Pelakor Profesional

Pelakor Profesional
Rindu


__ADS_3

Alex terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan dokter tersebut padanya. Tidak terdengar seperti bertanya, dari wajahnya saja, Reynaldi terkesan menuduhnya.


"Aku bilang, Kau menyukai wanita itu!" Tegas Rey, sekali lagi.


Mendengar hal tersebut, Alex langsung menganggukkan kepalanya, tanpa Ragu.


"Ya, tentu saja aku menyukai nya!" Ucap Alex tegas. "Rey, Ranti adalah wanita yang cerdas. Kau tidak akan percaya. Wanita itu, bisa membuat salah satu investor yang paling sulit untuk diajak bekerja sama, langsung menyetujui proposal proyek yang bahkan baru dipelajarinya beberapa jam sebelum kami menemui mereka. Jadi, tentu saja aku menyukainya!"


Mendengar itu, hanya membuat Reynaldi mendengus. "Aku tidak membahas seberapa cerdas dirinya. Tapi, aku mengatakan bahwa kau menyukainya, seperti seorang laki-laki normal yang menyukai seorang wanita."


Wajah Alex sempat tertegun sebentar mencoba mencerna maksud dokter pribadinya itu.


"Prang!"


Tak sengaja Alex memukul meja di depannya, yang membuat kopi yang belum sempat mereka minum itu, sedikit tumpah.


"Rey! ... Aku tidak sedang bercanda!" Tegasnya.


Meski begitu, Reynaldi tidak peduli, dan tetap menggelengkan kepalanya dan kembali berkata. "Kau menyukainya, dan aku tidak sedang bercanda!"


Sekarang, Alex yang tersenyum meremehkan ucapan dokter itu. Dia juga memundurkan tubuhnya dan melipat tangan di depan dada.


"Bagaimana kau bisa mengatakan itu? Bukankah kau sendiri tau, semua usaha yang aku lakukan untuk sembuh, demi Gladys? Seharusnya, kau sudah mengerti betapa aku mencintai istriku?"


Dokter itu, hanya tersnyum miring, dan kembali menggelengkan kepalanya, sebelum akhirnya kembali berkata.


"Tuan Alex ... Aku sama sekali tidak meremehkan usahamu untuk Gladys. Sebagai suami, sudah sepantasnya kau berjuang untuk membahagiakan istrimu."

__ADS_1


Alex menganggukkan kepalanya, namun masih belum puas dengan bagaimana cara Reynaldi mengatakannya. Akan tetapi, saat dia ingin menanggapinya, dokter itu kembali bicara.


"Jujur saja, bagiku, perasaanmu pada Gladys hanyalah sesuatu yang di dasari rasa bersalah dan tanggung jawab. Tidak ada yang salah dengan itu, bahkan itu sangat bagus. Tapi ... "


Reynaldi kembali menggantung kata-katanya, menunggu bagaimana reaksi pria yang kini berada di depannya itu.


Menurut Alex, dengan semua usaha yang telah dia lakukan, Reynaldi, sebagai dokter pribadinya inilah yang seharusnya paling mengerti dirinya. Jadi, dia tidak bisa menerima justru Dokter ini lah yang meragukannya.


"Perasaanmu, pada Wanita yang bernama Ranti ini, adalah sebuah perasaan yang lainnya ... Dan ini sangat normal." Pungkas Dokter itu, setelahnya.


Mendengar ucapan panjang lebar dari dokter itu, sama sekali tidak membuat Alex terpengaruh. Jika tadi dia sedikit marah, namun saat ini dia terkesan meremehkannya.


"Rey, aku tidak tau dari mana kau menilainya. Tapi—"


Belum sempat Alex menyelesaikan kalimatnya, Reynaldi kembali menyela.


Kali ini, kata-kata dokter itu membekas di kepalanya. Namun, Alex tidak bisa menerima begitu saja.


Saat dia tertegun, tiba-tiba saja dokter itu berseru sambil melihat ke arah belakangnya.


"Nona Ranti, aku tidak tau kau juga akan datang!" Kata Dokter itu dengan suara tegas.


Mendengar nama Ranti di sebut, Alex langsung berdiri dan berbalik. Detik kemudian, Alex kembali mendengar dokter itu bicara.


"Kenapa? ... Apakah kau merasakan kekecewaan? Apa baru saja hatimu sangat berharap, bahwa wanita itu benar-benar ada di sana?"


Saat mendengar Rey mengatakan itu, Alex hanya bisa memejamkan matanya. Hampir saja dia menganggukkan kepalanya, karena memang itulah yang saat ini dia rasakan.

__ADS_1


"Tuan Alex ... Rasa pertama yang muncul sebelum kau menyadari bahwa itu adalah cinta, adalah rasa rindu. Kalian pasti baru bertemu. Tapi, bukankah aneh, jika saat ini kau sudah merindukannya?" Pancing Reynaldi sekali lagi.


Alex benar-benar tidak berkutik. Karena semua yang dikatakan dokter itu, terasa sangat benar baginya.


Namun, dia tidak berani untuk mengakuinya. Malah, saat ini Alex menjadi takut, bahwa itu adalah hal yang sebenarnya.


"Tuan Alex ... Jangan terlalu percaya diri. Meski kau memiliki perasaan seperti itu. Akan tetapi, untuk menjadikannya utuh, perasaan mu itu, harus disambut dengan perasaan yang sama olehnya. Jadi, tidak perlu cemas begitu."


Apa yang di ucapkan Reynaldi terakhir kali, sama sekali tidak membuatnya lega. Alex memakai bertanya-tanya.


"Apakah Ranti juga memliki perasaan yang sama denganku? ... Tidak, tidak." Alex langsung mengelengkan kepala, menepis pertanyaan yang melintas di kepalanya itu.


"Bagaimana jika tidak?" Sebuah pertanyaan lainnya, muncul, dan ikuti beberapa pertanyaan lainnya.


Reynaldi hanya bisa tersenyum menahan tawa, melihat seorang Alexander Putra Mandala, kehilangan fokus dan terlihat seperti orang gila yang hanyut di dalam pikirannya sendiri.


"Bukankah itu Gladys?"


Mendengar dokter itu menyebut nama istrinya, Alex sama sekali tidak percaya. "Sudahlah Rey, jangan bercanda denganku. Dan berhentilah memanggilku Tuan, saat kau tidak memakai jubah putih mu!" Ingat Alex pada Rey yang melihat jauh keluar jendela.


"Alex, aku tidak bercanda! Lihatlah, itu benar-benar Gladys, istrimu!" Seru Rey, sambil menunjuk untuk meyakinkan.


Dengan sedikit malas, Alex berbalik dan melihat pada kaca besar jendela cafe itu, tepatnya ke arah di mana Rey menunjuk.


Seketika matanya melebar, saat melihat seorang wanita, yang memang terlihat sangat mirip dengan Gladys istrinya, baru saja memasuki mobil, saat seorang laki-laki yang tidak dikenalnya, membukakan pintu dan membiarkan wanita itu masuk.


Tak sadar, Alex bergumam. "Bukankah, dia mengatakan bahwa saat ini dia sedang bersama Mirda?"

__ADS_1


__ADS_2