berikutnya rasa kagum mereka pada wanita itu langsung bertambah.
Ranti, sepertinya mengerti dengan bahasa yang di gunakan pria, dengan wajah dan perawakan khas dari negeri tirai bambu, seperti bahasa yang dilontarkannya itu.
Ranti yang mendengar itu, hanya tersenyum menanggapinya. Akan tetapi, di saat bersamaan, dia seolah memiliki kesempatan untuk mencoba reaksi Alex.
Sengaja dia menjawab dengan bahasa yang dimengerti oleh semua orang di sana.
"Tuan Lin ... Kau tentu tau bahwa bos ku ini, sudah memiliki istri, bukan? ... Dan istrinya sangat cantik."
Namun, saat itu Alex mengangguk menyetujui pendapat Ranti. "Benar-benar, dia sangat cantik dan sangat mencintaiku. Jadi, aku tidak ingin membuatnya kecewa."
Meski tersenyum menanggapinya, namun di hati Ranti, itu bukan jawaban yang di diharapkannya, keluar dari seorang pria yang dia anggap, bajingan.
"Wah, sepertinya Kesempatanku, kembali sedikit terbuka. Hahahhahaha ... "
__ADS_1
Ranti tidak menanggapi apa yang baru saja di ucapkan investor itu. Dia melirik pada Alex yang terdengar sangat bersungguh-sungguh saat mengucapkannya.
Sehabis makan, seperti kebiasaan para investor ini di negerinya, mereka menghabiskan malam dengan sedikit minuman keras.
Biasanya, Alex tidak terlalu menyukai hal-hal seperti ini. Akan tetapi, karena saat itu dirinya sedikit senang. Dia bersedia menemani mereka untuk melewati malam tersebut, sebelum semuanya kembali ke negara mereka, esok hari.
Jawaban Alex, membuat satu yang lainnya menggelengkan kepalanya. "Aku tidak setuju dengan pendapatmu. Kalian bisa saja melakukannya, tanpa sepengetahuan orang lain, bukan? ... Bukankah, itu sudah biasa? Hahahaha ... "
Saat ini, mereka semua sudah minum sedikit lebih banyak dari pada seharusnya. Sehingga, kata-kata yang mereka ucapkan, menunjukkan sisi lain dari diri mereka.
Selain memang cerdas, itulah yang membuat Ranti mudah mengendalikan situasi. Semua Laki-laki yang ada di depannya ini, hampir bisa dikatakan masuk ke dalam standar Target Operasional Ranti, untuk dia hancurkan.
Awalnya, Alex ikut berbicara sekali-sekali. Namun, setelah berapa teguk minuman yang masuk ke dalam lambungnya, pria itu kini lebih banyak tersenyum daripada bicara.
Malam semakin larut. Dion dan yang lainnya, undur diri dan pamit untuk pulang. Mereka tidak mau esok hari terlambat. Meski, acara ini di sponsori oleh bis mereka sendiri.
Akan tetapi tidak bagi empat investor yang ada di sana. Beberapa wanita, baru saja datang memasuki ruangan mereka.
"Nona Ranti ... apa kau keberatan?"
"Pak Alex ?"
Mata Alex terlihat sayu, sedangkan wajahnya sudah memerah. Saat itu, satu orang investor coba mengatakan sesuatu padanya.
"Nona Ranti ... Aku pikir, Tuan Alex seorang peminum yang baik, tapi ternyata tidak. Sepertinya dia sudah mabuk ... Aku rasa, aku punya kesempatan untuk mendapatkannya. Kau mengerti maksudku?"
Setelah itu, pria yang sudah duduk dengan seorang wanita berada di pangkuannya, menambahkan.
"Jujur saja, kami menerima proyek ini, karena dirimu. Lagipula, Ini sama sekali tidak akan berpengaruh pada bisnis tuan Alex ... Kami semua tau, siapa keluarganya. Hahahaha ... "
Tentu saja Ranti mengerti maksud pria itu. Bahkan, dia sudah memikirkannya sejak beberapa saat yang lalu. Dan soal kekayaan keluarga Alex yang di maksud, tidak perlu secerdas itu untuk mengetahuinya.
Satu negara ini sudah tau bahwa Alex adalah anak dari salah satu orang terkaya di negeri ini. Dan mungkin saja, kelurga mereka berada di puncak tangga itu.
__ADS_1
Ranti berpikir sejenak, namun seorang lagi menambahkan. "Sudah, jangan berpikir terlalu banyak. Kau sudah melayani kami dengan baik ... Bawa saja Bos mu ke suatu tempat, di mana kalian bisa mengabiskan malam ini bersama. Kami bisa mengurus diri kami sendiri ... "
Ranti tersenyum menanggapi hal tersebut. Dia mendekat pada Alex dan coba memanggil pria itu sekali lagi.
"Pak? ... Bos ... Kau, oke?"
Sepertinya, Alex benar-benar telah mabuk. Atau, bisa saja ini adalah triknya agar Ranti yang mengurusnya untuk keluar dan pergi dari tempat ini.
Ranti, masih kekeuh dengan apa yang dia yakini. Dia menyimpulkan bahwa Alex sedang memainkan trik murahan seperti itu.
Dia tersenyum dan berkata dalam hati. "Baiklah, terserah kau saja ... Kita bermain dengan caramu."
Satu jam kemudian, mereka berakhir di gedung perusahaan Alex. Ranti tidak berpikir untuk membawa Alex ke hotel karena saat ini, dia sama sekali tidak membawa perlengkapan untuk merekam yang akan terjadi.
Alat-alat itu, berada di kamar dimana terakhir kali dia meninggalkannya, di ruangan Alex.
Lagipula, dari tempat parkir bosnya itu, ada Lift khusus yang mengantarkan mereka ke lantai ini, setelah melewati keamanan yang bisa langsung mengenali Alex, saat mereka datang.
Tubuh Alex terasa sangat berat saat dia berusaha terus menopang agar pria itu tetap bisa berjalan.
Sampai di ruangan Alex, Ranti langsung membawa pria itu ke kamar di mana dia meninggalkan tasnya.
Saat ingin membaringkan tubuh Alex ke tempat tidur, Ranti salah memilih kaki untuk menopang. Akibat, keduanya langsung jatuh bersamaan ke sana.
Ranti terdiam sejenak, menunggu apakah Alex akan segera memulai sesuatu. Namun, setelah menunggu, ternyata pria itu tidak melakukan apapun.
Ranti mendorong pria itu kesamping dan membiarkannya terbaring di sebelahnya.
Ranti memperhatikan wajah Alex lekat-lekat, dan langsung menyadari bahwa pria itu kini sudah tertidur.
Tau itu bukanlah trik, entah kenapa Ranti menjadi sedikit kesal, namun di saat bersamaan ada sedikit rasa senang di sana.
Sambil mendorong sedikit bahu pria yang tertidur di sebelahnya itu, Ranti berkata.
__ADS_1
"Kau laki-laki payah ... "