Pelakor Profesional

Pelakor Profesional
Perjanjian


__ADS_3

Sedangkan di tempat lain, terlihat kedua wanita yang sedang asik duduk di dalam ruangan di sebuah Klub pribadi.


"Aku masih penasaran. Kenapa kau berusaha untuk bercerai dengan Alex.”


Gladys tidak langsung menjawab pertanyaan Mirda. dia memutar-mutar gelas hingga Wine yang ada di dalamnya ikut bergerak searah dengan putaran itu, sambil tersenyum.


"Bukankah dengan menjadi istri seorang Alexander, kau bisa menikmati indahnya hidup tanpa memikirkan apapun? ... Melakukan perawatan, berbelanja, pergi liburan ke manapun yang kau mau. Bahkan saat ini saja, kau bisa bermain dengan banyak pria.”


"Awalnya, aku juga mengira seperti itu. Hidup dengan seorang lelaki tampan dan mempunyai harta yang melimpah. Apalagi, Alex juga terlihat sangat sayang kepadaku."


Gladys mulai menjelaskan pada Mirda, apa yang membuatnya melakukan itu.


"Tapi, aku mempunyai perjanjian tertulis dengan keluarga Mandala. Mereka memintaku untuk  menanda tangani sebuah perjanjian sebelum aku dan Alex menikah . Aku diberi tahu, jika Alex memiliki kelainan pada miliknya. Jadi, mereka curiga aku akan mengkhianati dan membuat Alex kecewa."


Mirda menyimak setiap ucapan yang keluar dari mulut wanita cantik, namun sedikit nekad bahkan mungkin saja gila, di hadapannya ini.


Sebuah perjanjian dengan keluarga Mandala, tentu saja menarik perhatian Mirda.


"Lalu, apa isi perjanjian itu?"


"Isi perjanjian itu, menjelaskan bahwa aku dan Alex, tidak boleh melakukan perceraian. Jika ada salah satu dari kita yang berkhianat, maka akan diberikan sanksi."


"Aku rasa kau sangat nekat. Mungkin saja, keluarga mandala sudah tau apa yang sedang kau lakukan, bukan?"


Mendengar itu, Gladys nengekngkan kepalanya, dan tersenyum. "Aku yakin, tidak akan. Lagipula, semua pengawal-pengawal yang selalu mengikutiku di luar itu, dari keluarga Mandala."


Mata Mirda melebar. Jika benar mereka semua dari keluarga Mandala, maka seharusnya Gladys sudah berakhir.


Melihat bagaimana Mirda bereaksi, Gladys tersenyum licik. "Mereka semua, sudah aku tangani. Aku akan menjelaskannya nanti."


Mirda menganggukkan kepala tanda mengerti. "Lalu, apa bentuk sanksinya?"


"Awalnya aku enggan menandatangani perjanjian itu. Tapi, melihat sebuah poin di sana, membuatku yakin untuk menandatangani surat tersebut."


"Kau akan di penjara atau mereka akan membuat hidupmu menderita itu sudah pasti, maka kita lewatkan saja poin itu. Sekarang, apa yang kau dapat jika Alex yang berkhianat?"


Gladys kembali tersenyum. Dia bukan pebisnis tapi Mirda, iya. Jadi wanita di dekatnya itu, langsung mengarah pada intinya.


"Di perjanjian itu tertulis, jika Alex yang berkhianat. Maka, setengah dari kekayaan Alex, akan menjadi milikku."

__ADS_1


Mata Mirda melebar. Dia sangat tau seberapa besar kekayaan Alex. Meski belum mewarisi seluruh aset keluarga mandala, namun perusahaan yang kini pria itu kelola memiliki nilai yang luar biasa.


Mirda sendiri adalah salah satu pemilik sebagian kecil saham di sana. Itu saja sudah bisa menjamin kehidupanya tanpa kekurangan apapun, bahkan sangat berlebih.


"Apakah Alex mengetahui perjanjian itu?"


"Tidak. Keluarga besar Mandala, sangat yakin jika Alex, tidak akan berkhianat. Jadi, untuk menjaga perasaannya, mereka mintaku kerahasiaannya. Itu juga salah satu Syarat di dalam perjanjian itu."


Mirda tidak menyangka, jika gadis di hadapannya ini sangat licik. Bahkan, saat ini  dia merasa bahwa Ranti tidak akan memiliki keberanian melakukan hal seperti yang sedang direncanakan oleh wanita ini, meski mereka terlihat sama dalam banyak hal.


Namun, jelas Ranti melakukan apapun yang dia lakukan dengan sudut pandang yang jauh berbeda. Tapi wanita di depannya ini. Memiliki motif yang sangat jelas. Harta dan segala yang menyertainya.


"Jadi, bagaimana cara kau mengatasi orang-orang diluar sana?"


Saat itu, Gladys tersenyum menggoda. "Nyonya Mirda, kau akan menyukai bagaimana cara aku mengaturnya."


Mirda tidak sempat bertanya, karena Gladys sudah berdiri dan beranjak dari sana. Wanita itu membuka pintu dan pengawal-pengawal itu masuk ke dalam ruangan privat itu.


Tanpa aba-aba, semua pria gagah itu membuka pakaian mereka. Mirda tidak perlu sangat pintar untuk mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Nyonya Mirda ... Apa kau menginginkan salah satu dari ini? ... "


"Oh, sial ... Wanita ini benar-benar gila! Dan tak lama lagi, sepertinya aku akan sama gilanya ... "


Gladys memberi tanda agar beberapa dari mereka mendekati Mirda.


"Nyonya Mirda ... Malam ini, mereka akan membawamu, ke surga ... "


Di rumah merebahkan dirinya di atas kasur. Di berpikir, sepertinya dia harus mengatur ulang strategi agar mendapatkan perhatian Alex.


Tapi, mengingat kejadian hari ini membuat Ranti sedikit kebingungan untuk memperbaiki hubungannya yang semakin memburuk, dengan pria itu.


"Impotensi, Huh? ... "


Ranti benar-benar tidak mempercayai apa yang di katakan Dewi itu padanya. Sementara dia menyaksikan bahkan merasakan sendiri, milik Alex benar-benar bereaksi dan, cukup lumayan.


Ranti tersenyum miris dan memikirkan hal itu. "Tapi ini bagus ... Aku akan membongkar kebusukannya."


Ranti memang merasa jika Alex, tak jauh beda dengan lelaki cabul di luaran sana. Namun begitu, Alex tidak hanya punya kekuatan dan kekuasaan saja. Di mata Ranti, pria itu benar-benar licik hingga tidak ragu untuk menyebar isu untuk menutupi kemesumannya.

__ADS_1


"Mbak ... Kamu sudah tidur?"


Ranti tersentak saat mendengar suara Nickolas di luar pintu kamarnya. Namun, dia enggan menjawab dan memilih untuk berpura-pura tidur saja.


Malam ini, dia tidak ingin berdebat dengan pemuda itu. Saat tadi menjemputnya saja, keduanya tidak banyak bicara.


Nickolas, jelas tidak setuju dengan apa yang sedang dia lakukan. Ranti tidak bisa menyalahkan pemuda itu, namun dia juga masih sulit membuktikan pada Nick bahwa Alex memang pantas menjadi targetnya.


Ranti mendengar langkah kaki Nick menjauh dan menghilang setelah turun dari tangga kelantai bawah.


Namun, tak berapa lama dia melihat layar ponsel yang berada di atas nakas di sebelahnya, menyala.


Dari deretan angka  yang muncul di sana, dia langsung tau siapa yang mencoba menghubungi. Ranti sama sekali tidak menyimpan nomor itu, karena memang tidak banyak yang mengetahui nomor ponsel pribadinya.


"Nyonya Mirda?"


"Ranti ... Bagaimana? Apa ada kemajuan?"


Ranti memutar bola matanya, sebelum akhirnya menjawab. "Jujur saja, aku lebih suka di taruh sebagai pembersih di lantai kantor pria itu, daripada di letakkan di divisi yang memiliki jarak yang sangat jauh dari pria itu ... Ini menjadi sedikit sulit, karena aku akan sangat jarang sekali bisa bertemu dengannya."


Mirda di seberang sana, tidak langsung menjawabnya. Namun, beberapa saat kemudian wanita itu kembali bersuara.


"Ranti ... Aku tidak punya akses penuh di perusahaan itu. Aku hanya pemilik sebagian kecil saham di sana. Akan tetapi, aku percaya bahwa aku sudah meletakkan posisimu, di tempat yang paling berkemungkinan berinteraksi dengan pria itu."


Saat Mirda mengatakan itu, Ranti langsung mengingat Dewi mengatakan bahwa, besok hari, divisi mereka akan mengadakan rapat dengan Alex.


"Hmm ... Aku pikir, ada benarnya. Lalu, Apa kau hanya menelfon untuk menanyakan ini saja?"


"Kita tidak memiliki banyak waktu ... Bukankah kau tau kenapa aku memercayakan ini padamu, bukan? Sebaiknya lakukan dengan cepat. Kita hanya memerlukan sedikit bukti, bahwa Alex memang memiliki hubungan dengan wanita lain, itu saja ... Sisanya, serahkan padaku. Aku sudah menyiapkan tim pengacara untuk mengurusnya."


"Baiklah, besok aku akan berusaha untuk lebih dekat dengannya ... Tapi, sepertinya tidak bisa secepat yang aku pikirkan. Pria ini ... Sulit."


Mirda kembali memerlukan waktu untuk menjawabnya, namun akhirnya dia kembali berkata.


"Aku mengerti ... Gunakan waktumu, aku akan membantu semampuku ... "


Panggilan itu terputus, setelah Mirda mengatakan beberapa hal yang menurut Ranti sudah tidak penting.


Setelah meletakkan kembali ponselnya, di kembali berbaring. Sebelum memejamkan mata, Ranti berharap esok dia tidak membuat keadaan semakin kacau.

__ADS_1


"Benar-benar, Sulit ... "


__ADS_2